LAHIRNYA PENDEKAR NAGA

LAHIRNYA PENDEKAR NAGA
84 - Xia Ling Qing [2]


__ADS_3

Chu Kai memegang cawan keramik berisi obat herbal di tangannya. Dia sudah tiga kali menelan ludah karena hatinya keberatan untuk membantu meminumkan obat ini pada seorang Wei Zhang Zihan.


"Apa lagi yang kau tunggu? Cepat lakukan, aku benar-benar ingin melihatnya." Wei Shezi buka suara dan membuat Chu Kai kesal.


"Kenapa kau sangat ingin melihat hal yang absurd begini? Dasar," Chu Kai mengulurkan tangan dan menepuk-nepuk lengan Wei Zhang Zihan. Berharap agar pemuda ini bisa bangun hingga dia tidak perlu melakukan hal yang membuat merinding.


"Pendekar Wei? Pendekar Wei..!" Chu Kai berusaha memanggil Wei Zhang Zihan tetapi tetap saja tidak berhasil. Dia mengusap-usap wajahnya sebelum mulai menarik napas.


"Baiklah, akan kututup mataku." Chu Kai menyesap cukup banyak obat herbal sebelum meletakkan cawan tersebut di atas sebuah meja.


Dengan satu tangan, Chu Kai mulai mengangkat pelan dagu Wei Zhang Zihan dan menunduk. Dia memejamkan mata dan tepat saat bibir itu nyaris bersentuhan---pintu di belakangnya terbuka dengan sangat keras.


Chu Kai yang kaget menyemburkan obat di mulutnya ke wajah Wei Zhang Zihan. Dia pun menjauh dan terbatuk beberapa kali. Chu Kai kembali kaget karena menyadari apa yang sudah dilakukannya.


"Astaga-"


"Apa yang kau lakukan?" suara seorang wanita menyela dan membuat Chu Kai berbalik. Sosok yang membuka pintu dengan kasar tersebut tidak lain adalah Xia Ling Qing.


"No-Nona Xia?!" Chu Kai baru akan buka suara saat rasa pahit di lidahnya mulai mengganggu. Dia pun mengambil air yang ada di atas meja dan meminumnya.


Xia Ling Qing berjalan ke tempat di mana Wei Zhang Zihan berbaring. Wajah pemuda ini agak kotor sebab disembur oleh Chu Kai. Xia Ling Qing pun menatap pemuda bermata hijau itu sebelum mulai buka suara.


"Apa yang ingin kau lakukan padanya?" Xia Ling Qing bertanya dan membuat Chu Kai berkedip.


"Aku.. Ingin memberikan obat pada Pendekar Wei,"


"Tsk," Xia Ling Qing mengambil cawan berisi obat herbal di atas meja dan kemudian langsung menjepit hidung Wei Zhang Zihan hingga mulut pemuda itu terbuka.


!!!


"Ya ampun, dia gadis yang sangat kasar." suara Wei Shezi terdengar di kepala Chu Kai dan sepertinya pemuda itu pun memikirkan hal yang sama.


"Sudah selesai, sekarang bersihkan wajahnya." Xia Ling Qing duduk di sebuah kursi dan terlihat menatap tajam ke arah Chu Kai.


Tentu saja, suasana yang tiba-tiba berubah ini membuat Chu Kai tegang. Pemuda itu bahkan kesulitan menelan ludah dan tidak punya pilihan selain duduk di pinggir tempat tidur, tepat di samping Wei Zhang Zihan yang belum juga bangun.


Chu Kai membersihkan wajah Wei Zhang Zihan dengan sapu tangan miliknya. Dia melakukan hal tersebut dengan hati-hati sambil sesekali menatap Xia Ling Qing. Gadis berpakaian biru itu terus memperlihatkan ekspresi yang dingin padanya.


"Ehm... Nona Xia, apa kau baik-baik saja?" Chu Kai buka suara. Nadanya terdengar pelan dan sedikit tidak nyaman karena khawatir Xia Ling Qing akan marah padanya.


"Kau yang membawa kami kemari?" Xia Ling Qing bertanya tanpa nada dan membuat Chu Kai tegang.


"Mn, be-benar."


"Setelah kau selesai membersihkannya, turun dan makanlah. Kau juga perlu istirahat,"


!!


Chu Kai tersentak, dia berkedip beberapa kali dan memperlihatkan ekspresi yang tak percaya sebab Xia Ling Qing sama sekali tidak marah. Dia pun bangun dari tempat duduknya dan dengan canggung berjalan ke arah pintu.


"A-aku akan membawakan makanan kemari," Chu Kai buka suara dan hanya diberi gumaman pelan oleh Xia Ling Qing. Pemuda itu kembali memperlihatkan ekspresi yang tidak percaya.


Setelah menutup pintu dan membiarkan Xia Ling Qing di dalam kamar Wei Zhang Zihan, Chu Kai pun berjalan menuruni tangga dan terus memikirkannya. Dia terlihat menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kenapa reaksi nona Xia Ling Qing seperti itu? Apa dia tidak ingat?" Chu Kai mengusap-usap dagunya dan bergumam, "Dia benar-benar tidak marah padaku."


"Apa kau sangat ingin dia memarahimu?" suara Wei Shezi terdengar.


Chu Kai menggeleng, "Aku tentu lebih suka jika dia bisa tersenyum dan baik padaku. Tapi aku rasa jika dia bersikap demikian... Aku akan merasa tidak nyaman. Aku lebih terbiasa dengan sikap kasarnya,"


"Apa kau ini punya kecendrungan masokis?"


"Ma-apa?"


"Kau lebih suka saat dia kasar padamu. Itu adalah ciri-ciri M."


"Siapa juga yang menyukainya, apa aku mengatakan hal itu?"

__ADS_1


"Kau barusan mengatakannya tahu!"


"Aku tidak tahu bahasa planet apa yang kau gunakan. Berhenti bicara," Chu Kai menepis udara seolah ingin menghentikan suara Wei Shezi, namun sia-sia belaka.


Wei Shezi mendengus, "Tapi sungguh. Gadis itu datang di waktu yang tepat. Padahal hampir saja aku melihat sesuatu yang menarik,"


"Kau-"


"Pffft, baiklah. Aku tidak akan menggodamu, namun sebaiknya kau cepat karena yang aku lihat, gadis itu belum sepenuhnya pulih. Dia terlihat.... Sangat memaksakan diri.


!


Chu Kai berhenti melangkah. Dia tersentak dengan ucapan Wei Shezi sebelum kembali berjalan. Ekspresi wajahnya terlihat berubah.


Chu Kai pun berujar, "Nona Xia memang orang yang seperti itu. Dia... Sebenarnya takut tidur sendirian."


"Apa?"


"Aku ini sangat menggemari Kelima Pendekar Suci. Kebiasaan, cara jalan, bahkan sikap mereka... Aku mengikuti semuanya. Termasuk pada rumor jelek yang selalu dikaitkan dengan kelima pendekar itu." Chu Kai menarik napas sebelum mengembuskannya perlahan.


Chu Kai berkata, "Nona Xia yang sangat takut tidur sendiri adalah salah satu rumor yang tidak dipercaya oleh banyak orang. Tapi aku tahu bahwa itu bukan sekadar rumor,"


"Sepertinya..."


"Benar. Pendekar Xia Ling Qing mempunyai trauma masa kecil. Ibunya tewas di tempat tidur bahkan dia tidak tahu ada penyusup yang menyerang Sekte Gunung Wushi saat itu. Usia nona Xia Ling Qing sendiri sekitar 7 Tahun dan kau bisa bayangkan... Bagaimana seseorang yang tidur di sampingmu mati dalam kondisi kepala yang terpenggal dengan tubuh penuh darah."


Chu Kai menarik napas dan melanjutkan, "Nona Xia Ling Qing sebenarnya paling takut untuk tidur. Itulah sebabnya dia selalu berlatih hingga kelelahan karena hanya saat tubuhnya sudah lelah... Dia akan langsung tidur tanpa membayangkan hal yang buruk. Tapi saat terbangun, dia pasti akan langsung terkejut."


"Kau ini... Kenapa kau begitu tahu dengan masa lalu gadis itu?"


"Sudah kubilang, kan. Aku ini adalah pengagum kelima pendekar suci dan di antara mereka semua... Aku sangat menyukai nona Xia Ling Qing. Dia adalah calon ibu dari anak-anakku."


"Astaga, tidak tahu malu."


*


*


Dia tahu bahwa racun dingin masih ada di dalam tubuhnya, namun memang sulit untuk mengeluarkan racun itu karena keberadaannya yang tidak terdeteksi. Biasanya, racun akan mengendap pada organ di dalam tubuh... Tapi racun dingin sama sekali tidak seperti itu.


Racun dingin dalam tubuh Xia Ling Qing baru akan bereaksi saat hujan turun. Masalahnya dia tidak bisa menunggu sampai saat itu tiba karena akan sangat berbahaya.


"................." Xia Ling Qing mengembuskan napas. Dia teringat pada serangan yang dilakukannya terhadap Xue Xiaowen dan para anggota Sekte Bulan Mati.


Ada sosok yang sangat kuat di belakang Xue Xiaowen. Kalau saja sosok tersebut tidak turun tangan, maka putri dari tetua Sekte Bulan Mati itu pasti sudah tewas di tangannya. Mengingat Xue Xiaowen berhasil melarikan diri membuat darah Xia Ling Qing mendidih.


"Tsk, sialan." Xia Ling Qing mengumpat saat terdengar suara ketukan pintu. Sosok yang membuka pintu tersebut tidak lain adalah Chu Kai. Pemuda itu datang dengan sebuah nampan berisi makanan serta dua orang pelayan kedai bersamanya.


"Letakkan saja di sini, terima kasih." Chu Kai tersenyum pada kedua pelayan yang sudah membantunya. Dia pun menatap Xia Ling Qing dan memanggil gadis itu untuk makan bersama.


Xia Ling Qing memperhatikan Chu Kai dengan saksama dan tindakannya membuat pemuda bermata hijau alami itu gugup. Dia pun lantas berjalan mendekat dan duduk sebuah meja lantai yang khusus disediakan oleh pelayan di tempat ini.


Chu Kai menelan ludah dan terbata saat bicara. Dia berkata, "A-aku tidak tahu makanan apa yang Nona Xia suka. Ja-jadi aku..."


"Kurasa kau mengenalku cukup baik," Xia Ling Qing buka suara dan membuat Chu Kai tegang. Gadis itu mengambil sumpit dan lantas mulai memperhatikan sajian yang ada di depannya.


Chu Kai memesan Ayam Kung Pao. Sebuah masakan pedas dengan hidangan ayam yang dan memiliki aroma yang harum. Daging ayam di potong dadu, ditumis dan diberi mentimun, cabai kering, serta kacang.


Hidangan lain yang dipesan Chu Kai adalah sayur bening, sup kepala ikan dengan daging yang gurih, dua mangkuk nasi dan semangkuk bubur *báizhōu untuk Wei Zhang Zihan.


^^^*báizhōu \= bubur nasi dengan kaldu, jahe, dan garam. Di atasnya diberikan irisan daging, tahu, sayuran, dan kacang hijau.^^^


Chu Kai memang tidak tahu makanan yang disukai oleh Xia Ling Qing, tetapi itu karena dia tahu benar bahwa gadis ini tidak pernah memilih-milih makanan. Bahkan itu dapat dibuktikan dengan bagaimana Xia Ling Qing sekarang mulai memakan apa yang tersaji di hadapannya.


"Kenapa kau hanya menatapku?" Xia Ling Qing buka suara. Nadanya dingin dan membuat Chu Kai tersentak.


"Ma-maafkan aku," Chu Kai pun mulai mengambil sumpit di dekatnya. Dia bersuara pelan, "Apa... Pendekar Wei masih belum bangun?"

__ADS_1


"Kondisinya sudah membaik. Dia akan bangun sebentar lagi, kau makan saja."


"............ Maaf jika aku mengatakan ini, tapi apa yang sebenarnya terjadi?" Chu Kai buka suara. "Saat di dalam makam kuno itu... Aku yakin bahwa Pendekar Wei baik-baik saja. Nona Xia juga tidak mengalami luka parah, tapi...."


"Benar," Xia Ling Qing teringat sesuatu dan menyela. Dia pun menatap Chu Kai dan bertanya, "Kau berada di dalam gua itu sendirian, kan? Apa yang sudah kau lakukan?"


?!


"Dasar bodoh. Kenapa kau mengungkitnya?" suara Wei Shezi terdengar di kepala Chu Kai.


"................."


"Kenapa kau diam?" Xia Ling Qing kembali buka suara dan membuat Chu Kai menatap ke arahnya.


Chu Kai menarik napas dan menjawab, "Aku terjebak di dalam gua itu. Bukannya keluar, aku justru pergi ke bagian terdalam gua dan lalu menemukan sebuah pedang. Kurasa itu sejenis pusaka,"


"Kenapa kau mengatakannya?!" Wei Shezi protes, namun hanya Chu Kai yang bisa mendengarnya.


"Pedang... Pusaka? Apakah Pedang Pendekar Naga?"


"Entahlah, itu justru terlihat seperti Pedang Iblis di mataku karena saat ada orang yang hendak menyentuhnya---orang itu langsung tewas dengan kondisi tubuh yang terpotong-potong."


"Pedang itu memang tidak akan mudah untuk dimiliki sembarangan orang. Hanya sosok yang mempunyai aura naga yang dapat memegangnya. Jadi apa sekarang pedang itu ada padamu?"


Chu Kai menggeleng pelan, "Aku memberikan pedang itu pada Long Yang Wang. Dia berkata bahwa ibunya sedang dalam bahaya karena disandera oleh para binatang iblis."


"Kau... Apa kau sudah tidak waras?!" Xia Ling Qing membentak. Dia berkata, "Kenapa kau memberikannya pada seseorang yang bahkan tidak kau kenali. Long Yang Wang itu... Anak remaja berjubah hitam itu, kan?"


"Be-benar,"


"Apa kau tidak tahu bahwa dia adalah binatang iblis?!"


"Aku... Aku mengetahuinya,"


Xia Ling Qing menaruh sumpitnya dengan kasar di meja dan membuat Chu Kai kaget. Gadis itu pun berkata, "Apa pun alasannya... Kau tidak seharusnya memberikan pusaka seberbahaya itu pada seseorang, apalagi jika orang itu adalah jelmaan binatang iblis. Apa kau tidak tahu ada berapa banyak manusia yang mati karena mereka, hah?"


"Nona Xia... Aku... Aku minta maaf," Chu Kai menunduk dan melihat hal itu membuat Xia Ling Qing menghela napas.


"Haaah.... Masalahnya sekarang tambah buruk,"


"Aku tahu dia khawatir," suara Wei Shezi terdengar di dalam kepala Chu Kai. Wanita itu berkata, "Pedang Iblis yang berada di tangan anak itu sama sekali tidak berbahaya. Tetapi beda halnya dengan pedang yang ada bersamamu,"


"Mn? Apa maksudmu?"


"Jika kita ibaratkan Pedang Iblis adalah cangkang, maka Pedang Pendekar Naga yang kau ambil merupakan isinya. Pedang itu menyatu dalam dirimu, tapi untuk sekarang kau belum bisa menggunakan kekuatannya."


"Apa... Nona Xia harus mendengar ini?"


"Melihat reaksinya sekarang... Sepertinya dia sudah tidak ingin membahasnya lagi denganmu. Dan kalau boleh kuberi saran, ada baiknya masalah pedang itu... Tidak sampai diketahui oleh orang lain."


Wei Shezi kembali berkata, "Kau yang sudah terpilih menjadi Pendekar Naga saja telah membuat banyak manusia dan binatang iblis mengincarmu. Sekarang pedang pusaka itu juga ada di tanganmu dan kamu masih belum bisa mengatasi teknik pernapasan kuno itu."


"Dengarkan aku," Wei Shezi melanjutkan. "Sebelum kau berhasil mengendalikan teknik pernapasan kuno itu, maka ada baiknya terus menyimpan rahasia dari Pedang Pendekar Naga tersebut."


"................." Chu Kai menarik napas dan kemudian mengangguk pelan, "Aku mengerti."


"Ada apa denganmu?" Xia Ling Qing bertanya sebab sejak tadi pemuda di hadapannya diam dan tiba-tiba saja menarik napas begitu dalam.


Chu Kai menaikkan sebelah alisnya dan kemudian tersadar. Dia pun tersenyum dan berkata, "Aku berpikir bahwa... Makan dengan Nona Xia terasa seperti makan dengan keluarga kecil."


"Hah," Xia Ling Qing mendengus dan berkata, "Apa kau akan bicara hal bodoh seperti itu di saat ada orang yang terbaring sakit di sini?"


"Aku kan hanya menyampaikan pendapatku," Chu Kai memanyunkan bibirnya sebelum kembali tersenyum. Dia pun berkata, "Tapi Nona Xia. Bukankah kita ini sangat cocok? Bagaimana kalau-"


"Bicara hal yang aneh lagi, maka sumpit ini akan menancap di lehermu."


"Ti-tidak perlu, aku hanya bercanda. Hanya bercanda," Chu Kai tersenyum canggung dan kemudian melanjutkan makannya.

__ADS_1


Pemuda bermata hijau itu tidak tahu bahwa karena tindakan Xia Ling Qing yang menyerang Xue Xiaowen---saat ini gadis dari Sekte Bulan Mati tersebut sedang melampiaskan amarahnya.


******


__ADS_2