
Chu Kai berada di bibir sungai dan dikerumuni oleh para warga saat suara Chu Tian dan Jing Hao terdengar.
"Kai..! Putraku..!"
"Kai..!"
"Apa yang terjadi padamu, Nak? Kenapa kau melakukan hal seberbahaya ini?!" Chu Tian terlihat sangat panik. Dia menangkup pipi Chu Kai, memeriksa kondisi putranya dan kemudian memeluk sambil mengembuskan napas lega.
"Kai, kau baik-baik saja kan?" Jing Hao pun sama khawatirnya. Pemuda itu bahkan terlihat begitu pucat dan bahkan Shen Liang yang menyusul Jing Hao pun sampai menangis.
"Astaga... Nak.." Lin Si Yi, wanita tua yang juga bekerja di Kedai Bulan Merak duduk dan menepuk lutut Chu Kai. Ekspresi wajahnya juga sama kagetnya dan dia pun berkata, "Ya Tuhan. Nak, sebanyak apa pun masalahmu... Kau jangan pernah melakukan ini. Astaga..."
"Tuan Muda Kai..." Shen Liang menangis dan ini juga membuat Jing Hao merasa sedih. Para warga yang mengenal Chu Kai bahkan sampai ribut saking khawatirnya.
"Anu..." Chu Kai syok dengan reaksi berlebihan orang-orang di sekitarnya. Chu Tian bahkan sampai memegang kuat lengannya hingga membuatnya tersentak.
Sambil menatap wajah putranya, Chu Tian berkata. "Siapa yang sudah menindasmu? Apa murid-murid Sekte Gunung Wushi yang melakukannya?!"
"Sudah pasti mereka melakukan itu..!" seorang pria yang memegang pisau daging berseru. Dia merupakan pemilik toko daging b*bi yang berada dekat dengan Kedai Bulan Merak.
Pria bertubuh besar itu berkata, "Kai kita pasti sudah ditindas. Jika tidak, maka bagaimana anak ini sampai ingin mengakhiri hidupnya dengan melompat ke sungai? Aku yakin para murid di Sekte Gunung Wushi itu sudah menindasnya."
"Para murid di sana memang sangat arogan." Jing Hao menambahkan, "Waktu itu Pendekar Suci Xia Ling menendang Chu Kai. Dia pasti yang menyuruh para murid sektenya itu untuk menindas saudaraku."
"Aku juga melihatnya! Ini sudah jelas ulah mereka!"
Chu Tian mengepalkan tangannya dan lantas berseru, "Bawa obor. Kita bakar sekte itu!"
"TUNGGU..!!" Chu Kai sangat syok dan buru-buru berdiri. Ekspresinya luar biasa kaget dan dia pun berusaha menjelaskan.
"Te-tenanglah. I-ini semua hanya salah paham. Astaga, kenapa jadi kacau seperti ini..."
"Nak, kau tidak perlu khawatir." Chu Tian menepuk bahu Chu Kai dan berkata, "Meskipun kami tidak sekuat para ahli bela diri itu, tapi kami pasti akan mencari keadilan untukmu."
"Ke-keadilan? Keadilan apa? A-Ayah..!" Chu Kai meraih tangan ayahnya. Dia berusaha menghentikan apa pun yang ingin dilakukan oleh para teman dan kerabatnya ini.
Chu Kai menarik napas dan berkata, "Ini sungguh hanya kesalahpahaman, Ayah. Tidak ada yang menindasku. Aku hanya sedang berlatih Teknik Pernapasan,"
Chu Kai menatap orang-orang di sekitarnya dan berkata, "Ini latihan dasar untuk menjadi pendekar. Aku sungguh baik-baik saja. Ini adalah pelajaran pertamaku dari guru baru,"
Lin Si Yi berseru, "Siapa gurumu itu?! Kenapa dia menyuruhmu untuk tenggelam, hah?"
__ADS_1
"Ti-tidak, Bibi. Bukan seperti itu. Ini hanya latihan, benar-benar hanya latihan. Jing Hao, bantu aku." Chu Kai meraih lengan Jing Hao dan membuat pemuda itu tersentak.
Pemuda yang merupakan teman dekat dari Chu Kai itu pun hanya bisa menarik napas dan lantas menggeleng pelan. Jing Hao pun berkata, "Memang ini terdengar sedikit aneh, tapi benar bahwa beberapa pendekar sering melakukan kegiatan menahan napas di dalam air untuk memperkuat paru-paru mereka. Jadi, ehm... Paman tidak perlu khawatir."
"Benar, aku hanya latihan..." Chu Kai mengembuskan napas lega karena Jing Hao dapat membantunya memberikan pengertian pada semua orang.
Jing Hao pun setengah berbisik. Dia berkata pada Chu Kai, "Tapi kenapa kau memilih sungai ini sebagai tempat latihan, huh? Apa tidak ada tempat lain yang bisa kau kunjungi?"
"Ma-mana kutahu akhirnya akan jadi seperti ini..."
"Jadi itu hanya latihan? Tidak ada yang menindasmu?" Chu Tian bertanya dan langsung dianggukkan oleh Chu Kai.
"Sama sekali tidak ada, Ayah. Putramu ini adalah orang yang baik, jadi bagaimana mungkin ada yang berani menindasku." Chu Kai berkata, "Semua ini hanya salah paham. Para murid di Sekte Gunung Wushi begitu ramah dan baik padaku,"
"Haaah... Tapi jika ada masalah, kau harus segera beritahu ayahmu ini."
Chu Kai mengangguk. Lin Si Yi pun berkata agar Chu Kai dibawa ke Kedai Bulan Merah terlebih dahulu untuk mengganti pakaiannya dengan yang kering. Jing Hao pun mengambil sepatu Chu Kai dan mengikuti temannya itu. Dia berdecak beberapa kali sebab Chu Kai sudah membuat keributan di pagi hari begini.
*
*
Setelah mengganti pakaian dan makan di Kedai Bulan Merak, Chu Kai duduk bersama Jing Hao, dan Shen Liang di bawah pohon yang dekat dengan sungai. Ketiga pemuda itu terlihat membicarakan sesuatu.
"Aku yang seharusnya kaget," Chu Kai berkata. "Tiba-tiba saja kalian ribut begitu. Haaah... Mengagumkan,"
"Tapi di antara semuanya, Shen Liang yang membuatku lebih panik. Aku sedang membawa sekeranjang telur dan anak ini datang sambil menangis, mengatakan bahwa kau bunuh diri di sungai. Aku yang kaget jelas sampai membuang keranjang itu. Haiih...."
Chu Kai menoleh dan menatap Shen Liang yang nampak menunduk. Pemuda itu dengan gugup berkata, "A-aku juga sangat kaget. Se-semua orang mengatakan bahwa Kai menjatuhkan diri ke dalam sungai. Apa yang bisa kupikirkan se-selain bahwa dia memang ingin mengakhiri hidupnya,"
"Astaga..." Chu Kai mengusap-usap wajahnya dan kemudian berkata, "Sesulit apa pun hidupku.. Aku tidak akan pernah melakukan hal sekonyol itu. Aku saja belum menikah dan punya anak dengan nona Xia, jadi bagaimana bisa mengakhiri hidup seperti melompat ke dalam sungai?"
"Dia benar-benar menangis, kau tahu." Jing Hao menunjuk Shen Liang dan berdecak beberapa kali. Chu Kai pun menghela napas dan menggeleng pelan.
"Kau ini cengeng yah," Chu Kai mengusap-usap punggung Shen Liang dan tersenyum. "Lihat, matanya sampai bengkak. Pffft,"
"Tuan Muda Kai," Shen Liang memukul lengan Chu Kai dan terlihat kesal. Jing Hao pun tertawa dan ikut meledek pemuda tersebut.
Jing Hao dan Shen Liang adalah teman sejak kecil, keduanya lantas mengenal Chu Kai ketika Chu Tian sedang merawat teman baik mereka ini saat Chu Kai berusia kurang lebih 8 Tahun.
Shen Liang sudah sejak dulu merupakan sosok yang mudah menangis. Saat melihat luka di punggung Chu Kai yang begitu mengerikan, dia tidak henti-hentinya menangis. Menurut Jing Hao, Shen Liang mempunyai hati yang terlalu lembut dan itu dibenarkan oleh banyak orang.
__ADS_1
Jing Hao berkata pada Chu Kai, "Kau tahu seperti apa sifat Liang'Er kita ini, kan? Jadi jangan pernah melakukan hal berbahaya atau dia tidak akan bisa melihat karena matanya bengkak menangisimu. Ha ha ha,"
"Jing Hao! Siapa yang kau sebut 'Liang'Er', kau!"
Chu Kai tertawa melihat Shen Liang melempar sepatunya ke arah Jing Hao. Dia menarik napas dan berkata, "Andai saja nona Xia Ling Qing memiliki sedikit dari sifat A-Liang, maka itu akan jauh lebih baik."
"Tuan Muda Kai..! Sekarang siapa 'A-Liang' itu?! Kalian berdua sangat keterlaluan..!" Shen Liang merinding geli dan itu membuat Chu Kai serta Jing Hao tertawa karena berhasil menggodanya.
"Apa kau akan terus bersama mereka dan tidak ingin pulang?" suara Wei Shezi terdengar dan membuat Chu Kai tersentak.
"Apa aku tidak bisa bersama teman-temanku lebih lama?"
"Sejak tadi aku tidak bicara karena memberimu waktu, tapi kurasa ini sudah saatnya kembali."
".............." Chu Kai mengembuskan napas dan kemudian berdiri. Tindakannya membuat Jing Hao serta Shen Liang menatapnya. Kedua temannya itu pun juga ikut berdiri.
"Kai?"
"Aku harus segera pergi sekarang,"
"Ah... Benar juga," Jing Hao mengangguk pelan. "Kau sekarang sudah tinggal di Sekte Gunung Wushi. Akan sangat jarang untuk kita bertemu, tapi sesekali kau harus turun gunung dan bermain dengan kami."
"Tentu, jaga diri baik-baik. Aku pergi dulu..!" Chu Kai pergi meninggalkan kedua temannya. Dia melambaikan tangan dan dibalas juga oleh Jing Hao dan Shen Liang.
"Kuharap Tuan Muda Kai selalu baik-baik saja," Shen Liang buka suara dan membuat Jing Hao mengembuskan napas.
"Aku juga berharap demikian. Dia sekarang menjadi pendekar dan mempunyai tugas melindungi banyak orang. Bahaya akan selalu mengancamnya, tapi dia sosok yang pantang menyerah. Jadi kurasa.... Tidak ada masalah yang tak bisa dia atasi,"
"Mn," Shen Liang mengangguk pelan sebelum tersentak saat Jing Hao tiba-tiba merangkul lehernya.
"Ayo pulang, masih ada pekerjaan yang harus kita lakukan."
"Jing Hao, lepaskan. Kau ini,"
"Kau sangat sopan pada Kai, tapi kenapa padaku tidak ada kata 'Tuan Muda'-nya? Kau ini menyebalkan yah,"
"Kau yang menyebalkan, apa kau tidak lihat lenganmu sebesar apa? Kau membuat leherku sakit,"
"Itulah sebabnya kau harus banyak olahraga,"
"Jing Hao..!"
__ADS_1
Shen Liang dan Jing Hao pergi ke Kedai Bulan Merak untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Keduanya tidak mengetahui bahwa sesuatu yang berada di dalam sungai memperhatikan mereka.
******