
Menara Kolam Darah, Sekte Bulan Mati.
Hembusan angin yang bertiup di wilayah Sekte Bulan Mati sangat berbeda dari tempat lainnya. Hembusan angin itu mencekam, membawa nuansa yang menyesakkan sehingga siapa pun akan merasa tidak nyaman.
Di antara luasnya wilayah sekte aliran hitam ini, ada sebuah tempat yang udara dan tanahnya bahkan mampu membunuh makhluk hidup. Tempat itu dikenal sebagai Menara Kolam Darah.
Wilayah menara ini ada di bagian paling Utara sekte, dipisahkan oleh hutan buatan dan para murid Sekte Bulan Mati sangat dilarang untuk memasuki tempat tersebut.
Hutan itu sendiri sangat luas dengan banyak pepohonan lebat, namun semakin seseorang berjalan masuk ke dalamnya---ia akan mulai menyaksikan beberapa di antara pepohonan yang ada mempunyai dedaunan kering, bahkan terlihat mati.
Menara Kolam Darah adalah salah satu tempat yang khusus diberikan kepada 12 Pilar Bulan untuk melakukan pertemuan. Menara bertingkat 5 itu mempunyai nuansa hitam yang luar biasa gelap.
Di dalam menara, nampak sebuah meja giok berbentuk bundar dan sangat besar. Meja dari giok putih itu mengeluarkan cahaya dan menjadi satu-satunya penerang tempat ini.
Ada beberapa orang yang duduk di kursi, mengelilingi meja tersebut. Wajah mereka tidak nampak karena terhalang oleh kegelapan. Namun dari apa yang terlihat---mereka adalah para pendekar dengan aura yang begitu hebat.
"Plakat nama Feng Hao Yan retak. Entah siapa yang dihadapinya,"
Suara misterius itu terdengar pecah-pecah, sulit dideteksi apakah itu milik pria atau milik wanita. Suara lain pun ikut terdengar.
"Beberapa waktu lalu plakat nama Zhi Mei hancur. Sepertinya Feng Hao Yan bertarung melawan orang yang menghabisi muridnya itu."
"Jadi apa Feng Hao Yan juga mati?"
"Pengikut setia Dewa Api sepertinya... Tidak mungkin tewas begitu saja."
Tawa seorang perempuan terdengar. Hanya suara orang ini yang tidak tersamarkan. Bahkan subjek itu dengan berani menjejalkan tangan dan menopang dagunya di atas meja giok. Wajah sosok tersebut pun kini terlihat jelas.
Wanita dengan wajah bersih dan tahi lalat kecil di bagian kiri dagunya itu bernama Xu Huan. Ia mempunyai senyuman yang memikat dengan mata berwarna ungu muda.
Warna mata Xu Huan sebenarnya merupakan perubahan dari latihan yang ia jalani selama ini. Pendekar, utamanya mereka yang berlatih kultivasi menginginkan kekuatan besar dan lebih daripada itu... Tujuan mereka adalah untuk menjadi abadi.
Jalan keabadian mempunyai banyak cabang pelatihan. Inilah juga yang membuat kultivator dibedakan menjadi dua aliran. Dan untuk yang tanpa ragu memilih jalan yang terlarang... Merekalah orang-orang yang disebut sebagai kultivator dari Aliran Hitam.
Sekte Bulan Mati terkenal dengan jalan keabadian yang paling terlarang di Dataran Tengah. Sekte ini mempelajari banyak teknik terlarang dan bahkan beberapa anggotanya dikenal sebagai Kultivator Iblis.
Xu Huan merupakan salah satu dari orang yang bisa disebut sebagai Kultivator Iblis. Teknik kultivasi yang ia lakukan sangatlah berbahaya. Dia menanamkan jantung Demonic Beast di dalam tubuhnya untuk memperkuat diri.
Cara itu membuat praktik kultivasi Xu Huan meningkat pesat. Hanya saja efek dari teknik terlarang ini membuat tubuhnya bermutasi hingga terdapat beberapa perubahan dan yang paling jelas sekarang adalah warna matanya.
"Akan sangat memalukan jika sampai Feng Hao Yan tewas di tangan seorang pendekar muda," Xu Huan tersenyum. Dia pun menghela napas dan berkata, "Aku jadi penasaran... Siapa orang menarik yang sangat berani melawan Sekte Bulan Mati."
"Kudengar orang yang menghabisi Zhi Mei adalah Pendekar Naga. Dia juga sempat terlibat dengan Xue Xiaowen dan bahkan menghabisi pengikut gadis itu,"
"Ha ha ha, benarkah?" Xu Huan tertawa. "Nona muda kita pasti sangat kesal. Jadi Pendekar Naga, huh? Hmph... Baiklah."
Xu Huan memperlihatkan senyuman yang penuh arti. Matanya berkilat sebelum dirinya mulai menjilat bibirnya, seperti bersiap untuk melakukan sesuatu yang menarik.
*
*
__ADS_1
Chu Kai sendiri tidak tahu bahaya apa yang sedang mengincarnya sekarang. Pemuda itu masih begitu menikmati hari-harinya yang dirawat penuh perhatian dari Xia Ling Qing.
Bahkan ketika ia mulai meninggalkan Sekte Menara Rufeng, Chu Kai sama sekali tidak melepaskan perban pada tangan kanannya sebagai salah satu siasat agar tetap dijaga pendekar suci yang cantik ini.
"Nona Xia, berikan aku makanan lagi." Chu Kai sungguh sangat berani. Dia tanpa tahu malu meminta disuapi oleh Xia Ling Qing ketika mereka makan di dalam salah satu kedai.
"Kau... Apa tidak bisa menggerakkan tangan kirimu saja dan makan?" Xia Ling Qing protes, namun tetap melakukannya. Meski nada suaranya masih ketus, tetapi ia tetap saja mengikuti ucapan dari pemuda bermata hijau alami ini.
Chu Kai dengan wajah polosnya berkata, "Aku tidak bisa menggunakan sumpit dengan tangan kiri dan selain itu, ayahku mengatakan makanan harus dihargai. Kita tidak boleh menggunakan tangan kiri karena itu tidak sopan,"
"Hmph, aku benar-benar ingin menusuk tenggorokanmu." Xia Ling Qing menyumpit potongan daging dan memberikannya pada pemuda yang duduk di sampingnya.
Chu Kai dengan senyuman ramah berkata, "Tolong rawat aku dengan baik. Di masa depan, aku akan selalu melindungi Nona Xia."
"Kai, kau mau yang ini?" Liu Han Ying buka suara. Dia menyumpit sayur dan dengan lembut berkata, "Ayo buka mulutmu. Aku juga akan menyuapimu,"
"Ehm, terima kasih Nona Liu tapi tidak perlu. Biarkan Nona Xia yang melakukannya,"
"Kenapa harus aku?" Xia Ling Qing menatap pemuda ini yang entah mengapa menjadi sangat aneh.
Tanpa ragu, Chu Kai menjawab. "Tentu saja karena Nona Xia adalah calon ibu dari anak-anakku."
!!
Xia Ling Qing tersentak, sementara Liu Han Ying nampak tercengang tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Wei Zhang Zihan yang bersama mereka terlihat terbatuk, nyaris tersedak nasi yang dimakannya.
Pandangan Xia Ling Qing menggelap. Jika saja subjek ini tidak terluka, maka ia pasti sudah membanting orang ini ke lantai. Di sisi lain, Liu Han Ying nampak berkedip beberapa kali sebelum mulai buka suara.
Liu Han Ying berkata, "Dia benar-benar menyatakan perasaannya padamu Ling Qing'Er. Luar biasa,"
"Mn? Apa?"
"Xia Ling Qing itu... Dia sudah menikah dengan Wei Zhang Zihan."
!!!
Ada tiga orang yang terkejut di meja itu setelah mendengar ucapan Liu Han Ying. Chu Kai dan Xia Ling Qing bahkan secara bersamaan berseru sebagai respon dari rasa terkejut mereka. Sontak, tawa Liu Han Ying pecah.
"Nona Liu, kau jangan bercanda seperti itu. Aku hampir saja jantungan," Chu Kai mengusap pelan dadanya dan berusaha mengatur napas. "Astaga..."
"Berhenti mengatakan hal konyol seperti itu," Wei Zhang Zihan buka suara. Dia menyumpal mulut Liu Han Ying dengan pangsit panas dan membuat gadis tersebut kaget.
"Zhang Zihan!" mata Liu Han Ying berair dan dia pun memukul pemuda di sampingnya. Rasa panasnya membuat lidah dan mulutnya terbakar, tetapi ia tidak bisa memuntahkan pangsit tersebut.
Xia Ling Qing mendengus. "Hmph, itu balasan karena kau bicara sembarangan lagi."
Liu Han Ying, "Tapi kan selama ini kau dan Zhang Zihan seringkali dipasangkan. Banyak orang yang mengatakan bahwa kalian sangat cocok seperti sepasang phoenix. Kai yang merupakan penggemar beratmu juga pasti pernah mendengar ini. Benar kan, Kai?"
"................" Chu Kai menatap Liu Han Ying sebelum mengarahkan pandangannya pada Wei Zhang Zihan. Di saat yang sama, pemuda itu juga nampak sedang memandanginya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Di sisi lain, Xia Ling Qing memberikan pandangan yang serupa pada Wei Zhang Zihan meski pemuda di hadapannya ini menatap subjek lain.
__ADS_1
"Ehm... Aku memang pernah mendengar hal itu, tapi...." Chu Kai menggaruk pelan pipinya yang tidak gatal sebelum menatap Liu Han Ying dan berkata, "Pendekar Wei Zhang Zihan dan Nona Xia Ling Qing tidak saling menyukai. Jadi aku tidak khawatir,"
Liu Han Ying berkedip, "Kenapa kau sangat percaya diri? Kau tidak sadar bahwa mereka berdua mendengarmu?"
"Itu karena... Aku sudah melamar Nona Xia lebih dulu," Chu Kai tersenyum dan menatap ke arah Xia Ling Qing.
"Hmph, tidak tahu malu." Xia Ling Qing meminum air di gelas bambu yang terletak di atas meja. Dia memalingkan wajahnya dan merasa bahwa Chu Kai ini terlalu terbuka pada hal yang seharusnya tidak begitu diumbar.
Wei Zhang Zihan sendiri nampak menghela napas. Dia ingat Chu Kai begitu jujur berkata tentang rasa sukanya di hadapan Master Zhuang dan sampai sekarang---niat hati subjek ini masih tidak berubah.
Wei Zhang Zihan memperhatikan Xia Ling Qing. Sekarang setelah semuanya, tinggal gadis ini yang harus menyikapi hal tersebut karena jelas Chu Kai sudah menyatakan niat hatinya.
Wei Zhang Zihan terbatuk, "Urusan pribadi semacam ini lebih baik dibahas nanti. Kita harus segera kembali ke sekte, tidak boleh ada penundaan waktu lagi."
Xia Ling Qing menoleh dan kemudian mengangguk pelan. Liu Han Ying sendiri tersenyum, sementara itu Chu Kai juga nampak setuju dengan ucapan Wei Zhang Zihan.
Chu Kai memang harus segera kembali ke Sekte Gunung Wushi untuk menemui Master Zhuang. Dia harus membicarakan beberapa hal penting dengan pendekar tersebut.
".............." Chu Kai menatap ke arah Xia Ling Qing dan tidak beberapa lama ia pun tersentak. Dia segera menoleh ketika merasakan sesuatu dan melihat beberapa pelanggan kedai ini menatap aneh ke arahnya.
Chu Kai hanya sejenak memandangi orang-orang itu sebelum ia kembali meminta makanan pada Xia Ling Qing. Mereka cukup lama berada di dalam kedai sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
"Ehm... Kalian bisa pergi lebih dulu," Chu Kai tiba-tiba buka suara dan membuat Wei Zhang Zihan, Xia Ling Qing, serta Liu Han Ying menoleh ke arahnya.
"Apa maksudmu? Kita harus segera pergi," Liu Han Ying mengerutkan kening. Mereka baru beberapa langkah meninggalkan kedai dan Chu Kai sudah membuat ulah lagi.
"Kau mau pergi ke mana?" Xia Ling Qing bertanya tanpa nada.
"Ini... Aku harus menjawab panggilan alam," Chu Kai memegang perutnya dan tersenyum pahit. Xia Ling Qing dan Liu Han Ying seolah tahu maksud dari 'Panggilan Alam' tersebut.
"Kau mau ditemani?" Wei Zhang Zihan buka suara dan membuat Chu Kai tersentak.
Sambil menggeleng pelan, Chu Kai pun berkata. "Ini buka sesuatu yang memerlukan bantuan. Aku bisa mengatasinya sendiri. Ka-kaliam sebaiknya tunggu aku di bawah pohon itu saja. Aku akan segera kembali setelah menyelesaikan, oke?"
?!
Wei Zhang Zihan, Liu Han Ying, dan Xia Ling Qing berkedip. Mereka menyaksikan Chu Kai berlari masuk ke dalam kedai dan seperti sangat terburu-buru. Rasanya bahwa pemuda itu sudah tidak bisa menahan untuk segera menjawab panggilan alam.
"Ini benar-benar baru," Liu Han Ying buka suara. Dia mengusap lehernya dan berkata, "Di Sekte Gunung Wushi, hanya murid pemula dan belum berlatih kultivasi yang memakai kamar mandi. Tapi bukankah praktiknya sudah ada di Tingkat Kultivasi Surgawi? Dia harusnya sudah bisa menjadikan makanan sebagai energi dan tidak menyisakannya menjadi kotoran."
"Mn, entahlah. Aku rasa dia belum melupakan kebiasaanya ketika masih tinggal di kedai," Wei Zhang Zihan mengutarakan pendapat dan membuat Liu Han Ying mengangguk pelan.
Xia Ling Qing sendiri memandang lurus ke depan sebelum akhirnya menghela napas. Dia menyilangkan tangan dan tanpa nada berkata, "Ayo kita tunggu saja dia di sana. Jika lama sebaiknya ditinggal,"
"Kau jangan kelewatan," Liu Han Ying mengikuti Xia Ling Qing dan berkata, "Pemuda itu masih sakit. Kau harus bersikap baik pada suami masa depanmu,"
"Han Ying, kau mau mati?"
"Ha ha ha, aku hanya bercanda. Tapi masa depan tidak ada yang tahu, bisa saja kau dan Kai memang berjodoh."
"Liu Han Ying..!"
__ADS_1
"Iya, iya. Tidak menggodamu lagi,"
******