
Ling Xian Shu sebelumnya datang ke tempat ini sebagai perwakilan dari Sekte Seribu Pedang. Gadis cantik tersebut sebenarnya tidak berasal dari Sekte Seribu Pedang, Ling Xian Shu merupakan anggota perguruan lain dan berasal dari tempat yang sangat jauh.
Sekte Seribu Pedang sendiri merupakan perguruan yang didirikan menggunakan kekuatan Kerajaan Zhou Wei Liang Wang. Dan hanya mereka yang berasal dari keluarga inti yang dapat bergabung dalam sekte ini.
"Kembalilah, Pendekar Suci Wei Zhang Zihan." Ling Xian Shu belum menyerah membujuk pemuda di hadapannya untuk pulang.
Dia mengenal baik pemuda ini, bahkan sejak kecil. Wei Zhang Zihan adalah putra kedua dari Raja Zhou Wei Liang Wang dan satu-satunya anggota kerajaan yang memutuskan untuk pergi, bahkan bergabung dengan sekte lain.
"Kejadian di masa lalu... Bukankah harusnya bisa diselesaikan baik-baik?" Ling Xian Shu berkata, "Yang Mulia Raja sudah memaafkan kesalahanmu. Jadi ayo kembali,"
Wei Zhang Zihan menurunkan pandangannya saat mendengar ucapan dari gadis cantik ini. Dia mengingat aula besar istana Zhou dengan seseorang yang duduk di singgasana dan ada sosok yang berlutut di lantai dengan memakai jubah perang.
Kejadiannya bertahun-tahun yang lalu. Namun ia masih bisa mendengar suara napas dari subjek itu dan darah di jubah perangnya yang menjadi bukti kepahlawanan. Wei Zhang Zihan masih ingat setiap detail ketegangan yang berujung penghinaan tersebut, tangannya terkepal kuat saat ia mengingat tatapan mata yang merendahkan dari seseorang yang duduk di singgasana Raja.
"Memaafkanku?" Wei Zhang Zihan berbalik dan menatap subjek di hadapannya. Suaranya dingin saat berkata, "Kesalahan apa yang sudah kulakukan sehingga aku membutuhkan maaf dari Yang Mulia Raja Zhou?"
Ling Xian Shu tersentak mendengar pertanyaan yang diajukan oleh pemuda di hadapannya. Dia mengulurkan tangan, menggenggam tangan subjek di hadapannya dan kemudian buka suara. "Kejadian di masa lalu hanya terkait dengan Raja Bai Li dan Yang Mulia Raja Zhou. Kau tidak seharusnya melibatkan dirimu sendiri,"
"Menjauhlah," Wei Zhang Zihan menarik tangannya dan kemudian berjalan menjauhi Ling Xian Shu. Dia berkata, "Kau dapat pulang. Mengatakan apa pun, termasuk membawa surat penangkapan untukku. Tapi aku tidak akan pernah kembali ke tempat di mana seorang ayah bisa memakan jantung putranya sendiri dan seorang kakak yang tanpa ragu menghukum mati adiknya,"
"Wei.... Pendekar Suci Wei.." Ling Xian Shu memanggil Wei Zhang Zihan yang sudah semakin jauh. Dia tidak bisa menyusul pemuda itu dan terus membujuknya karena tahu bahwa subjek tersebut sangat berpendirian teguh.
Bila Wei Zhang Zihan sudah mengatakan tidak akan kembali, maka akan sangat sulit untuk mengubah hal itu. Terus mendesaknya bukan sesuatu yang pantas dilakukan.
Ling Xian Shu mengerti dengan jelas masalah yang dialami Wei Zhang Zihan dan keputusan pemuda itu untuk meninggalkan identitasnya sebagai seorang pangeran.
Bertahun-tahun yang lalu, Raja Zhou Wei Bai Li yang merupakan paman dari Wei Zhang Zihan dituduh melakukan pemberontakan. Karena membela pamannya, Wei Zhang Zihan pun diasingkan dan statusnya sebagai pangeran dicabut.
Ling Xian Shu ada dan menyaksikan ketika Wei Zhang Zihan berdiri menentang ayahnya sendiri untuk melindungi Raja Zhou Wei Bai Li. Itu dianggap sebagai kesalahan pertama dan sangat fatal yang diambil oleh Wei Zhang Zihan. Padahal selama ini, Wei Zhang Zihan merupakan sosok pangeran yang kompeten dan bahkan mempunyai reputasi cemerlang.
Banyak bangsawan dan orang-orang terkenal yang bahkan mengakui kemampuan Wei Zhang Zihan. Mereka bahkan tidak ragu menganggap Wei Zhang Zihan pantas sebagai putra mahkota, sosok yang layak mewarisi tahta dan mampu memajukan dinasti Zhou.
"................"
Namun sayangnya, satu tindakan Wei Zhang Zihan mengubah semuanya. Pemuda itu tidak hanya membuang nama keluarganya, tetapi juga memutuskan semua hubungan dengan siapa pun yang mengenalinya di masa lalu.
Awalnya Ling Xian Shu butuh waktu untuk memastikan apakah subjek yang ia lihat benar adalah Wei Zhang Zihan yang dikenalinya atau bukan, tetapi saat yakin... Dirinya pun tidak bisa membawa pemuda ini kembali.
Wei Zhang Zihan sekarang tidak lagi dikenal sebagai pangeran dari dinasti zhou. Dia kini adalah Pendekar Suci dari Sekte Gunung Wushi dan tentunya jauh di tempat ini... Tidak ada yang akan mengenalinya sebagai seorang anggota keluarga kerajaan.
__ADS_1
Wei Zhang Zihan terus berjalan. Dia pikir bahwa karena kejadian sudah bertahun-tahun lalu, maka tidak ada perasaan apa pun yang tertinggal di dalam hatinya. Namun ternyata ia salah, sebab saat ini... Dirinya benar-benar begitu marah.
"................" Wei Zhang Zihan marah pada dirinya sendiri karena ia belum bisa menenangkan diri saat mendengar kata-kata yang berhubungan dengan istana zhou.
"Zhang Zihan..!"
?!
Sebuah seruan terdengar dan membuat Wei Zhang Zihan menoleh. Pemuda berjubah hitam itu melihat Liu Han Ying datang ke arahnya dan gadis tersebut nampak terengah-engah.
"Astaga, syukurlah aku menemukanmu." Liu Han Ying berusaha mengatur napasnya, dia berkata. "Aku dibuat terlempar ke tempat yang jauh, entah Kai itu membalaskan dendamnya padaku atau apa... Tapi ini keterlaluan,"
"................"
"Ngomong-ngomong, di mana Kai? Segel makam kuno kembali kuat dan menghilang sekarang. Tidak mungkin kita terus berada di sini dan menunggu makam kuno itu muncul kembali,"
"......... Aku tidak tahu di mana dia,"
"Apa?" Liu Han Ying berkedip, "Kau..."
"Aku tidak tahu di mana Kai sekarang,"
Ekspresi Wei Zhang Zihan berubah. Ia pun segera melesat dan membuat Liu Han Ying terkejut. Gadis itu menyusul Wei Zhang Zihan, keduanya mencari keberadaan Chu Kai.
*
*
Sosok yang sedang dicari oleh Wei Zhang Zihan dan Liu Han Ying memang masih berada di dalam makam kuno. Pemuda itu baru saja membuka matanya perlahan dan kemudian memperhatikan kondisi di sekelilingnya.
Chu Kai masih merasakan sakit pada organ dalamnya. Ia kesulitan untuk bangun dan memutuskan tetap berbaring sambil mengatur pernapasannya.
Pemuda bermata hijau itu menatap langit biru yang cerah di atasnya. Dia berada di antara reruntuhan bangunan dengan bau anyir darah karena sebelumnya sudah menghabisi anggota Sekte Bulan Mati.
"Sakit sekali...." Chu Kai meringis. Di dalam benaknya sekarang, selain rasa sakit---ia juga memikirkan banyak hal. Ini adalah tentang kejadian sebelum dirinya tidak sadarkan diri.
"Sebenarnya... Siapa orang itu dan apa hubungan antara ia denganku?" Chu Kai bernapas pelan. Dia bisa merasakan detakan yang kencang pada jantungnya kala mengingat suara dari sosok misterius tersebut.
"Kau sudah bangun?"
__ADS_1
"Mn?" Chu Kai mendengar suara perempuan dan ia pun menoleh. Pandangan matanya kini melihat sebuah kabut merah yang berkumpul dan membentuk sosok gadis yang tak lain adalah Wei Shezi.
"Kau..."
"Haaah... Kau membuatku takut," Wei Shezi berjalan mendekati Chu Kai. Pandangannya mengarah pada kepala manusia di tanah dan lantas berkedip beberapa kali.
"Kai, apa ini semua perbuatanmu?" Wei Shezi terlihat terkejut. Dia jelas tidak menyangka bahwa sosok yang nampak seperti pemuda polos ini rupanya bisa melakukan tindakan yang sangat tidak manusiawi.
"Kau parah sekali..." Wei Shezi berdecak sambil menggeleng pelan, "Kukira kau ini orang yang baik. Tapi tidak kusangka kau bisa sangat brutal, ck ck ck... Lihat ini. Entah gumpalan daging apa yang kuinjak ini,"
"Ba-bagaimana kau bisa sampai kemari?" Chu Kai tidak ingin membicarakan tentang bercak darah dan gumpalan daging yang berserakan di lantai. Sejujurnya dia tidak tahu apakah ini perbuatannya atau karena sosok misterius yang entah siapa itu.
Wei Shezi menarik napas, dia menyilangkan tangan dan berkata. "Kau ini bagaimana... Aku merupakan penjaga pedang pendekar naga dan pedang itu mempunyai hubungan denganmu,"
Wei Shezi berujar, "Saat kesadaranmu hilang... Tentu aku akan ditarik kemari. Jangan bertanya tentang apa yang terjadi padamu karena aku sendiri baru saja tiba di tempat ini."
Chu Kai menatap Wei Shezi dan kemudian berkata, "Kau bilang... Kau adalah penjaga dari pedang pendekar naga. Apa kau tahu bahwa ada penjaga lain dari pedang itu?"
Wei Shezi mengerutkan keningnya, "Penjaga lain? Benarkah?"
Chu Kai berusaha mengatur napasnya. Dia pun berkata, "Ada seseorang. Dia laki-laki, namun dengan wajah yang tidak bisa kulihat. Nada suaranya misterius dan dia mengajakku bicara. Tiap kali dia buka suara, tubuhku terasa sangat sakit. Siapa... Sebenarnya orang itu?!"
Wei Shezi tersentak. Ini pertama kalinya ia melihat reaksi berlebihan dari Chu Kai. Jelas hal tersebut membuktikan bahwa pemuda ini baru saja mengalami kejadian yang tidak bisa dan itu ada hubungannya dengan pedang pendekar naga.
Wei Shezi berbalik, dia memperhatikan pedang pendekar pendekar naga yang saat ini masih tergeletak sebelum mulai menarik napas. Wei Shezi pun berkata, "Aku sama sekali tidak bisa merasakan kehadiran roh lain di dalam pedang itu. Apa... Mungkin ini hanya imajinasimu?"
"Apa?" Chu Kai mengepalkan tangannya dan lantas berkata, "Apa kau pikir anggota Sekte Bulan Mati yang tinggal kepalanya itu adalah karena perbuatan yang sangat ingin kulakukan?!"
"Aku tidak menginginkannya tewas dengan sangat mengenaskan seperti itu. Hanya saja sadar, entah bagaimana aku..." napas Chu Kai menjadi tidak beraturan. Dia sebelumnya memang pernah membunuh binatang iblis dan bahkan salah satu anggota Sekte Bulan Mati.
Chu Kai ingat dengan wanita yang ia bunuh dengan memakai Teknik Pernapasan Naga. Anggota Sekte Bulan Mati itu meregang nyawa dengan tubuh berwarna hitam seolah kehabisan darah dan daging.
Hanya saja ini pertama kalinya ia mengoyak organ tubuh manusia seperti itu, bahkan meski ia bersumpah tidak melakukannya---namun sensasi di tangannya masih terasa kuat.
"Sebenarnya.... Apa yang terjadi denganku?" Chu Kai menelan ludah. Dia memperhatikan kedua tangannya dan berujar, "Aku... merasa takut. Tapi rasa takut ini bukan karena sudah membunuh secara kejam, tapi takut karena aku... Tidak merasakan perasaan bersalah sama sekali."
Chu Kai menatap gadis di hadapannya. Nada suaranya setengah serak saat ia berkata, "Wei Shezi... Katakan sesuatu. Apa... Secara perlahan aku mulai kehilangan hati manusiaku?"
!!!
__ADS_1
******