
Di detik saat serangan Yi Zhi Jian hampir mengenai Chu Kai---di waktu bersamaan Chu Kai menurunkan pandangannya dan lantas mengayunkan pelan pedang di tangannya.
"Teknik Pernapasan Naga... Tanpa Jejak."
!!!
Yi Zhi Jian terkejut bukan main. Serangan anak panah dan dengan aura membunuhnya yang kuat tiba-tiba saja menghilang begitu saja. Dia bahkan syok sebab lawannya sama sekali tidak bergerak dari posisinya berdiri sekarang.
"Ba-bagaimana mungkin...?" Yi Zhi Jian tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Apa yang sudah dia lakukan?"
Chu Kai menatap ke arah pria di hadapannya dan kemudian buka suara. Tanpa nada, dia berkata. "Aku memberimu kesempatan, pergi dan jangan kembali lagi atau kau mati. Karena jika aku menyerang, aku tidak bisa menjamin kau masih bernapas."
Ucapan Chu Kai sama sekali tidak diindahkan. Justru Yi Zhi Jian merasa telah diremehkan oleh lawannya. Dengan geram, Yi Zhi Jian berkata. "Jangan karena kau berhasil menahan satu seranganku, lantas kau menganggap dirimu tinggi. Perhatikanlah siapa yang sedang kau hadapi,"
Chu Kai tersentak. Bukan karena ucapan pria di hadapannya, tetapi karena sikap Yi Zhi Jian yang justru kembali melesatkan serangan panah. Dia memegang kuat pedangnya dan terlihat ada rasa kecewa pada tatapan mata Chu Kai.
"Teknik Pernapasan Naga... Tanpa Aliran."
!!!
Ayunan pedang Chu Kai melesatkan serangan dengan asap hitam pekat. Lesatan serangan itu membuat rerumputan serta pepohonan di sekitarnya mengering dan mati. Yi Zhi Jian berusaha menahan serangan tersebut dengan lesatan anak panah miliknya, namun berakhir sia-sia.
Yi Zhi Jian terbelalak dan bahkan tidak sempat bicara---serangan itu langsung mengenainya dan membuatnya terpental cukup jauh. Di udara, tubuh Yi Zhi Jian berubah menjadi hitam dengan mulut yang terbuka lebar.
Dalam waktu sepersekian detik, anggota dari Sekte Bulan Mati itu tewas dengan penampilan yang sama seperti Xiao Yi Fei ketika wanita itu tiada. Kulit tubuhnya kering dan menghitam dengan mata yang meleleh.
Chu Kai melihat Yi Zhi Jian menghantam tanah dan seketika memejamkan mata. Dadanya terasa sesak karena dia sudah mengambil nyawa orang lain lagi. Pedang di tangannya pun lantas terjatuh.
Chu Kai mengangkat kedua tangannya sedikit dan melihat tangannya gemetar. Meskipun kedua tangannya bersih dari darah lawan, tapi tidak menutup fakta bahwa dia sudah membunuh. Dia bahkan membuat tubuh lawannya sampai sulit untuk dikenali.
Bukannya Chu Kai kejam dengan tidak memberi lawannya kesempatan untuk hidup, hanya saja teknik serangannya memang hanya memiliki satu akhir jika digunakan dan itu adalah kematian.
Napas Chu Kai tidak beraturan, kepalanya terasa sakit tetapi dia berusaha menahannya. Keadaan kota belum sepenuhnya aman dari musuh, dia masih bisa mendengar suara pertarungan.
__ADS_1
Tepat ketika Chu Kai hendak melangkah, dia dikejutkan dengan suara ledakan yang besar. Perasaan tidak menyenangkan datang seperti deburan ombak di dadanya. Dia pun berlari untuk mencari bangunan tertinggi dan lalu memakai teknik pernapasan naga yang membuatnya bisa melesat naik ke atap bangunan tersebut.
Chu Kai bisa melihat Gunung Wushi dan ada asap tebal bergejolak di sebagian gunung itu. Asap hitam tersebut bercampur dengan kilatan petir dan suara guntur yang bergulir.
Di wilayah Sekte Gunung Wushi sebenarnya sedang terjadi kekacauan yang tidak kalah besar. Xue Xiaowen yang berhasil menangkap Xia Ling Qing kini pergi ke sekte itu untuk membuat beberapa perhitungan, tentu saja Xue Xiaowen tidak langsung menyerang---gadis itu masih tahu batasannya sendiri.
Dia hanya melesatkan lima serangan paling kuat miliknya dengan sambaran dari selendang merahnya. Serangan jarak jauh itu membuat tangga utama Sekte Gunung Wushi dan sebagaian hutan di sekitarnya terbakar.
Gerbang utama sekte pun hancur dan ada bangunan yang mengalami kerusakan besar. Dari lima serangan yang dilakukan oleh Xue Xiaowen, dua di antaranya bagai gelombang dan mengenai bangunan para murid. Serangan dari arah berlawanan itu terlambat disadari sehingga ada banyak murid yang mengalami luka.
Ini adalah serangan kejutan, jadi tentu saja Xue Xiaowen menang. Tetapi gadis itu tahu bahwa jika kembali melesatkan serangan---dirinya hanya akan mengalami kekalahan. Namun tentu setelah semua yang terjadi, dia tidak bisa hanya meninggalkan kesan ini.
Xue Xiaowen pun lantas membuang Xia Ling Qing yang dia bawa di antara rimbunan pohon yang terbakar, dan kemudian melesatkan dua jarum yang merupakan racun dingin sebagai kenang-kenangan untuk Pendekar Suci itu sebelum akhirnya pergi.
Xue Xiaowen melesat dengan kecepatan tinggi dan kembali ke Kota Lianyi. Jalur yang dia lalui berbeda dengan jalur Chu Kai sehingga mereka tidak bertemu. Tujuan Chu Kai sendiri adalah Sekte Gunung Wushi.
*
*
Dia melewati jalur hutan dan bisa melihat rerumputan dan pepohonan yang terkena dampak serangan, bahkan sebagiannya ada yang terbakar.
Chu Kai mempercepat larinya dan tiba-tiba saja tersentak ketika melihat ada seseorang yang terbaring di tanah. Dia segera mendekat dan terkejut saat tahu bahwa orang itu adalah Xia Ling Qing.
"Nona Xia..!" Chu Kai menepuk pelan lengan gadis itu dan berusaha membangunkannya, "Nona Xia? Nona Xia..!"
"Gawat. Bagaimana dia bisa seperti ini?" Chu Kai mengedarkan pandangan dan tidak ada orang lain selain dirinya di tempat ini. Dia pun kembali menatap Xia Ling Qing dan menepuk pelan pipi gadis cantik tersebut.
"Nona Xia--!" Chu Kai tersentak saat melihat ada jarum kecil yang menancap di leher Xia Ling Qing. Dia pun lantas mencabut jarum itu dan di waktu bersamaan---dirinya mendengar suara retakan.
Chu Kai langsung menoleh ke belakang dan melihat bahwa dahan sebuah pohon besar yang terbakar tidak jauh di belakangnya hendak terjatuh. Dia pun dengan segera menggendong tubuh Xia Ling Qing dan membawanya pergi.
Di Kota Lianyi sendiri, Xue Xiaowen terlihat menyaksikan pertarungan Xiao Fang Shan melawan Pendekar Suci Wei Zhang Zihan. Dia pun lantas melesatkan serangan selendang merah miliknya dan itu meledakkan tanah di samping kaki Wei Zhang Zihan.
__ADS_1
Pendekar Suci yang tampan itu terlalu fokus pada lawan yang dia hadapi. Hanya saja beruntung karena dia bisa dengan cepat menghindari serangan tersebut walau rupanya serangan itu digunakan hanya untuk mengalihkan perhatiannya.
Wei Zhang Zihan mengedarkan pandangan. Dia mencari keberadaan anggota Sekte Bulan Mati yang menjadi lawannya, namun pria itu sama sekali tidak ditemukan. Rasanya seakan-akan bahwa Xiao Fang Shan menghilang begitu saja.
Wei Zhang Zihan tidak mengetahui bahwa sebelumnya Xue Xiaowen-lah yang melesatkan serangan kejutan itu dan sekaligus memberi isyarat agar Xiao Fang Shan mengikutinya.
"Di mana Yi Zhi Jian?" Xue Xiaowen buka suara ketika dia dan Xiao Fang Shan melesat.
"Aku tidak tahu," Xiao Fang Shan berkata. "Harusnya dia kembali menyerang kota setelah kuselamatkan, tetapi dia bahkan tidak melakukan apa pun."
Xue Xiaowen menapakkan kakinya di salah satu bangunan dan bersuara tanpa nada, "Bukannya tidak mau melakukan apa-apa. Yi Zhi Jian... Dia sudah tewas,"
!?
Xiao Fang Shan terkejut. Dia mengikuti saat Xue Xiaowen melayang turun dan menapak di tanah. Rasa syok menyelimutinya ketika dia melihat ada mayat dalam kondisi tubuh yang mengering dan berwarna hitam. Rasanya seolah darah dan daging mayat itu telah disedot hingga hanya menyisakan kulit yang membungkus tulang.
"Nona, ini..." Xiao Fang Shan sampai tidak bisa berkata-kata. Identitas mayat yang dia lihat ini adalah Yi Zhi Jian. Dia bisa menyakinkan hal tersebut.
Baik Xiao Fang Shan maupun Xue Xiaowen menyadari bahwa penampilan mayat yang mereka lihat sama seperti mayat Xiao Yi Fei. Ini berarti orang yang menghabisi kedua teman mereka itu adalah orang yang sama.
"Ayo pergi ke tempat Hou Jian," Xue Xiaowen buka suara. "Untuk sekarang lebih baik seperti ini dulu. Aku pun sudah membuat perhitungan untuk para anggota Sekte Gunung Wushi,"
"Baik," Xiao Fang Shan melesat dan mengikuti Xue Xiaowen kembali. Mereka menuju ke arah suara keras yang jelas mengisyaratkan bahwa di sana sedang terjadi pertarungan.
!!!
Tepat seperti yang diduga. Ketika sampai di lokasi, Xiao Fang Shang melihat rekannya yang merupakan pria besar dengan pedang api di tangan. Sosok itu tidak lain adalah Hou Jian dan pria kekar tersebut bertarung melawan Nalan Shu serta Tetua Zhang Lao.
Xue Xiaowen melihat Hou Jian sedikit terdesak dan disisi lain dirinya menyaksikan ada beberapa murid Sekte Gunung Wushi yang melesat, hampir mendekati tempat ini. Dia pun mengayunkan selendang miliknya dan di saat bersamaan Xiao Fang Shang pun juga ikut melambaikan kipas besarnya.
Mereka melesatkan serangan dan efeknya luar biasa dahsyat. Itu mengganggu penglihatan Tetua Zhang Lao dan Nalan Shu, bahkan membuat pergerakan mereka terganggu.
Xiao Fang Shan berseru memanggil Hou Jian. Pria bertubuh kekar itu mendengarnya dan kemudian menoleh. Dia melihat Xue Xiaowen dan Xiao Fang Shan berdiri di dahan sebuah pohon.
__ADS_1
Xue Xiaowen sendiri menyerang tanpa peringatan dan langsung melesatkan sebuah jarum yang tepat mengenai belakang leher Nalan Shu. Dia pun menangkap Pendekar Suci itu dan lantas menggendongnya sambil memberi perintah pada anggota sektenya agar mereka segera pergi.
******