
Chu Kai tersentak dengan pertanyaan dari Wei Zhang Zihan. Dia merasa bahwa pemuda ini seakan lebih peduli dengannya daripada tiga orang pendekar yang jelas-jelas bukan sosok yang baik.
Wei Zhang Zihan berkata, "Bukankah sudah kukatakan bahwa semua yang terjadi bukanlah kesalahanmu? Kekacauan seperti ini akan selalu ada, meskipun tanpa dirimu. Tetapi kau justru pergi dengan perasaan bahwa kaulah penyebab semuanya."
"..............." Chu Kai mengepalkan tangannya. Dia masih menurunkan pandangan saat buka suara.
Nadanya pelan ketika dia berkata, "Aku tahu. Pendekar Wei juga mengatakan bahwa satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah dengan menjadi kuat. Karena itulah aku pergi,"
"Aku pergi... Untuk menjadi kuat." Chu Kai menengadah dan menatap wajah Wei Zhang Zihan. Dia berkata, "Agar bisa menjadi kuat... Aku tidak dapat tinggal di Kota Lianyi, ataupun Sekte Gunung Wushi. Tempat itu akrab bagiku dan karenanya... Aku tidak bisa berkembang."
"Kai..."
"Beberapa orang dapat menjadi kuat di bawah bimbingan seorang guru. Tetapi hal semacam ini justru tidak cocok denganku. Aku akan menjadi kuat dengan caraku sendiri,"
Wei Zhang Zihan memperhatikan pemuda di hadapannya dan mengerti maksud dari ucapan subjek ini. Pelatihan di bawah bimbingan seorang tetua bagai menempa sebuah pedang, sementara berlatih dengan dunia secara langsung bagai pengujian terhadap kuat atau tidaknya pedang tersebut.
Masalahnya adalah, Chu Kai baru saja diterima di Sekte Gunung Wushi. Belum banyak dasar berpedang yang dia ketahui dan sosok ini justru sudah ingin turun gunung?!
"Apa kau bodoh?" Wei Zhang Zihan buka suara dan membuat Chu Kai tersentak. Dia pun berkata, "Pergi tanpa tahu caranya membela diri... Kau ingin mati?"
"..............." Chu Kai tetap diam. Dia tidak tahu bagaimana harus bicara terhadap pemuda ini. Bagaimana dia berkata bahwa satu-satunya teknik berpedang yang dirinya miliki adalah membunuh lawan. Dan itu bahkan belum bisa dipatahkan siapa pun.
Melihat pemuda di depannya hanya tertunduk tanpa mengatakan apa pun membuat Wei Zhang Zihan menarik napas dan kemudian menggeleng pelan. Dia pun melangkah pergi.
Chu Kai berpikir bahwa Wei Zhang Zihan sangat marah dan meninggalkannya. Dia tidak menyangka bahwa bahkan sebelum mulai berpikir untuk menyalahkan diri sendiri lagi, tangannya diraih dan tiba-tiba ditarik oleh subjek lain.
!!
"Pe-Pendekar Wei?" Chu Kai terkejut. Sama sekali tidak menyangka dengan tindakan yang dilakukan Wei Zhang Zihan.
Chu Kai berkedip beberapa kali sebelum tersadar dan berkata, "Arah ini bu-bukan jalan pulang. Pe-Pendekar Wei ingin... Membawaku ke mana?"
"............ Kita pergi mencari Nalan Shu." Wei Zhang Zihan menoleh. Dia menatap Chu Kai dan kembali berkata, "Mencari Nalan Shu sambil mengajarimu caranya bertarung."
"A-apa?!" Chu Kai kaget. Bagaimana dia bisa berada dalam situasi seperti ini, "Ta-tapi Pendekar Wei--"
"Apa kau punya tujuan lain hingga meninggalkan kota?" Wei Zhang Zihan menyela. Chu Kai yang mendengar itu pun hanya menggeleng pelan sebagai jawaban.
"Tidak... Aku hanya--"
"Kalau begitu kau ikut denganku,"
!
"Tunggu. Bungkusanku," Chu Kai hampir saja lupa pada bungkusan miliknya. Wei Zhang Zihan melepaskan pegangan tangannya dan melihat pemuda bermata hijau alami itu dengan segera mengambil sebuah bungkusan serta sebuah sarung pedang.
__ADS_1
Chu Kai memasukkan kembali pedang di tangannya dan menyusul Wei Zhang Zihan. Dia pun bertanya, "Ba-bagaimana dengan pria itu?"
Wei Zhang Zihan menaikkan sebelah alisnya dan berujar tanpa nada, "Akan ada pendekar yang memakamkannya nanti."
Chu Kai berkedip, dia ingin bertanya kembali tetapi Wei Zhang Zihan sudah berjalan pergi. Dirinya pun terpaksa mengurungkan niat dan menyusul pendekar suci tersebut.
*
*
Terik matahari yang menyinari pepohonan membuat Chu Kai gerah. Dia terus mengikuti langkah Wei Zhang Zihan entah berapa lama.
"Pendekar Wei, bagaimana bisa kau tahu aku ada di sini? Dan... Sebenarnya kita akan mencari nona Nalan Shu ke mana?"
"Sekte Bulan Mati,"
Mendengar nama sekte tersebut membuat Chu Kai melebarkan matanya. Dia menurunkan pandangan dan berkata, "Nona Nalan diculik oleh anggota Sekte Bulan Mati. Ini semua karena-"
"Kau ingin menyalahkan diri sendiri lagi?" Wei Zhang Zihan menyela. Dia menatap pemuda di sampingnya dan menghela napas. Dirinya pun berkata, "Kau benar-benar akan mati lebih cepat jika terus merasa bersalah pada hal apa pun."
"Ta-tapi masalahnya..."
"Sekte Bulan Mati sudah terkenal sering membuat keributan. Dan karena mereka berasal dari Aliran Hitam, maka visi mereka berbeda dengan sekte Aliran Putih. Anak kecil pun tahu bahwa kedua aliran ini akan selalu menjadi musuh jika bertemu,"
"Pendekar Wei," Chu Kai buka suara. "Aku tahu bahwa kedua aliran sudah lama berselisih. Tapi hal yang terjadi pada Kota Lianyi dan juga Sekte Gunung Wushi memang jelas adalah karenaku. Mereka mengincar Pendekar Naga dan aku..."
"Tidak, aku... Tidak tahu."
Wei Zhang Zihan menarik napas. Dia menatap langit di sela-sela dedaunan, tangan kanannya berada di belakang punggung ketika dia buka suara.
'Lembah Yu Qi pecah menjadi tujuh.
Tersebar, membuka jalan kedamaian bagi mereka yang berhati besar.
Namun, akan tiba masa di mana keserakahan menyelimuti manusia.
Dan saat itu tiba, Iblis muncul dari kegelapan.
Hanya Pendekar Naga yang akan mampu menyatukan kekuatan dunia dan bersama-sama membawa perubahan.'
Wei Zhang Zihan menatap Chu Kai dan berkata, "Ini adalah pesan terakhir seorang legenda terkuat yang menyelamatkan dunia dari serangan Binatang Iblis."
Wei Zhang Zihan menarik napas dan kembali berkata, "Puluhan tahun yang lalu... Binatang Iblis datang dan membawa ancaman bagi para manusia di Dataran Tengah. Tetapi karena seorang legenda, binatang iblis akhirnya bisa dikalahkan. Dan semenjak kejadian ini, para manusia dan binatang iblis sepakat hidup bersama, membuat wilayah masing-masing, dan tidak saling mengganggu satu sama lain."
"Hanya saja..." Wei Zhang Zihan berujar, "Meski memiliki kesepakatan... Namun para binatang iblis belum melepaskan dendam mereka dan di sisi lain--manusia juga demikian. Walau terlihat aman, tetapi sebenarnya dunia sedang tidak baik-baik saja."
__ADS_1
"Menjadi Pendekar Naga bukanlah pilihanmu, tetapi karena dunia yang memilihmu. Kau bisa saja tidak menginginkannya, tetapi dunia membutuhkanmu." Wei Zhang Zihan berujar, "Sulit untuk memikul tanggung jawab sebesar ini, tetapi demi menjaga keselamatan umat manusia--kau harus melakukannya."
Chu Kai berusaha mengatur napasnya. Dia merasa sangat sesak tetapi saat akan bicara, terdengar suara gemuruh yang berasal dari perutnya. Dalam sekejap, hal yang tidak disangka itu membuat wajahnya memerah.
Wei Zhang Zihan tertegun, dia berkedip dengan suara yang tidak biasa itu. Chu Kai menyentuh perutnya dan dengan gugup berkata, "Aku... Saat tegang merasa lapar. Ini... Ehm..."
Wei Zhang Zihan memperhatikan pemuda di depannya dan mendengus, "Kau... Tidak tahu malu."
Chu Kai mengatupkan bibirnya dan menunduk. Gemuruh kembali datang dari perutnya dan membuat warna pipinya semakin cerah. Dia tegang, tetapi juga merasa malu.
Wei Zhang Zihan mengembuskan napas, "Tidak bisa mengeluh padamu jika seperti ini."
"Ma-maaf.." Chu Kai mengikuti langkah Wei Zhang Zihan sambil mengusap pelan perutnya. Dia terus berjalan dengan pemuda ini dan selain lapar... Dia sebenarnya sangat lelah.
Chu Kai sudah menahannya sejak tadi dan tidak bisa lagi. Dia pun buka suara, "Aku begitu penasaran. Pendekar Wei, apa kau tidak merasa kelelahan atau kepanasan? Berjalan di bawah sinar terik matahari dalam waktu lama benar-benar menguras banyak tenaga, tetapi yang kulihat kau justru baik-baik saja."
Wei Zhang Zihan menoleh dan berkata, "Jika kau ingin menjadi sepertiku... Maka berlatihlah dengan benar. Ikuti apa pun yang kukatakan,"
Wei Zhang Zihan membawa Chu Kai masuk lebih dalam ke hutan. Perjalanan itu cukup panjang dan keduanya baru berhenti ketika tiba di sebuah anakan sungai kecil.
"Kau tinggal di sini, aku akan segera kembali."
!!
Chu Kai tersentak ketika tiba-tiba saja Wei Zhang Zihan melesat pergi dan meninggalkan dirinya. Dia bahkan tidak sempat mengatakan apa pun dan pemuda itu entah pergi ke mana sekarang.
Chu Kai menarik napas dan berjalan mendekati sungai. Dia berjongkok dan mulai menaruh pedang serta bungkusannya. Melihat air yang mengalir jernih membuat perasaan Chu Kai sedikit lebih baik.
Pemuda dengan mata hijau alami itu pun meminum air sungai untuk menghilangkan dahaganya dan kemudian mencuci wajahnya. Dia masih terbayang oleh ketika orang asing serta bagaimana pria tua pemilik kereta itu mati.
Selama hidup di kedai, Chu Kai memang sudah mengalami banyak hal. Misalnya saja ketika pengunjung kedainya merupakan pendekar dari Aliran Hitam, keributan tentu tidak terelakkan. Apalagi, saat pendekar itu bertemu dengan mereka yang berasal dari aliran putih--maka bisa dipastikan kerusakan akan terjadi.
Jika sedang sial, kedai Chu Kai akan menjadi arena pertarungan para pendekar. Dia bukanlah pemuda yang baru melihat dunia, Chu Kai sudah seringkali menyaksikan pendekar yang terluka parah hingga pertarungan berdarah, tepat di depan matanya.
Hanya saja tentunya dia baru pertama kali terlibat langsung dalam sebuah kekacauan, dan itu berawal dari terpilihnya dia sebagai seorang Pendekar Naga.
"Bagaimana ini...?" Chu Kai menatap aliran air yang jernih dan dirinya teringat dengan ucapan Wei Zhang Zihan.
Chu Kai bergumam, "Saat keserakahan manusia sudah melewati batas, maka iblis akan muncul dari kegelapan. Hanya Pendekar Naga yang bisa membawa perubahan, tetapi bagaimana aku dapat--!!"
Chu Kai terkejut. Sebuah ledakan keras tiba-tiba saja terdengar tidak jauh dari tempatnya berada. Dia pun bergegas berdiri dengan perasaan yang entah bagaimana berubah menjadi sangat gelisah.
"Apa ada yang bertarung?" Chu Kai merasakan tanah yang dipijaknya bergetar. Suara keras itu berasal dari arah Wei Zhang Zihan pergi sebelumnya.
"Pendekar Wei, jangan-jangan..."
__ADS_1
!!!
******