
Chu Kai bisa melawan serigala itu, tetapi gerakannya terhambat karena banyaknya anak di sekelilingnya dan lawannya pun adalah jenis binatang buat yang tanpa ragu menerkam.
Ada dua anak yang mengalami cakaran, nyaris leher mereka digigit andai sebuah lesatan cahaya tidak datang tepat waktu dan mengenai kepala serigala tersebut.
Chu Kai menoleh dan dikejutkan dengan lambaian pakaian berwarna biru muda. Seseorang berdiri di hadapannya dan kembali menyarungkan pedangnya. Chu Kai berkedip saat tahu siapa sosok ini.
"Nona Xia!" seruan Chu Kai membuat sosok itu berbalik. Tebakannya benar. Yang berdiri di hadapannya adalah Xia Ling Qing, salah satu Pendekar Suci dan merupakan sosok yang dia sukai.
"Tersenyum bodoh lagi, maka aku akan merobek mulutmu." suara Xia Ling Qing sangat ketus. Tatapan matanya tajam dan seolah dia benar-benar ingin menghabisi pemuda di hadapannya.
Chu Kai sepertinya tidak mengerti. Dia bahkan tertunduk malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dengan malu-malu, Chu Kai berkata. "Nona Xia... Bagaimana kau bisa tahu a-aku ada di sini?"
"Kai," seorang anak menyela dan membuat Chu Kai tersentak. Anak itu berkata, "Tolong obati Yihua lebih dulu."
Xia Ling Qing berbalik dan memilih mengobati anak kecil yang terluka ini daripada meladeni Chu Kai. Dia menggunakan energi spiritual miliknya untuk menghentikan darah di luka anak tersebut.
Chu Kai sebenarnya penasaran dengan bagaimana Xia Ling Qing bisa berada di hutan ini. Entah mengapa rasanya seperti gadis ini memang datang untuknya.
Chu Kai berdeham, dia meminta agar para murid Sekte Gunung Wushi yang bersamanya untuk beristirahat sejenak terlebih dahulu dan tidak ada yang memprotes perintahnya ini.
Saat luka murid Sekte Gunung Wushi sudah diobati dan kondisi mereka membaik, Chu Kai dan yang lainnya pun melanjutkan perjalanan. Chu Kai berjalan di belakang Xia Ling Qing dan merasa sangat canggung, sesekali dia bahkan terlihat senyum-senyum sendiri.
Salah seorang anak berusia 14 Tahun nampak menyenggol Chu Kai dan bertanya, "Kau sedang memikirkan apa?"
Chu Kai tanpa menoleh pun menjawab, "Aku memikirkan masa depan."
__ADS_1
"Apa?"
Chu Kai berjalan lebih cepat dan berhenti saat berada di dekat Xia Ling Qing. Tindakannya membuat gadis cantik itu menoleh, namun dengan ekspresi wajah yang dingin.
Entah karena pura-pura atau memang Chu Kai yang bodoh hingga tidak menyadari tatapan gadis ini, dia justru tanpa malu berkata. "Nona Xia, apa kau tidak merasakannya?"
Chu Kai tersenyum dan berujar, "Kita seperti pasangan dengan banyak anak."
Xia Ling Qing tersandung akar pohon, tetapi untung saja dia masih mempertahankan posisinya. Gadis itu menatap tajam ke arah Chu Kai dan dengan ketus berkata, "Apa kau mau mati?"
"Ah..." Chu Kai menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan masih tersenyum. Dia pun dengan nada pelan berkata, "Nona Xia... Gadis yang cantik sebaiknya tidak mengatakan kata seperti itu. Aku hanya... Berusaha membuat suasana sedikit lebih hidup,"
"Hmph,"
Chu Kai menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat melihat Xia Ling Qing berjalan lebih dahulu dan seakan menjadi pemimpin dalam kelompoknya ini.
Tidak hanya menjaga mereka, Xia Ling Qing bahkan berburu beberapa binatang sebagai makanan untuk Chu Kai dan teman-temannya.
Para murid itu sebenarnya membawa banyak barang di punggung masing-masing, seperti makanan dan kayu bakar---tetapi tidak ada perintah bahwa mereka bisa menggunakannya. Karena itulah saat beristirahat di malam hari, mereka membuat api dengan kayu bakar yang lain.
Seorang murid Sekte Gunung Wushi berjalan di samping Chu Kai. Dia pun berkata, "Aku tidak tahu tujuan nona Xia Ling Qing hingga ikut dalam perjalanan ini, tapi karena dia ada di sini sekarang... Rasanya perjalanan ini tidak terasa berat,"
"Kau benar," Chu Kai mengulurkan tangan dan mengusap kepala anak berusia 14 Tahun di sampingnya.
Mereka terus berjalan dan sesuatu perlahan mulai berubah. Semakin tinggi mendaki sebuah gunung, maka udara yang terasa akan makin tipis. Apalagi, murid-murid Sekte Gunung Wushi dan Chu Kai sendiri membawa beban di punggung mereka masing-masing.
__ADS_1
Sebenarnya Xia Ling Qing berlatih di suatu tempat di gunung ini. Dia sedang berusaha memperbaiki gerakan bertarungnya saat tiba-tiba Wei Zhang Zihan datang dan meminta bantuan. Pemuda itu ingin agar dia terus mengawasi Chu Kai dan membantu pemuda ini.
Xia Ling Qing menarik napas. Sejujurnya dia tidak suka, tetapi karena menghormati Wei Zhang Zihan---dia pun melakukannya. Pada awalnya dia pikir Chu Kai akan merepotkan, tetapi tidak disangka pemuda ini justru bisa melawan binatang buas meski teknik bertarungnya payah.
Chu Kai dan para murid junior Sekte Gunung Wushi benar-benar sampai di kediaman Tetua Wei Ji Han di hari ketiga. Sepanjang jalan, tidak ada satu pun murid junior yang mengeluh, apalagi mereka yang berusia paling muda. Chu Kai sebenarnya kagum dengan stamina para bocil ini.
Tetua Wei Ji Han menyambut para murid Sekte Gunung Wushi dan pandangannya pun teralih pada Chu Kai. Dia memperhatikan pria yang berwajah seperti orang asing ini dengan sangat saksama hingga membuat Chu Kai menjadi sedikit agak gugup.
Tetua Wei Ji Han seperti tetua pada umumnya. Dia adalah pria tua berusia sekitar 65 Tahun dan dengan rambut putih serta kulit pipi yang telah mengendur. Dia meminta para murid yang datang untuk membersihkan diri dan beristirahat. Pelatihan akan dimulai saat matahari terbit esok pagi.
Chu Kai sekamar dengan dua orang anak laki-laki bernama Fu Wutian dan Lin Mo. Kedua anak ini berusia 13 dan 9 Tahun, mereka masih sangat bocah namun bahkan di malam hari pun keduanya masih bisa berlatih.
Chu Kai tercengang melihat bagaimana kedua anak ini melakukan push up dengan hanya satu tangan dan bahkan meningkatkannya dengan menggunakan dua jari. Dia terkesan, apalagi dibandingkan dengan kelelahan---dua anak ini terlihat begitu bersemangat.
"Apa kalian sungguh tidak lelah? Kita mendaki gunung selama tiga hari dan kalian justru masih membuang-buang tenaga seperti ini," Chu Kai berbaring di tempat tidur miliknya dan menatap langit-langit kamar, dia benar-benar kelelahan.
Fu Wutian, anak laki-laki berusia 13 Tahun itu selesai melakukan push up. Dia mengusap keringat yang membasahi pipinya dan berkata, "Ini memang sudah menjadi ritual untukku. Sebelum tidur, aku akan melakukan ini dan begitu juga dengan Saudara Lin Mo."
"Terserah kalian saja," Chu Kai berkata. "Pergi dan bersihkan diri, kemudian tidur. Kita harus cepat-cepat bangun besok,"
"Baik," Fu Wutian dan Lin Mo bergegas ke arah sebuah sekat kayu. Di sisi lain Chu Kai yang sebelumnya sudah membersihkan diri kini terlihat mulai tertidur pulas.
Saking kelelahannya, Chu Kai tidak bermimpi tentang hal-hal yang menakutkan. Padahal biasanya tidak jarang dia akan berkeringat dingin di malam hari dan terbangun dengan perasaan yang ketakutan.
Sebagai seseorang yang terpilih menjadi Pendekar Naga, perjalanan Chu Kai tentu masih sangat panjang. Apalagi dia bahkan belum mendapat pelatihan yang lebih khusus saat dirinya bahkan sudah diincar oleh orang asing yang entah karena apa.
__ADS_1
Ketika Chu Kai beristirahat. Jauh di tempat lain angin mulai berubah arah dan membawa suasana yang tidak biasa. Rasanya seperti ada yang mulai menargetkan Sekte Gunung Wushi.
******