LAHIRNYA PENDEKAR NAGA

LAHIRNYA PENDEKAR NAGA
55 - Long Yang Wang


__ADS_3

Anak laki-laki yang bertudung hitam dan saat ini sedang makan roti pemberian Wei Zhang Zihan masih berada di dalam kuil.


Di depannya ada seorang pria berpakaian serba putih yang masih terbaring tidak sadarkan diri. Dan saat ini kondisi di luar kuil sepertinya tidak terlihat bagus. Anak tersebut bahkan bisa mendengar dengan jelas suara dari benturan senjata.


!!


Sebuah debaman keras terdengar dan membuat anak laki-laki itu terkejut. Dengan spontan dia menatap ke arah pintu kuil yang tertutup dan tanpa sadar menelan ludah. Dia bergegas ke arah pintu dan berusaha melihat keluar melalui celah kayu yang berlubang.


Anak laki-laki itu bisa melihat pertarungan yang saat ini sedang dilakukan oleh pemuda berpakaian biru muda, sosok yang sudah membawanya ke tempat ini.


Wei Zhang Zihan sekarang masih bertarung sengit dengan tiga orang pendekar. Di sisi lain, Chu Kai justru terjebak di antara warga kota dan harus menghadapi mereka semua. Dia tidak melawan tiga orang, tetapi lebih dari itu.


"Ini tidak benar!" Chu Kai buka suara, "Kalian sudah melakukan kesalahan."


"Justru kaulah yang salah karena sudah menghalangi kami..!" seseorang berseru ketika pedang besarnya berbenturan dengan senjata yang dipegang Chu Kai.


"Aku benar-benar tidak boleh menggunakan teknik pernapasan itu melawan mereka yang hanya orang awam ini. Jika tidak... Mereka semua akan mati," Chu Kai memberikan tendangan pada seorang warga kota sebelum berlari untuk menghindari serangan dari yang lain.


"Kejar dia!"


"Apa-apaan kalian ini?!" Chu Kai berseru, "Di antara kalian ada mutan dan aku sudah menyelamatkan nyawa kalian. Tetapi apa ini balasan yang harus kudapatkan?! Kalian tidak bisa seenaknya!"


Chu Kai menghindari serangan beberapa orang, dia berusaha mengatasi keadaannya sekarang dan begitu juga dengan Wei Zhang Zihan. Hanya saja keduanya sama sekali tidak sadar bahwa ada di antara orang-orang yang mulai memasuki bangunan kuil.


!!!


Pintu kuil tersebut ditendang dengan kuat dan anak laki-laki yang sebelumnya ada di dekat pintu terkejut. Sosok itu terjatuh cukup keras dengan punggung yang menghantam lantai. Situasi menjadi buruk bagi anak tersebut.


Chu Kai yang saat ini sedang kesulitan karena harus melawan banyak orang nampak kaget sebab menyadari bahwa pintu kuil telah terbuka secara paksa.


Di sela-sela pertarungan yang dilakukannya, Chu Kai berusaha mencari keberadaan Wei Zhang Zihan. Hanya saja pemuda itu tidak ada di sekitarnya dan ini membuat keadaan semakin rumit untuk diatasi.


"Gawat," Chu Kai menjadi cemas. Orang-orang ini sulit untuk diberitahu dan jika dia tidak melakukan tindakan apa pun, maka anak yang sebelumnya bersama Wei Zhang Zihan akan terluka. Belum lagi, di dalam kuil juga ada Ruan Zhao Sheng.


Chu Kai melebarkan mata saat ingat sesuatu. Dia menolong Ruan Zhak Sheng sebab pria itu akan berguna baginya untuk pergi ke Sekte Tianzhi. Jika para warga salah mengira dan justru menghabisi Ruan Zhao Sheng, maka dirinyalah yang akan bertanggung jawab.


"Tidak bisa dibiarkan," Chu Kai menghindari beberapa serangan sebelum menarik napas dan mengeluarkan tekniknya.


Chu Kai menancapkan pedang di tangannya ke tanah sambil mengeluarkan Teknik Pernapasan miliknya. Dalam hati dia berdoa agar serangan tersebut tidak sampai memberi dampak besar, apalagi menghilangkan nyawa orang-orang di tempat ini.


Baru saja akan mengeluarkan tenaganya, Chu Kai dikagetkan dengan ledakan keras di dalam kuil yang mengakibatkan atap bangunan kuil tersebut hancur dan kepingannya tersebar ke mana-mana.


Beberapa orang yang sebelumnya memasuki kuil tersebut terlihat terlempar keluar dari berbagai arah. Sebagian ada yang membentur tanah dan ada juga yang batu besar di halaman.

__ADS_1


Chu Kai, Wei Zhang Zihan, serta orang-orang yang mereka hadapi nampak terkejut. Mereka semua langsung mengarahkan pandangan ke bangunan kuil dan sekarang tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Ada seseorang yang berjalan keluar dari bangunan tua tersebut. Jubah hitamnya berkibar dan dari postur tubuh yang dilihat Chu Kai, sosok tersebut nampak seperti anak laki-laki berusia sekitar 14 Tahun.


"Itu silumannya!"


Seorang pendekar berseru dan membuat Chu Kai tersentak. Dia bahkan belum sempat bicara ketika orang-orang di sekitarnya bergegas menyerang bocah laki-laki yang entah siapa itu.


!!


Bocah laki-laki tersebut mengibaskan tangan kanannya. Jarum-jarum kecil melesat dan menancap tepat di tubuh para pendekar serta warga kota. Chu Kai menyaksikan bagaimana orang-orang di sekitarnya satu persatu mulai tumbang tidak sadarkan diri.


"Apa yang terjadi?" pandangan Chu Kai mengedar. Di tempat ini sekarang, hanya dia dan Wei Zhang Zihan saja yang masih berdiri.


Wei Zhang Zihan berjalan dan memeriksa nadi salah satu pria. Dia menghela napas lega setelah mengetahui bahwa sosok ini masih hidup.


Wei Zhang Zihan memperhatikan dengan saksama tubuh pria di hadapannya dan mengerutkan kening saat melihat ada titik merah kecil pada leher subjek di hadapannya.


Ketika memeriksa tubuh yang lain, Wei Zhang Zihan juga melihat titik merah yang sama. Dia pun mengarahkan pandangan pada anak laki-laki bertudung hitam yang masih berdiri di depan pintu kuil sebelum akhirnya mulai melesat.


?!


Chu Kai tersentak ketika Wei Zhang Zihan melayang di udara dan Pendekar Suci itu pun menapak di depan bocah laki-laki yang dia lihat. Chu Kai pun segera menghampiri Wei Zhang Zihan dan memang penasaran dengan sesuatu.


Wei Zhang Zihan bertanya, "Apa yang sudah kau lakukan pada mereka?"


"................." anak laki-laki berusia 14 Tahun itu menengadah dan memperhatikan subjek di depannya sebelum berbalik. Dia melangkah memasuki kuil tanpa mengatakan apa pun dan membuat Chu Kai yang baru saja tiba di tempat Wei Zhang Zihan terkejut.


Chu Kai berkedip. Dia terperangah sebelum akhirnya mendengus dan berkata, "Apa-apaan anak itu. Dia tidak sopan sekali..."


"................." Wei Zhang Zihan mendengar ucapan Chu Kai, tetapi tidak mengatakan apa pun. Dia lantas berjalan memasuki kuil dan kembali membuat Chu Kai tersentak.


"Tsk, tsk, tsk. Mengagumkan," Chu Kai menghela napas, "Entah orang asing atau pun Pendekar Suci. Mereka sama sekali tidak punya sopan santun,"


Chu Kai berbalik dan mengedarkan pandangan ke sekitar. Dia melihat banyak para warga kota dan pendekar yang sebelumnya bertarung dengannya kini terbaring pingsan. Dia merasa kasihan, tetapi juga tidak bisa berbuat apa pun. Untuk saat ini, sebaiknya dia tidak melakukan hal yang bisa semakin memperkeruh suasana.


Chu Kai berkedip dan teringat dengan Ruan Zhao Sheng. Dia pun bergegas masuk ke dalam kuil dan menyaksikan anak laki-laki bertudung hitam itu sedang bersama dengan Wei Zhang Zihan.


"Pendekar Ruan?" Chu Kai menepuk pelan pipi Ruan Zhao Sheng. Tindakannya membuat Wei Zhang Zihan dan anak laki-laki bertudung hitam itu menatap ke arahnya.


"Siapa dia?" Wei Zhang Zihan buka suara. Dia bertanya sebab tidak mengetahui nama pria yang dibawa Chu Kai meski tahu bahwa subjek tersebut berasal dari Sekte Tianzhi.


Chu Kai menoleh sejenak sebelum menjawab, "Dia Pendekar Ruan Zhao Sheng. Aku bertemu dengannya secara tidak sengaja,"

__ADS_1


"Sepertinya dia mengalami luka yang serius. Apa bertarung dengan seseorang?"


Chu Kai menatap Wei Zhang Zihan saat mendengar pertanyaan tanpa nada itu. Dia pun mendengus dan berkata, "Harusnya kau katakan itu pada dirimu sendiri. Kau pikir karena ulah siapa yang memasang perangkap di sepanjang jalan?"


Walau ekspresi wajah Wei Zhang Zihan tidak terlalu banyak berubah, namun Chu Kai tahu pemuda ini terkejut mendengar ucapannya. Dia pun berkata, "Aku bertemu Pendekar Ruang Zhao Sheng di jalan. Dia terkena perangkap yang dipasang oleh seseorang dan berakhir seperti ini. Beruntungnya dia tidak mati,"


"Itu..."


Melihat Wei Zhang Zihan menurunkan pandangan dan seakan tidak bisa berkata apa-apa membuat Chu Kai tersenyum samar. Dalam hati dia merasa senang karena bisa setidaknya membalas perlakuan pemuda ini.


"Hmph, biarkan Pendekar Wei merasa bersalah. Dia sesekali harus diberi pelajaran sepertu ini agar tidak terus menindasku. Haah... Jika saja aku bisa melakukan hal yang sama pada nona Xia Ling Qing, itu akan jadi bagus sekali..."


"Bohong."


Chu Kai tersentak saat tiba-tiba mendengar ucapan Wei Zhang Zihan. Dia menoleh dan tanpa sadar menahan napas kala pemuda ini memberinya tatapan yang dingin.


Wei Zhang Zihan berkata, "Dia mengalami luka dalam dan itu bukan karena jebakan buatanku. Dari apa yang kulihat, dia jelas terluka karena bertarung."


Chu Kai menelan ludah. Dia berdeham sebelum mulai menggeleng pelan. Sambil menyilangkan tangan, Chu Kai berkata. "Pendekar Wei, kau tidak percaya padaku? Dengarkan ini baik-baik. Sebelumnya Pendekar Ruan Zhao Sheng memang bertarung dengan seseorang, dia hampir saja menang, tetapi karena menginjak jebakanmu... Pendekar Ruan Zhao Sheng jadi terluka dan tidak hanya itu, lawan berhasil mengenainya hingga dia seperti sekarang."


Chu Kai berujar, "Apa pun alasannya... Perangkap yang kau pasang jelas sudah membuat Pendekar Ruan Zhao Sheng seperti ini. Lalu apa ini adalah salahku, huh?"


!!


Wei Zhang Zihan berkedip, dia tidak tahu harus menjawab apa pada pemuda ini karena jika dipikirkan baik-baik... Memang dirinyalah yang memasang perangkap tersebut. Walau jujur saja itu sama sekali tidak ada niatan untuk melukai orang lain.


"Padahal itu... Adalah perangkap dengan batas waktu. Kenapa..."


"Batas waktu?" Chu Kai mengerutkan kening saat mendengar gumaman pelan dari subjek di depannya. Dia berkedip beberapa kali, "Jadi perangkap itu bisa menghilang sendiri setelah mencapai batas waktunya? Tsk, kalau saja aku tahu... Aku pasti tidak perlu terburu-buru dan menunggu saja. Menyebalkan,"


"Meskipun memiliki batas waktu, tapi tetap saja Pendekar Wei yang salah." Chu Kai tidak bisa kalah seperti ini. Dia baru akan bicara hal yang bisa memojokkan Wei Zhang Zihan saat pandangan matanya terarah pada anak laki-laki bertudung hitam. Raut wajah Chu Kai seketika berubah.


Chu Kai berujar, "Aku sudah mengatakan tentang Pendekar Ruan Zhao Sheng padamu. Tapi siapa anak laki-laki di sampingmu itu, Pendekar Wei? Kau bertemu dengannya di mana?"


"................."


Menyadari bahwa dirinya sudah diperhatikan membuat anak laki-laki berjubah hitam itu mulai membuka tudung yang menutupi kepalanya. Dia menatap lurus ke arah pemuda yang bertanya barusan.


Warna mata hitam dari anak tersebut berhadapan langsung dengan mata hijau alami dari Chu Kai. Anak laki-laki yang berusia sekitar 14 Tahun tersebut mempunyai ekspresi yang dingin, apalagi dengan pupil mata yang tajam seperti milik seekor hewan buas.


"Long Yang Wang... Itu adalah namaku."


!!

__ADS_1


******


__ADS_2