
Ada banyak pelanggan di dalam kedai dan orang-orang yang sebelumnya memperhatikan Chu Kai adalah para pria yang merupakan anggota dari sebuah sekte bernama Danau Petir.
Kelima pria itu mempunyai tubuh yang cukup besar dengan wajah yang tegas. Danau Petir sebenarnya merupakan sebutan untuk sebuah tempat yang diapit oleh lima bukit berbatu dan lebih dikenal sebagai markas para bandit.
Mereka memakai pakaian berwarna biru tua dan dengan senjata berbeda-beda. Para pendekar ini cukup meresahkan karena sering merampok dan juga menyakiti orang lain, tetapi selama mereka bersikap baik... Orang-orang ini juga tidak akan diganggu oleh pendekar lainnya.
"Kau lihat gadis yang tadi? Dia sangat cantik,"
"Aku mengenali seragamnya itu, dia berasal dari Sekte Gunung Wushi."
"Bukankah mereka adalah Pendekar Suci yang terkenal itu? Waah... Harusnya aku berkenalan dengannya tadi,"
"Gadis-gadis di tempat kita tidak ada yang secantik nona Xia. Jika saja bisa menculiknya, aku benar-benar akan melakukannya."
"Ha ha ha, kau mau mati? Bahkan meski rekan nona Xia tidak turun tangan, gadis cantik itu tetap bisa membunuhmu."
"Tidak harus nona Xia, aku sendiri cukup untuk melakukannya."
!!?
Kelima pendekar dari Sekte Danau Petir itu tersentak mendengar suara yang asing. Mereka pun lantas menoleh dan seorang pemuda berjalan mendekat. Tangan kanan subjek itu nampak dibalut perban.
Salah satu pendekar berdiri, dia kemudian buka suara. "Kau mengatakan apa barusan? Hmph, bersikap angkuh pun... Harusnya juga memiliki batasan,"
Pria dengan perban di tangan kanannya itu tidak lain adalah Chu Kai. Pemuda bermata hijau alami tersebut menatap tajam sosok di hadapannya dan tanpa peringatan langsung memberikan tendangan.
!!!
Pendekar dari Sekte Danau Petir sama sekali tidak menduga akan hal ini. Dia terkena tendangan yang cukup kuat itu hingga membuatnya terdorong mundur dan menabrak meja di hadapannya. Suasana seketika menjadi riuh.
"Sialan! Apa yang kau lakukan-" salah satu pendekar hendak membentak ketika tiba-tiba saja Chu Kai mengambil sumpit di atas meja dan melakukan sesuatu yang mengejutkan.
Aaakh!
Jerit kesakitan terdengar saat tangan salah satu pendekar Sekte Danau Petir ditancapi sumpit bambu oleh Chu Kai. Kelakuan pemuda bermata hijau alami ini mengundang perhatian banyak orang.
Tangan kiri Chu Kai masih memegang sumpit yang dia tancapkan di tangan salah satu pria di hadapannya. Dengan dingin, ia pun berkata. "Nona Xia Ling Qing adalah milikku. Berani sekali kau dan teman-temanmu menatapnya,"
"Aku hanya sekali memperingatkan," Chu Kai kembali buka suara. "Jangan pernah melakukan hal semacam itu lagi atau akan kuhabisi kalian semua, mengerti?"
Chu Kai mencabut kembali sumpit yang ia tancapkan dan kemudian berjalan pergi. Tiga orang pendekar dari Sekte Danau Petir terlihat sangat marah dan menarik senjata mereka.
Baru saja hendak melesat, para pendekar itu tersentak dengan aura yang luar biasa gelap. Aura ini teramat mencekam hingga bahkan sulit untuk melangkahkan kaki. Para pendekar itu merasakan sesak pada dada mereka dan aura ini tidak lain berasal dari Chu Kai.
".................." Chu Kai sendiri menghentikan langkah kakinya sejenak dan kemudian berbalik. Ekspresi wajahnya sangat jelas mengisyaratkan agar para pendekar tersebut tidak menganggap tindakannya ini hanya sebagai ancaman. Tatapan mata Chu Kai menunjukkan bahwa ia benar-benar dapat melakukan apa yang diucapkannya tadi.
__ADS_1
Para pendekar dari Sekte Danau Petir itu masih berada di tahap awal Tingkat Kultivasi Surgawi. Tubuh mereka memang cukup berotot, tetapi bukan berarti Chu Kai mempunyai tubuh yang lebih kecil dari orang-orang ini. Jujur saja jika mengenai fisik, Chu Kai merupakan sosok yang sempurna dan mengagumkan.
Pemuda bermata hijau alami itu bukanlah orang yang mempunyai wajah seperti pemuda polos sehingga dapat ditipu. Bekas luka yang ada pada bagian pelipis sebelah kanannya menunjukkan aura seseorang yang tidak bisa ditindas.
Selain para pendekar Sekte Danau Petir, di kedai ini juga terlihat beberapa pendekar dari sekte lain. Mereka hanya menyaksikan kejadian itu dan tidak berniat mengambil tindakan apa pun. Ini semua dikarenakan sosok Chu Kai yang cukup misterius.
"Pendekar itu.... Dia mempunyai aura pembunuh yang pekat," salah seorang pendekar buka suara. Nadanya pelan, namun masih bisa didengar oleh rekan di sampingnya.
"Kau benar, aku juga merasakannya."
"Sepertinya pemuda itu... Sama sekali tidak melatih teknik perubahan aura. Apa dia berasal dari aliran hitam?"
"Tapi bukankah sebelumnya dia bersama dengan pendekar suci dari Sekte Gunung Wushi? Mereka pun terlihat dekat, jadi tidak mungkin jika dia berasal dari aliran hitam. Anggota Sekte Gunung Wushi, apalagi Pendekar Suci Xia Ling Qing... Sangat tidak suka pada pendekar dari aliran hitam."
*
*
Chu Kai yang sudah meninggalkan kedai itu sama sekali tidak mendengar ucapan para pendekar di belakangnya. Ekspresi wajahnya berubah seperti biasa saat ia melihat Xia Ling Qing, Wei Zhang Zihan, dan Liu Han Ying yang menunggunya di bawah sebuah pohon.
"Kau sudah selesai?" Liu Han Ying buka suara. Dia memperhatikan Chu Kai dan dijawab anggukan pelan oleh pemuda tersebut.
"Haah... Rasanya sudah lega. Sekarang ayo pergi," Chu Kai tersenyum. Dia mengikuti Xia Ling Qing dan Wei Zhang Zihan yang mulai berjalan lebih dulu.
"Aku memikirkan ini sejak tadi," Liu Han Ying kembali buka suara. Dia berjalan di samping Chu Kai dan kemudian berkata, "Apa pelajaran dengan tetua Wang Zhong Xian yang kau ikuti belum sampai di tahap 'inedia'?"
"Bukankah ada yang pernah menjelaskannya padamu?" Liu Han Ying berujar, "Itu sejenis puasa. Kau menggunakan energi spiritual sebagai pengganti nutrisi yang selama ini kau dapatkan dari makanan. Karena berlatih 'inedia', kebanyakan kultivator tidak perlu lagi sampai harus buang air besar atau hal-hal yang sering dilakukan manusia pada umumnya."
"Ah... Apa para kultivator juga tidak perlu mandi?" Chu Kai menatap Liu Han Ying dan berkata, "Yang aku maksud adalah bahwa mungkinkah para kultivator bisa menggunakan energi spiritual untuk membersihkan dirinya?"
"Hmph, itu akan menjadi hal paling keren." Liu Han Ying berujar, "Hanya kultivator di tingkatan tertentu yang bisa melakukannya. Ah, benar juga. Apa kau mau kutunjukkan sesuatu yang menarik?"
"Mn?"
Liu Han Ying tersenyum. Dia mengambil sesuatu dari kantong di lengannya. Itu adalah sebuah brokat kecil, bersulam benang emas yang dibentuk seperti bunga, terlihat sangat indah dengan tali berwarna merah.
Liu Han Ying menjelaskan, "Ini adalah barang nomor satu yang paling penting untuk dibawa oleh para kultivator. Benda ini bernama kantong qian kun. Meski bentuknya kecil, tapi bisa menampung banyak barang. Luasnya... Bisa tergantung pada orang yang menjadi pemilik benda ini,"
"Waaah, berarti itu barang yang sangat berharga. Apa Nona Xia juga memilikinya?"
"Tentu saja, setiap murid yang sudah berada di Tingkat Kultivasi Surgawi akan diberikan benda semacam ini. Walau beberapa ada yang belum mendapatkannya karena kemampuan mereka dianggap masih kurang,"
Chu Kai memperhatikan Liu Han Ying dan kemudian berkata, "Nona Liu. Apa saat penjelajahan makam kuno waktu itu... Kau mendapat banyak benda berharga?"
Liu Han Ying berkedip sebelum menghela napas, "Tidak terlalu banyak. Aku hanya mendapat beberapa mutiara roh. Haah... Jujur saja, aku lebih sering bertemu monster daripada menemukan harta. Bukankah itu menyebalkan?"
__ADS_1
"Yaah... Memang sangat menyebalkan." Chu Kai tersenyum pahit sambil mengingat bagaimana ia memonopoli semua harta dari makam kuno itu. Bahkan dia bisa sangat yakin mengatakan bahwa kantong penyimpanan milik Liu Han Ying tidak bisa dibandingkan dengan gulungan semesta miliknya.
Liu Han Ying terus berbicara dengan Chu Kai sepanjang jalan. Di sisi lain, Xia Ling Qing dan Wei Zhang Zihan hanya menjawab seadanya ketika ditanya oleh kedua teman mereka.
Xia Ling Qing kembali mengeluarkan burung phoenix api miliknya yang terbuat dari energi spiritual ketika ia dan rekan-rekannya keluar dari kota. Dengan mengendarai makhluk ini, mereka akan dapat tiba di Sekte Gunung Wushi dengan cepat.
Chu Kai saat itu masih tetap berpura-pura sakit bahkan hingga dirinya tiba di Sekte Gunung Wushi. Alhasil karena tindakannya, para murid yang sekelas dengannya di bawah bimbingan Tetua Wang Zhong Xian menjadi khawatir.
Di dalam kamarnya, Chu Kai beberapa kali menerima tamu dan semuanya adalah kaum liliput. Anak-anak ini diketuai oleh Fu Wutian yang sebentar lagi akan berusia 14 Tahun.
Meskipun dijenguk oleh para bocah yang kebanyakan berusia di bawah Fu Wutian, namun Chu Kai sama sekali tidak keberatan. Dia bahkan menerima ketika Lin Mo dan juga beberapa anak lain melukis pada perban yang membalut tangannya.
"Aku akan menuliskan doa agar Kai segera sembuh," seorang anak perempuan yang manis tersenyum. Chu Kai jadi tidak kuasa untuk menolaknya.
"Aku akan menggambar simbol yang membuat sakitmu pergi. Kau akan sembuh seribu kali lipat,"
"Baiklah, tapi lakukan dengan benar. Oke?" Chu Kai benar-benar pasrah. Di dalam kamarnya saat ini hanya ada dirinya dan teman-teman yang sekelas dengannya.
Chu Kai memperhatikan saat anak-anak ini begitu serius melukis di kain yang membalut tangan kanannya. Hanya saja sesekali Chu Kai menatap ke arah pintu dan seolah sedang menunggu seseorang.
Sebelumnya, Wei Zhang Zihan mengatakan bahwa ia akan pergi menemui Tetua Xia Feng Hua untuk melaporkan beberapa hal. Lalu Liu Han Ying berkata akan membawa Tabib Yun Zhen untuk memeriksanya sehingga yang mengantarkan dirinya ke kamar adalah Xia Ling Qing.
Chu Kai masih ingat Xia Ling Qing menyuruhnya beristirahat dan gadis itu berkata akan membawakan sup hangat. Dia pun dengan senang hati menunggu dan menjadi agak tidak sabaran.
"Suara apa itu?" Fu Wutian segera menoleh ke arah jendela saat mendengar suara. Dia berkedip kala melihat seorang pemuda yang tak cukup dikenalinya.
"Senior Qin Shou?" Lin Mo juga melihat pemuda itu datang dan melompat masuk lewat jendela kamar Chu Kai.
"Saudaraku, aku segera kemari saat tahu kau sudah datang." Qin Shou menghampiri Chu Kai dan berkata, "Kudengar kau terluka parah. Apa sekarang kau baik-baik saja?"
"Mn, aku sudah baikan." Chu Kai menjawab dengan tenang. Pemuda di hadapannya ini adalah teman yang tinggal di samping kamarnya.
"Sebenarnya aku kemari selain ingin menjengukmu juga ingin menanyakan sesuatu. Apa yang terjadi hingga tanganmu bisa seperti itu?" Qin Shou duduk di sebuah kursi. Dia memperhatikan Chu Kai dengan saksama dan pemuda di hadapannya nampak menghela napas.
"Sebenarnya... Itu adalah cerita yang sangat panjang,"
"Aku juga ingin mendengarnya," Fu Wutian buka suara. "Katakan saja, Kai. Kau pergi sangat lama dan pasti memiliki banyak petualang seru, kan? Ayo ceritakan."
Lin Mo dan anak-anak yang lainnya juga terlihat antusias. Chu Kai pun bernapas pelan dan lalu mengangguk. Pemuda bermata hijau itu tersenyum, "Baiklah. Semuanya berawal saat aku dan nona Xia Ling Qing melakukan pelatihan tertutup..."
Tidak mungkin Chu Kai mengatakan rahasianya pada orang-orang ini. Dia hanya bercerita tentang misinya yang merupakan penjelajahan makam kuno, bertarung melawan naga bersama Wei Zhang Zihan dan Ling Xian Shu, lalu kemudian menghadapi situasi terkurung di dalam makam selama setengah tahun.
Hari itu Chu Kai menceritakan hal-hal yang tidak hanya menarik perhatian Qin Shou, tetapi juga Fu Wutian dan yang lainnya. Dia tidak menyadari bahwa saat ini salah satu anggota Sekte Bulan Mati mulai mempersiapkan diri untuk menjadi gangguan bagi jalan Chu Kai kedepannya.
Jelas musuh yang harus ia hadapi semakin lama, makin kuat dan dengan teknik bertarung yang semakin terasah. Jika Chu Kai tidak segera menyadari untuk memperbarui kekuatannya sekarang, maka ia bisa saja akan kehilangan sesuatu yang berharga baginya.
__ADS_1
******