
Setelah bangunan makam kuno menghilang dari wilayah Lembah Tanah Berapi, para pendekar dari berbagai sekte memutuskan kembali ke tempat tinggal masing-masing.
Wei Zhang Zihan dan Liu Han Ying sudah mencari Chu Kai selama seharian penuh, namun pemuda itu sama sekali tidak ditemukan. Keduanya justru bertemu dengan Xia Ling Qing.
Sebuah pemikiran kemudian muncul dan itu adalah kecurigaan bahwa Chu Kai berada di dalam makam kuno, terperangkap di sana hingga tidak bisa keluar.
"Bagaimana ini?" Liu Han Ying menatap Wei Zhang Zihan dan Xia Ling Qing. Dia bertanya, "Apa ada cara agar segel makam kuno itu bisa kembali muncul?"
Wei Zhang Zihan berusaha memikirkannya, tapi memang tidak ada cara. Dia pun menatap ke arah Xia Ling Qing dan menyadari sesuatu. Gadis di sampingnya meski terlihat baik-baik saja, namun titik keringat yang nampak di dahi gadis ini jelas terlalu berlebihan.
"Kau sedang tidak sehat," Wei Zhang Zihan buka suara. Ucapannya membuat Liu Han Ying dan Xia Ling Qing menoleh.
"Aku tidak apa-apa," Xia Ling Qing bernapas pelan. Dia kembali akan bicara ketika tangan Wei Zhang Zihan terulur dan menyentuh dahinya.
!
"Apa yang kau lakukan?" Xia Ling Qing terkejut dan menepis tangan Wei Zhang Zihan. Hanya saja, pergelangan tangannya justru dipegang oleh pemuda ini.
"Apa tidak bisa menjaga dirimu sendiri?" Wei Zhang Zihan buka suara. "Kau sedang tidak baik-baik saja, namun kau masih memikirkan keselamatan orang lain."
"Sudah kubilang aku tidak apa-apa," Xia Ling Qing menatap lurus ke depan, menyaksikan hamparan Lembah Tanah Berapi di depannya dan kemudian kembali bicara.
Xia Ling Qing berkata, "Segel makam kuno itu membutuhkan waktu yang lama untuk dapat melemah kembali. Jika orang itu benar-benar ada di sana, maka kita harus mengeluarkannya segera."
"Ada baiknya mencari lebih jauh tentang segel makam kuno ini dan aku rasa... Sekte Menara Rufeng memiliki jawabannya," Xia Ling Qing melanjutkan.
Wei Zhang Zihan dan Liu Han Ying saling berpandangan sebelum akhirnya menatap Xia Ling Qing. Wei Zhang Zihan pun bernapas pelan dan berkata, "Baiklah. Aku juga akan mengirimkan pesan pada Shizun. Apalagi sebelumnya, Kai yang melempar para pendekar keluar dari segel makam kuno itu."
Liu Han Ying mengangguk, "Diingat-ingat lagi... Orang itu juga berselisih dengan pendekar dari Sekte Bulan Mati. Informasi tentang ini harus segera dilaporkan agar Shizun bisa bersiap jika sekte kembali bermasalah dengan Sekte Bulan Mati,"
Xia Ling Qing dan Wei Zhang Zihan mengangguk pelan. Ketiganya pun bergegas pergi menuju Sekte Menara Rufeng dan meninggalkan wilayah Lembah Tanah Berapi.
Kekhawatiran Liu Han Ying jelas beralasan sebab bukan hal rahasia lagi jika Sekte Bulan Mati mengetahui bila ada di antara anggotanya yang tewas di tangan kultivator lain.
Para murid Sekte Bulan Mati memiliki sebuah plakat jiwa. Plakat ini berbentuk potongan kayu dari pohon getah darah dan diukir nama setiap murid menggunakan energi spiritual mereka.
Di Sekte Bulan Mati, penggolongan muridnya terbagi dua. Ada yang disebut sebagai 'Murid Luar' dan ada yang dinamakan 'Murid Inti'. Lalu di antara murid inti ada yang disebut sebagai 12 Pilar Bulan. Mereka adalah murid yang tidak hanya kuat, tetapi juga sangat berpengaruh dalam membuat nama Sekte Bulan Mati terkenal sebagai perguruan aliran hitam paling kejam.
Xue Xiaowen yang merupakan putri dari pemilik Sekte Bulan Mati sendiri bahkan belum bisa disejajarkan dengan 12 Pilar Bulan. Dia pun termasuk iri pada kedua belas murid yang sangat diagungkan ini sampai membentuk aliansinya sendiri.
Xue Xiaowen merekrut murid sektenya untuk menjadi pengikut dan salah satunya adalah Tang Wu Shang. Karena itulah ketika melihat plakat jiwa Tang Wu Shang hancur, dia pun langsung tahu bahwa salah satu pengikutnya kembali dihabisi.
Tidak hanya plakat Tang Wu Shang, namun juga plakat jiwa Feng Huang Lin dan Zhi Mei. Untuk plakat Zhi Mei ini dibawa oleh salah satu dari 12 Pilar Bulan sehingga kabar mengenai kematian Zhi Mei begitu mengejutkan.
*
*
__ADS_1
Wilayah Sekte Bulan Mati,
Ada sebuah kuil bernama Huǒ Shén. Bangunan kuil ini besar, terbuat dari kayu yang kuat dan tersembunyi dari sinar matahari. Di dalam kuil, terdapat selendang putih yang melambai lembut dimainkan angin.
Ada sebuah patung besar dengan posisi duduk bersila, mempunyai tiga pasang tangan dan dua di antara tangannya memegang sebuah teratai merah yang melambaikan api.
Tangan lain dari patung itu memegang senjata berupa tombak, panah, pedang, dan kapak. Bila diperhatikan baik-baik, patung besar itu memiliki titik merah di dahinya dan wajah yang tegas, menunjukkan wibawa kuat serta amarah.
Di bawah patung itu terdapat meja panjang dengan banyak lilin dan dupa. Seseorang duduk bersila di hadapan patung tersebut dan dari siluet yang nampak---subjek ini seperti pria tua dengan pakaian serba putih.
Ada air yang menetes dan membasahi pakaian pria itu. Tangan tuanya terlihat mencengkeram kuat pakaian miliknya dan berikutnya sebuah angin kuat mematikan barisan lilin yang menyala di hadapannya. Suasana yang sebelumnya hanya mempunyai pencahayaan minim, kini kembali tertelan kegelapan.
"Zhi Mei.... Siapa yang sudah membunuhmu?"
Suara itu terdengar berbisik dan seakan menyatu dengan suara angin. Tidak butuh waktu lama sampai titik merah pada patung besar di hadapan subjek itu pun bersinar terang.
Energi spiritual menyeruak, menembus hingga ke atap bangunan hingga ke langit. Berikutnya adalah suara gemuruh disertai guncangan pada tanah. Hutan yang mengelilingi kuil Huǒ Shén sampai bereaksi dan bahkan membuat burung-burung terbang menjauhinya.
Chu Kai tidak mengetahui masalah mengerikan apa yang sudah ia timbulkan karena telah menghabisi Zhi Mei dan anggota Sekte Bulan Mati yang lainnya. Pemuda itu sepertinya lebih peduli pada bagaimana caranya agar dia bisa keluar dari makam kuno ini.
Sekarang, Chu Kai sedang terlihat meminum air di danau setelah sempat membersihkan tangan dan membasuh wajahnya. Dia sangat beruntung karena menemukan ruangan yang di dalamnya mirip seperti hutan kecil dengan danau yang memiliki air jernih.
Sebelumnya, Chu Kai sempat tersesat dan bahkan bertemu dengan beberapa binatang iblis yang merupakan teknik perangkap dari pemilik makam. Chu Kai bisa menghadapi mereka semua, bahkan Wei Shezi yang sedang bersamanya tidak perlu turun tangan.
Mereka pun menemukan tempat ini dan tentu saja melihat air membuat Chu Kai merasa lebih menyukainya daripada menemukan gunungan koin emas. Pemuda bermata hijau alami itu sudah memutuskan akan menjadikan lokasi ini sebagai tempat tinggal dan berlatih menguasai teknik manifestasi yang ia dapatkan.
"Kai," Wei Shezi buka suara. Panggilannya yang tegas itu membuat Chu Kai menoleh dan segera berdiri.
"Ada apa?"
"Ikuti aku,"
Chu Kai mengerutkan keningnya. Wei Shezi meminta untuk diikuti tanpa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dia pun bertanya, "Apa yang kau lihat?"
Wei Shezi tidak menjawab ucapan pemuda di sampingnya, ia hanya terus berjalan. Ada pohon di sekitarnya dan terdengar suara saat kakinya menginjak rerumputan. Tempat ini dibuat seperti hutan asli dan sejujurnya Wei Shezi kagum dengan kemampuan pemilik dari makam kuno ini.
"Di sana!" Wei Shezi tersentak. Dia merasakan energi misterius yang kuat dan bergegas. Chu Kai yang penasaran pun mengikutinya dari belakang. Tidak butuh waktu lama sampai terlihat rerumputan hijau dengan sebuah batu besar di tengah-tengahnya.
!!
Chu Kai dan Wei Shezi tersentak buka karena menyaksikan bebatuan besar itu, tetapi karena melihat sebuah telur yang berukuran tidak biasa. Apalagi telur berwarna putih tersebut memiliki pola aneh di sekelilingnya.
"Wei Shezi..."
"Aku tahu apa yang kau pikirkan," Wei Shezi bersuara pelan. Dia berkata, "Aku merasakan energi roh yang akrab dari benda itu. Coba kau periksa,"
"Apa?!" Chu Kai berkedip, "Kenapa harus aku?"
__ADS_1
"Memang apa ada orang lain selain kau di sini? Pergilah. Kau pria, kenapa jadi penakut?"
Mendengar ucapan gadis di sampingnya membuat Chu Kai mendengus. Pemuda bermata hijau itu pun menatap lurus ke depan dan mulai mengambil langkah mendekati telur putih yang ia lihat.
Chu Kai bernapas pelan, dia memperhatikan sekitarnya dan tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan selain telur ini. Dia sedikit lagi hampir di dekat telur tersebut, namun detik itu juga Chu Kai menoleh dan langsung buka suara.
"Telur ini ada di sini, pasti ada pemiliknya." Chu Kai merasa khawatir. Dia menatap Wei Shezi dan berkata, "Apa kau sedang mengerjaiku?"
"Sama sekali tidak, cepat periksa itu. Jika ada serangan, aku yang akan melindungimu."
"Wei Shezi,"
"Percayalah. Ayo lakukan,"
Chu Kai melihat keyakinan pada ekspresi Wei Shezi. Dia pun menarik napas dan kemudian mulai mengulurkan tangan untuk menyentuh telur besar di hadapannya. Chu Kai berjongkok dan ia pun mengusap-usap permukaan telur yang cukup halus ini.
Dia bisa melihat energi spiritual emas yang dengan tipis menyelimuti telur ini. Chu Kai baru akan buka suara kembali ketika menyadari bahwa energi spiritual emas pada telur di depannya menarik energi spiritual dari dalam dirinya.
!!!
Tentu saja Chu Kai keheranan. Dia hendak memanggil Wei Shezi ketika mendengar suara retakan dan menjadi terperanjat. Telur yang mempunyai ukuran tidak biasa yang ada di hadapannya ini nampak akan menetas.
"Apa yang terjadi?!" Wei Shezi ikut kaget dengan reaksi Chu Kai. Dia bahkan mengambil langkah mundur, padahal sebelumnya berkata akan melindungi pemuda bermata hijau ini.
!!
Sesuatu mulai bergerak dari telur besar itu, Chu Kai mendengar suara geraman dan kemudian melihat sebuah tangan berbulu keluar dari telur. Tidak butuh waktu lama sampai isi dari telur misterius tersebut terlihat jelas.
"Ma-makhluk apa itu?" Chu Kai mengerutkan keningnya. Apa yang keluar dari dalam telur adalah seekor binatang dengan bulu putih.
"Tikus?" Chu Kai memiringkan kepalanya. Ia berkedip saat hewan yang ada di depannya nampak menjilat-jilat tangan sebelum mulai mendekat ke arahnya.
"Itu carpelai," Wei Shezi menjawab. Tangannya diselimuti asap kemerahan sebelum sebuah kipas kini muncul di tangannya.
"Ca... Apa?"
"Carpelai, kau tidak pernah lihat hewan itu sebelumnya?"
Chu Kai menggeleng sebagai jawaban. Dia mengangkat leher makhluk di hadapannya dan memperhatikan hewan ini baik-baik. Carpelai mempunyai telinga kecil dengan badan dan leher yang panjang. Tubuhnya berbulu dan mempunyai kaki yang kecil, terlihat sangat imut.
Wei Shezi berkata, "Carpelai mirip dengan tupai namun sebenarnya dia dari jenis musang dan berang-berang, tunggu. Kenapa aku harus menjelaskan hal semacam ini padamu?"
"Sudah, lupakan saja." Wei Shezi melambaikan kipasnya dan berkata, "Intinya yang ada padamu itu bukan cerpelai biasa. Dia dari jenis binatang iblis kuno dan bisa menjadi bantuan yang terbaik,"
"Tidak perlu kukatakan bahwa hewan ini adalah makhluk yang sangat berbahaya, dia pasti akan menolak memeliharanya. Ehem," Wei Shezi terbatuk dan kemudian berbalik. "Ayo mulai pelatihanmu,"
"Mulai sekarang aku akan memanggilmu Xiao Bai," Chu Kai meletakkan binatang imut itu di pundaknya sebelum menyusul Wei Shezi.
__ADS_1
******