LAHIRNYA PENDEKAR NAGA

LAHIRNYA PENDEKAR NAGA
74 - Inti Makam Kuno


__ADS_3

PERHATIAN..!


Narasi dengan mode italic merupakan bagian dari ingatan. Terima kasih karena sudah mampir,^^


*


*


Di dalam ruangan itu, Chu Kai menatap ke arah langit-langit yang sebelumnya runtuh. Dia bisa saja keluar lewat jalan yang dilalui oleh Xue Xiao Wen ataupun Wang Xiao Cheng, tetapi dekat dengan kedua orang itu juga bukan ide yang baik.


Dia sudah menunjukkan rasa tidak sukanya pada Xue Xiao Wen. Sejujurnya Chu Kai dapat saja menyerang wanita itu dan menghabisinya, tetapi mengingat bahwa Xue Xiao Wen adalah putri dari Tetua Sekte Bulan Mati---dia pun harus memikirkan cara yang lain.


Jika Xue Xiao Wen tewas, maka bisa dipastikan Sekte Bulan Mati akan keluar dan memporak-porandakan apa pun. Kekuatan sekte itu sesungguhnya masih belum terukur hingga sekarang.


Fakta bahwa Sekte Gunung Wushi dan Kota Jian Yang sampai mendapat serangan yang luar biasa hanya dengan beberapa anggota Sekte Bulan Mati membuat Chu Kai berpikir dua kali untuk melibatkan diri dengan sekte itu.


"............"


Chu Kai melompat naik, dia kembali ke tempat di mana sebelumnya dirinya datang ke ruangan ini. Dinding di sekitarnya tidak terlalu gelap karena diterangi oleh cahaya dari rumput bulan dan tidak ada pergerakan lain yang terdengar ikut mendekat.


Bagi orang lain, rasanya tidak sesuai jika Chu Kai yang menjadi Pendekar Naga. Dia hanya orang biasa, benar-benar pemula dalam teknik berpedang, apalagi sifatnya yang masih sangat naif. Tetapi apa yang terlihat sama sekali tidak demikian.


Tatapan yang selama ini terlihat naif itu dapat berubah jika tidak ada orang di sekitarnya. dari ekspresi wajahnya jelas bahwa Chu Kai sudah menyembunyikan sesuatu yang besar.


"Tempat ini..." Chu Kai melepaskan tinjunya pada dinding keras yang ada di hadapannya. Serangan itu kuat dan menghasilkan suara ledakan.


!!!


Lubang besar tercipta dan di antara debu yang beterbangan karena serangan Chu Kai, dia bisa melihat sesosok makhluk berwujud serigala hitam. Ada lubang besar di bagian perut makhluk itu yang menandakan bahwa dia terkena serangan kuat tanpa peringatan.


Chu Kai melangkah masuk, kakinya sedikit menginjak darah monster ini sebelum mulai mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dia tahu bahwa ada banyak lorong dan akan sangat sulit jika harus mencari jalan ke bagian inti gua makam kuno ini seperti yang dilakukan oleh orang lain.


Para pendekar itu bisa melakukan hal yang sama, tetapi nampaknya mereka tidak ingin membuang-buang tenaga. Di sisi lain, gua makam kuno ini menyimpan banyak harta dan pusaka yang tersebar di berbagai tempat. Tapi Chu Kai tidak datang kemari untuk mengambil harta seperti itu. Dia mempunyai target yang lebih penting.


"Pendekar Wei Zhang Zihan sudah membawa pergi nona Xia Ling Qing dan Long Yang Wang dari sini, maka itu berarti.... Tidak ada yang perlu diselamatkan di tempat ini."


Chu Kai mengepalkan tangan kanannya dan mulai menarik napas. Dia kembali meninju dinding di depannya sambil mengeluarkan Teknik Pernapasan Naga. Energi spiritual yang sangat besar keluar dalam bentuk kepala hewan.


Serangan itu adalah teknik Raungan Kematian yang bentuknya sudah sempurna dan mampu membuat jalan hingga ke tempat yang jauh. Suara keras dari ledakan serangan tersebut mampu menggetarkan tanah di dalam gua makam kuno. Serangan itu mengejutkan para pendekar dan bahkan makhluk penjaga yang ada di ruangan lain.


!!!


Tindakan kasar yang dilakukan oleh Chu Kai membuat beberapa penjaga makam kuno terbangun. Sebuah kelompok pendekar yang terdiri dari enam orang bahkan harus menghadapi hal terburuk dalam hidup mereka karena ledakan yang entah berasal dari mana.


Keenam pendekar itu menghadapi monster berwujud kadal raksasa dengan dua kepala. Dan karena keganasan dari makhluk tersebut, tidak butuh waktu lama sampai para pendekar itu mengembuskan napas terakhirnya.


Chu Kai berjalan tenang, dia bisa mendengar suara raungan monster dan jika fokus pada beberapa titik----dia dapat mendengar teriakan orang-orang di tempat ini. Hanya saja, ekspresi wajahnya sama sekali tidak berubah apalagi menunjukkan rasa takut atau apa pun.


"Tidak tahu ada berapa banyak pendekar yang masuk ke dalam tempat ini, tapi itu bukanlah urusanku." Chu Kai membatin, "Maaf ayah. Tapi aku tidak berniat menolong siapa pun di tempat ini. Manusia-manusia itu sangat serakah, mereka bahkan mengorbankan rekan sendiri saat menghadapi bahaya."


"Aku tidak menjadi Pendekar Naga hanya untuk memusnahkan iblis atau apa pun, tapi juga untuk menghabisi manusia yang sama sekali tidak layak hidup di dunia ini."


Chu Kai terus berjalan, tatapan matanya sangat berbeda dari yang selama ini dia perlihatkan. Rasa-rasanya Chu Kai menjadi... Seperti orang lain.


*


*


"Nona Xue..!"


Xue Xiao Wen sedang berjalan sendirian saat mendengar sebuah suara seruan dari arah samping. Dia pun menoleh dan melihat dua orang pendekar berpakaian merah yang berjalan mendekat ke arahnya.


Salah di antara kedua orang itu adalah gadis berambut pendek bernama Zhu Liu, dan lainnya adalah pria bernama Tang Wu Shang. Mereka bisa dibilang murid Sekte Bulan Mati yang khusus mengawal Xue Xiao Wen.

__ADS_1


"Ambil ini dan ikut aku," Xue Xiao Wen melempar tombak di tangannya dan ditangkap dengan baik oleh Tang Wu Shang.


Reaksi wanita itu terkait dengan kehadiran kedua rekannya nampak begitu biasa, seolah dia sudah memperkirakan kedua rekannya ini akan bisa menemukan dirinya baik di mana pun dia berada.


Hal itu memang tidak mustahil sebab Zhu Liu mempunyai kemampuan untuk mendeteksi keberadaan Xue Xiao Wen. Dia adalah anggota Sekte Bulan Mati yang memiliki keahlian khusus, yakni menggunakan energi spiritualnya untuk berkomunikasi dengan hewan pengerat.


"Apa tikus-tikus milikmu sudah menemukan lokasi pedang itu?" nada suara Xue Xiao Wen tenang saat bicara dengan Zhu Liu.


"Nona Xue tenang saja, saat ini tempat pedang itu sudah berhasil ditemukan. Anda bisa langsung mengikuti saya,"


Xue Xiao Wen tersenyum dan kemudian mulai melangkah, "Kalian masih ingat apa yang harus dilakukan selanjutnya, kan?"


"Tentu saja," Tang Wu Shang berkata, "Setelah mendapatkan pusaka itu.... Semua pendekar yang ada di tempat ini akan segera mati."


"Apakah juga termasuk... Tetua Sekte Menara Rufeng?" Xue Xiao Wen menatap pemuda yang berjalan di sampingnya dan melihat sosok itu tersenyum.


Tang Wu Shang menjawab, "Nona Xue. Jika kau begitu menginginkan kematian Tetua Sheng Zhei Wang, maka aku pasti akan melakukannya segera.... Untukmu."


Xue Xiao Wen tertawa ringan, "Jangan dulu untuk sekarang. Aku lebih suka mengumpulkan banyak musuh dan menghancurkan mereka secara sekaligus."


Dari tatapan matanya, jelas bahwa Xue Xiao Wen telah mengatur sebuah rencana. Tindakan yang membuatnya merebut pusaka Tombak Tiga Bencana yang harusnya dimiliki oleh Wang Xiao Cheng kemungkinan besar adalah bagian dari rencana yang disusunnya.


Dia bahkan tidak mengindahkan peringatan dari pemuda Sekte Tianzhi itu dan tanpa ragu melarikan diri. Pemikiran Chu Kai benar sekali terhadap wanita ini. Xue Xiao Wen tidak bisa dipercaya.


Zhu Liu berjalan di depan, energi spritual yang membentuk bagai akar energi merambat di antara kakinya. Tidak butuh waktu lama sampai terlihat sekumpulan hewan pengerat yang berlari ke depan sambil mengeluarkan suara decitan.


Hanya saja tidak berlangsung lama, terdengar suara ledakan yang membuat Xue Xiao Wen, Zhu Liu, dan Tang Wu Shang terkejut. Suara yang terdengar itu sangat berbeda dari suara pertarungan para pendekar melawan para penjaga gua makam kuno ini.


"Apa kalian juga merasakannya..?" Xue Xiao Wen buka suara. Ekspresi wajahnya terlihat begitu serius.


Zhu Liu melebarkan mata seolah terkejut dengan sesuatu. Dia pun menatap Xue Xiao Wen dan berkata, "Nona Xue. Kita harus cepat. Beberapa peliharaan milikku mati ketika sedang menuju lokasi pusaka itu."


!!


*


*


Bagian inti dari gua makam kuno ini terlihat seperti arena pertarungan dengan bentuk panggung arena yang melingkar. Ada beberapa lorong yang seolah menjadi pertanda bahwa siapa pun bisa datang ke tempat ini dari arah mana saja. Tentunya setelah mereka melewati lorong yang seakan tidak ada habisnya.


Di atas panggung arena itu, terlihat tumpukan bebatuan dan beberapa tengkorak makhluk hidup, tidak sedikit yang merupakan tengkorak manusia. Dan tidak hanya tengkorak itu, tetapi juga terdapat banyak pedang yang tertancap di sekitarnya.


"..............."


Beberapa pedang terlihat mengeluarkan aura yang tidak biasa. Chu Kai baru mengambil beberapa langkah ketika suasana di tempat ini mulai berubah aneh. Dia mendengar suara tiupan angin dan benda yang bergerak. Chu Kai juga mendengar suara gesekan dan tepat saat dia hendak menoleh---sesuatu dengan cepat melintas ke arahnya.


!!!


Chu Kai refleks memiringkan kepala dan berikutnya terdengar suara ledakan. Sebuah benda menancap di dinding, nyaris mengenai kepala Chu Kai andai dia tidak segera menghindar.


Chu Kai berbalik untuk melihat benda apa yang hampir mengenainya tadi dan dia terkejut saat tahu bahwa objek itu ternyata adalah sebuah pedang dengan bilah berwarna merah terang.


!!


Pedang itu kembali bergerak dan tercabut sendiri dari tempatnya menancap. Beberapa pedang yang ada di sekitar Chu Kai juga mulai memperlihatkan eksistensi mereka. Senjata-senjata itu melayang dan kemudian secara bersamaan melesat melakukan serangan.


Chu Kai bergerak menghindari setiap serangan yang datang. Refleksnya membuat pedang-pedang itu sulit untuk menjangkau Chu Kai meskipun tetap ada serangan yang tidak bisa dihindari.


!!


Lengan kanan dan paha kiri Chu Kai terluka. Dia menahan erangan dan kembali bergerak. Ekspresi wajahnya tidak berubah, justru begitu fokus untuk mencari celah dari situasinya saat ini.


"Rasa sesak ini..." Chu Kai menarik salah satu pedang yang tertancap dan melesat. Dia pun menangkis beberapa pedang yang menyerang seolah memiliki pikiran mereka sendiri.

__ADS_1


"Aku rasa tempat ini sudah dipenuhi oleh aura kematian. Roh makhluk yang sudah mati di tempat ini dalam waktu yang lama telah bersemayam di dalam pedang sehingga mampu membuat benda-benda ini bergerak. Masalahnya... Ada beberapa di antara mereka yang sepertinya bukan pedang biasa."


!!!


Ukh!


Chu Kai kembali terdorong, dia berusaha keras untuk menahan serangan yang datang secara bertubi-tubi. Pedang-pedang itu melesat seolah tidak membiarkannya mengambil napas barang sejenak.


"Teknik Pernapasan Naga.... Tanpa Jejak."


Teknik yang dikeluarkan Chu Kai membuat pedang-pedang yang sebelumnya melesat cepat terhenti di udara, namun hanya dalam waktu singkat sampai mereka kembali pada keadaan sebelumnya. Kejadian ini tentu saja sangat mengejutkan.


"Tunggu! Ini..." Chu Kai menyadari sesuatu.


Pergerakan pedang-pedang terbang itu selalu mengikut arah dari suara hembusan angin yang terdengar oleh telinganya. Dan meskipun samar, namun ada beberapa kesempatan di mana Chu Kai dapat melihat bentangan benang merah.


Lintasan benang itu seakan-akan menjadi garis yang terus diikuti oleh pedang-pedang di hadapannya. Chu Kai menarik napas, dia merasa perlu menguji apa yang sudah ditemukannya ini.


Chu Kai melompat dan saat menapakkan kakinya, posisi tubuhnya pun berganti. Gerakan yang dia lakukan tidak secepat tadi, tetapi penuh perhitungan. Dan justru karena gerakan itu, tubuh Chu Kai menjadi lebih ringan.


!!


Tentu saja Chu Kai terkejut. Entah bagaimana, tetapi pergerakan kakinya benar-benar dapat mengatasi pedang-pedang terbang ini.


"Rasanya.... Ini sebuah teknik berpedang!"


!!!


Chu Kai akhirnya menyadari rahasia dari gerakan pedang-pedang terbang di sekelilingnya. Senjata itu bergerak, namun tidak memiliki nafsu membunuh. Seolah senjata-senjata itu menyerang dengan maksud agar Chu Kai mengikuti pergerakan mereka.


"Hebat-" Chu Kai baru saja akan memuji ketika mulai banyak suara yang terdengar di telinganya.


"Karenamu... Aku kini tidak perlu khawatir Teknik Seribu Pedang dari sekte kita menghilang. Kau melampaui harapanku,"


"Masa depan sekte ini ada di tanganmu, kau memiliki bakat yang hebat."


"Mereka sangat iri karena Bukit Bunga Persik kita memiliki berlian sepertimu. Kau sudah membuatku sangat bangga."


"Suara dari ingatan apa ini..?" Chu Kai mengerutkan keningnya. Ada terlalu banyak suara sehingga di perlu fokus mendengarkan beberapa yang penting. Tentu saja dengan tetap memperhatikan langkahnya.


!!


Chu Kai melebarkan matanya. Kali ini dia mendengar suara yang penuh luapan amarah, bahkan terasa dia mampu membayangkan langit yang ditutupi awan gelap, petir yang menyambar berulang kali, dan derasnya air hujan.


Tidak hanya itu saja, Chu Kai seolah melihat ada banyak manusia yang terbaring tidak bernyawa, tewas secara mengenaskan, dengan genangan air yang bercampur darah. Bahkan suasana mencekam yang dalam penglihatannya masuk dan menusuk sumsum tulangnya.


"Monster... Bagaimana kau bisa berbuat seperti ini?!"


"Kau menghabisi saudara seperguruanmu sendiri dan kau juga ingin membunuh Shizun-mu?!"


"Shizun? Pffft ha ha ha. Tua bangka itu hanya mengajarkan Teknik Seribu Pedang padaku. Dan dia tahu bahwa aku mengincar hal yang lebih dari itu. Senior, aku sangat marah dan tidak baik memendam kemarahan ini sendirian. Jadi kubagi dengan kalian, hmph. Bukankah harusnya begitu?"


"Kau... Iblis sepertimu-"


"Jangan katakan hal yang akan kau sesali. Aku bisa saja lupa dan justru memperlihatkan betapa menyeramkannya... Makhluk yang kau sebut iblis itu."


"SHUXIANG..!"


!!!


"Teknik Pernapasan Naga... LEDAKAN..!" Chu Kai berteriak dan meninju ke arah lantai. Seluruh tengkorak di dalam ruangan itu meledak hingga menjadi kepingan dan bahkan pedang-pedang yang beterbangan di sekitarnya ikut meledak.


Hanya pusaka tingkat tinggi hingga tingkat ke atas yang masih berbentuk, walau ada beberapa di antara mereka yang terbelah dua. Satu-satunya objek yang menancap dan tidak bergeming di tempatnya adalah pedang yang entah bagaimana justru terlihat seperti batu.

__ADS_1


******


__ADS_2