LAHIRNYA PENDEKAR NAGA

LAHIRNYA PENDEKAR NAGA
23 - Pelatihan Pertama


__ADS_3

Chu Kai memperhatikan anak-anak yang ada di sekelilingnya. Dia sudah menghitung mereka dan yakin bahwa para bocil ini berjumlah 15 orang. Tentu saja, mereka adalah anak-anak yang memiliki usia berbeda.


"Baiklah," Chu Kai menarik napas dan lantas berkata, "Sebelum kita mulai berangkat, aku harus mengatakan beberapa hal pada kalian. Pertama, tidak boleh ada yang berlari-larian apalagi sampai masuk ke dalam hutan tanpa izin dariku."


"Kedua, kita harus selalu bersama. Dan jika ada di antara kalian yang tidak menyukaiku, maka langsung katakan saja. Aku tidak mau jika sampai dalam perjalanan nanti, ada yang--hei..! Di belakang sana! Apa yang kau lakukan?!"


Chu Kai dalam hati menggaruk kepalanya. Anak-anak di hadapannya ini kebanyakan masih berusia 7 Tahun, bahkan ada yang masih berusia 5 Tahun. Dia benar-benar dalam ujian besar jika harus menjaga mereka semua.


"Anak-anak, kalian jangan bermain dulu. Tolong dengarkan aku--" Chu Kai mengembuskan napas. Hanya beberapa orang anak yang mendengarkannya, sisanya ada sekitar lima orang yang begitu ribut dan rasanya ingin sekali menjitak kepala mereka.


Chu Kai mengangkat tangannya dan tanpa peringatan memukul batang pohon yang ada di sampingnya. Dia menggunakan kekuatan yang cukup besar hingga terdengar suara yang keras, bahkan membuat batang pohon itu rusak.


Dengan tindakan Chu Kai yang tiba-tiba, semua anak terkejut dan langsung menatapnya. Dia memperhatikan mereka yang akhirnya bisa diam.


Tanpa nada, Chu Kai berkata. "Aku tidak akan segan membuat kalian seperti pohon ini jika sampai tidak mematuhi ucapanku. Sekarang dengan langkah yang teratur, ayo berangkat."


Beberapa anak terlihat memperhatikan Chu Kai dengan saksama. Mereka tidak menyangka bahwa pemuda ini mempunyai kekuatan yang begitu besar, padahal sebelumnya mereka sama sekali tidak merasakan aura yang kuat dari pemuda ini.


Seorang anak yang berusia 14 Tahun berjalan dan menghampiri Chu Kai. Dia pun bertanya, "Pendekar Naga, apa kau benar-benar pendekar naga yang dikatakan oleh Shizun?"


Chu Kai menatap anak laki-laki di sampingnya dan kemudian berujar, "Memang apa yang dikatakan Shizun-mu?"


"Dia bilang kau adalah pendekar naga dan kami harus bisa menjagamu sebelum kekuatanmu bangkit. Tapi... Melihat kau bisa melakukan hal yang sangat mengejutkan seperti tadi... Aku pikir bukan kami yang harusnya menjagamu,"


"Hei.." seorang anak laki-laki yang lain nampak menghampiri Chu Kai dan bertanya, "Apa kau bisa terbang?"


"Tidak, aku tidak bisa melakukan itu." Chu Kai menjawab sejujurnya dan sesekali melihat anak-anak yang mengikutinya dari belakang.


"Kudengar, pendekar naga itu sangat kuat. Bahkan kekuatannya melebihi kelima pendekar suci, tapi kenapa kau justru tidak bisa terbang? Pendekar Xia Ling Qing dan Pendekar Wei Zhang Zihan saja bisa melakukannya."


"Kau tidak mengerti yah," seorang anak memukul pelan lengan temannya. Dia menatap Chu Kai dan berkata dengan penuh rasa kekaguman. "Pendekar Naga itu terbang dengan menunggangi naga. Benar, kan?"


Chu Kai menggaruk pipinya yang tidak gatal dan menjawab, "Entahlah. Aku tidak tahu.."


"Pendekar Naga, apa aku boleh bertanya sesuatu?" seorang anak perempuan mendekat dan membuat Chu Kai berkedip.


"Kau bisa memanggilku, 'Kai'. Apa yang ingin kau tanyakan?"


"Baiklah, kalau begitu. Kai, bagaimana caramu terpilih menjadi pendekar naga? Aku hanya mendengar cerita dari orang-orang. Aku ingin mendengarnya langsung darimu,"


"...................." Chu Kai terdiam. Dia mengingat kejadian di mana dirinya pertama kali masuk ke Sekte Gunung Wushi. Sejujurnya, semua hal yang dia ingat tidak ada yang pantas untuk diceritakan.

__ADS_1


Seorang anak laki-laki mendekat dan justru mengambil alih semuanya. Anak tersebut sangat cerewet mengisahkan apa yang terjadi di saat pemilihan pendekar naga. Bahkan Chu Kai sendiri merasa terkejut dengan betapa hebatnya anak ini menceritakan kisah yang sedikit disesapi bumbu kebohongan.


Chu Kai hanya mendengarkan anak laki-laki ini bercerita di sepanjang jalan mereka. Namun tidak berlangsung lama sampai seorang anak menarik pakaiannya dan membuatnya menoleh. Kening Chu Kai mengerut keheranan.


"Ada apa?" Chu Kai bertanya. Anak kecil yang menarik pakaiannya ini mempunyai wajah yang begitu polos.


"Luka di wajahmu... Bagaimana kau bisa mendapatkannya?"


Chu Kai tersentak. Dia menatap anak kecil ini sebelum akhirnya menurunkan pandangan. Dia baru saja akan buka suara saat terdengar suara keributan dan seruan seorang anak.


"Awas..!" seorang anak laki-laki langsung mendorong temannya sambil melesatkan belati kecil ke arah semak-semak.


Anak itu memikul keranjang berisi sayuran di punggungnya, tetapi hal tersebut tidak membuat dirinya kesulitan. Serangan yang dia lesatkan bahkan tepat mengenai sasaran sebab langsung terdengar suara geraman milik hewan buas.


Anak-anak yang lain berlari dan bahkan ada yang bersembunyi di balik punggung Chu Kai. Pemuda berusia 18 Tahun itu sendiri meminta agar anak-anak di sampingnya tidak perlu terlalu panik, meski sebenarnya---dia sendiri justru khawatir dengan keadaan ini.


"Kai,"


"Jangan takut," Chu Kai menurunkan keranjang yang ada di punggungnya bersamaan dengan seekor serigala besar melompat keluar dari arah semak-semak.


!!!


Chu Kai terkejut bukan main, namun dengan segera, tatapan matanya langsung mengarah pada pedang seorang anak laki-laki yang ada di sampingnya.


Binatang yang dihadapi oleh Chu Kai bukan dari jenis Demonic Beast, tetapi tetap saja ini sangat berbahaya. Anak-anak itu menyaksikan bagaimana Chu Kai mengayunkan pedang dengan gerakan yang tidak seperti milik para murid Sekte Gunung Wushi.


Chu Kai bukannya tidak pernah memegang pedang, apalagi pemula dalam mengayunkan senjata. Hanya saja dia dahulunya dilatih oleh para makhluk yang tinggal di Hutan Móguǐ. Dia tidak pernah menggunakan kemampuannya karena dia dilatih bukan untuk bertarung, melainkan membunuh.


!!!


Hanya dalam beberapa gerakan, serigala yang dilawan oleh Chu Kai terkapar dalam kondisi tubuh yang terbelah. Belum lagi kepala hewan itu terpisah dari tubuhnya dan terlempar jauh. Anak-anak yang menyaksikan bagaimana Chu Kai menghabisi makhluk tersebut hanya dapat diam membeku dan tanpa sadar menahan napas.


Chu Kai tersadar dengan apa yang dia lakukan. Dia pun menjadi tegang dan menatap cemas ke arah anak-anak ini. Dia sudah melakukan sebuah kesalahan yang besar.


Apa yang dia lakukan merupakan pembunuhan yang sangat brutal dan orang yang melihatnya adalah kumpulan anak-anak. Apa yang harus dia jelaskan sekarang? Dia memperlihatkan sesuatu yang tidak seharusnya dilihat oleh anak kecil. Bagaimana jika mereka justru takut dan menganggapnya monster?!


"A-aku..." Chu Kai merasa tidak enak hati. Dia tidak tahu harus memberikan penjelasan apa kepada anak-anak ini.


"Kai...!"


"Waah...! Keren sekali..!"

__ADS_1


"Luar biasa..! Bagaimana kau melakukannya?!"


"Sangat hebat!"


Chu Kai tertegun. Anak-anak ini bergegas dan mengerumuninya, beberapa bahkan langsung memeluknya dan membuat Chu Kai terkejut.


"Ka-kalian..."


"Kai, ajari aku! Aku mau! Aku mau sepertimu!"


"Ajari aku juga!"


"Aku juga mau!"


Chu Kai berkedip. Dia tidak menyangka akan mendapat respon seperti ini. Apalagi dirinya tertegun saat melihat ada seorang anak yang berjongkok dengan wajah polos dan nampak memeluk betisnya. Dia sekarang merasa seperti pohon yang dikerumuni oleh para kurcaci.


"Tenanglah, ayo tenang dulu.." Chu Kai menjadi malu karena tiba-tiba mendapat begitu banyak perhatian, apalagi dari anak-anak yang jelas merupakan makhluk dengan hati paling sulit untuk dicuri.


Bisa mendapatkan pujian dari anak kecil tentu saja bukanlah sesuatu yang mudah. Karena itulah Chu Kai merasa senang dan bahkan sedikit salah tingkah. Pemuda itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan nampak tersenyum.


Chu Kai baru saja akan bicara ketika dia ingat bahwa serigala pada umumnya tidak berburu sendirian, melainkan berkelompok. Angin yang berhembus di sekitarnya bahkan terasa sangat berbeda.


!!


Bersamaan dengan firasatnya, suara geraman kembali terdengar dan membuat anak-anak yang mengerubungi Chu Kai terkejut. Mereka spontan berbalik dan mengedarkan pandangan, perasaan anak-anak itu menjadi sangat gelisah.


Ada empat ekor serigala yang muncul dari balik semak-semak dan juga pohon.Ukuran tubuh mereka lebih besar dari serigala sebelumnya dan dengan nafsu membunuh yang kuat.


"Kai..!"


"Jangan berteriak," Chu Kai terlambat memberi peringatan.


Seorang anak terlanjur meneriakkan namanya dan itu membuat serigala di sekitar mereka langsung melompat, hendak menerkam. Chu Kai segera melesat dengan pedang di tangannya. Dia menebas kepala serigala dan menebas kaki hewan itu sebelum benar-benar menerkan seorang anak.


Chu Kai tidak sendirian. Di antara anak-anak ini, ada yang begitu berani dan mengayunkan pedang mereka untuk menolong teman yang diterkam serigala. Kemampuan anak-anak itu masih kurang, tetapi luka yang mereka berikan kepada hewan tersebut bisa membantu Chu Kai untuk memberikan serangan terakhir yang mematikan.


AAAH..!


Seorang anak berteriak histeris. Dia berusaha menghindari gigitan seekor serigala dengan menjadikan keranjang yang dibawanya sebagai perisai. Hampir saja kepalanya diterkam andai Chu Kai tidak bergerak dan memberi tendangan yang membuat serigala itu terlempar.


!!!

__ADS_1


******


__ADS_2