LAHIRNYA PENDEKAR NAGA

LAHIRNYA PENDEKAR NAGA
22 - Tekad


__ADS_3

Setelah memikirkannya dengan baik, Chu Kai kini berada di ujung tangga Sekte Gunung Wushi. Kali ini dia tidak dipaksa siapa pun untuk datang, apalagi diseret seperti terakhir kalinya. Dia datang dengan kehendaknya sendiri.


Chu Kai menarik napas. Masih ada perasaan gugup di dalam hatinya dan sedikit rasa takut. Dia sebenarnya ingin melarikan diri dari masa lalunya, bersembunyi seperti yang selama ini dia lakukan. Tetapi untuk pertama kalinya dia dapat jujur pada ayahnya dan penerimaan dari sosok yang sudah membesarkannya itu membuatnya berada di tempat ini sekarang.


Chu Kai mengingatnya seolah itu baru saja terjadi. Dia melarikan dari dari Hutan Móguǐ dan menyakinkan diri untuk tidak pernah mengingat, apalagi sampai menggunakan kekuatan hitam yang ada padanya. Dia pikir, dirinya bisa membentuk identitas baru dan menjadi menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja.


Tetapi meskipun berusaha melupakan masa lalu itu, Chu Kai tetap saja terbayang dan kini langit bahkan memilihnya. Sekarang dia ingin menghadapi semuanya, sebelum penyesalan datang menghampirinya.


Ucapan Master Zhuang dan Tetua Wang Zhong Xian, serta kejadian dengan monster laba-laba dan juga wanita asing waktu itu... Dia tidak bisa lagi mengabaikannya seolah tidak pernah ada yang terjadi.


Chu Kai tahu benar, ada orang-orang yang menginginkan kerusakan dan ada di antara mereka yang mengincar nyawanya. Dia tahu bahwa kehadirannya sudah disadari oleh para makhluk di dalam Hutan Móguǐ, tetapi tidak mungkin dia menghadapi mereka seorang diri.


Musuh sudah datang dan dia membutuhkan kekuatan yang lebih baik untuk menghadapi mereka. Sekte Gunung Wushi... Jelas sekali menunggu kedatangannya.


"Banyak sosok manusia, namun hati mereka seperti bukan manusia. Jangan pedulikan identitasmu yang manusia atau bukan, karena yang menunjukkan seperti apa kemanusiaan seharusnya... Adalah hatimu."


Chu Kai terus menggumamkan kata-kata itu. Dia pun membungkuk dan menaruh kedua tangannya di salah satu anak tangga. Dia lantas bersujud dengan dahi yang menempel di anak tangga itu, seakan mengharapkan sebuah berkat.


"Dunia... Dihuni oleh manusia, binatang buas, roh, dan iblis. Kultivator adalah manusia dengan sedikit kelebihan dan aku merupakan bagian kecil di antara kehidupan..."


"Jika takdir ini telah memilihku, maka tolong lindungi aku dan setiap langkah yang kuambil. Keinginanku adalah menjaga perdamaian, tetapkanlah hatiku pada jalan kebenaran. Jangan biarkan aku terpengaruh dengan kekuasaan dan kekuatan sehingga aku melupakan identitas sebagai manusia dan pendekar. Hati ini adalah bagian dari tanah... Jangan biarkan hati ini merasa tinggi hingga menganggap diri telah melampaui langit."


Chu Kai bersujud kembali untuk tanah airnya dan seakan langit mendengarkan ucapannya itu hingga bahkan angin pun membawa hembusan yang lebih menyejukkan. Namun di saat yang sama, angin itu membawa firasat buruk bagi para makhluk yang menginginkan dunia di bawah kekuasaan mereka.


Chu Kai kembali berdiri dan mengambil langkah pertamanya menaiki anak tangga menuju Sekte Gunung Wushi. Setiap langkah yang dia ambil kini membuat berguncang sarang monster yang ada di luaran sana, bahkan Sekte Bulan Mati yang merupakan sekte Aliran Hitam terkuat merasakan bahwa ada ancaman besar yang mengincar mereka.


Suara ledakan terdengar di wilayah Sekte Bulan Mati, para murid yang berjaga bahkan sampai terkejut karenanya. Keributan seketika tercipta.


"Ada apa ini?!"


"Apa yang terjadi? Ada apa?!"


"Salah satu menara bulan meledak!"


!!!


Langkah kaki kurus nan indah seorang gadis nampak tergesa-gesa di koridor bangunan utama Sekte Bulan Mati. Pakaian merahnya melambai dimainkan angin.


Gadis itu mempunyai rambut merah panjang dan bergelombang. Wajahnya cantik dengan kulit seputih salju dan mata yang Indah. Ada sebuah tanda bulan sabit di dahinya yang merupakan identitas bahwa dia adalah bagian dari perguruan ini.


Gaya berpakaian gadis cantik ini aneh, tetapi eksotis. Mudah melihat hidupnya yang penuh kemewahan dari kecantikannya yang memikat. Ada cincin perak di pergelangan tangan dan kakinya. Setiap kali bergerak, itu menimbulkan suara gemerincing lonceng kecil.


Xue Xiaowen adalah putri dari pemimpin Sekte Bulan Mati. Dia merupakan sosok kejam, licik, dan biadab. Seseorang benar-benar dapat tertipu jika menganggap Xue Xiaowen adalah gadis cantik, manis, nan lugu.

__ADS_1


Satu lambaian tangan dari gadis berambut merah itu membuka kasar pintu besar di hadapannya. Di dalam ruangan, dia melihat ada lima orang kultivator yang sedang berdiri di hadapan sebuah kolam dengan gelembung air besar yang melayang di udara.


"Bagaimana salah satu menara bulan bisa sampai runtuh?"


Seorang pria dewasa menoleh saat mendengar pertanyaan dari Xue Xiaowen. Pria berusia sekitar 60 Tahun itu berkata, "Kami pun masih menyelidikinya. Kemungkinan besar karena kekuatan yang asing,"


"Pendekar Naga," seorang pria lain menyela. Dia berujar, "Ini merupakan pertanda kelahiran Pendekar Naga."


Xue Xiaowen, "Apa ini ada hubungannya dengan Xiao Yi Fei yang belum kembali? Apa dia gagal membunuh Pendekar Naga itu?"


"Aku sudah mengirim seseorang untuk pergi dan mencarinya. Kita tunggu saja,"


"Menunggu?" Xue Xiaowen mendengus, "Apa kau lihat dampak yang sudah terjadi karena kita menunggu? Aku sendiri yang akan pergi mencari Pendekar Naga itu dan kemudian membunuhnya. Tidak ada kesempatan untuk menunda-nunda lagi,"


"Xiaowen!" seorang kultivator wanita berseru, "Jika kau pergi, rencana kita bisa berada dalam bahaya. Tunggu sampai Xiao Yi Fei kembali. Kau pun tidak dapat pergi tanpa izin dari Tetua,"


"Aku tidak butuh izin ayahku untuk pergi ke tempat mana pun yang aku mau." Xue Xiaowen berjalan pergi dan kembali berujar, "Jangan khawatir Bibi... Aku tahu apa yang kulakukan."


"Kau-!!" wanita itu menghela napas, "Haah... Gadis itu sangat kepala-"


"Apa kalian mencari ini?"


Suara berat seorang pria membuat kelima pendekar, termasuk Xue Xiaowen yang hendak berjalan keluar tersentak. Sesuatu dilempar oleh pria bertubuh besar ini, tepat di depan Xue Xiaowen dan membuat gadis cantik tersebut melebarkan matanya.


"Kau..." Xue Xiaowen menatap sosok bertubuh besar di hadapannya dan dengan segera sosok itu melambaikan tangan.


"Sama sekali bukan aku yang melakukannya," pria itu tersenyum dan berkata. "Aku hanya mengantarkan orang ini karena kupikir dia adalah anggota sekte kalian."


Kultivator yang berada di ruangan itu berjalan mendekat. Salah satu di antara mereka pun lantas memeriksa kondisi mayat ini dan kaget. Dia pun berdiri dan berkata, "Xiao Yi Fei..."


Xue Xiaowen menatap pria berotot di hadapannya dan tanpa nada bertanya, "Tuan Taiyang Shou. Apa kau tahu siapa yang sudah menghabisi anggota sekteku sampai seperti ini?"


Pria itu tersenyum dan menggeleng pelan, "Sayang sekali aku datang terlambat. Tapi yang bisa kukatakan adalah... Dia mati di dalam hutan yang tepat berada di kota terdekat, di bawah kaki Gunung Wushi."


Kedua tangan Xue Xiaowen terkepal kuat dan dia pun berjalan pergi. Jelas saja dari tatapan matanya, dia dalam keadaan yang marah.


*


*


Chu Kai kembali ke kamarnya yang berada di balai murid. Sama seperti yang dikatakan oleh Tetua Wang Zhong Xian. Dia ternyata diterima dengan mudah untuk memasuki sekte ini.


Sebenarnya saat berjalan tadi, Chu Kai bisa mendengar suara dari beberapa orang yang mempertanyakan kedatangannya kembali. Mereka bahkan ada yang tidak percaya bahwa dia tidak melarikan diri.

__ADS_1


Chu Kai tidak memikirkannya. Setelah berganti pakaian, dia kembali berjalan ke kelasnya dan menemui Tetua Wang Zhong Xian. Kali ini pria tua itu langsung mempersilahkannya untuk ikut dalam latihan gerakan para murid pemula.


"Kau dari mana saja, Kai?" seorang anak laki-laki bertanya dan membuat Chu Kai menoleh.


"Aku ... Aku pulang untuk mengunjungi ayahku."


"Ah... Kupikir kau tidak akan datang kemari." Anak laki-laki itu setengah berbisik, "Kudengar kau melarikan diri karena takut dengan pelatihan ini. Ada yang mengatakan kau diusir oleh Tetua Wang Zhong Xian,"


"Itu tidak benar," Chu Kai merasa gugup dan sejujurnya agak kesal sebab diledek oleh seorang bocah. Dia pun mengembuskan napas dan menatap lurus ke arah Tetua Wang Zhong Xian.


"Hari ini kalian akan belajar tentang cara pengaturan pernapasan," Tetua Wang Zhong Xian menjelaskan, "Pernapasan merupakan dasar dari menjadi seorang pendekar. Aku tidak akan memberikan penjelasan yang terlalu panjang, karena pengalaman selalu bisa menjadi guru terbaik untuk kalian."


Tetua Wang Zhong Xian tersenyum dan lalu berkata, "Di sampingku ada keranjang yang berisi sayuran dan ada juga yang berisi kayu bakar. Tugas kalian adalah membawa keranjang-keranjang ini ke kediaman Tetua Wei Ji Han yang ada di puncak Gunung Wushi."


!!!


Chu Kai tersentak, dia bahkan bisa mendengar suara para bocah di sampingnya yang nampak terkejut dengan ucapan Tetua Wang Zhong Xian. Dia juga mendengar helaan napas berat dari anak-anak ini dan bagaimana mereka semua mengeluh, meskipun tidak berani untuk melakukan protes.


"Waktu kalian adalah tiga hari," Wang Zhong Xian berkata, "Jika kalian gagal dalam tugas ini, maka aku terpaksa memberikan hukuman."


"A-apa?!" seorang anak terkejut.


"Hukuman? Jadi ada hukumannya?!"


"Ya ampun,"


Tetua Wang Zhong Xian berujar tenang, "Sebaiknya kalian cepat. Karena waktu tidak akan menunggu kalian siap,"


!!


Chu Kai berkedip saat anak-anak ini mulai bergegas dan mengambil satu keranjang masing-masing. Mereka bahkan berebut Dan memilih keranjang yang lebih kecil. Tetapi tentu saja, ada satu keranjang dengan ukuran berbeda yang bahkan tidak ingin dilirik oleh para anak-anak itu.


Chu Kai sendiri tahu bahwa keranjang berisi bebatuan itu ditujukan hanya untuknya. Dia pun menarik napas pelan dan kemudian mulai menggendong keranjangnya. Dia terkejut saat merasakan betapa bertanya benda ini.


Tetua Wang Zhong Xian berkata, "Karena Kai yang paling besar di antara kalian, maka dia yang akan menjadi pemimpin. Kai, kau harus menjaga mereka."


!


Chu Kai tentu saja syok. Dia menoleh dan memasang ekspresi wajah sebab akan menjadi pengasuh oleh belasan anak dan bahkan harus menjaga keselamatan mereka.


"Haaah... Mengagumkan," Chu Kai menghela napas berat. Dia pun menggeleng pelan sebelum akhirnya mulai memimpin jalan teman-temannya yang masih bocil ini.


******

__ADS_1


__ADS_2