LAHIRNYA PENDEKAR NAGA

LAHIRNYA PENDEKAR NAGA
49 - Serangan Kejutan


__ADS_3

Chu Kai terkejut. Getaran pada tanah ini sangat tidak biasa. Dan lagi, suara pertarungan itu entah bagaimana semakin mendekat.


Dia tidak tahu siapa yang sedang bertarung. Tetapi jika tetap di sini, maka hidupnya sendiri akan ada dalam bahaya.


Chu Kai tidak membuang waktu dan segera berlari menyelamatkan nyawa kecilnya. Dia tahu ini tindakan yang tidak baik, tetapi siapa yang bisa menghakiminya? Dia bukanlah orang bodoh yang akan berlari ke arah pertarungan itu dan bertindak sebagai seorang pahlawan.


Masalahnya, langit seolah memang sangat suka bermain-main dengan nyawa Chu Kai. Pemuda bermata hijau alami itu baru saja berlari beberapa saat ketika sebuah serangan nyasar melesat di depannya dan mengenai sebuah pohon besar.


Chu Kai yang terkejut beruntung masih bisa menghindar dari pohon yang meledak tanpa peringatan itu. Hanya saja, angin kejut yang timbul dari ledakan tersebut membuat Chu Kai terdorong dan beberapa potongan kayu mengenai tubuhnya hingga pemuda itu terjatuh.


!!


Tubuh Chu Kai terluka, bahkan lengan kirinya sampai berdarah akibat terkena dampak dari ledakan pohon itu.


Beruntung yang mengenainya bukanlah potongan kayu besar dan tajam. Jika tidak, dia mungkin sudah tiada sekarang ini.


Chu Kai terlihat meringis dan baru akan bergerak saat seseorang melesat tidak jauh di hadapannya. Kibaran jubah kuning bercorak daun lima jari menghalangi pandangan Chu Kai dari melihat wajah subjek di hadapannya.


Baru setelah lambaian jubah itu perlahan turun, Chu Kai pun sadar dia secara tidak sengaja telah terlibat dalam pertempuran dua orang asing.


"Akan lebih baik jika kau berhenti melawan dan terima saja kematianmu..!"


!?


Chu Kai terkejut, seruan itu berasal dari orang lain dan dia pun melihat ada pria berjubah ungu kehitaman yang menapak tepat di sebuah pohon yang sebelumnya meledak.


"Ruan Zhao Sheng. Kali ini kau tidak akan bisa lari lagi," subjek berjubah ungu itu baru saja hendak mengayunkan pedang pusakanya saat dia tersentak dengan kehadiran seseorang. Dia pun langsung menoleh dan pandangannya mengarah pada pemuda asing yang tersungkur di tanah.


!!!


Langsung berpandangan dengan tatapan mata yang dingin membuat Chu Kai tegang. Pria dengan jubah ungu di hadapannya jelas tidak senang dan tiba-tiba saja serangan dari pria itu justru dialamatkan padanya.

__ADS_1


Chu Kai yang tidak sempat menghindar tidak dapat melakukan apa pun. Tetapi beruntung sebab seseorang mengambil serangan itu untuknya dan sosok itu tidak lain adalah pria asing berjubah kuning dengan corak daun lima jari.


!!


"Ling Feng, pertarunganmu adalah denganku. Berhenti membuat orang lain terlibat di dalamnya," pria berjubah kuning itu berujar ketus. Dia pun setengah berbisik ketika bicara dengan subjek yang dilindunginya.


Pria berjubah kuning itu berkata, "Teman. Jika kau bisa bergerak, maka segera pergi dari sini. Nyawamu bisa dalam bahaya,"


Chu Kai belum memberikan respon ketika pria berjubah kuning tersebut melesat dan kembali bertukar serangan dengan sosok berpakaian ungu yang sebelumnya menyerang dirinya. Chu Kai menyaksikan pertarungan tersebut berlangsung sengit di mana kedua orang asing itu mempunyai kekuatan yang seimbang.


Chu Kai berusaha bangun dan perlahan mulai mengatur napasnya. Dia memperhatikan kedua orang asing ini dan sebenarnya cukup akrab dengan seragam mereka. Intinya dia tahu dari sekte mana kedua subjek yang dilihatnya ini.


Pria yang berjubah ungu berasal dari arah selatan kota Chang'An, Menara Rufeng di Kota Zui Xuan. Sementara yang satunya adalah pendekar dari Sekte Tianzhi. Sekte yang letaknya berada di Utara kota Chang'An.


Kedua orang ini berasal dari sekte yang berbeda dan bila diperhatikan baik-baik, lokasi sekte mereka jelas saling berjauhan satu sama lain. Jadi bagaimana bisa kedua orang ini justru terlibat dalam pertarungan yang begitu sengit?! Chu Kai yakin jika tidak dihentikan, maka akan ada yang kehilangan nyawanya.


"Bagaimana ini..? Aku juga tidak bisa pergi. Mereka menghalangi jalan dan tidak mungkin kutinggalkan mereka dalam keadaan yang seakan-akan ingin saling membunuh satu sama lain." Chu Kai menelan ludah. Di saat semacam ini, justru Wei Zhang Zihan dan Xia Ling Qing tidak ada untuk membantunya.


Pertarungan masih berlangsung dan Chu Kai dalam posisi berusaha menghindari setiap serangan nyasar yang datang dari anggota Sekte Tianzhi dan Menara Rufeng.


Tangan Chu Kai mengepal. Kedua pendekar di hadapannya sama sekali tidak memikirkan kondisi di sekeliling mereka. Bahkan karena pertarungan keduanya---pepohonan banyak mengalami kerusakan dan bahkan tanah pun ikut retak.


Pertarungan kasar ini jelas tidak enak untuk dipandang mata. Apalagi lingkup serangan mereka cukup luas hingga jika Chu Kai tidak benar-benar memperhatikan dengan jelas, maka serangan nyasar akan bisa mengenai dirinya.


"Seharusnya aku tidak boleh melakukan ini, tapi mereka perlu dihentikan." Chu Kai menelan ludah. Dia telah membuat keputusan dan segera menusukkan pedangnya ke arah tanah sambil mengeluarkan serangan.


"Teknik Pernapasan Naga.... Raungan!"


!!!


Serangan Chu Kai mengarah ke tanah, tetapi dampaknya luar biasa besar. Ledakan terjadi di sepanjang retakan yang sebelumnya adalah dampak serangan nyasar anggota Sekte Tianzhi dan Menara Rufeng.

__ADS_1


Kedua pria yang kini bertarung di udara terkejut saat muncul sebuah semburan tanah, tepat di tengah-tengah mereka. Belum lagi, ada semburan tanah lain di beberapa titik yang sama besarnya dan menghasilkan angin kejut yang luar biasa kuat.


Kedua pendekar itu berusaha menahan efek angin kejut. Tetapi ketika seburan tanah lain datang, mereka tidak bisa bertahan dan justru terkena ledakan itu. Tidak hanya terpental jauh, kedua pendekar tersebut bahkan menghantam tanah dengan sangat keras.


Lebih parahnya, pepohonan dalam lingkup 20 meter semuanya meledak dan getaran pada tanah ini bahkan sampai terasa di tempat Wei Zhang Zihan serta Xia Ling Qing berada. Chu Kai terkejut bukan main, apalagi saat melihat pedangnya kini hanya tersisa gagang yang bahkan telah menjadi kepingan.


"Ya Tuhan... Apa aku membunuh orang lagi?" Chu Kai berekspresi pucat. Dia panik dan segera mencari kedua pendekar yang terlempar entah ke mana itu.


"Bagaimana ini?! Gawat. Aku membuat masalah..! Jika mereka berdua mati, maka aku akan dalam bahaya lagi. Aduh," Chu Kai mengusap-usap wajahnya dan benar-benar khawatir jika orang yang menginginkan nyawanya kembali bertambah.


"Astaga... Padahal itu hanya serangan ringan. Aku bahkan sudah menahan kekuatanku di titik yang paling rendah. Aku juga bahkan tidak langsung mengarahkannya ke udara. Aku melakukan pencegahan dengan hanya melesatkannya ke tanah, kenapa dampaknya masih sebesar ini?! Kacau!"


?!


Chu Kai melebarkan mata saat melihat salah satu pendekar yang bertarung tadi nampak terbaring tidak berdaya di tanah. Di samping dan tidak jauh dari tubuh pria itu, ada bekas ledakan pohon.


Chu Kai bergegas dan memeriksa kondisi pria berjubah ungu ini. Di perhatikan baik-baik, pria ini mempunyai wajah yang bersih namun dengan tahi lalat kecil di bawah mata sebelah kirinya. Chu Kai melebarkan mata saat sadar dengan subjek di hadapannya.


"Aku tidak memperhatikan wajahnya dengan baik sebelumnya. Orang ini bukannya... Pendekar Shuang Ling Feng?" Chu Kai mengenal subjek ini. Shuang Ling Feng adalah Tuan Muda dari dari Menara Rufeng, latar belakangnya cukup terkenal dan ada di antara temannya yang sangat mengagumi orang ini.


Kepala Chu Kai tiba-tiba berdenyut sakit. Dia menarik napas dan menggeleng pelan, "Gawat. Aku benar-benar dalam masalah besar sekarang,"


Ketika memastikan bahwa subjek di depannya masih bernapas, ekspresi lega terlihat jelas di wajah Chu Kai. Dia pun memperbaiki posisi Shuang Ling Feng dan lalu mencari pendekar lainnya yang juga dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Pendekar berjubah kuning yang sebelumnya menahan serangan Shuang Ling Feng adalah Ruan Zhao Sheng. Sosok tersebut merupakan murid inti dari Sekte Tianzhi yang entah bagaimana bisa berakhir bertarung dengan Shuang Ling Feng.


Setelah membaringkan kedua pendekar itu di tempat yang sama, Chu Kai pun duduk bersila sambil menopang dagunya dengan tangan. Dia menunggu kedua orang ini siuman sebab tidak sopan jika langsung pergi setelah apa yang dia perbuat.


"Sekte Tianzhi adalah sekte aliran putih, tapi tidak ada orang yang mau bersinggungan dengan perguruan ini. Rumor yang kudengar, sekte inj dipenuhi orang-orang yang angkuh sebab kebanyakan pendekar terkenal berasal dari sekte ini. Mereka juga punya kekuatan yang besar dan jelas memiliki modal untuk bersikap sombong. Tapi..."


Chu Kai mengingat beberapa kejadian dan mengembuskan napas, "Jelas sekali bahwa aku diselamatkan oleh pendekar dari Sekte Tianzhi ini. Sementara itu..."

__ADS_1


Chu Kai mengarahkan pandangan pada Shuang Ling Feng yang masih terbaring dan kembali membatin, "Pendekar Shuang dari Menara Rufeng ini sangat tidak punya sopan santun. Aku yang tidak tahu apa-apa bahkan ingin diserangnya, padahal saudara Jing Hao sangat mengagumi dirinya."


******


__ADS_2