
Serangan yang dilakukan oleh Tetua Fang Tie Zhu mengenai tepat ke punggung serigala bayangan. Sesuatu yang sangat mengejutkan adalah tubuh makhluk tersebut terlihat terbakar dan terdengar suara keras bagai hewan yang berteriak kesakitan.
Chu Kai tanpa sadar menahan napas. Tepat di depan matanya sendiri, ia melihat serigala bayangan itu terbakar sebelum akhirnya leyap. Bahkan makhluk tersebut tidak lagi menjadi asap hitam, termasuk berkumpul kembali dan menjadi hewan yang menakutkan.
Tetua Fang Tie Zhu berbalik dan tersenyum lebar. Dia pun berjalan menghampiri Chu Kai sebelum akhirnya buka suara.
Tetua Fang Tie Zhu berkata, "Bagaimana jika mencari tempat untuk beristirahat? Muridku?"
"Apa?" Chu Kai terkesiap. Dia menunjuk ke arah di mana serigala bayangan itu sempat berdiri dan kemudian menatap Tetua Fang Tie Zhu. Suaranya sedikit terbata saat berkata, "La-lalu ba-bagaimana dengan mo-monster itu?"
"Hm?" Tetua Fang Tie Zhu sedikit memiringkan kepalanya dan kemudian mendengus. Dia tersenyum.
"Bu-bukankah harusnya sulit untuk membunuh makhluk tadi?" Chu Kai masih terlihat syok. "Pe-Pendekar Wei bilang hanya si-sinar matahari yang bisa menghabisinya. Ja-jadi..."
"Jadi maksudmu aku tidak bisa?" Tetua Fang Tie Zhu tertawa sebelum akhirnya menggeleng pelan. Dia menepuk pundak pemuda bermata hijau alami di hadapannya dan berkata, "Jika kau mempelajari Pernapasan Matahari dariku... Maka kau bahkan bisa membunuh iblis. Sudah, ayo pergi."
Tetua Fang Tie Zhu mengambil kembali botol labu yang ada di tangan Chu Kai dan lantas berjalan pergi. Wei Zhang Zihan melepaskan segel pelindung yang ia keluarkan sebelumnya dan memberi hormat pada Tetua Fang Tie Zhu.
"A-Yan. Kau membawa uang, kan? Ayo ke desa terdekat. Arakku sudah habis," Tetua Fang Tie Zhu melompat menunggangi salah satu kuda dan segera memacunya.
Chu Kai sendiri masih berdiri mematung seolah tidak menyangka masalah dengan serigala bayangan bisa berakhir begitu saja, bahkan hanya dengan satu serangan.
"Me-mengagumkan. Aku bahkan tidak tahu apa yang kulihat tadi adalah mimpi atau bukan. Dia... Tetua Fang Tie Zhu... Sangat mengagumkan."
"Apa kau akan berdiri saja di sana?" Wei Zhang Zihan berjalan dengan tali kekang kuda di tangannya. Pertanyaan yang ia ajukan barusan membuat Chu Kai menoleh.
"Pendekar Wei, apa kau lihat itu?! Tetua Fang Tie Zhu! Dia..."
"Kau bisa mengaguminya nanti," Wei Zhang Zihan bernapas pelan. Dia sama sekali belum bisa mengerti bagaimana karakter dari pemuda di hadapannya ini. Rasanya... Chu Kai sungguh tidak tahu malu.
"Teknik Pernapasan Matahari... Mengagumkan," Chu Kai tersenyum dan ekspresi wajahnya jelas sekali bahwa ia tertarik mempelajari teknik itu. Dia pun memperhatikan Wei Zhang Zihan dengan saksama dan baru menyadari sesuatu.
"Di mana kuda milikku?" Chu Kai menoleh dan mencari kuda lain selain yang berada di samping Wei Zhang Zihan.
"Apa kau tidak lihat Tetua Fang Tie Zhu baru saja mengambilnya dan pergi?"
"Apa?! Bukankah sebelumnya Tetua Fang terbang dan muncul tiba-tiba di sini? Kenapa dia pergi sambil menunggang kuda?"
"Beliau memang orang seperti itu," Wei Zhang Zihan berekspresi tenang. Dia menaiki kuda miliknya dan tanpa nada berkata, "Sekarang kau mau naik, atau kau jalan kaki saja?"
"Tapi..." ekspresi Chu Kai menjadi tegang. Dia menatap Wei Zhang Zihan cukup lama dan pendekar suci itu hanya memasang ekspresi wajah yang tenang.
"Pendekar Wei..." Chu Kai berekspresi pucat. Dia mengusap tengkuknya dan dengan canggung berkata, "Apa... Kau tidak tahu bagaimana situasi kita sekarang ini?"
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
"Astaga..." Chu Kai menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Suaranya pelan, "Maksudku... Itu..."
"Kau mau naik atau tidak?"
Melihat dari ekspresi Wei Zhang Zihan, Chu Kai merasa bahwa pemuda ini tidak mengerti apa pun. Jika dua orang pria dewasa menunggangi kuda bersama, akan terlihat seperti apakah itu?! Haah...
Chu Kai memejamkan mata sejenak sebelum kembali menarik napas. Dia tidak punya pilihan dan kemudian menaiki kuda milik Wei Zhang Zihan. Posisi duduknya berada di belakang pemuda berjubah biru ini.
"Pendekar Wei," Chu Kai merasa sangat canggung. Dia bahkan tidak tahu harus menaruh tangannya di mana. Sungguh, jika saja yang bersamanya adalah Xia Ling Qing--maka suasananya pasti tidak akan seperti ini.
"Pendekar Wei, bukankah kau sangat pandai menggunakan pedang terbang? Bagaimana kalau--Waah!" Chu Kai spontan memegang kedua lengan Wei Zhang Zihan karena kuda yang ditungganginya mulai bergerak.
"Pendekar Wei. Tolong pelan-pelan! Perutku akan sakit lagi dan aku mungkin akan muntah,"
"Sebaiknya kau tahan. Jika muntah di pakaianku, aku akan menggantungmu."
"Ini sangat tidak nyaman, sungguh."
"Pegangan yang erat. Tidak perlu banyak protes,"
"Tapi-" Chu Kai terpaksa melakukannya. Dia memejamkan mata dan terlihat cemberut, "Aku selalu ingin punya pengalaman pertama naik kuda dengan nona Xia. Ini membuatku sakit hati,"
"Aku itu... Sangat menyukai nona Xia Ling Qing tahu." Wei Zhang Zihan membuka matanya. Dia pun berkata, "Pendekar Wei. Kau jangan pernah menyukai apalagi berpikir untuk merebut nona Xia dariku. Kau itu sangat tampan, jadi tolong cari saja gadis yang lain. Mengerti?"
Wei Zhang Zihan menghela napas dan menggeleng pelan. Dia mempercepat laju kudanya dan mulai bisa melihat keberadaan Tetua Fang Tie Zhu meskipun pria tersebut berada di jarak yang cukup jauh darinya.
*
*
Desa Yín shí,
Tetua Fang Tie Zhu turun dari kudanya ketika ia tiba di depan sebuah kedai yang masih terbuka meskipun malam semakin larut.
Dengan senyuman lebar dan penuh semangat, ia pun memasuki kedai itu. Suaranya keras saat berkata, "Pesan satu meja dan makanan terbaik!"
"Oh, ya ampun. Mari silahkan lewat sini, Tuan." seorang pegawai yang telah berumur bergegas menyambut Tetua Fang Tie Zhu. Dia membawa pria bertubuh besar itu ke salah satu meja dan mempersilahkannya untuk duduk.
"Bawakan juga aku arak istimewa yang kau miliki,"
"Baik, Tuan. Silahkan beristirahat sambil menunggu pesanan Anda,"
__ADS_1
Tetua Fang Tie Zhu tersenyum, terlihat begitu senang. Dia pun menoleh saat mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya.
Wei Zhang Zihan berhasil menyusul Tetua Fang Tie Zhu dan ikut memasuki kedai. Dia pun menyatukan tangan dan memberi hormat pada pria berambut merah menyala di hadapannya ini.
"A-Yan, kau terlalu formal. Ayo duduklah," Tetua Fang Tie Zhu meminta agar Wei Zhang Zihan duduk bersamanya. Dia pun bertanya, "Di mana murid baruku itu?"
"Kai, dia sedang... Muntah di luar."
"Apa?" Tetua Fang Tie Zhu sedikit tersentak. Dia berkedip, "Aku tidak menyangka bahwa dia ternyata tidak bisa menunggang kuda. Kau mungkin memacu kudanya terlalu cepat,"
Wei Zhang Zihan menurunkan pandangan. Dia tidak mempunyai apa pun untuk dikatakan mengenai masalah Chu Kai yang masih belum terbiasa dengan menunggang kuda. Di sisi lain, ada hal yang jauh lebih penting untuk dibahas bersama Tetua Fang Tie Zhu.
"Bagaimana Tetua Fang bisa ada di tempat ini?" Wei Zhang Zihan buka suara.
"Kau tahu aku suka berkelana, mengunjungi banyak tempat dan mencoba setiap arak terbaik mereka. Bahkan sudut terkecil sekali pun, selama ada arak yang bagus... Aku pasti akan mengunjunginya."
Tetua Fang Tie Zhu menatap Wei Zhang Zihan dan melanjutkan, "Kau sendiri... Apa yang kau lakukan di tempat ini?"
"Ada kabar tentang pergerakan anggota Sekte Bulan Mati dan ini melibatkan Pilar Bulan mereka. Pembantaian di kuil dan penculikan para gadis. Kami datang menyelidikinya,"
"Ah... Sekte itu memang paling merepotkan. Tapi kenapa hanya kau dan pemuda itu yang menjalankan misi ini?" Tetua Fang Tie Zhu berkata, "Meskipun kau kuat... Tapi jangan sampai kau menganggap remeh lawanmu."
"Murid mengerti," Wei Zhang Zihan mengangguk pelan. Dia menurunkan sejenak pandangan matanya dan berujar, "Sebenarnya ini juga termasuk permintaan Shizun. Kai... Dia adalah Pendekar Naga yang terpilih dan kemampuannya harus lebih ditingkatkan lagi."
"Pendekar Naga..." Tetua Fang Tie Zhu bergumam sebelum akhirnya tersadar, "Jadi kabar yang kudengar itu benar. Master Zhuang akhirnya memilih Pendekar Naga, tapi tidak kusangka orangnya bukan kau atau Xia Ling Qing. Ini mengejutkan,"
Tetua Fang Tie Zhu tersenyum dan terlihat penasaran. Dia pun bertanya, "Siapa identitas Pendekar Naga itu? Wajahnya terlihat seperti orang asing dan bagaimana ia bisa bertemu Master Zhuang?"
"Namanya Kai, dia dari keluarga Chu. Hanya orang yang bekerja di sebuah kedai biasa. Sayangnya masih belum banyak informasi yang saya ketahui tentangnya."
"Mm... Aku melihat dia punya potensi," Tetua Fang Tie Zhu baru akan kembali bicara ketika tiga orang pegawai kedai ini datang dengan beberapa hidangan.
"Maaf menunggu lama, Tuan. Silahkan dan ini adalah arak terbaik di kedai kami, Persik Musim Semi." pegawai kedai yang nampak berumur itu menjelaskan tentang arak yang hanya diolah di kedainya.
Tetua Fang Tie Zhu terlihat senang. Dia sangat kagum dengan aroma arak di dalam kendi berukuran sedang tersebut dan tanpa ragu memberikan pujian pada pengawai tua di hadapannya.
Baru saja Tetua Fang Tie Zhu hendak buka suara, tiba-tiba saja terdengar suara pertarungan dari arah luar di sertai dengan benturan pedang. Wei Zhang Zihan yang juga ikut mendengarnya nampak tersentak dan segera berdiri.
Baaam..!
"Kai!" Wei Zhang Zihan langsung teringat dengan Chu Kai saat mendengar suara keras itu. Dia pun bergegas memeriksa bagaimana kondisi Chu Kai sekarang. Apalagi pemuda bermata hijau alami itu sampai saat ini belum juga masuk menyusulnya.
******
__ADS_1