LAHIRNYA PENDEKAR NAGA

LAHIRNYA PENDEKAR NAGA
124 - Target Serangan


__ADS_3

Mendengar seruan itu membuat Chu Kai langsung menoleh. Dia seketika menjadi pusat perhatian para pendekar di tempat ini dan ada cukup banyak di antara mereka yang nampak memandangnya dengan remeh.


"Pendekar Naga?" Jiao Zhi Lin dari Sekte Serigala Api nampak mendengus. Baginya, masih terlalu awal untuk merasa terkesan dengan seorang pemuda seperti Chu Kai. Apalagi yang ia dengar bahwa Pendekar Naga yang terpilih itu berasal dari kalangan warga biasa dan baru belajar kultivasi di usia yang begitu tua.


"Dia masih terlalu pemula untuk diberikan gelar yang begitu hebat." seorang pendekar buka suara. Pria tersebut nampak menyilangkan tangan dan seolah sengaja bicara keras agar semua orang mendengarnya.


"Sialan! Mau Pendekar Naga atau bukan, kau sudah menghancurkan altar-nya..!" salah satu pendekar berseru. Dia terlihat marah sambil menghunuskan pedangnya.


Tindakan subjek itu memancing pendekar lainnya dan mereka pun kini meminta Chu Kai bertanggung jawab. Shuang Shu Chen yang menyaksikan kejadian ini nampak mendengus pelan, cukup penasaran dengan apa yang sebentar lagi akan menimpa Pendekar Naga dari Sekte Gunung Wushi itu.


"Jelas sekali bahwa dia tidak membiarkan kita menggunakan altar itu. Sekte Gunung Wushi memang sangat licik..!"


"Benar! Dia ingin memonopoli semuanya sendiri. Dasar kurang ajar!"


"Kau harus bertanggung jawab!"


"Benar! Bertanggung jawablah..!"


Orang-orang ini mendesak. Liu Han Ying yang menyaksikan hal tersebut terlihat menggeleng. Kebanyakan pendekar yang protes berasal dari aliran hitam dan sebagiannya lagi adalah mereka yang sangat serakah serta memusuhi Sekte Gunung Wushi.


Sebuah tangan terulur dan membuat mata Chu Kai melebar. Ada seseorang yang berdiri di depannya, seakan melindunginya dari para pendekar yang sudah menarik setiap senjata mereka. Sosok yang memunggunginya saat ini tidak lain adalah Wei Zhang Zihan.


"Pe-Pendekar Wei?"


"Situasinya tidak baik. Akan kucari cara agar kau bisa pergi,"


!


Chu Kai tersentak, dia memperhatikan Wei Zhang Zihan dan lantas tersenyum samar. Di sisi lain, Wu Feng Hai dan Cao Mang yang berasal dari aliran hitam melihat peluang dari situasi ini.


Jika para kultivator bekerja sama mengalahkan Pendekar Naga, maka teknik dan harta yang orang itu temukan dari makam kuno ini akan bisa mereka rebut. Selain itu, anggotanya Sekte Gunung Wushi hanya ada tiga orang dan dari yang terlihat... Pendekar dari aliran putih lainnya seakan tidak berniat untuk memberikan bantuan.


Wei Zhang Zihan mengulurkan tangan dan mulai menyentuh pegangan pedangnya. Ia baru akan menarik senjatanya ketika sebuah tangan menyentuh bahunya dari belakang.

__ADS_1


"Pendekar Wei, terima kasih. Kau sangat baik," Chu Kai melangkah, dia berdiri di samping Wei Zhang Zihan dan menatap lurus ke arah sosok yang sebelumnya mengawali situasi ini.


Segaris senyum terbentuk di wajah Chu Kai. Dia sedikit memiringkan kepalanya dan lalu mendengus. Chu Kai berkata, "Sebenarnya... Bukan hanya tidak ingin memberikan kalian kesempatan untuk memakai altar itu. Aku juga berniat membunuh para pendekar yang ada di altar itu. Sayang sekali... Mereka memperoleh kesadaran dengan lebih cepat."


!!?


Shuang Shu Chen, Ling Xian Shu, dan semua orang yang ada di ruangan itu jelas sangat terkejut dengan pengakuan Chu Kai. Wei Zhang Zihan pun sampai menoleh karena tidak menyangka dengan apa yang ia dengar.


"Kai...." Liu Han Ying melotot dan bahkan mulutnya pun terbuka lebar. Dia berkedip beberapa kali dan yakin bahwa ucapan pemuda bermata hijau alami ini sama sekali bukan ilusi.


Wei Zhang Zihan baru akan buka suara saat tiba-tiba suasana menjadi tegang. Dia dan para pendekar yang berada cukup dekat dengan Chu Kai seketika melompat mundur. Mereka semua terlihat sangat waspada.


"Kalian selalu saja menyebut Pendekar Naga, Pendekar Naga yang terpilih, lalu apa aku harus melakukan apa yang kalian inginkan? Melindungi dunia? Ha ha ha, mustahil."


Suara dingin itu terdengar bersamaan dengan energi spiritual yang berkumpul menyelimuti tubuh Chu Kai. Liu Han Ying menyerukan nama pemuda itu dan benar-benar tidak mengerti kenapa sikap pemuda tersebut bisa berubah seperti ini.


Sebuah pedang terbentuk di tangan Chu Kai dan dia pun berkata, "Maaf saja. Tapi aku tidak ingin menjadi Pendekar Naga untuk melindungi dunia."


!!!


Lokasi Wei Shezi sudah sangat jauh dari area makam kuno. Dia sebelumnya memutuskan untuk tidak melanjutkan penjelajahan makam karena mengetahui kondisi Xia Ling Qing. Tidak disangka, keputusan yang diambilnya tersebut sangat tepat.


"Ledakan apa itu?" seorang pendekar yang juga bersama dengan Xia Ling Qing nampak kaget. Dia dan beberapa orang lainnya juga sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan menjelajah makam karena banyak sekali rintang yang mengancam nyawa.


Selain itu, pendekar tersebut juga membawa Nalan Shu dan ada di antara rekannya yang mengalami cukup banyak luka. Mereka sudah mendapatkan beberapa benda berharga di dalam makam dan tidak ingin serakah, apalagi mengharapkan Teknik Manifestasi.


Di tempat Chu Kai sendiri, pemuda bermata hijau alami itu tidak hanya meledakkan langit-langit di atasnya, tetapi juga menghempaskan makhluk yang menghuni kobaran api sebelumnya.


Monster lidah api itu mempunyai wujud seperti gumpalan daging yang besar. Bentuknya pipih, namun mempunyai banyak tentakel berselimut api dan inilah benda yang menarik para pendekar untuk dibakar hidup-hidup.


Dengan serangan yang luar biasa itu, tubuh makhluk itu terpisah-pisah dan menyebar ke berbagai arah. Api belum padam dan ini membuat beberapa ruangan terbakar. Di sisi lain, bahkan dinding di sekitar Chu Kai pun juga ikut menjadi kepingan.


Para pendekar yang terkena serangan Chu Kai mustahil bisa selamat dengan tubuh yang utuh, namun hal mengejutkannya adalah mereka semua rupanya masih hidup---hanya saja para pendekar itu terlempar sangat jauh.

__ADS_1


Wei Zhang Zihan kebetulan bersama dengan Liu Han Ying. Dia menggunakan pedangnya sebagai penyangga tubuh dan tersentak kala menyadari bahwa ia berada di luar makam. Di hadapannya, adalah segel wilayah makam kuno dan terlihat mengalami reaksi.


!!


Liu Han Ying terkejut, "Bagaimana kita bisa ada di sini?!"


Jarak antara lokasinya dan Wei Zhang Zihan sekarang sangat jauh dari tempat di mana sebelumnya mereka berada. Belum lagi fakta yang mencengangkan dia sama sekali tidak merasakan sakit pada punggungnya.


Kondisi ini jelas tidak benar. Liu Han Ying dan Wei Zhang Zihan memiliki pemikiran yang sama. Serangan Chu Kai yang mengenai mereka sangatlah kuat dan mematikan. Jadi mustahil mereka bisa terlempar hingga ke tempat ini tanpa terluka sedikitpun.


Bukan hanya Wei Zhang Zihan dan Liu Han Ying yang merasakan hal serupa, tetapi juga para pendekar lainnya. Bahkan keterkejutan yang amat sangat itu menghampiri Shuang Shu Chen dan para pendekar yang termasuk ke dalam 5 Sekte Besar.


Chu Kai sendiri masih berada di tempatnya berdiri sekarang. Pedang pendekar naga masih ada di tangannya dan ekspresi wajah terlihat serius. Tatapan matanya lurus ke depan dan menyaksikan butiran debu tebal perlahan mulai memudar.


Terjangan angin yang dibuat oleh Chu Kai sebelumnya hampir mengenai semua orang kecuali satu dan itu adalah anggota dari Sekte Bulan Mati.


Zhi Mei tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Ini bukan karena ia menahan terjangan yang datang tiba-tiba tersebut, tetapi karena memang serangan itu tidak mengarah padanya.


"................"


"................"


Zhi Mei menatap lurus ke depan dan kemudian mendengus, "Jadi ini tujuanmu? Kau bicara seolah ingin menghabisi mereka semua, tetapi yang ada justru mengirim para pendekar itu keluar dari tempat ini."


"Benar. Jika tidak, mereka akan melihat apa yang akan kulakukan padamu."


"Hmph, kau yakin bisa membunuhku? Praktik kultivasimu bahkan masih setingkat semut!" Zhi Mei tanpa peringatan mengibaskan tangannya dan sebuah benang menerjang ke arah Chu Kai. Jika saja para pendekar yang tadi ada di sini, maka akan ada banyak tubuh yang tertebas.


Serangan itu berbenturan dengan bilah pedang Chu Kai. Pemuda bermata hijau itu berhasil menahannya, namun detik berikutnya terlihat goresan pada pipi Chu Kai dan darah segar pun keluar. Zhi Mei tersenyum sebab serangannya meski dapat ditahan, namun masih bisa membuat luka pada pemuda ini.


Zhi Mei menggerakkan jarinya, dia mendengus. "Lumayan juga kau bisa menahan seranganku yang paling pelan. Selanjutnya, seranganku tidak akan sama."


Chu Kai mengusap darah di pipinya. Dia memperhatikan darah di jarinya tersebut dan lantas menjilatnya. Seringai terlihat di wajahnya saat ia berkata, "Kau juga lumayan. Setidaknya denganmu... Mungkin aku bisa membayar hutang yang kalian berikan pada warga Kota Lianyi."

__ADS_1


!


******


__ADS_2