
"Pendekar Naga Chu Kai, tidak ada alasan khusus bagiku termasuk Sekte Bulan Mati mengirim orang untuk membunuhmu." Xue Xiao Wen menggeleng pelan. Nada suaranya lembut, tetapi tetap tidak bisa mematahkan kecurigaan dari pemuda di hadapannya.
"Nona Xue Xiao Wen, apa kau tahu kenapa aku sama sekali tidak percaya dengan ucapanmu?" Chu Kai berujar, "Aku bisa mendengar detakan jantung bahkan tarikan napas seseorang. Aku bisa membedakan subjek hanya dengan suara yang kudengar dan kau.... Adalah orang yang paling berbahaya. Kau tidak bisa menutupi kebohonganmu,"
Tatapan mata Xue Xiao Wen sedikit berubah, tetapi kemudian kembali seperti sebelumnya. Dia tersenyum, "Sulit menjelaskannya jika kau sudah menanamkan kebencian padaku, dan bahkan menganggapku pembohong. Tapi satu hal yang harus Pendekar Naga Chu Kai tahu, tidak ada alasan untukku membunuhmu."
"Benarkah begitu?" suara Chu Kai dingin. Dalam hati dia akan sangat memusuhi dirinya sendiri jika sampai percaya dengan ucapan wanita dari Sekte Bulan Mati ini.
"Nona Xue Xiao Wen. Aku bukanlah orang baru yang sama sekali tidak mengenal Sekte Bulan Mati. Hmph, sekte milikmu itu... Bukankah memang sangat suka menyerang siapa pun tanpa alasan?"
Xue Xiao Wen merenung dalam diam.
Chu Kai berkata, "Aku tidak memiliki keahlian dalam membaca karakter wajah seseorang. Tapi jika itu berkaitan denganmu atau Sekte Bulan Mati, maka satu tarikan napas pun sudah membuktikan betapa buruknya kalian."
Seulas senyum tipis terlihat di wajah cantik Xue Xiao Wen. Gadis itu menatap Chu Kai dan berkata, "Tapi aku ingin memujimu. Entah bagaimana kau bisa membuat orang merasa tersanjung dan terhina di saat yang bersamaan,"
Xue Xiao Wen melanjutkan, "Pendekar Naga Chu Kai bisa membenciku. Tapi aku sama sekali tidak bisa melakukan hal yang sama denganmu. Aku menyukaimu, itu saja."
Chu Kai memegang kuat pedangnya. Suaranya dingin saat berkata, "Ada banyak pria yang bisa tertipu dengan ucapan itu, tetapi tidak denganku. Jadi sebaiknya Nona Xue Xiao Wen menyingkir sebelum aku kehilangan kendali dan justru mengulitimu di tempat ini."
"Oh, itu ancaman yang kejam." Xue Xiao Wen masih tersenyum dan melihat Chu Kai berjalan meninggalkannya. Dia menggeleng pelan dan baru akan mengikuti pemuda itu saat tiba-tiba saja lantai yang dipijaknya runtuh.
!!!
Kejadian itu berlangsung sangat cepat dan bahkan tanpa peringatan. Chu Kai dan Xue Xiao Wen terkejut, keduanya tidak dapat merespon dengan cepat sehingga terperosok jatuh.
Sesuatu yang menjadi penyebab runtuhnya tanah yang dipijak Chu Kai dan Xue Xiao Wen itu berasal dari pertarungan Wang Xiao Cheng melawan sesosok roh jahat yang berwujud laba-laba tengkorak.
Kejadiannya sekitar beberapa jam yang lalu saat Wang Xiao Cheng masuk ke dalam sebuah ruangan sendirian. Dia adalah satu-satunya kultivator yang pertama kali datang dan menjelajah gua makam kuno ini.
Seharusnya Wang Xiao Cheng sudah mencapai ruangan inti gua makam kuno, tetapi karena banyaknya lorong di jalan dan beberapa kali harus bertarung---dia pun menjadi tersesat dan justru berakhir di tempat ini.
Peta yang diberikan oleh tetua sektenya hanya lokasi gua makam kuno, dia sama sekali tidak memiliki peta terkait jalur mana yang harus dilewati setelah berada di dalam gua. Pada akhirnya Wang Xiao Cheng memilih untuk bergerak sesuai instingnya sendiri.
Ruangan tempatnya berada pun di huni oleh roh jahat yang merupakan penjaga salah satu Pusaka Tingkat Menengah, sebuah Tombak Tiga Bencana yang memiliki kekuatan tidak terkatakan.
Pusaka tersebut termasuk yang terkuat dan meski yang sedang dicari oleh Wang Xiao Cheng adalah Pedang Pendekar Naga, namun dia tidak ingin melepaskan pusaka yang ada di hadapannya ini.
Tombak Tiga Bencana mempunyai nama yang sangat hebat. Dan alasan mengapa pusaka dengan nama seluar biasa ini hanya berada di tingkat menengah sebab pembuatannya belum mencapai tahap pemurnian. Itu berarti jika ada seseorang yang bisa memurnikannya, maka pusaka ini akan berada di tingkatan yang lebih tinggi lagi.
Bisa saja Tombak Tiga Bencana menjadi Pusaka Tingkat Tinggi, Pusaka Bumi, dan bahkan tidak menutup kemungkinan menjadi Pusaka Langit. Wang Xiao Cheng yakin jika dia berhasil membawa pulang tombak itu, maka tetua sektenya akan berusaha keras membantu dirinya memurnikan pusaka ini.
!!
Yang menjadi masalah sekarang adalah roh jahat penjaga pusaka tingkat menengah itu. Wang Xiao Cheng harus bisa mengalahkan makhluk berwujud lipan dengan bagian kepala yang memiliki dua capit besar serta ekor yang seperti kalajengking raksasa itu.
Wang Xiao Cheng sudah melakukan teknik berpedang terbaiknya, tetapi memang makhluk yang dilawannya ini tidak hanya gesit dalam menghindar, tetapi juga cepat saat melakukan serangan balasan.
Tidak hanya menggunakan ekornya, makhluk besar itu juga menyemburkan angin yang sangat kuat dari mulutnya. Salah satu dari serangan monster raksasa itu mengenai langit-langit ruangan dan membuatnya runtuh.
Wang Xiao Cheng beruntung karena dapat bergerak cepat menghindari serangan tersebut, hanya saja tepat ketika langit-langit di ruangan ini runtuh---dia dikejutkan dengan dua orang yang terjatuh dengan sangat keras.
!!
Angin kejut disertai debu yang beterbangan membuat penglihatan sejenak memburam. Tetapi tidak butuh waktu lama sampai Wang Xiao Cheng mengenali salah satu dari dua orang yang sebelumnya terjatuh tadi.
Ada seorang wanita dengan pakaian merah, gemerincing lonceng kecil saat dia bergerak membuat Wang Xiao Cheng yakin bahwa sosok tersebut merupakan anggota dari Sekte Bulan Mati. Subjek lainnya adalah seorang pemuda berusia 18 Tahun dengan wajah yang nampak begitu asing.
Chu Kai meringis dan berusaha untuk bangun. Dia lantas tersentak sebab mendengar tawa wanita dan kemudian menoleh. Xue Xiao Wen berdiri tidak jauh darinya dan masih dengan tertawa tanpa dia mengerti apa ada yang lucu di tempat ini.
__ADS_1
"Aiya... Bagaimana aku harus menjelaskan ini, Pendekar Naga Chu Kai. Apa kau memasang jebakan untuk menguburku hidup-hidup di sini?"
"Apa?" Chu Kai menggeleng, dia mendengus dan berkata. "Untuk apa merepotkan diriku dengan memasang jebakan? Apalagi itu untuk orang sepertimu."
Xue Xiao Wen baru akan bicara ketika tiba-tiba suasana di sekitarnya menjadi sangat dingin. Perasaan yang aneh ini membuatnya langsung mengambil sikap waspada dan memandang ke depan. Chu Kai pun ikut menyadarinya dan kini mulai melihat sesuatu bergerak di antara debu yang bertebaran.
Lambaian tangan dari Xue Xiao Wen membuat debu itu seketika menghilang. Kini Chu Kai pun dapat melihat jelas sesosok makhluk bermata merah menyala berada begitu dekat dengannya.
!!!
Monster lipan dengan ekor kalajengking itu hendak meraung dan menyerang Chu Kai, tetapi kemudian Wang Xiao Cheng datang dan langsung menyerang makhluk mengerikan itu.
"Menjauh dari sini..!" seruan Wang Xiao Cheng membuat Chu Kai dan Xue Xiao Wen melompat mundur.
Monster mengerikan itu kembali bertarung dengan sengit, di mana Xue Xiao Wen dan Chu Kai hanya berdiri memperhatikan.
Chu Kai mengerutkan kening, pemuda yang sudah menolongnya barusan mempunyai pakaian yang sama seperti milik anggota Sekte Tianzhi. Dia memperhatikan dengan saksama wajah subjek tersebut dan mengenali orang ini.
"Dia Pendekar Wang Xiao Cheng..! Jenius dari Sekte Tianzhi yang setara dengan Pendekar Suci." Chu Kai mustahil tidak tahu pemuda yang luar biasa tersebut.
Chu Kai adalah penggemar 5 Pendekar Suci dan bisa dibilang mengikuti setiap berita mengenai kelima pendekar tersebut. Wang Xiao Cheng ada dalam salah satu ingatannya mengenai orang-orang hebat yang pernah berhadapan dengan pendekar suci, utamanya Pendekar Suci Wei Zhang Zihan dan Pendekar Suci Xia Ling Qing.
"Hmm?" Xue Xiao Wen memperhatikan raut wajah Chu Kai dan lantas buka suara. "Kau sepertinya sangat antusias dengan Tuan Muda Wang. Apa kalian saling mengenal?"
Ekspresi Chu Kai berubah ketus saat dia menoleh ke arah Xue Xiao Wen. Dengan suara dingin, dia pun berkata. "Aku mengenal siapa pun juga bukan urusanmu,"
"Astaga... Kau ini memperlihatkan kebencianmu dengan sangat jelas. Kau menyakiti hatiku.." Xue Xiao Wen tersenyum sebelum kembali memperhatikan pertarungan Wang Xiao Cheng melawan monster yang sangat gesit itu.
Perhatian Xue Xiao Wen lantas mengarah pada sesuatu yang melayang di atas sebuah batu. Benda itu seperti tombak dengan cahaya keemasan yang menyelimutinya. Dia pun kembali memperhatikan pertarungan Wang Xiao Cheng sebelum mulai menyeringai.
!
Xue Xiao Wen hendak mengambil benda yang merupakan pusaka Tombak Tiga Bencana. Wang Xiao Cheng yang menyadari hal ini lantas memberikan serangan jarak jauh guna mencegah wanita itu mendapatkan pusaka yang harusnya menjadi miliknya.
"Kau akan mati jika sampai mengambil benda itu." Wang Xiao Cheng mengancam, dia pun kembali menghadapi monster di hadapannya dan lantas mengeluarkan teknik berpedang yang membuat udara di tempat ini menjadi panas.
!!
"Ini..." Chu Kai tahu apa yang akan dilakukan oleh Wang Xiao Cheng. Dia pernah melihat pemuda tersebut menggunakan teknik yang sama ketika bertarung melawan salah satu Pendekar Suci.
"Gelombang Api Phoenix.... Ini bahkan lebih kuat dari yang pernah kulihat." Chu Kai memang sangat menggemari para Pendekar Suci, tetapi dia juga menghormati lawan yang dapat sejajar dengan idolanya.
Teknik Gelombang Api Phoenix termasuk serangan yang merepotkan dan sulit untuk dihadapi Pendekar Suci Xia Ling Qing. Bahkan ada beberapa kesempatan di mana teknik ini hampir menang melawan Aliran Tiga Lingkaran Api milik gadis tersebut. Sekarang jika Xia Ling Qing kembali berhadapan dengan Wang Xiao Cheng---kemungkinan besar teknik pemuda itu sudah melampaui Pendekar Suci yang digemarinya.
"Mengagumkan..." Chu Kai dapat melihat kobaran api membentuk gelombang dengan banyak wujud dari phoenix. Suaranya yang dihasilkan nyaring dan itu indah serta mengerikan di saat yang bersamaan.
Monster lipan dengan ekor kalajengking bergerak cepat. Ia memutar tubuhnya dan kemudian melesatkan serangan angin dari mulutnya. Dua kekuatan berbeda itu lantas saling bertabrakan di udara. Suhu di tempat ini pun meningkat dan membuat Chu Kai fokus pada pengaturan pernapasannya.
Peluang terlihat ketika Chu Kai memperhatikan dengan saksama gerakan tubuh monster itu. Dia pun mengangkat pedangnya dan kemudian melemparkannya dengan menggunakan salah satu dari Teknik Pernapasan Naga.
!!!
Tindakan Chu Kai berhasil mengganggu konsentrasi monster mengerikan itu sehingga serangannya menjadi berkurang dan teknik serangan Wang Xiao Cheng berhasil mengenai kepala makhluk besar itu, bahkan sampai meledakkannya menjadi bagian-bagian kecil.
Wang Xiao Cheng belum bisa tenang meskipun sudah mengalahkan penjaga tempat ini. Dia mengarahkan pandangan ke arah pusaka yang sudah diincarnya dan menemukan bahwa benda itu sudah menghilang bersama dengan Xue Xiao Wen.
Kedua tangan Wang Xiao Cheng terkepal kuat. Urat di dahinya terbentuk dengan jelas dan ini menandakan betapa dia teramat marah pada wanita yang sudah merebut benda pusakanya.
"Sialan,"
__ADS_1
"Pendekar Wang Xiao Cheng?"
"Apa?!" Wang Xiao Cheng membentak dan membuat Chu Kai kaget. Dia terlihat sangat kesal dan seolah ingin menguliti siapa pun sekarang ini.
"Anu... Ehm... Maafkan aku," Chu Kai menggaruk pelan pipinya. Dia sebenarnya tidak tahu kenapa harus meminta maaf, tapi subjek di hadapannya terlihat sangat marah.
Wang Xiao Cheng berusaha mengatur napasnya, dia mencoba tenang. Perlahan dirinya pun menarik napas dan lantas berujar pelan, "Aku yang harusnya minta maaf. Aku sudah membentakmu. Kau ini..."
"Ah, namaku Chu Kai."
"Chu Kai?" Wang Xiao Cheng cukup lama memikirkannya dan lantas memperhatikan dengan saksama wajah pemuda di depannya.
Wang Xiao Cheng pun berkata, "Kau Pendekar Naga itu?"
"Ehm... Yaah.. Begitulah.." Chu Kai menggaruk pelan pipinya yang tidak gatal. Suaranya pelan saat berkata, "Aku tidak punya kemampuan sehebat itu untuk bisa dikatakan sebagai Pendekar Naga."
"Yang kutahu Pendekar Naga dipilih oleh langit," Wang Xiao Cheng berkata, "Kau mungkin memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain."
Chu Kai menatap dalam ke arah Wang Xiao Cheng dan kemudian tersenyum, "Terima kasih..."
"Tapi apa yang membuat Pendekar Wang Xiao Cheng begitu kesal?" Chu Kai bertanya dan mengarahkan pandangan mengikuti tatapan mata pemuda ini. Dia merasa keheranan sebab Wang Xiao Cheng terus melihat ke arah dinding yang sama sekali tidak ada apa-apanya di sana.
Wang Xiao Cheng bernapas pelan, "Ada pusaka yang harusnya bisa kudapatkan jika berhasil mengalahkan monster tadi. Tapi seseorang yang tidak tahu malu sudah mengambil apa yang harusnya kumiliki,"
"................" Chu Kai menurunkan pandangan. Dia tahu dengan jelas siapa orang yang sedang dimaksud oleh pemuda ini.
"Haah... Sudahlah," Wang Xiao Cheng menghela napas, "Jika sesuatu memang ditakdirkan untuk kumiliki, maka tidak akan ada yang bisa merebutnya. Langit pasti mempunyai rencana yang lebih baik,"
Wang Xiao Cheng menyarungkan kembali pedangnya dan menatap ke arah Chu Kai. Dia pun bertanya, "Kau akan ke mana setelah ini, Pendekar Naga Chu."
"Panggil saja Kai, aku tidak terbiasa dengan sebutan itu."
"Baiklah, kalau begitu kau juga bisa memanggilku Xiao Cheng."
"Mn," Chu Kai menjadi sangat canggung. Dia berada di samping pendekar yang hebat. Dahulu, dirinya hanya bisa melihat Wang Xiao Cheng dari jarak yang sangat jauh, itu pun sambil berdesak-desakan dengan orang lain.
Chu Kai mengusap tengkuknya dan berkata, "Aku sebenarnya ingin pergi ke inti ruangan ini. Ada benda yang ingin kucari,"
"Apa itu Pedang Pendekar Naga?"
!!
Chu Kai tersentak dan melihat reaksi pemuda tersebut membuat Wang Xiao Cheng pun berkata, "Kalau begitu aku tidak bisa membantumu. Pedang Pendekar Naga itu... Aku juga mengincarnya."
"Ah..."
"Pusaka itu ada di bagian inti gua makam kuno ini. Sebaiknya kau berhati-hati karena ada banyak lorong dan tidak menutup kemungkinan kau akan tersesat. Aku akan pergi duluan," Wang Xiao Cheng menyatukan tangannya dan memberi hormat sebelum berjalan pergi.
"Tu-tunggu dulu," Chu Kai memanggil pemuda itu. Dia pun berkata, "Kenapa tidak mencarinya bersama-sama saja?"
Wang Xiao Cheng menghentikan langkahnya. Dia pun berbalik dan tersenyum. Suaranya tenang saat berkata, "Pedang itu hanya satu dan aku buka orang yang suka bekerja sama dengan orang lain. Jika nanti kita berhadapan, aku sama sekali tidak akan sungkan."
!
Chu Kai menatap punggung Wang Xiao Cheng yang semakin menjauh. Saat pemuda itu sudah tidak lagi terlihat, dia pun mengembuskan napas dan menggeleng pelan.
"Padahal... Aku bisa membawanya ke tempat pedang itu. Tapi... Benar. Bahwa sesuatu yang sudah ditakdirkan untuk dimiliki, maka tidak akan bisa direbut oleh siapa pun."
******
__ADS_1