LAHIRNYA PENDEKAR NAGA

LAHIRNYA PENDEKAR NAGA
89 - Alur Awal


__ADS_3

"Berikan."


Itu adalah kata pertama yang didengar oleh Chu Kai saat Xia Ling Qing menghampirinya. Ekspresi gadis ini masih sama, menatapnya sangat dingin dan bahkan berbicara dengan ketus padanya. Namun sesuatu yang membuat Chu Kai tersentak adalah, subjek ini tidak langsung menendangnya seperti saat di kedai waktu itu.


"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Xia Ling Qing bertanya tanpa nada. Gadis itu merasa bahwa Chu Kai ini benar-benar payah karena berteman dengan anak-anak yang masih sangat pemula.


"Senior Xia, ayo makan bersama kami." Fu Wutian tersenyum, dia dan teman-temannya jelas memperlihatkan ekspresi kekaguman karena bisa menatap Xia Ling Qing dari dekat.


"Masih ada yang harus kukerjakan. Mungkin lain kali," Xia Ling Qing berujar tanpa nada. Dia pun menatap Chu Kai dan menyaksikan bahwa pemuda di hadapannya sangat tercengang dengan ucapannya tadi.


"Kau ini kenapa?" Xia Ling Qing kembali buka suara.


"Ti-tidak..." Chu Kai menggeleng dan dalam hati membatin, "Dia sama sekali tidak marah. Ini sangat aneh. Bukankah normalnya... Dia akan langsung menyerang atau menendangku seperti yang terakhir kalinya?"


Chu Kai pun mengambil tusuk rambut yang dia simpan di kantong lengannya. Suaranya gugup saat berkata, "Bu-bukan aku yang mengambil ini. Tapi..."


"Mn, Liu Han Ying memang orang yang seperti itu." Xia Ling Qing mengambil tusuk rambut emas tersebut dari tangan Chu Kai. Dia kembali berkata, "Meski tidak pernah melihat tulisan tanganmu, tapi aku sangat mengenal tulisan tangan Liu Han Ying. Dia memang suka bermain-main,"


!!


Ini pertama kalinya Chu Kai mendengar Xia Ling Qing bicara begitu banyak dan tanpa nada yang kasar. Dirinya sampai syok saking tidak percayanya.


"Setelah kau makan, ikutlah denganku. Kita akan latihan,"


"Ki-kita?!" Chu Kai berkedip beberapa kali. Dia menatap Xia Ling Qing yang mulai berjalan pergi dan lantas menepuk-nepuk bahu anak di sampingnya.


Chu Kai berkata, "Ka-kalian dengar itu? Dia bilang 'kita', itu artinya aku dan nona Xia..!"


"Lalu apa masalahnya?" Lin Mo mengerutkan kening. Dia terlihat bingung dengan reaksi Chu Kai yang nampak sangat senang.


Chu Kai kembali duduk, senyuman masih tidak menghilang di wajahnya. Dia pun berujar, "Apa ini sebuah keberuntungan? Nona Xia mungkin sudah mulai menyukaiku. Dia tidak lagi marah apalagi memukul seperti yang selalu dia lakukan selama ini,"


"Nona Xia pernah memukulmu?" Fu Wutian tersentak. Dia pun langsung menepisnya, "Kau jangan sembarangan. Tidak mungkin seorang Pendekar Suci Xia Ling Qing memukul orang. Dia itu wanita yang paling baik tahu!"


"Apa?" Chu Kai menatap Fu Wutian dan berkata, "Apa kau tidak pernah melihat dia menindas orang lain? Aku bahkan pernah ditendang olehnya,"


"Mustahil," Fu Wutian tidak percaya, "Nona Xia Ling Qing memang sangat disiplin dan keras jika sedang membimbing para murid junior, tapi dia tidak pernah memukul. Kau pasti bercanda?"

__ADS_1


Ning Yu buka suara, "Pendekar Xia Ling Qing bahkan pernah memberikanku pedang. Dia itu sangat cantik dan baik hati,"


Chu Kai berkedip, dia menatap anak perempuan berusia 5 Tahun tersebut dan lantas berkata. "Dia memberikan benda berbahaya itu pada anak kecil sepertimu... Apakah itu terlihat baik?"


Ning Yu mengangguk dan dengan polos berkata, "Tidak ada yang pernah memberiku hadiah selama ini, jadi aku sangat senang~"


"................." Chu Kai menarik napas. Dia lantas mengulurkan tangan dan mengusap lembut kepala Ning Yu. Anak ini benar-benar sangat muda, tetapi sudah harus belajar hal yang sulit di tempat ini. Dia pun memperhatikan para bocah yang duduk bersamanya dan kemudian mengembuskan napas.


Chu Kai menatap Ning Yu dan bersuara lembut, "Kenapa kau ingin belajar di sekte ini?"


Ning Yu menyendok nasinya dan kemudian menjawab, "Tentu saja untuk menjadi pendekar seperti Senior Xia Ling Qing."


"Bukankah usiamu terlalu muda?"


Ning Yu menggeleng, "Usiaku 5 Tahun. Jika tidak pergi dari tempat itu, aku akan dijual sebagai budak. Wutian-Gege bilang menjadi budak itu tidak baik,"


"Wutian?" Chu Kai menatap Fu Wutian yang dianggukkan oleh anak laki-laki berusia 14 Tahun tersebut. Chu Kai berkata, "Kau dan Ning Yu..."


"Yu'Er dibesarkan di rumah bordil. Akulah yang membawanya kemari,"


"Kau ini masih berusia 14 Tahun, kan?" Chu Kai buka suara dan membuat Fu Wutian mendengus.


"Memang kenapa jika usiaku 14 Tahun? Kami tidak bisa terus bergantung pada orang dewasa, apalagi saat kami hidup di lingkungan yang keras dan lebih buruk dari sampah." Fu Wutian menuangkan air pada gelasnya dan kemudian menatap pemuda dewasa di hadapannya.


Tanpa nada, Fu Wutian berkata. "Aku akan menjadi pendekar yang hebat dan melindungi teman-temanku. Kau... Juga harusnya memiliki tujuan ini,"


"Keadaan membuat mereka kehilangan masa kecil yang selayaknya," suara Wei Shezi terdengar, "Kurasa itulah yang membuat mereka terlihat dewasa dibanding umur yang sebenarnya."


"Apa... Yang sebenarnya sudah kulewatkan?" Chu Kai menurunkan pandangan. Dia merasa bahwa selama ini kehidupannya berjalan cukup baik, tidak ada sesuatu yang membuat tempat tinggalnya terlihat tidak manusiawi. Namun anak-anak ini.... Mereka jelas mempunyai hidup yang tidak sederhana.


"Kau hanya tinggal di satu tempat, tetapi dunia itu luas." Wei Shezi berkata, "Kehidupanmu yang tenang dan damai.... Bukan berarti kehidupan orang lain juga akan demikian. Inilah sebabnya ada manusia yang berlatih teknik bela diri agar dapat melindungi dan menolong banyak orang. Namun ada juga manusia... Yang justru berpikir sebaliknya,"


"................."


"Kurasa kau sangat mengerti bahaya apa yang sedang mengincar dunia ini," Wei Shezi melanjutkan, "Namun jauh di dalam hatimu. Kau ingin melupakan semuanya dan tidak mau melibatkan diri. Padahal bagi dunia.... Kau adalah harapan mereka."


Chu Kai tersentak. Kata-kata Wei Shezi sangat menyinggungnya, namun dia bahkan tidak tahu harus mendebat apa dengan wanita ini. Apa yang Wei Shezi katakan tidak sepenuhnya salah, dia sendirilah yang telah menutup mata dari dunia.

__ADS_1


*


*


Kota Lianyi, daerah pinggiran.


Liu Han Ying terlihat sedang berjalan-jalan di atas dinding gerbang kota Lianyi. Dia melihat pemandangan luar yang jauh membentang di hadapannya dan mengulum senyum. Dia pun melompat di atas tugu batu yang mempunyai ukiran nama kota ini.


"Pendekar Liu Han Ying?!"


Seruan seseorang membuat Liu Han Ying menoleh. Pandangannya mengarah pada dua orang pemuda yang sedang berdiri di depan gerbang kota. Mereka tidak lain adalah murid dari Sekte Gunung Wushi.


Liu Han Ying melompat turun dan menyapa kedua pendekar berusia 20 Tahun itu. "Kalian ini..."


"Aku Shao Jian dan dia Yin Shan," Shao Jian berkata, "Pendekar Liu Han Ying harusnya tidak melupakan kami."


"Ah..." Liu Han Ying tertawa. Dia pun tersenyum dan berkata, "Ini kesalahanku. Ehm... Apa kalian sedang berjaga di sini?"


"Mn, kami sedang menggantikan senior yang sebelumnya." Shao Jian berujar, "Meskipun keadaan tenang... Namun gerbang kota tidak boleh sampai kehilangan penjagaan. Binatang Iblis bisa datang kapan saja,"


"Kau benar," Liu Han Ying berbalik dan menatap lurus ke depan. Dia berkata, "Tempat ini begitu mendamaikan dan terlihat indah. Suasana seperti ini.... Terlalu tenang dan sejujurnya mengganggu."


"Kekacauan terakhir kali membuat kami sangat waspada, bahkan beberapa senior pun ada yang berkeliling untuk memeriksa kondisi di sekitar gerbang kota," Yin Shan buka suara. Dia pun berujar, "Di beberapa tempat juga masih dilakukan perbaikan."


Liu Han Ying tahu benar bahwa 'kekacauan' yang dimaksud oleh kedua pemuda ini adalah serangan dari anggota Sekte Bulan Mati waktu itu. Dia pun baru akan bicara saat angin yang berhembus membawa perasaan mencekam.


!!


Shao Jian dan Yin Shan terkejut, keduanya spontan menarik pedang mereka. Angin itu berhembus dari depan, seolah berasal dari arah hutan. Liu Han Ying menatap lurus ke depan sebelum kemudian melebarkan matanya.


"Di dalam."


"Apa?" Shao Jian dan Yin Shan tersentak saat Liu Han Ying dengan cepat melompat ke atap dinding gerbang kota.


"Berikan kabar segera, kota sedang diserang." Liu Han Ying berujar serius dan kemudian melesat pergi. Shao Jian dan Yin Shan pun mengeluarkan potongan bambu yang tak lain merupakan kembang api permintaan bantuan.


******

__ADS_1


__ADS_2