LAHIRNYA PENDEKAR NAGA

LAHIRNYA PENDEKAR NAGA
133 - Chu Kai [2]


__ADS_3

Lembah Tanah Berapi,


Chu Kai yang saat ini masih berada di Lembah Tanah Berapi dan terkurung dalam segel makam kuno tidak mengetahui kondisi dunia luar, apalagi mengetahui tentang Bencana Besar yang akan terjadi.


Pemuda bermata hijau alami itu terus berlatih di bawah bimbingan Wei Shezi. Carpelai yang ia temukan dan diberi nama Xiao Bai nampak menemaninya berlatih.


Wei Shezi terlihat duduk di sebuah batang pohon dengan beberapa tumpukan gulungan di sampingnya. Dia memegang gulungan lain di tangannya dan nampak memperhatikan tulisan pada gulingan tersebut. Sesekali, ia menatap ke arah Chu Kai yang tengah melatih gerakan berpedang yang pernah didapatkan pemuda itu saat pelatihan tertutup.


Chu Kai menamai teknik ini Sembilan Langkah Petir karena setiap gerakannya cepat, tajam, dan bahkan menghasilkan suara keras bagai gemuruh petir. Dia tidak tahu bahwa teknik itu mempunyai nama Sembilan Gerakan Mematikan dan merupakan Teknik Terlarang Sekte Gunung Wushi.


Satu-satunya yang merasakan keanehan tentang gerakan berpedang Chu Kai adalah Wei Shezi. Wanita itu terus memperhatikan Chu Kai berlatih selama ini dan merasa bahwa teknik berpedang pemuda di hadapannya memiliki dampak serangan yang luas, sama sekali tidak cocok untuk menghadapi musuh satu lawan satu.


"Kai, berhenti dulu dan kemari." Wei Shezi buka suara bersamaan saat Chu Kai melakukan gerakan terakhir dari teknik berpedangnya.


Kaki Chu Kai menapak di tanah, efeknya menciptakan angin yang sangat kencang, bahkan Xiao Bai sampai terlempar, nyaris menghantam pohon andai tidak segera diraih oleh Chu Kai.


Wei Shezi tertegun menyaksikan pemandangan tersebut. Dia pun buka suara saat Chu Kai kini berada di hadapannya. Wei Shezi berkata, "Jika kau bisa membuat angin kejut dari seranganmu itu lebih padat... Maka kau dapat melukai orang hanya dengan langkah kakimu saja,"


Chu Kai berkedip, "Serius? Apa aku sehebat itu?!"


"Bagaimana menurutmu sendiri?"


"Mm... Aku mengagumkan?" Chu Kai tersenyum dan membuat Wei Shezi berkedip.


Wanita berpakaian putih itu menarik napas dan kemudian berujar, "Kau pasti tidak tahu apa yang kumaksudkan, kan?"


"Aku tahu. Kau mengatakan bahwa aku sangat mengagumkan,"


"Tsk, dari mana kepercayaan diri itu berasal..?" Wei Shezi bergumam sebelum kembali buka suara. Dia pun berkata, "Lihat ini. Aku sudah memilih beberapa teknik serangan yang bisa kau pelajari. Beberapa orang terlahir dengan bakat bawaan dan yang kumaksud di sini adalah tentang elemen spiritual mereka."


"Elemen spiritual?" Chu Kai mengerutkan kening.


"Itu seperti api, angin, air, tanah, petir, dan lainnya." Wei Shezi menatap Chu Kai dan bertanya, "Apa kau tidak tahu hal itu?"


Chu Kai menggaruk pipinya yang tidak gatal dan berkata, "Apa.. Aku harus mempelajari itu semua?"


"Sebenarnya pendekar yang mempelajari teknik kultivasi dapat belajar semua jenis elemen, tapi itu kurang efektif. Karenanya setiap orang hanya mengembangkan satu elemen saja,"

__ADS_1


"Lalu bagaimana jika ada orang yang mengembangkan lebih dari satu?"


"Itu berarti dia memiliki bakat," Wei Shezi memperhatikan Chu Kai dan kemudian berujar, "Kau sedang memikirkan apa?"


"Bagaimana... Aku mempelajari elemen spiritual itu?"


"Hmph, kau sudah mempelajarinya."


?!


Chu Kai tersentak, "Sungguh?"


Wei Shezi menaruh dagunya di tangan dan memperhatikan pemuda di hadapannya dengan baik. Dia pun menghela napas dan menggeleng pelan. Tindakannya membuat Chu Kai merasa agak gugup karena terus ditatap seperti itu.


"A-apa yang kau lakukan? Jangan menatapku seperti itu. Awas jika sampai kau tertarik padaku,"


"Aku memang tertarik padamu," Wei Shezi bergumam dan membuat Chu Kai syok.


"Aku hanya menyukai Nona Xia, sama sekali tidak suka dengan monster sepertimu meski wajahmu cantik."


Wei Shezi tidak mendengarkan dan kembali bergumam, "Aku tertarik pada matamu. Ingin sekali kucongkel dan memakannya. Matamu yang bisa melihat warna dari energi spiritual itu sangat langka. Apalagi... Kau memiliki teknik Pernapasan Kuno. Jika kau bisa menggunakan ini dengan baik.. Aku benar-benar tidak dapat membayangkan semengerikan apa dirimu nantinya,"


"Kurasa bahkan lebih dari itu,"


"Berarti dia akan menyukaiku?"


!


Wei Shezi sebelum mengangguk pelan, "Mm... Yaah.. Aku rasa,"


"Kenapa ekspresi wajahmu begitu?"


"Tidak, aku hanya... Sangat terkesan pada motivasimu. Kenapa kau begitu menyukainya? Aku sudah melihat gadis bernama Xia Ling Qing itu. Dari paras, dia memang sangat cantik. Tapi bila dilihat dari sifatnya... Aku rasa dia sama sekali tidak tertarik padamu. Gadis itu jelas sangat kasar dan keras kepala. Kalian benar-benar tidak cocok,"


"Bagaimana mungkin tidak cocok?" Chu Kai tersenyum, "Jika hanya sifat kasar nona Xia, aku akan menjadi orang yang lembut. Lalu jika sifat keras kepalanya, maka aku yang akan lebih pengertian darinya."


Chu Kai mengusap pelan kepala Xiao Bai dan dengan pelan berkata, "Selain ayah nona Xia Ling Qing... Satu-satunya orang yang bisa memahaminya adalah aku. Jadi aku pasti akan menjadi layak untuknya,"

__ADS_1


Wei Shezi menatap sosok di hadapannya dan lantas menghela napas, "Aku tidak ingin mematahkan semangatmu. Jadi berjuanglah. Sekarang ambil ini dan pelajari,"


Wei Shezi memberikan gulungan di tangannya pada Chu Kai. Dia pun menjelaskan, "Selama memperhatikan latihanmu, aku memiliki potensi untuk mengembangkan elemen petir. Jadi kau bisa mempelajari langkah petir yang sesungguhnya dengan gulungan itu,"


"Wei Shezi, sebelumnya aku sudah belajar 9 Langkah Petir. Kenapa harus teknik semacam ini lagi? Aku butuh teknik serangan. Carikan aku jurus yang keren dan mengagumkan."


"Tampan, dengarkan Shizunmu ini. Jurus yang keren dan mengagumkan... Semuanya berawal dari gerakan kaki dan apa teknik menguatkan kaki? Itu adalah 'Langkah'. Jika langkahmu stabil, tidak ada gerakan percuma dan kau pun dapat melakukan apa saja. Jangan mengira bahwa mempelajari 'Teknik Melangkah' adalah sesuatu yang sepele. Bahkan para pendekar yang selama ini berhadapan denganku... Dasar dari teknik melangkah mereka benar-benar payah,"


Wei Shezi berdiri, dia pun mulai melambaikan kipasnya dan berkata. "Akan kuperlihatkan padamu, kau tidak akan menyesali sudah menjadi muridku."


Sekali kibasan, angin kencang tercipta dan membuat daun-daun beterbangan. Wei Shezi pun melesat, dia mempraktekkan gerakan pada gulungan yang ada di tangan Chu Kai. Angin berhembus melambaikan selendang miliknya, namun pergerakan kakinya di rerumputan sama sekali tidak menimbulkan suara apa pun.


Lambaian selendang dari pakaiannya pun juga tidak bersentuhan dengan daun-daun yang jatuh. Gerakannya kuat, tapi tidak bersuara. Chu Kai yang menyaksikan hal ini pun sampai tidak berkedip sama sekali.


Wei Shezi melentingkan tubuh, sebuah daun ia sentuh dengan ujung sepatunya dan daun itu juga dia gunakan sebagai pijakan. Chu Kai terlihat terkesan pada bagaimana Wei Shezi seolah berjalan di udara, berpijakan pada helaian daun yang lemah seakan itu adalah anakan tangga.


Wei Shezi mengait salah satu daun yang jatuh perlahan dan kemudian menendangnya dengan ujung sepatunya. Daun itu terlempar dan lantas menancap di sebuah Batang pohon. Mata Chu Kai melebar karena kaget.


Kaki Wei Shezi pun menapak dengan lembut di tanah. Ia melambaikan kipas miliknya dan mendengus, seolah puas melihat reaksi pemuda bermata hijau di hadapannya ini.


"Mengagumkan," Chu Kai menghampiri Wei Shezi dan tanpa basa-basi berkata. "Ajari aku hal yang kau lakukan. Itu tadi mengagumkan. Cepatlah,"


"Hmph, ini masih belum apa-apa. Coba panggil aku 'Shizun',"


"Shizun,"


"Baiklah, tapi metode latihanku kasar. Jika kau tidak bisa menahannya, kau boleh menangis." Wei Shezi memain-mainkan kipasnya dan mulai berjalan diikuti oleh Chu Kai. Carpelai kecil yang menjadi rekan mereka berada di bahu Chu Kai.


Hari itu Wei Shezi tidak lagi hanya bertugas sebagai pemberi arahan ketika Chu Kai berlatih, tetapi juga berperan sebagai lawan latihan pemuda ini. Terkadang, mereka menjelajah makam hanya untuk memperdalam pengalaman Chu Kai bertarung. Dan jika beruntung, mereka bisa mendapatkan harta jarahan yang masih ada di dalam makam kuno ini.


Ada satu hari, di mana Chu Kai menemukan salah satu bahan herbal yang berguna sebagai penawar Racun Dingin. Ia menemukan sebuah tanaman anggrek api setelah mengalahkan kawanan tikus roh yang tidak hanya besar, tapi juga gesit dan ganas.


Carpelai yang bersamanya juga ikut mengalami perkembangan. Binatang berbulu putih itu tumbuh dengan memakan beberapa tanaman herbal serta daging dari binatang iblis yang dikalahkan Chu Kai. Bahkan ada sekali kesempatan di mana Carpelai menggemaskan itu ikut bertarung dan membantu Chu Kai melawan monster.


Mereka terus berlatih, meningkatkan kemampuan teknik bertarung dan bahkan kerja sama ketiganya semakin baik.


Hidup terkurung di dalam makam kuno tidak membuat Chu Kai kesulitan. Mungkin... Ini karena di masa lalu, dia pernah berada dalam situasi di mana ia jauh dari dunia luar dan begitu pula dengan Wei Shezi. Dan tidak terasa, setengah tahun berlalu.

__ADS_1


******


__ADS_2