
Tetua Sheng Zei Wang dan Wang Xiao Cheng terlihat terluka pada lengan mereka. Jubah yang keduanya pakai terbuat dari bahan berkualitas sehingga dapat tahan dari api dan serangan lawan yang tingkatannya berada di bawah mereka.
Namun saat ini jangankan dapat bertahan, untuk menghindari serangan dari pedang iblis itu pun rasanya sangat sulit. Wang Xiao Cheng bahkan merasa begitu lemah di hadapan sebuah senjata.
Di sisi lain, Xue Xiao Wen juga sudah berusaha dan mengerahkan hampir semua kekuatannya. Dia terengah-engah, namun setiap kali dia menahan serangan yang datang---kegelisahan aneh terus menghampirinya.
Xue Xiao Wen merasa bahwa pedang iblis di depan sana belum menunjukkan serangan aslinya. Tidak berselang lama setelah memikirkan hal itu, suara nyaring keluar dari pedang iblis tersebut yang menandakan bahwa kegelisahannya benar.
!!!
Itu adalah hembusan angin yang kencang dan liar, sulit melihat celah, apalagi pergerakannya yang sangat cepat. Tetua Gu Yiling, Tetua Sheng Zei Wang, termasuk Wang Xiao Cheng tidak bisa melihat peluang menghindar.
Para pendekar yang lain pun sulit berpikir. Rasa-rasanya otak mereka telah berhenti dan hanya tahu bahwa saat ini kematian sudah ada di hadapan mereka semua.
Tepat ketika tidak ada peluang, kabut seketika menyembur dari salah satu lorong. Kabut itu menyebar, menutupi seluruh ruangan dan menyelimuti tubuh para pendekar. Wang Xiao Cheng terkejut, tetapi dengan kabut ini... Dia bisa melihat lintasan angin kuat itu yang benar-benar tanpa celah.
Seseorang melesat dari arah samping Wang Xiao Cheng. Sulit untuk mengenalinya karena kabut yang ada. Dia pun mendengar sebuah suara dan yakin bahwa sosok tersebut adalah seorang pria.
"Teknik Pernapasan Naga.... Tanpa jejak."
!!!
Suara nyaring dari angin yang dikeluarkan oleh pedang iblis tersebut tiba-tiba saja berhenti. Kabut tebal sempat menghilang beberapa saat sebelum kembali memenuhi ruangan ini. Wang Xiao Cheng sendiri hanya melihat punggung sosok itu yang memakai pakaian hitam.
"Pergi dari sini,"
Suara itu singkat, namun terdengar dalam dan memiliki kekuatan. Semua orang yang ada di dalam ruangan mendengarnya, termasuk Wang Xiao Cheng. Mereka syok dan keheranan pada kedatangan orang lain yang entah siapa itu, tetapi mampu menghentikan serangan dari pedang iblis.
Hanya saja, tidak berlangsung lama... Suara nyaring itu kembali terdengar. Para pendekar ingat dengan ucapan sosok tersebut dan mereka pun segera melarikan diri. Tetua Gu Yiling dan Tetua Sheng Zei Wang tidak bisa memikirkan cara untuk membantu penolong mereka, tetapi keduanya sepakat bahwa bila tetap ada di sini---maka itu hanya akan merepotkan pendekar hebat tersebut.
Xue Xiao Wen juga dibawa pergi oleh kedua rekannya. Teknik pernapasan sosok itu telah memberikan jeda dan menghentikan serangan pedang iblis walau sebentar. Keadaan inilah yang dimanfaatkan oleh orang-orang untuk meninggalkan tempat itu, menyelamatkan nyawa mereka yang hanya satu-satunya.
Wang Xiao Cheng adalah yang paling akhir pergi. Dia berbalik sejenak dan kini melihat bahwa di antara kabut yang ada... Sosok itu memiliki mata hijau yang bersinar. Entah subjek tersebut adalah manusia atau justru salah satu makhluk yang menjaga tempat ini.
*
*
Setelah para pendekar itu pergi, Wei Shezi pun mulai memperlihatkan wujudnya. Kabut masih menutupi tempat ini, tetapi yang tersisa saat ini hanyalah dia dan pria yang tak lain adalah Chu Kai tersebut.
Pemuda itulah yang sudah menggunakan Teknik Pernapasan Naga dan sekarang dia pun kembali menggunakannya. Kabut milik Wei Shezi memudar karena terkena efek dari teknik itu, namun di sisi lain---suara nyaring dari pedang iblis juga tidak terdengar.
"Kau sudah menyuruh mereka pergi, selanjutnya apa?" Wei Shezi buka suara. Dia baru akan bicara kembali ketika Chu Kai tiba-tiba saja menyela.
"Datang."
?!
Wei Shezi terkejut. Pedang iblis itu bergerak dan dengan cepat menyerang Chu Kai. Satu ayunannya menciptakan angin kuat yang membelah kabut milik Wu Shezi serta meledakkan dinding.
Suaranya sangat keras hingga para pendekar yang sedang menyelamatkan diri ikut terkejut. Suara itu bahkan sampai terdengar hingga keluar. Wei Zhang Zihan yang menunggu Chu Kai menjadi semakin gelisah.
"Oh, Nona Xia..?!" Chen Xiao Yan tersentak. Seruannya membuat Wei Zhang Zihan berbalik dan melihat bahwa Xia Ling Qing sudah mulai sadarkan diri.
"Ling Qing," Wei Zhang Zihan menghampiri gadis berpakaian biru muda itu. Dia membantu Xia Ling Qing duduk.
"Bagaimana keadaanmu?"
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" Xia Ling Qing tidak menjawab pertanyaan Wei Zhang Zihan. Dia menahan rasa sakit di tubuhnya sebelum mulai mengedarkan pandangan dan kini tahu bahwa dirinya berada di luar gua makam kuno.
"Kenapa kita ada di luar sini?" Xia Ling Qing buka suara, dia melihat hanya ada beberapa pendekar yang bersamanya. Begitu berbeda dari saat dirinya datang ke tempat ini.
"Ceritanya panjang. Tapi apa kau baik-baik saja?"
"Mn, aku tidak apa-apa. Di mana orang itu?" Xia Ling Qing mencari keberadaan seseorang dan tidak menemukannya di tempat ini.
Wei Zhang Zihan sepertinya tahu orang yang dicari oleh saudara seperguruannya tersebut dan menjawab. "Chu Kai masih di dalam,"
"Apa?" Xia Ling Qing tersentak. Dia berusaha bangun, tetapi tubuhnya masih terlalu lemah. Pada akhirnya dia jatuh, namun beruntung sebab Wei Zhang Zihan menahan tubuhnya.
"Kau belum boleh banyak bergerak," Wei Zhang Zihan berkata. "Dia memintaku untuk menjagamu, dia pasti baik-baik saja."
"Wei Zhang Zihan, sejak kapan kau menjadi penurut seperti ini?" Xia Ling Qing menatap pemuda di sampingnya dan berujar, "Kau tahu seperti apa dia. Orang itu bahkan tidak tahu apa pun tentang tingkat kultivasi dan teknik berpedang. Tapi kau justru membiarkannya begitu saja?"
"Aku akan ke sana," Xia Ling Qing berusaha berdiri, tetapi lengannya dipegang oleh Wei Zhang Zihan.
"Jangan lakukan apa pun,"
"Wei Zhang Zihan!"
"Kau tidak tahu apa-apa," Wei Zhang Zihan berkata. "Jika saja dia selemah yang kau kira, apa mungkin orang itu akan bersikeras tetap di dalam? Dia jelas menyembunyikan sesuatu,"
"Maksudmu... Dia menyembunyikan kekuatannya selama ini?"
"Apa kau tidak pernah memikirkan kejanggalan tentang dirinya?"
!
Pertanyaan Wei Zhang Zihan membuat Xia Ling Qing terdiam. Gadis itu pun tetap berada di posisinya sambil menatap ke arah bibir gua yang tidak jauh di hadapannya.
Seseorang yang merasakan dampak dari suara ledakan itu tidak lain adalah Xue Xiao Wen yang saat ini masih berada di dalam lorong gua bersama dengan para pendekar dari sekte lain. Mereka kaget karena dinding yang ada di kedua sisi mereka mulai terlihat retak, semakin lama garis retakan itu kian bertambah.
"Lebih cepat..!" seorang pendekar berseru, "Kita harus segera keluar dari tempat ini."
!
Ada seorang pendekar wanita yang terjatuh. Dia memiliki luka koyakan di bagian paha dan betisnya. Beberapa pendekar meninggalkannya begitu saja, tidak berniat untuk menolong. Tapi sebuah tangan tiba-tiba meraih lengannya dan membantunya berdiri.
Pendekar wanita itu tersentak, sosok yang menolongnya tidak lain adalah Wang Xiao Cheng. Dia pun dibantu untuk bergerak dan mereka kembali bergegas agar bisa keluar dari tempat ini. Suara ledakan yang dahsyat pun terdengar.
!!!
Itu adalah pertarungan sengit yang sedang dilakukan oleh Chu Kai. Pemuda bermata hijau alami itu harus menghadapi keganasan dari sebuah pedang iblis di samping juga harus waspada dengan bebatuan yang terjatuh di langit-langit ruangan.
Wei Shezi membantu Chu Kai dengan memakai kabut miliknya. Kemampuan ini membuat Chu Kai bisa melihat setiap lintasan angin milik pedang iblis itu sehingga bisa dihindari dengan tepat.
Wei Shezi sendiri cukup terkesan dengan gerakan Chu Kai. Pemuda itu tidak melakukan gerakan berlebihan, setiap langkahnya begitu terukur, dan tanpa celah. Apalagi bila Wei Shezi memperhatikannya dengan baik---dia bisa tahu bahwa melakukan gerakan itu membutuhkan keahlian yang tinggi.
Chu Kai mengambil salah satu pedang yang dia lihat dan lalu ikut melesatkan serangan dengan menggunakan teknik pernapasan miliknya. Angin yang diciptakan oleh pedang iblis tersebut sejenak berhenti, dan seolah memiliki pikiran sendiri---dia pun menyerang Chu Kai dengan aura membunuh yang kuat.
Benturan kedua senjata menciptakan suara bagaikan sambaran petir, apalagi Wei Shezi benar-benar melihat ada lintasan petir yang terbentuk ketika senjata Chu Kai dan pedang iblis itu bersinggungan.
!!
Chu Kai merasakannya lagi. Ini adalah yang kesekian kalinya di mana dirinya merasakan ada aura naga yang pekat dan seolah-olah menariknya. Apalagi setelah perasaan tersebut datang, dia pun dapat melihat benang halus berwarna merah yang entah apa itu.
__ADS_1
Mata Chu Kai pun berubah, dia sepertinya mulai mengerti apa yang dilihatnya barusan. Benang merah yang harus itu terbuat dari roh dan kemungkinan adalah roh makhluk-makhluk yang diserap oleh pedang ini.
Benang itu mengikat pada bayang-bayang pedang iblis yang dihadapinya. Chu Kai pun mengingat ucapan Wei Shezi sebelumnya.
"Kau harus menangkapnya. Mengendalikan pedang itu agar menurut padamu. Itu satu-satunya cara agar pedang itu bisa dijinakkan dan tidak menyerang orang lain lagi."
Warna mata Chu Kai berkilat dan dia pun kembali menggunakan teknik pernapasan naga miliknya. Dia menghentikan serangan angin gila yang berusaha di keluarkan oleh pedang iblis tersebut dan kemudian mulai melesat.
!!
Wei Shezi melihat Chu Kai tidak meraih pedang itu. Pemuda bermata hijau tersebut justru sedang mencoba memegang bayangan dari pedang iblis dan rupanya berhasil.
"Dia.." Wei Shezi syok. Jelas saja dia terkejut bukan main sebab tidak terpikirkan olehnya bawah pedang itu bisa ditaklukkan dengan cara memegang bayangannya.
Pedang iblis yang selama ini bertarung terlihat memudar sebelum akhirnya menghilang. Wei Shezi melihat bayangan pedang itu masih ada dan perlahan mulai memunculkan energi spiritual berbentuk benang-benang merah yang halus.
Di tangan Chu Kai, energi spiritual itu memadat dan kemudian membentuk pedang dengan bilah keperakan. Wei Shezi melihat bahwa bentuk pedang tersebut sama seperti pedang iblis yang dilihatnya, namun tanpa perlawanan.
"Apa kau berhasil?" Wei Shezi buka suara. Dia berjalan ke arah Chu Kai dengan rasa penasaran.
"Kurasa begitu..." Chu Kai pun memperhatikan pedang di tangannya yang cukup berat ini, tapi juga memiliki aura yang tidak biasa.
Wei Shezi mengulurkan tangannya perlahan dan kabut pun menyelimuti tangan kanannya itu. Sebuah pegangan pedang terbentuk dari kabut miliknya yang memadat dan dia pun menyerahkan benda itu pada Chu Kai.
"Gunakan ini untuk pedangmu," Wei Shezi buka suara dan membuat Chu Kai menatapnya.
"............." Chu Kai memperhatikan Wei Shezi dan kemudian mengambil sarung pedang di tangan wanita tersebut. Dia pun lantas berkata, "Aku sudah mendapatkannya. Sekarang kau bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi,"
"............." Wei Shezi menyilangkan tangan. Dia pun menengadah dan kemudian bertanya, "Apa kau tidak ingin... Keluar dari tempat ini dulu?"
Kening Chu Kai mengerut. Dia mengikuti arah pandangan Wei Shezi dan melihat langit-langit di atasnya retak. Detik itu juga sesuatu yang mengejutkan terjadi.
Langit-langit di ruangan itu runtuh, menjatuhkan bebatuan dengan ukuran berbeda-beda. Bahkan dinding di sekitarnya pun juga ikut meledak.
!!!
Suara yang sangat keras ini dirasakan oleh Tetua Gu Yiling, Tetua Sheng Zei Wang, termasuk Wang Xiao Cheng dan para pendekar yang masih berada di lorong gua.
"Nona Xue! Dindingnya runtuh..!" Zhu Liu berseru karena merasakan tikus-tikus miliknya yang berada di barisan paling belakang mati terkena reruntuhan. Seruannya membuat para pendekar yang lain menjadi panik.
"Lewat sini," Wei Tian Yu berada di barisan paling depan dan menjadi penunjuk arah bagi yang lain. Ketegangan terjadi saat beberapa pendekar berteriak sebab dinding di sekitar mereka dan juga langit-langit yang ada mulai runtuh.
"Itu jalan keluarnya. Cepat!" Han Dong Qing melihat mulut gua yang sebelumnya dia masuki walau kondisinya cukup berantakan.
Tepat ketika para pendekar itu berhasil keluar, suara ledakan pun kembali terdengar dan pintu gua pun kembali tertimbun tanah serta batu besar yang ada. Chen Xiao Yan dan Huan Zhang mengembuskan napas lega sebab para pendekar itu berhasil keluar dengan selamat.
Wei Zhang Zihan melihat beberapa pendekar terbatuk karena angin debu yang berasal dari reruntuhan batu dari makan kuno ini. Dia pun berjalan dan membantu pendekar yang terlihat terluka, namun syukurlah karena pendekar itu masih selamat.
Para anggota Sekte Giok Putih pun tidak tinggal diam. Mereka membantu para pendekar yang lain, termasuk Tetua Gu Yiling. Ada banyak wajah-wajah yang masih sangat syok dan jelas bahwa mereka begitu lelah.
Long Yang Wang sendiri mulai membuka matanya dan kemudian bangun. Situasi di mana makam kuno itu runtuh menandakan bahwa pertarungan dengan pedang iblis itu sudah selesai walau dia cukup terkesan sebab masih banyak orang yang selamat.
Tangan Long Yang Wang diam-diam terkepal. Harusnya para pendekar tersebut tewas dan menjadi makanan untuk pedang iblis miliknya, tapi sayang sekali mereka justru berhasil lolos dari kematian.
"Kai...? Di mana Chu Kai?" Wei Zhang Zihan memperhatikan orang-orang di sekitarnya dan memang tidak menemukan Chu Kai. Tidak ada pemuda itu di antara para pendekar yang berhasil keluar dari reruntuhan makam kuno di depannya.
Long Yang Wang juga memperhatikan setiap pendekar yang ada dan memang tidak melihat Chu Kai. Matanya melebar saat dia melihat ke arah mulut gua yang sudah tertutup bebatuan.
__ADS_1
"Apa dia... Masih di dalam?!" Long Yang Wang terkejut ketika pemikiran itu muncul. Tetapi di bandingkan dengan rasa khawatir, dia justru memperlihatkan binar mata yang sangat bersemangat. Seakan-akan dia senang Chu Kai tertimbun reruntuhan.
******