LAHIRNYA PENDEKAR NAGA

LAHIRNYA PENDEKAR NAGA
156 - Pertolongan [2]


__ADS_3

Suara jeritan terdengar bersamaan dengan angin yang berhembus kuat. Chu Kai terkejut pada dua hal, pertama adalah jeritan pada segel di hadapannya dan aura gelap yang tiba-tiba saja muncul dari arah belakang.


Meski terkejut dengan situasi yang sangat tidak terduga ini, Chu Kai tetap mampu menarik pedangnya di waktu yang tepat. Dia melesat ke arah pintu dan ini mengejutkan biksu yang berdiri di sampingnya.


!!


Chu Kai baru saja akan keluar ketika pintu di hadapannya tertutup oleh angin yang kuat sebelum kembali terbuka dengan sangat keras. Ada banyak kepulan asap hitam yang tidak lain adalah energi spiritual dan hanya Chu Kai yang bisa melihatnya.


Asap-asap hitam itu melesat hendak menyerang Wei Zhang Zihan, namun Chu Kai segera melindungi rekannya itu dan tanpa ragu mengayunkan pedangnya.


BAAAAM...!


Dalam satu lambaian pedang, angin kejut tercipta dan bahkan menghancurkan pintu kuil. Biksu yang berada di belakang Chu Kai sangat terkejut dengan kejadian yang ia saksikan.


Wei Zhang Zihan mulai menarik pedangnya. Dia pun menatap biksu di sampingnya dan berkata, "Tolong bawa biksu yang lain untuk pergi dan meninggalkan tempat ini. Kai, kau lindungi mereka."


"Baik," Chu Kai mengangguk, "Biksu. Ayo!"


"Ah, terima kasih."


Chu Kai bergerak lebih dahulu, dia memotong jalan dan berusaha melindungi biksu ini dari asap hitam yang kemungkinan besar adalah roh-roh jahat. Beruntung karena ledakan pintu bangunan, rekan dari biksu ini keluar sehingga mereka tidak harus mencari mereka.


Chu Kai berkedip, terkesan karena kedua rekan dari biksu di sampingnya sambil merapalkan sesuatu yang membuat roh-roh jahat itu tidak sulit mendekati mereka.


"Apa itu rekanmu?" Chu Kai bertanya dan membuat biksu di sampingnya mengangguk pelan.


"Benar, mereka memang mempelajari sutra perlindungan. Aku sendiri belum mahir dalam melakukannya,"


"Amitabha. Lu Yang, sebenarnya apa yang terjadi?" salah satu biksu buka suara. Dia pun menatap ke arah pemuda yang bertarung melawan sesuatu dengan pedangnya.


"Dia adalah pendekar dari Sekte Gunung Wushi yang datang untuk mengatasi segel aneh di dalam kuil,"


"Biksu! Cepat pergi dari sini." Chu Kai berseru, dia terlihat melompat menghindari serangan dari kepulan asap hitam tersebut.


Chu Kai kembali melanjutkan, "Ada dua ekor kuda di bawah sana! Kalian bawa itu dan menjauh dari kuil. Akan kulindungi dari belakang,"


Lu Yang, biksu yang sebelumnya bersama dengan Chu Kai nampak mengangguk. Dia pun mengajak kedua rekannya untuk segera bergegas.

__ADS_1


"Tunggu sebentar," salah satu biksu berhenti saat ia berada di pinggiran anakan tangga. Dia pun menyatukan kedua tangannya, merapalkan sebuah sutra dan kemudian melempar *zhu shu.


*Lingkaran tasbih yang biasa digunakan dalam agama-agama Dharma dan memiliki fungsi sama untuk menghitung dalam pelafalan mantra.


Zhu shu itu melayang di udara dan lantas bersinar keperakan. Setiap butirnya mulai terpisah dan menyebar membentuk lingkaran.


!!


Chu Kai tersentak, dia bisa melihat ada cahaya tipis keperakan yang menyebar mengelilingi halaman kuil ini, memerangkap dirinya dan juga asap-asap hitam yang ia lawan. Dirinya pun menoleh ke arah biksu yang berdiri dibalik tabir cahaya tersebut dan menyaksikan biksu itu mengangguk pelan.


Chu Kai pun mengerti. Dia membalas anggukan biksu tersebut dan kemudian melesat. Dengan adanya cahaya tipis yang menjadi penghalang ini, asap-asap hitam itu tidak akan menyebar keluar.


BAAAAM...!


!!


Chu Kai terkejut saat mendengar suara debaman keras yang berasal dari dalam kuil. Dia merasa bahwa Wei Zhang Zihan yang ada di dalam sana juga sedang bertarung melawan sesuatu yang kuat.


Chu Kai menarik napas, kondisi yang ia hadapi sekarang harus segera diatasi agar dirinya dapat membantu Wei Zhang Zihan. Ini karena suara debaman yang ia dengar semakin lama kian membesar.


BAAAAM...!


Patung buddha ini mempunyai empat tangan yang tidak hanya dapat bergerak, tetapi juga mampu memanjang. Wei Zhang Zihan fokus dalam setiap langkahnya untuk menghindari terjangan tangan patung ini.


Segel darah yang ada di lantai sudah hilang separuhnya dan di saat Wei Zhang Zihan hendak melakukan langkah terakhir---tangan patung ini tiba-tiba saja menyerangnya.


Wei Zhang Zihan kembali menggunakan teknik berpedang miliknya dan berhasil mengenai salah satu tangan patung buddha hingga tertebas. Hanya saja tidak butuh waktu lama sampai tangan patung itu kembali menyatu seperti semula.


!!


Wei Zhang Zihan terkejut ketika serangan dari tangan patung yang ia hadapi kini semakin cepat. Dia menghindari terjangan itu dan tangan patung tersebut pun menembus ke arah langit-langit kuil hingga sebagian balok kayu runtuh.


BAAAAM...!


Wei Zhang Zihan mendengar suara debaman keras dari luar dan kemudian kaget karena tiba-tiba saja terdengar sambaran petir. Bahkan lantai yang ia pijak bergetar cukup kencang.


"Apa yang dilakukan Chu Kai di luar sana," Wei Zhang Zihan merasa harus menyelesaikan ini secepatnya. Namun tepat ketika ia hendak mengeluarkan teknik berpedang yang lebih kuat---sesuatu menerjang masuk dari atap.

__ADS_1


!!!


Suara keras dan angin kejut tercipta, Wei Zhang Zihan bahkan terdorong mundur beberapa langkah. Dia melihat ada seseorang yang menapak di lantai, tepat di hadapannya.


"Kai-"


"Pendekar Wei, aku melawan sesuatu yang aneh. Asap-asap hitam itu tidak bisa dihabisi, bagaimana ini?" Chu Kai menelan ludah. Dia baru akan menoleh ke arah Wei Zhang Zihan ketika salah satu tangan patung buddha menyerangnya.


!!


Chu Kai tidak menghindari serangan itu, tetapi justru menerimanya dengan sebuah ayunan pedang. Serangan dari pemuda bermata hijau alami tersebut menghancurkan tangan patung yang hampir saja memberinya pukulan.


Chu Kai tidak berhenti, dia juga melawan asap-asap kehitaman yang datang. Dia mencoba untuk mendekat ke arah Wei Zhang Zihan.


"Kai, apa kau bisa menahannya beberapa saat? Aku akan menghancurkan segelnya." Wei Zhang Zihan buka suara dan membuat Chu Kai menoleh sejenak ke arahnya.


"Baiklah. Kuserahkan padamu, Pendekar Wei." Chu Kai melesat dan menggunakan teknik tusukan ringan. Dia menahan kekuatannya untuk melindungi tempat ini dari insiden runtuh atau sejenisnya.


Wei Zhang Zihan bergegas ke arah segel darah dan Chu Kai melindunginya dari belakang. Pendekar Suci dari Sekte Gunung Wushi itu pun mulai membentuk segel tangan.


BAAAAM...!


Chu Kai masih bertarung sengit. Selain menghadapi patung buddha yang entah bagaimana bisa menyerang dirinya ini, dia pun harus berhadapan dengan asap-asap hitam yang membuat perasaannya tidak enak dan seolah memaksa agar ia tidak boleh sampai terkena serangan asap tersebut.


Di waktu yang bersamaan juga, Chu Kai pun harus melindungi Wei Zhang Zihan dan berusaha bertahan sampai Pendekar Suci ini selesai dengan segel miliknya.


!!


Chu Kai kembali menghindar. Dia sebenarnya sedang bertanya-tanya mengenai pedang di tangannya Chu Kai. Senjata itu harusnya bisa menghisap asap-asap kehitaman tersebut, tapi pedangnya seolah tidak ingin melakukan hal itu.


Chu Kai jelas merasa sangat keheranan tapi tidak ada waktu untuk memikirkan hal ini terlalu jauh. Dia harus fokus pada apa yang sekarang dihadapinya.


"Pendekar Wei, apa sudah selesai?!" Chu Kai buka suara. Dia menerjang patung buddha di depannya, namun sebuah asap kehitaman datang dari atas dan menghantam tubuhnya.


!!!


Chu Kai tidak mampu menghindari hal itu, tapi yang membuat tercengang adalah fakta bahwa bersamaan ketika asap hitam itu mengenai tubuhnya---Wei Zhang Zihan berhasil menghilangkan segel darah.

__ADS_1


Chu Kai terlihat syok karena rasanya hanya seperti disiram oleh sesuatu yang dingin. Entah apa yang akan terjadi jika Wei Zhang Zihan terlambat sedikit saja.


******


__ADS_2