
Chu Kai merasakan guncangan hebat di dalam dadanya. Dia tidak pernah membayangkan akan menghabisi nyawa seseorang dengan sangat mengerikan seperti ini.
"Pedang Pendekar Naga... Apa mungkin karena benda ini aku..." Chu Kai menelan ludah. Dia berusaha mengatur napasnya, namun rasanya sulit sekali. Bahkan detakan jantungnya terlalu cepat dan ada perasaan aneh di dalam dirinya, sebuah perasaan yang tidak mengenakkan.
"Sayang sekali~"
?!
Suara asing itu kembali terdengar seakan sangat dekat di telinga Chu Kai. Namun dia benar-benar tidak melihat ada orang lain di tempat ini selain dirinya sendiri.
"Sangat disayangkan... Harusnya dia bisa bertahan lebih lama. Menghibur kebosanan Yang Mulia ini. Haaah... Aku menginginkan hal yang lebih. Ayo cari dan bunuh beberapa orang lagi,"
"Siapa... Siapa yang bicara itu?!" Chu Kai terlihat panik. Dia menekan kuat dadanya dan terus memperhatikan sekitar, namun tidak bisa menemukan siapa pun. Lantas suara siapa yang terus ia dengar ini?!
"Aku benar-benar merindukan mengobrak-abrik tubuh mereka. Sangat merindukannya~ Perasaan luar biasa yang membuat tubuhku merinding. Aku menginginkannya~ ayo cepatlah. Pergi dan temukan banyak orang. Habisi mereka semua!"
!!!
Chu Kai melempar kuat pedangnya. Dia pun mundur dengan napas yang masih tidak beraturan.
Sejak ia menemukan pedang pendekar naga itu, menggunakannya, bahkan sampai memakainya saat melakukan pelatihan tertutup, dia merasa ada sesuatu yang aneh.
Dan bila diingat-ingat lagi, saat dirinya berada di dalam dimensi makam kuno dan bertemu naga yang besar itu---dia sempat melihat ada seseorang yang berdiri. Sosok pemuda dengan wajah yang sulit ia kenali. Hanya sebuah senyum seringai yang terasa begitu jahat, entah siapa orang itu.
"Siapa sebenarnya dirimu?!" Chu Kai buka suara. "Jika kau benar-benar nyata, maka tunjukkan wujudmu sekarang! Apa yang kau inginkan dariku sebenarnya?!"
Chu Kai memperhatikan pedang yang sebelumnya ia lempar. Dia menunggu suara itu kembali, namun tidak ada jawaban. Dia baru akan memikirkan sesuatu saat sebuah tawa mengguncang dadanya dan ini juga membuat telinganya berdenging.
"Ha ha ha, kau bahkan belum pantas bicara dengan Yang Mulia ini."
!!!
Chu Kai merasakan perasaan yang tidak nyaman. Detik berikutnya pemuda bermata hijau alami itu memuntahkan darah dan bersamaan dengan perasaan sakit di perutnya.
"Kau ingin melihat wujud Yang Mulia ini? Pffft, takutnya kau mati bahkan sebelum melihat wujudku yang begitu luar biasa."
Chu Kai kembali memuntahkan darah, urat menegang di dahinya dan ekspresi wajahnya pucat. "Ba-bagaimana seluruh organ dalamku sangat sakit saat mendengar suaranya?! Akh!"
"Lihat? Baru seperti ini kau sudah setengah mati. Hmph, jika kau ingin bertemu denganku... Maka perkuat dirimu dulu. Setidaknya, kau tidak akan tewas saat bertatapan mata dengab Yang Mulia ini."
"Se-sebenarnya... Si-siapa kau?" Chu Kai menggunakan seluruh tenaganya untuk bicara. Hanya saja pandangan matanya perlahan memudar dan ia pun tidak lagi bisa melihat, bahkan merasakan apa pun.
*
__ADS_1
*
Chu Kai tidak sadarkan diri. Dia benar-benar sulit menangani tekanan dari suara yang entah milik siapa itu. Nada suara dari sosok asing tersebut mempunyai tekanan yang teramat menakutkan saat berbicara dengannya. Ini bukanlah hal yang berlebihan.
Dada Chu Kai terasa berat seperti dihantam batu yang besar. Seluruh organ dalamnya sakit seolah dipelintir dengan kuat dan perasaan tidak mengenakkan yang ia rasakan sama seperti yang pernah dirinya alami di masa lalu.
Benar. Chu Kai pernah merasakan hal yang sama. Sudah bertahun-tahun lamanya, namun hanya dengan mendengar suara asing ini... Ia pun kembali teringat pada kejadian yang paling mengerikan dan nyaris tidak bisa dipercaya bahwa dirinya masih bisa hidup hingga sekarang.
Kondisi Chu Kai yang tidak sadarkan diri tentu tidak diketahui oleh siapa pun, termasuk Wei Zhang Zihan yang saat ini berada di luar segel yang menutupi makam kuno.
Wei Zhang Zihan bersama dengan para pendekar lainnya. Mereka adalah orang-orang yang terlempar keluar dari dalam makam akibat teknik aneh milik Chu Kai.
Ada beberapa pendekar yang sebelumnya hendak kembali masuk ke dalam makam, namun para pendekar itu terpental dan menghantam tanah dengan keras. Kejadian ini menjadi bukti bahwa ada yang salah dengan segel energi spiritual berbentuk kubah pada makam kuno tersebut.
"Segelnya.... Kembali menjadi kuat!" suara seorang pendekar membuat siapa pun yang mendengarnya tersentak kaget, termasuk Wei Zhang Zihan.
Tepat ketika ia berkata demikian, energi spiritual yang menyelimuti makam kuno itu bereaksi dan dalam sekejap---bangunan besar yang dilihat oleh Wei Zhang Zihan menghilang.
!!!
Para pendekar dari berbagai sekte itu terkejut bukan main. Mereka juga menyaksikan makam kuno tersebut menghilang. Yang tersisa hanya hamparan tanah berbatu dengan warna kemerahan.
"Ma-makam kunonya..!"
"Makam kunonya menghilang..!"
"Gawat..!"
Shuang Shu Chen yang berada di sisi lain juga terlihat melebarkan mata. Makam kuno yang menghilang merupakan pertanda bahwa segel pada makam tersebut aktif kembali dan tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu segel itu kembali melemah.
Masalahnya, semua orang tahu bahwa segel pada makam kuno ini akan kembali muncul setelah 50 Tahun dan itu bukanlah waktu yang singkat. Mereka tidak mungkin berada di sini selama itu.
"Apa ada pendekar yang terkurung di dalam sana?!"
"Di mana Cheng Zhu?!"
Liu Han Ying yang berada di dekat seorang pendekar nampak menoleh. Dia melihat pendekar berpakaian hijau tua itu mulai mencari rekannya dan para pendekar lain pun ikut melakukan hal yang sama.
"Zhang Zihan?!" Liu Han Ying teringat pada Wek Zhang Zihan. Dia pun bergegas untuk mencari keberadaan rekannya tersebut karena akan sangat gawat jika sampai Wei Zhang Zihan terperangkap di dalam makam.
Wei Zhang Zihan sendiri sebenarnya terlempar ke tempat yang berbeda, ia tidak bersama Liu Han Ying namun cukup banyak pendekar yang ada di sekitarnya. Dan bila dibandingkan dengan mengingat Liu Han Ying, dia jelas sedang memikirkan orang lain.
Itu benar. Wei Zhang Zihan memikirkan sosok yang tak lain adalah Chu Kai. Pemuda yang mempunyai mata berwarna hijau alami itu merupakan subjek yang sudah membuatnya terlempar keluar hingga ada di tempat ini sekarang. Di sisi lain, Chu Kai jelas masih ada di dalam makam dan entah apa yang pemuda itu lakukan.
__ADS_1
Wei Zhang Zihan sama sekali tidak mengerti bagaimana Chu Kai melakukan teknik yang dapat membuat tidak hanya dirinya, tetapi juga pendekar lainnya terlempar hingga keluar makam. Selain itu, ia pun sama sekali tidak tahu alasan pemuda tersebut melakukan semua hal ini. Wei Zhang Zihan membutuhkan jawaban.
"............" Tangan Wei Zhang Zihan terkepal kuat saat memikirkannya. Jawaban yang ia butuhkan hanya ada pada Chu Kai dan pemuda itu terperangkap di dalam makam. Dan buruknya makam tempat Chu Kai berada sekarang sudah menghilang.
"Mungkinkah... Dia juga sudah keluar?" Wei Zhang Zihan memikirkan kemungkinan bahwa mungkin saja Chu Kai juga berhasil keluar dari makam tersebut. Dia pun bergegas untuk mencari pemuda itu ketika sebuah suara wanita terdengar.
"Zhang Zihan!"
?!
Wei Zhang Zihan berhenti melangkah mendengar suara yang memanggil namanya. Dia pun menoleh dan melihat seseorang berjalan mendekat. Gadis berpakaian merah muda dan bercadar tersebut tidak lain adalah Ling Xian Shu.
"............" ekspresi Wei Zhang Zihan tidak berubah. Itu adalah raut wajah yang penuh ketenangan dan wibawa. Bahkan kecantikan serta keindahan suara dari Ling Xian Shu sama sekali tidak berpengaruh padanya.
Wei Zhang Zihan memperhatikan gadis cantik ini yang sekarang berdiri di hadapannya. Bila diingat-ingat lagi, dirinya tidak banyak bicara dengan Ling Xian Shu bahkan ketika mereka bekerja sama melawan monster bersama Chu Kai. Gadis ini pun lebih banyak bicara bersama pemuda bermata hijau tersebut dan bukan dirinya.
"Pendekar Suci Wei Zhang Zihan," Ling Xia Shu mulai buka suara. Dia menatap subjek yang menawan di hadapannya dan berkata, "Apa... Pendekar Suci Wei Zhang Zihan tidak ingin mengatakan sesuatu?"
"Apa yang harus kukatakan?" suara Wei Zhang Zihan tidak berubah. Dia bisa melihat ada rasa terkejut dan tidak enak hati pada pandangan mata gadis di depannya, namun itu tidak menjadi masalah baginya.
Wei Zhang Zihan dengan sikap yang acuh mulai berbalik dan mengambil langkah. Ling Xian Shu memperhatikan punggung pemuda berjubah hitam itu dan kemudian menyusul Wei Zhang Zihan.
"Tunggu, Pendekar Suci Wei Zhang Zihan..." Ling Xian Shu jelas ingin mengatakan sesuatu, tapi seperti yang terlihat--Wei Zhang Zihan nampak tidak mempedulikannya.
"Pendekar Suci Wei Zhang Zihan, tolong berhenti sebentar." Ling Xian Shu kembali memanggil pemuda tersebut dan ini membuat Wei Zhang Zihan menghentikan langkahnya.
Sambil menarik napas, Wei Zhang Zihan pun berbalik. Tangannya diam-diam terkepal dan ia pun menatap ke arah Ling Xian Shu, lalu mulai buka suara.
Wei Zhang Zihan berkata, "Jika Nona Ling memanggilku hanya untuk membahas masa lalu. Maka sebaiknya hentikan itu sekarang. Aku masih harus mencari rekanku,"
"Apa kau tidak akan kembali?"
Wei Zhang Zihan berbalik dan tanpa nada berkata, "Tempat itu tidak kekurangan apa pun. Kehadiranku sama sekali tidak membuat perubahan apa pun di tempat itu,"
"Bagaimana mungkin tidak?" Ling Xian Shu melangkah saat Wei Zhang Zihan hendak berjalan meninggalkannya.
"Pendekar Suci Wei Zhang Zihan, kau... Kau harus kembali ke istana sekarang."
!!!
Ucapan Ling Xian Shu terdengar bagai gemuruh di telinga Wei Zhang Zihan. Pemuda itu berbalik dan baru pertama kali terlihat nafsu membunuh pada tatapan matanya.
Dengan dingin, Wei Zhang Zihan buka suara. "Sebaiknya Nona Ling tidak membicarakan hal semacam itu, apalagi menyinggung kata yang paling tidak ingin kudengar."
__ADS_1
!!
******