LAHIRNYA PENDEKAR NAGA

LAHIRNYA PENDEKAR NAGA
72 - Xue Xiaowen


__ADS_3

Tindakan Chu Kai begitu tiba-tiba hingga mengejutkan semua orang yang ada di ruangan itu. Dia menyerang batu kristal berwarna ungu tersebut sebelum benda itu benar-benar pecah.


!!


Chen Xiao Yan dan Huang Zhang melebarkan matanya saat menyaksikan ada hewan yang jatuh dari dalam batu kristal tersebut. Binatang itu nampak seperti kadal besar dengan lendir ungu yang aneh di tubuhnya.


Mata hewan itu terbuka dan dia baru akan bergerak ketika Chu Kai kembali mengayunkan pedang di tangannya dan langsung menebas kepala hewan tersebut. Chu Kai seakan tahu bahwa jika dibiarkan, hewan ini mungkin akan menjadi ganas dan langsung menyerangnya.


Chu Kai menarik napas dan merasa bahwa dia sudah melakukan sesuatu dengan benar. Dia pun teringat pada Xia Ling Qing dan segera ke tempat di mana gadis itu berada.


"Pendekar Wei, apa kau bisa mengobati Nona Xia dan Yang Wang?" Chu Kai bertanya ketika tiba di dekat Wei Zhang Zihan.


"Kau dari mana saja?" Wei Zhang Zihan buka suara. Dia bertanya pada pemuda di depannya sambil memeriksa luka Xia Ling Qing dan mencoba mengobati gadis ini dengan memakai energi spiritual miliknya.


"Aku lumayan lama berada di luar. Sulit untuk bisa datang kemari dalam waktu yang singkat. Bagaimana kondisi Nona Xia?"


"Aku hanya bisa menutup luka luarnya, tapi untuk luka dalam... Ini membutuhkan waktu untuk dapat menyembuhkannya." Wei Zhang Zihan memperhatikan Xia Ling Qing sebelum menoleh ke arah binatang yang berhasil ditebas oleh Chu Kai.


Dengan napas pelan, Wei Zhang Zihan berkata. "Kurasa kau tahu apa yang terjadi. Sebelumnya, ada beberapa batu serupa di ruangan lain. Ini akan berbahaya jika para pendekar di berbagai tempat itu tidak tahu apa-apa tentangnya,"


Chu Kai menatap Wei Zhang Zihan dan tiba-tiba saja bertanya, "Ada berapa pendekar yang datang bersamamu ke tempat ini?"


Wei Zhang Zihan memperhatikan subjek di hadapannya dan lantas menggeleng pelan, "Aku tidak tahu. Tapi kurasa.... Mereka yang mengikuti Konferensi Pendekar Muda kebanyakan adalah orang-orang yang datang ke tempat ini."


Chu Kai menarik napas panjang sebelum pada akhirnya buka suara. Dia menatap Wei Zhang Zihan dan berkata, "Pendekar Wei. Kau harus mendengarkan aku. Bawa keluar Nona Xia dan Yang Wang dan juga suruh pendekar yang kau temui untuk keluar dari tempat ini. Sungguh, lokasi ini bukanlah makam kuno yang memiliki harta atau pusaka terhebat, tetapi merupakan sarang roh jahat dan binatang iblis. Kita datang kemari benar-benar hanya untuk mati,"


"Bagaimana.... Kau bisa tahu itu?" Wei Zhang Zihan menatap Chu Kai dengan perasaan yang jelas penuh tanda tanya. Dia sama sekali tidak mengerti bagaimana pemuda ini bisa tahu seolah telah mengenal tempat ini dengan baik.


"Kai...."


"Pendekar Wei, aku tahu kau punya banyak pertanyaan dibenakmu. Tapi ini bukan waktu yang tepat untuk membahas hal itu. Tolong mengertilah dan percaya padaku. Lakukanlah apa yang kukatakan, hanya kau yang bisa menolong Nona Xia dan membawanya ke tempat yang aman." Chu Kai mengembalikan pedang Wei Zhang Zihan dan lantas berdiri.


"Aku janji akan segera menyusulmu, jadi pergilah." Chu Kai berujar kembali dan kemudian mulai berjalan pergi. Dia berlari meninggalkan Wei Zhang Zihan tanpa mempedulikan panggilan pemuda itu.


"Kai..!" Wei Zhang Zihan tidak mungkin pergi untuk mengejar Chu Kai. Dia tidak bisa meninggalkan Xia Ling Qing dan seorang remaja yang juga dia kenali.


"Pendekar Wei, biar kami membantumu..."


Wei Zhang Zihan menoleh. Sosok yang bicara barusan tidak lain adalah Huang Zhang. Dia pun mengangguk pelan dan kini dibantu oleh pemuda itu serta Chen Xiao Yan untuk membawa Xia Ling Qing dan Long Yang Wang ke tempat yang aman.


"Walau aku tidak terlalu memahaminya, tapi kurasa kalian pun mendengar pemuda tadi bicara. Tempat ini... Dipenuhi roh jahat dan binatang iblis,"


Huang Zhang dan Chen Xiao Yang saling berpandangan sebelum menatap ke arah Wei Zhang Zihan. Huang Zhang pun berkata, "Kami mendengarnya tapi.... Tetua kami ada di bagian terdalam tempat ini. Tidak mungkin kami membiarkannya sendirian,"


"Pendekar Wei, kami akan membantu membawa keluar Pendekar Xia Ling Qing. Tapi setelahnya kami harus pergi untuk mencari Tetua kami kembali,"


"Baiklah, sebelumnya aku mengucapkan terima kasih."


*


*


Langkah kaki Chu Kai semakin cepat saat dia berlari. Kedua tangannya terkepal dan ekspresi wajahnya nampak serius. Dia berhenti di salah satu ruangan ketika mendengar suara benturan pedang.


Pandangan Chu Kai lantas terarah pada enam pendekar yang saat ini sedang menghadapi binatang iblis berwujud serigala berbulu hitam. Dia pun memperhatikan setiap pendekar di dalam sana, namun ekspresi wajahnya tidak berubah.


"................."


Chu Kai hanya berdiri dan menyaksikan ketika para pendekar itu kesulitan untuk melawan binatang iblis tersebut. Bahkan saat salah satu pendekar terkena gigitan di kakinya, Chu Kai sama sekali tidak bergerak untuk membantu.


Jantung Chu Kai berdegup kencang sebelum akhirnya bergerak dan meninggalkan tempat itu. Tatapan matanya menandakan ketidakpedulian pada para pendekar yang berada di dalam ruangan tadi.

__ADS_1


"Hmph, kuharap mereka semua mati. Pendekar dari Sekte Bulan Mati tidak pantas diselamatkan. Orang-orang itulah... Yang sudah membuat nona Xia terluka parah,"


Chu Kai tahu dengan jelas seragam dari para pendekar Sekte Bulan Mati. Dia bahkan masih ingat bagaimana anggota sekte itu membuat keributan di kotanya, menyakiti ayahnya, dan bahkan membuat kerusakan di Sekte Gunung Wushi. Pendekar Suci Nalan Shu pun sampai diculik oleh mereka. Jelas, tidak ada yang pantas untuk mendapatkan kebaikannya.


Chu Kai bisa membayangkan jika dia langsung membantu para pendekar tadi, mereka jelas akan pergi begitu saja dan meninggalkannya sendirian. Dia sama sekali tidak berniat untuk menjadi Pendekar Naga yang bertindak bodoh dengan membantu siapa pun, apalagi jika itu berhubungan dengan orang-orang yang jelas sudah banyak membawa kerusakan.


Chu Kai terus bergegas. Hanya saja mungkin dia tidak menyadari bahwa di antara para pendekar dari Sekte Bulan Mati tersebut ada Xue Xiao Wen. Gadis yang merupakan putri dari Tetua Sekte Bulan Mati itu melihat dengan jelas bagaimana Chu Kai yang pergi begitu saja meski tahu orang-orangnya dalam kesulitan.


Xue Xiao Wen tersenyum tipis. Dia lantas mulai melambaikan tangannya dan belasan selendang merah miliknya menyerang monster itu secara membabi buta. Gerakan selendang itu yang sangat cepat membuat binatang iblis di dalam ruangan ini tidak mampu bergerak menghindar ataupun menangis serangan yang ada. Tubuh monster itu pun terpisah-pisah dan bahkan terlempar ke berbagai arah.


"Ini menarik..." pandangan Xue Xiao Wen tetap mengarah ke pintu masuk ruangan ini tanpa mempedulikan keterkejutan para anggota sektenya terkait kemampuan yang baru saja mereka lihat.


"Kalian semua urus sisanya. Aku ingin pergi dan menyapa seseorang terlebih dahulu,"


!


Para anggota Sekte Bulan Mati tersentak mendengar ucapan dari Xue Xiao Wen. Salah satu dari mereka baru akan bicara ketika Xue Xiao Wen pergi begitu saja.


"Nona Xue memiliki kekuatan yang besar, kenapa dia tidak menggunakannya sejak tadi?" salah seorang anggota Sekte Bulan Mati buka suara dan membuat rekannya yang lain menghela napas.


"Entahlah, aku rasa dia memang suka melihat kita semua dalam bahaya."


"Haiih, sudahlah. Lebih baik kita bereskan ini dan segera menyusul nona Xue Xiao Wen,"


Para anggota dari Sekte Bulan Mati itu seolah sudah tahu bagaimana sifat dari putri Tetua Besar mereka. Xue Xiao Wen memang memiliki pikiran yang tidak biasa dan karena hal inilah yang membuat semua orang menjadi sangat waspada saat berada di dekatnya. Dia bisa membawa orang lain ke dalam bahaya sewaktu-waktu.


Inilah juga yang menyebabkan Chu Kai sama sekali tidak menolong orang-orang dari Sekte Bulan Mati tersebut. Dia bukanlah pemuda yang awam hingga tidak mengerti bahaya yang dapat terjadi jika berhadapan dengan Xue Xiao Wen. Masalahnya, Chu Kai tidak menyadari bahwa kehadirannya telah disadari oleh gadis itu sebelumnya dan sekarang Xue Xiao Wen bergerak menyusulnya.


Chu Kai sendiri saat ini terus bergerak ke depan. Tidak lagi dapat terhitung berapa jumlah orang-orang yang tewas di sepanjang jalan yang diambilnya. Belum lagi, dia semakin lama berada di tempat ini---aroma menyengat lagi menyesakkan dada kian terasa.


!


Chu Kai menggunakan lengannya untuk menahan beberapa bebatuan kecil yang terlempar bersamaan dengan debu yang beterbangan.


Chu Kai tanpa sadar menahan napas. Pandangan matanya lantas menangkap sesosok makhluk yang diselimuti debu tebal. Subjek di hadapannya adalah binatang iblis dari jenis Anjing Bulan.


!!


Petir terdengar menyambar di dalam kepala Chu Kai kala menyaksikan sosok yang berdiri dengan gigi menggeram ke arahnya. Dia tidak mungkin melupakan binatang iblis yang satu ini beserta kengerian yang dibawanya.


Napas Chu Kai memberat. Walau binatang iblis di hadapannya masih berusia muda, tetapi rasa trauma berat di masa lalu karena binatang ini belum bisa lepas dari ingatannya. Tangan Chu Kai sampai terlihat gemetar yang menandakan bahwa binatang tersebut seperti sebuah pemantik dari rasa takutnya.


Anjing Bulan yang masih berada di level Binatang Iblis muda ini mempunyai wujud seperti anjing biasa pada umumnya. Hanya saja dia memiliki bulu hitam dengan ekor lebat dan sebuah tanda bulan sabit di keningnya.


Mata anjing ini berwarna biru tanpa pupil dan mempunyai kuku jari yang tajam dengan warna semerah darah. Giginya keras dan bisa langsung meremukkan tulang. Mereka buas dan merupakan sosok yang dianggap dekat dengan iblis. Siapa pun yang bertemu dengan binatang ini, mustahil bisa melepaskan diri.


Chu Kai tidak memiliki ketakutan pada binatang iblis apa pun, tetapi berbeda jika itu adalah Anjing Bulan. Dia masih ingat dengan jelas suara dari makhluk ini ketika tubuhnya nyaris tercabik-cabik dan mati.


Grrrr....


Chu Kai tidak bisa bergerak, traumanya membuat dia kesulitan bahkan untuk mengeluarkan suara. Jantungnya berdetak lebih cepat dan bahkan pandangannya mulai memburam.


Binatang iblis di hadapan Chu Kai kembali mengeluarkan suara geraman dan tiba-tiba saja melompat. Chu Kai terjatuh dan nyaris diterkam andai sebuah selendang merah tidak melesat dan menyerang kepala binatang itu hingga pecah.


!!


Sebuah selendang lain datang dan menyerang tubuh binatang tersebut dengan sangat brutal. Beberapa darah memercik dan mengotori pakaian Chu Kai, bahkan ada beberapa percikan yang mengenai pipinya.


Kaki seseorang menapak lembut di samping tubuh Chu Kai. Suara gemerincing lonceng kecil terdengar saat sosok itu bergerak. Chu Kai yang masih dalam posisi terjatuh melihat subjek yang menyelamatkannya tidak lain adalah Xue Xiao Wen.


"Kau baik-baik saja?" Xue Xiao Wen tersenyum.

__ADS_1


Gadis ini sebenarnya cantik dengan senyuman manis yang indah. Chu Kai bisa saja memuji atau pun berterima kasih andaikan dia tidak tahu sepak terjang dari subjek yang sudah membuat ayah serta masyarakat Kota Jian Yang terluka.


"Butuh bantuan untuk berdiri?" Xue Xiao Wen mengulurkan tangannya dan langsung ditepis oleh Chu Kai.


"Singkirkan tanganmu."


!


Xue Xiao Wen tersentak. Dia berkedip dan lantas tersenyum sambil berkata, "Ketus sekali. Apa ini sejenis ucapan terima kasih yang baru? Padahal aku sudah menyelamatkanmu,"


"Hmph, kau tidak pantas mendapatkannya."


Xue Xiao Wen menatap Chu Kai yang pergi begitu saja. Dia menyilangkan tangan dan kemudian mengikuti pemuda itu.


"Hmm.. Bukankah ini hal yang menarik?" Xue Xiao Wen buka suara. Dia memain-mainkan rambutnya dan berkata, "Sebelumnya kau jelas melihat aku dan anggota sekteku kesulitan, tapi jangankan menolong---kau justru pergi begitu saja. Tapi saat kau dalam kesulitan, justru aku menyelamatkanmu. Ini... Bagaimana harus dijelaskan. Tindakanmu... Sama sekali tidak mencerminkan kebaikan yang selalu dielu-elukan oleh mereka yang berasal dari Aliran Putih,"


"Dan tindakanmu yang mengacaukan kota dan meracuni nona Xia Ling Qing justru sangat mencerminkan mereka yang berasal dari Aliran Hitam," Chu Kai menatap dingin ke arah wanita di sampingnya sebelum kembali memandang ke depan.


"Oh, apa aku pernah melakukan hal itu?" Xue Xiao Wen bertanya dan membuat Chu Kai mengepalkan tangannya seolah menahan amarah.


"Aiya... Bagaimana ini.." Xue Xiao Wen menyentuh lengan pemuda di sampingnya dengan jari telunjuk dan berkata, "Kau jangan marah. Aku sama sekali tidak membuat kekacauan di kota tempat tinggalmu. Itu mungkin anggota sekteku. Mereka anak-anak yang nakal,"


"Jelas-jelas aku berhadapan denganmu saat itu, apa kau tidak ingat?" Chu Kai mengait salah satu pedang yang tergeletak di jalan dan lantas menghunuskannya ke arah Xue Xiao Wen.


!


"Jangan mendekatiku. Aku tahu bahwa kau dan anggota sektemu yang menculik pendekar suci Nalan Shu dan meracuni nona Xia Ling Qing dengan racun dingin. Jadi jika kau sama sekali tidak berniat melepaskan nona Nalan atau memberikan obat penawar racun dingin, maka pergilah dari sini."


"..............." Xue Xiao Wen memperhatikan Chu Kai dengan saksama sebelum mulai buka suara.


Dia pun berkata, "Kenapa kau tidak memohon? Mungkin saja... Aku bisa membantumu,"


"Hmph, memohon di hadapan orang sepertimu sama saja dengan kehilangan harga diri. Akan keselamatan nona Nalan dan mengobati nona Xia Ling Qing dengan caraku sendiri,"


"Pendekar Naga Chu Kai, benar kan?" Xue Xiao Wen menarik napas dan tersenyum, "Aku tahu kau mungkin tidak akan percaya ini tapi aku tidak ingin kebencianmu padamu semakin banyak. Jadi kurasa aku perlu meluruskan beberapa hal,"


Xue Xiao Wen berkata, "Kau jelas tidak tahu apa pun, termasuk duduk permasalahan antara sekteku dengan Sekte Gunung Wushi. Tentu saja, orang-orang sepertimu akan selalu menganggap kami adalah orang yang jahat. Aliran Hitam... Bukankah selalu di-cap seperti itu?"


"..............."


Melihat bahwa pemuda ini masih sangat waspada terhadapnya membuat Xue Xiao Wen kembali berkata, "Sekte Gunung Wushi.... Mereka pernah menyerang sekteku dan juga melakukan kerusakan di Kota Jiangnan. Mereka menculik anggota sekte kami, jadi aku melakukan hal yang sama. Mereka juga menggunakan racun, jadi bisa dibilang ini jenis balas dendam yang adil."


"Tidak mungkin, Sekte Gunung Wushi bukanlah sekte dengan orang-orang jahat seperti sekte milikmu!"


"Tentu saja. Ini karena mereka dari Aliran Putih sehingga tidak mungkin melakukan hal yang tidak manusiawi seperti itu. Benar, kan?" Xue Xiao Wen tersenyum dan menghela napas. Dia pun menggeleng pelan.


"Pendekar Naga Chu Kai, kau masih terlalu polos untuk memahami cara kerja dunia ini." Xue Xiao Wen berkata, "Bagimu.. Kebaikan selalu melekat pada mereka yang berasal dari Aliran Putih, sementara kejahatan selalu ada di sisi Aliran Hitam. Kau tidak tahu bahwa hati yang gelap... Bisa dimiliki oleh siapa pun tanpa terkecuali. Yaah... Aku tidak berniat untuk meyakinkanmu, hanya saja kau harus lebih berhati-hati lagi."


"Yang memilihmu menjadi Pendekar Naga bukankah Master Zhuang Yu Chen?" Xue Xiao Wen kembali buka suara dan kali ini ucapannya membuat Chu Kai tersentak.


Gadis berambut merah bergelombang itu pun kembali berkata, "Master Zhuang Yu Chen tidak berasal dari Aliran Putih maupun dari Aliran Hitam. Kau tahu kenapa? Karena beliau tidak mempercayai siapa pun di antara kedua aliran ini. Beliau hanya percaya bahwa kegelapan hati manusia bisa dimiliki oleh siapa pun. Jika kau masih meragukan ucapanku... Kau bisa mencari tahu dan membuktikannya sendiri,"


"..............." Chu Kai menatap Xue Xiao Wen yang berbalik dan hendak berjalan pergi. Dia memegang kuat pedangnya dan tanpa menurunkan kewaspadaan.


"Lalu mengapa saat itu kau mengirim orang untuk membunuhku?" suara Chu Kai dingin dan membuat langkah Xue Xiao Wen terhenti. Gadis berambut merah itu pun berbalik dan lantas memandang ke arahnya.


"Aku tidak memiliki masalah denganmu atau pun dengan sektemu, tapi di hari itu... Anggota sektemu datang dan berniat membunuhku."


!


******

__ADS_1


__ADS_2