
Keterkejutan menyelimuti wajah Wei Zhang Zihan. Dia mengingat reaksi Chu Kai ketika Kota Lianyi diserang dan Chu Tian terluka. Pemuda dengan mata hijau alami itu menganggap diri sendiri adalah pembawa kesulitan bagi orang lain dan bahwa semua yang terjadi adalah kesalahannya.
"................." tangan kanan Wei Zhang Zihan terkepal kuat. Dia pun lantas pergi ke kamar Chu Kai dan membuat Jing Hao kaget.
Langkah kaki Wei Zhang Zihan yang begitu terburu-buru tidak bisa diikuti oleh Jing Hao yang saat ini masih terluka. Pendekar Suci dari Sekte Gunung Wushi itu pun memeriksa lemari Chu Kai dan menemukan pakaian yang tidak rapi.
Jing Hao yang berhasil menyusul Wei Zhang Zihan nampak meringis dan saat melihat ke arah tumpukan pakaian di lemari---dia pun melebarkan matanya.
Reaksi Jing Hao diketahui oleh Wei Zhang Zihan. Pendekar Suci dari Sekte Gunung Wushi itu pun berujar tanpa nada, "Dia pergi. Kurasa tidak memberitahu siapa pun,"
"Kai... Ta-tapi dia bukan orang seperti itu." Jing Hao berkata, "Dia memangnya akan pergi ke mana? Tidak ada tempat yang bisa dijadikan rumah selain tempat ini."
"Akan kucari," Wei Zhang Zihan melesat dan keluar dari arah jendela. Jing Hao gelisah, tapi tidak bisa berbuat apa pun karena lukanya.
*
*
Chu Kai melihat gerbang Kota Lianyi yang rusak parah. Dia menghela napas berat sambil memeluk bungkusan dan pedangnya. Saat ini, dirinya berada di atas kereta pengangkut jerami, Chu Kai menumpang oleh seorang peternak tua.
Pria berpakaian cokelat itu memacu dua ekor kudanya dengan kecepatan yang sedang. Dia sesekali menyanyi dan kemudian mulai buka suara untuk mengajak sosok yang sedang bersandar, tepat di balik tumpukan jerami di belakangnya.
Pria tua itu berkata, "Chang'an adalah kota yang besar. Kudengar pemilihan untuk masuk ke Sekte Seratus Pedang sedang berlangsung. Apa kau juga ikut pemilihan itu?"
Chu Kai mendengar ucapan tersebut dan menggeleng walau gelengan kepalanya tidak dilihat oleh pria tua tersebut. Dia pun lantas buka suara.
Chu Kai berkata, "Aku hanya pergi... Agar ayahku tidak lagi terluka."
"Memangnya kau diusir?"
"Sama sekali tidak,"
"Mm... Haaah... Anak muda. Aku melihat kau adalah seorang pendekar. Jika kau menyesal karena tidak bisa melindungi ayahmu, maka tidak seharusnya kau melarikan diri seperti ini."
Chu Kai menurunkan pandangan matanya dan berkata, "Aku bukan pendekar. Sama sekali bukan,"
"Aiyo, walaupun aku hanya manusia biasa--tapi kau tidak bisa menyembunyikan identitasmu dariku. Pedang yang kau bawa... Jelas adalah pedang seorang pendekar,"
"Aku memungut ini di jalan. Benda ini bukan milikku."
"Heh, kau masih terlalu muda untuk bisa menipuku. Pedang Pendekar tidak dapat kau pungut di jalanan begitu saja. Pedang itu sangat berharga, bahkan lebih berharga dari jenis pedang biasa yang dijual di pasar."
"Apa seberharga itu...?"
"Tentu saja. Tidak hanya kuat, tetapi pedang itu juga sangat tajam. Aku pernah melihat seorang pendekar menebas seekor binatang iblis dan makhluk itu terbelah menjadi dua,"
".................." Chu Kai memperhatikan pedang di tangannya dan berkata, "Aku tidak tahu bahwa pedang ini seberharga itu. Aku bisa menjualnya di kota nanti,"
"A-apa?! Kau ingin melakukan apa?!"
"Menjualnya,"
__ADS_1
"Anak ini, apa kau--!!" pria tua itu terkejut ketika kedua kuda miliknya meringkik dan bahkan sambil mengangkat kaki depan mereka. Dia berusaha untuk mengendalikan kudanya walau terasa sulit.
Chu Kai berpegangan akibat guncangan ini. Dia baru akan melihat apa yang terjadi di depan ketika sebuah anak panah melesat dan hampir saja mengenai kakinya. Ekspresinya pun pucat.
!!!
Anak panah yang lain kembali melesat dan kali ini mengenai salah satu kuda, namun juga mengejutkan kuda lainnya. Kedua hewan itu membuat pria tua yang berada di atas kereta terlempar dan jatuh ke samping. Chu Kai juga dalam kondisi yang serupa.
Chu Kai meringis, tetapi belum sempat buka suara---panah kembali datang. Untung saja dia berguling hingga dapat menghindari serangan tersebut.
Chu Kai merasakan kehadiran seseorang dan kini melihat ada sosok berpakaian hitam berdiri di sebuah Batang pohon. Subjek itu adalah perempuan dengan rambut panjang dan nampak berusia sepantaran dengannya.
Tidak hanya seorang gadis, tetapi juga ada dua pria yang memiliki pakaian sama dan berdiri di dahan pohon yang lain. Chu Kai sama sekali tidak mengenali mereka.
Chu Kai melihat pedangnya yang juga jatuh saat itu. Dia pun langsung bergerak untuk mengambil pedang tersebut dan tanpa ragu menghunuskannya. Dia pun buka suara.
"Siapa kalian?!" Chu Kai menatap waspada ke arah tiga orang yang berdiri di dahan pohon, tidak jauh dari tempatnya berada. Orang-orang ini sejak pandangan pertama sudah terlihat berbahaya.
Dua dari ketiga sosok berpakaian serba hitam itu nampak saling berpandangan sebelum menatap ke arah Chu Kai. Keberadaan mereka tentu saja bukanlah hal yang baik mengingat apa yang sudah terjadi.
Pria tua yang merupakan pemilik kereta terlihat ketakutan. Suaranya gemetar saat dia bicara. "Me-mereka adalah pe-pendekar dari Sekte Wulin..!"
Chu Kai terkejut. Dia memang tidak mengenal ketiga orang yang menghadang jalannya, tetapi dia tahu benar tentang Sekte Wulin. Itu adalah perguruan aliran hitam yang dapat dikatakan sejajar dengan Sekte Bulan Mati.
Chu Kai tanpa sadar menahan napas, "Kenapa mereka menghadang jalan kami? Apa yang mereka incar?"
"Dia tidak memakai seragam Sekte Gunung Wushi,"
Seorang gadis yang berdiri di atas dahan pohon berujar tanpa nada, "Dari seragamnya.. Itu memang bukan milik murid Sekte Gunung Wushi, tetapi pedang yang dia pegang... Jelas menandakan dari mana dia berasal."
!!
Kalimat terakhir dari gadis itu terdengar sangat dingin, apalagi tatapan matanya yang tiba-tiba saja menajam. Chu Kai tegang, tetapi dia tidak mungkin langsung menyerang begitu saja. Dia tidak tahu sebesar apa kekuatan ketiga orang ini.
"Hmph, kurasa dia bukan bagian dari Pendekar Suci." anggota lain dari Sekte Wulin buka suara. Dia menatap pemuda yang terlihat gemetar itu dan menggeleng pelan. Sosok tersebut seperti kucing yang lemah.
"Hei, Nak." salah satu anggota Sekte Wulin memanggil Chu Kai. Dia berkata, "Aku akan membiarkanmu hidup jika kau menjawab pertanyaanku. Siapa yang sudah menyerang Kota Lianyi dan Sekte Gunung Wushi?"
Chu Kai tersentak dengan pertanyaan barusan. Pria tua yang merupakan pemilik kereta terlihat berlutut. Ekspresi wajahnya sangat ketakutan, suaranya sangat gemetar ketika buka suara.
Pria tua itu menjawab dengan terburu-buru, "Ko-kota diserang oleh Se-Sekte Bulan Mati. Yah! Anggota Sekte Bulan Mati. A-aku melihat mereka. Corak pakaiannya ti-tidak salah,"
Pria tua itu baru selesai bicara ketika sebuah lesatan datang dan di detik berikutnya, seluruh tubuhnya dipenuhi rasa sakit hingga akhirnya pandangan matanya gelap sepenuhnya.
Chu Kai yang berdiri nampak melebarkan mata. Dia terlambat merespon dan saat menoleh, pria tua pemilik kereta itu sudah terbaring tidak bernyawa dengan sebuah anak panah yang menancap tepat di tengah kepalanya.
"Pertanyaan itu bukan untukmu, Tua Bangka."
Suara salah seorang anggota Sekte Wulin terdengar menggema. Saat itu juga Chu Kai sadar bahwa baik dirinya dan pria tua yang bersamanya tidak akan dilepaskan dalam keadaan bernyawa oleh ketiga orang ini.
Dalam benaknya, Chu Kai menyalahkan diri sendiri sebab seseorang mati dan itu karena dirinya. Dia menggigit bibir bawahnya sampai berdarah. Suaranya bergetar saat dia berkata, "Apa... Yang sebenarnya... Kalian inginkan?!"
__ADS_1
Gadis yang merupakan anggota Sekte Wulin melompat turun dari dahan pohon. Dia adalah sosok bernama Jian Yu, seorang pendekar yang berada di Tingkat Kultivasi Tahap 5.
Kedua orang yang bersama gadis itu juga berasa di tingkatan yang sama. Dan walau Chu Kai tidak bisa membaca praktik lawannya ini, tetapi dia yakin sekali bahwa mereka adalah pendekar yang kuat dan berbahaya.
Jian Yu memperhatikan pria di hadapannya dan mendengus, "Sekte Gunung Wushi dan kota Lianyi diserang. Aku yakin kau tahu alasannya,"
".................." napas Chu Kai tidak beraturan. Entah bagaimana, tetapi sejak gadis ini menapak di tanah---dirinya merasakan tekanan di dalam dada.
Jian Yu berkata, "Garis wajah dan warna matamu seperti milik bangsa asing. Apa mungkin... Kau adalah alasan anggota Sekte Bulan Mati menyerang?"
!!
Chu Kai tersentak, reaksinya itu diperhatikan oleh Jian Yu dan kedua rekan gadis tersebut. Mereka terlihat melebarkan mata dan seolah tidak menyangka dengan sosok di hadapan mereka ini.
"Wah, wah. Sebuah keberuntungan," Jian Yu buka suara. Dia menatap Chu Kai dan berkata, "Anggota Sekte Bulan Mati bisa memiliki inisiatif menyerang sebuah kota hanya dengan dua alasan. Pertama adalah pembalasan dendam dan yang kedua... Berhubungan dengan fakta kemunculan Pendekar Naga."
"Kabar yang kedua sangat menggemparkan," Jian Yu kembali berkata, "Bahkan karenanya Tetua juga menyuruh kami menyelidiki dan saat melihatmu... Aku merasa kau merupakan anggota baru Sekte Gunung Wushi."
Suara Jian Yu dingin saat berkata, "Tentu saja lebih baik membuktikannya sendiri daripada hanya menduga."
!!!
Chu Kai melebarkan matanya saat melihat salah satu anggota Sekte Wulin mulai menarik busur dan melepaskan sebuah anak panah. Dia belum sempat merespon ketika anak panah itu langsung melesat, seolah-olah memecah angin.
Chu Kai tidak bisa mengambil kesempatan untuk menahan serangan itu, apalagi menghindar. Responnya terlalu lambat. Satu-satunya yang bisa dia lakukannya hanya memejamkan mata dengan kuat sambil tetap memegang pedang pusakanya.
Chu Kai merasa bahwa dia pasti tidak akan selamat, tetapi setelah beberapa saat---dia justru tidak merasakan apa pun. Dirinya pun lantas membuka matanya perlahan dan hal pertama yang dilihatnya adalah wajah tampan seorang pria.
!!
Mata Chu Kai melebar, sosok yang berdiri di depannya ini adalah Wei Zhang Zihan. Pemuda tersebut terlihat memegang anak panah yang hampir saja mengenai wajahnya. Dia tanpa sadar menahan napas sebab hampir saja anak panah itu mengenai wajahnya.
"Pendekar Wei...?"
Tatapan mata Wei Zhang Zihan begitu dingin dan tajam. Rasanya seakan dia sedang marah, tetapi kemarahan itu tidak ditujukan pada Chu Kai sama sekali. Dia pun lantas berbalik dan tanpa ragu melemparkan anak panah di tangannya ke arah musuh.
Rekan Jian Yu kaget. Mereka melompat untuk menghindari serangan tersebut. Anak panah yang dilemparkan oleh Wei Zhang Zihan pun mengenai dahan pohon hingga menghasilkan suara ledakan.
Jian Yu dan kedua temannya tidak menyangka bahwa akan bertemu dengan Pendekar Suci Wei Zhang Zihan di sini. Mereka jelas tahu bahwa sulit untuk mengalahkan orang ini dengan tingkatan mereka yang sekarang. Jadi dengan memanfaatkan ledakan tersebut, ketiganya kemudian melarikan diri.
Chu Kai menyadari anggota Sekte Wulin pergi begitu saja. Masalahnya, dia tidak bisa menyusul mereka dan sepertinya Wei Zhang Zihan pun tidak berniat mengejar musuh.
Pendekar Suci dari Sekte Gunung Wushi itu melihat Chu Kai menurunkan pandangan dan menunduk tanpa mengatakan apa pun. Tatapan Wei Zhang Zihan semakin gelap. Dia sudah mengerahkan tenaga yang besar untuk bisa menyusul orang ini, dan situasi tadi sejujurnya sangat berbahaya.
Chu Kai tidak berani untuk bicara saat ini. Dia bisa dikatakan melarikan diri dari sosok di hadapannya. Benar-benar tidak terduga bahwa dirinya bisa ditemukan dengan begitu cepat.
"Kenapa kau pergi?"
!!
******
__ADS_1