LAHIRNYA PENDEKAR NAGA

LAHIRNYA PENDEKAR NAGA
120 - Kecurigaan


__ADS_3

Ucapan Chu Kai tidak hanya membuat Wei Zhang Zihan terkejut, tetapi juga para pendekar yang mendengarnya. Tepat setelah ia berkata demikian, kobaran api di hadapannya menjadi bergejolak dan menyemburkan lahar yang luar biasa panas.


Para pendekar spontan mengambil jarak. Salah satu di antara mereka ada yang menghampiri Chu Kai dan kemudian mulai buka suara. Dia menyentuh pundak pemuda bermata hijau alami itu dan lantas bertanya, "Apa yang kau katakan tadi? Ba-bagaimana bisa ada monster?!"


"Hei..!" pendekar lain berseru, "Kau jangan bercanda. Pendekar Shuang Shu Chen sudah menyeberang lebih dahulu dan tidak ada monster yang muncul. Jadi bagaimana bisa kau mengatakan bahwa di bawah kobaran api ini ada monsternya?!"


Chu Kai menoleh dan menatap para pendekar yang tidak percaya padanya itu. Dia pun tanpa nada berkata, "Jika tidak percaya, maka coba saja serangan bagian dasar kobaran api itu dan lihat apakah aku berbohong atau tidak."


"Hmph, kau menantang rupanya." seorang pendekar menarik pedangnya. Dia pun dengan angkuh berkata, "Lihat apa yang akan kulakukan padamu saat kebohonganmu terungkap."


"..........." Chu Kai tidak mengatakan apa pun dan menyaksikan bagaimana pendekar tersebut mengalirkan energi spiritual pada pedangnya. Pendekar itu menyerang bagian dasar dari kobaran api di hadapannya yang menciptakan suara keras.


Ekspresi wajah Chu Kai tidak berubah, tetapi tatapan matanya terlihat berbeda. Suara keras karena serangan dari pendekar itu membuat ledakan dan sedetik berikutnya---semburan lahar tercipta.


Tanpa peringatan, Chu Kai langsung meraih lengan Wei Zhang Zihan dan kemudian membawanya untuk melompat mundur. Tindakan Chu Kai sangat mengejutkan, tetapi hal yang lebih dari itu adalah bahwa sebuah lidah api keluar dan mengikat pinggang sosok pendekar yang sebelumnya meragukan ucapan Chu Kai.


!!!


Wei Zhang Zihan menyaksikan bagaimana pendekar itu ditarik masuk oleh lidah api dan selanjutnya yang terdengar adalah teriakan penuh kesakitan. Wei Zhang Zihan hendak menolong subjek tersebut, namun tangannya masih dipegang dan ditahan oleh pemuda di sampingnya.


"Kai, apa yang kau lakukan? Lepaskan."


"Tidak perlu menolongnya, Pendekar Wei."


!?


Wei Zhang Zihan tersentak. Dia menatap pemuda bermata hijau alami ini dan sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya akan mendengar ucapan seperti itu.


"Apa... Maksudmu yang sebenarnya?" Wei Zhang Zihan merasa bahwa sifat Chu Kai yang sekarang sangat berbeda dari apa yang selama ini dia ketahui. Pemuda di depannya bagaimana mungkin dapat begitu berdarah dingin dengan membiarkan orang lain terbunuh begitu saja.


AAAAKH..!

__ADS_1


Teriakan pendekar yang berada dalam kobaran api itu membuat Wei Zhang Zihan menoleh. Dia hendak melesat, namun tangan sosok yang menahannya begitu kuat. Seolah orang ini serius untuk tidak membiarkannya pergi.


Beberapa pendekar mencoba menyelamatkan pria yang masih berteriak meminta tolong itu, namun saat mereka hendak melakukannya... Teriakan itu pun berhenti dan ini menjadi pertanda bahwa subjek tersebut sudah tiada.


"Dia... Mati?"


"Lihat!"


"Semuanya menghindar..!"


Lidah api kembali datang dan jumlahnya lebih banyak dari sebelumnya. Mereka menyerang dan berusaha menangkap para pendekar. Wei Zhang Zihan dan Chu Kai menghindari lidah api itu, keduanya bahkan menarik pedang mereka masing-masing.


Wei Zhang Zihan menyerang, dia memotong lidah api itu dan kaget saat menyaksikan ada percikan darah dari lidah api yang ia potong. Hal ini menjadi bukti bahwa lidah api yang menyerangnya merupakan makhluk hidup.


Di sisi lain, Chu Kai juga berhasil memotong beberapa lidah api yang menargetkannya. Dia pun menyipitkan mata dan menyadari bahwa di antara banyaknya kobaran api di depannya, ada yang sama sekali tidak bergerak, seolah api tersebut bukan bagian dari apa yang ia dan Wei Zhang Zihan serang.


"Sebelumnya ada yang mengatakan bahwa di antara api ini... Ada yang sama sekali tidak panas dan itulah jalan menuju pintu gerbang di depan. Mungkinkah yang kulihat ini adalah... Jalurnya?" Chu Kai memikirkannya sebelum mulai mencari keberadaan Wei Zhang Zihan.


"Pendekar Wei..! Di sini..!" Chu Kai berseru.


Menyaksikan pemuda itu langsung masuk ke dalam kobaran api membuat Wei Zhang Zihan tersentak. Chu Kai pun memintanya untuk segera menyusulnya.


"Pendekar Wei, cepatlah. Kita tidak punya banyak waktu..!"


Wei Zhang Zihan memegang kuat pedangnya dan kemudian melesat masuk ke dalam kobaran api. Dia benar-benar tidak terbakar dalam api ini dan itu, bahkan lidah api yang sebelumnya menyerangnya pun justru berbalik dan menyerang pendekar yang lain.


Wei Zhang Zihan terus mengikuti Chu Kai hingga mereka tiba di depan sebuah pintu raksasa. Chu Kai terlihat menarik napas dan kemudian melangkah masuk.


Pemandangan yang menyambut kedua pemuda itu adalah sebuah ruangan terang karena batu cahaya. Tidak ada gunungan emas atau tumpukan mutiara roh di tempat ini. Hal yang menarik perhatian hanyalah selendang berwarna kuning keemasan yang seolah menjadi tirai dan penghias ruangan.


Chu Kai mengedarkan pandangan dan melihat sebuah altar. Jika diperhatikan dari atas, altar itu mempunyai sepuluh lingkaran dengan ukiran kuno. Ada seseorang yang duduk bersila di salah satu lingkaran dan disinari oleh energi spiritual murni.

__ADS_1


Chu Kai dan Wei Zhang Zihan mengenali sosok itu yang tidak lain adalah Shuang Shu Chen dari Sekte Menara Rufeng. Jiwa pemuda itu jelas sedang berada di dalam dimensi utama makam kuno ini dan kemungkinan besar itu merupakan tempat di mana Teknik Manifestasi berada.


Chu Kai melangkah dan di saat bersamaan Wei Zhang Zihan menahannya. Dia tersentak saat pergelangan tangannya dipegang oleh Pendekar Suci dari Sekte Gunung Wushi ini.


"Pendekar Wei?"


"Kita harus bicara lebih dahulu," Wei Zhang Zihan dengan dingin bertanya. "Sebelumnya... Di tempat itu... Kenapa kau menghentikanku menolong pendekar itu?"


"............."


"Kenapa kau menjadi berubah seperti ini?" Wei Zhang Zihan kembali buka suara karena Chu Kai hanya diam dan tidak menjawabnya.


Chu Kai menatap sosok di depannya dan dengan tenang berkata. "Apa maksudmu, Pendekar Wei? Memangnya aku berubah seperti apa?"


".......... Kau menjadi lebih tidak berperasaan,"


Chu Kai tersentak, dia mendengus dan lalu tersenyum. Dirinya menggeleng pelan dan berkata, "Pendekar Wei. Aku masih sama seperti Kai yang kau kenal. Alasan kenapa aku menghentikanmu sebelumnya adalah karena monster itu. Kau juga bisa ditarik masuk jika aku tidak segera menyelamatkanmu,"


"Jangan berbohong, Kai. Kau seolah tahu bahwa lidah api itu akan menyerang dan langsung menarikku menjauh. Kau... Bisa saja menarik pendekar itu dan melakukan hal yang sama, tetapi kau mengabaikannya."


Wei Zhang Zihan memperhatikan baik-baik pemuda bermata hijau alami di sampingnya dan melanjutkan, "Tidakkah tindakanmu ini... Merupakan sebuah pembalasan dendam?"


Chu Kai menurunkan pandangan, tangannya terkepal kuat dan itu disadari oleh Wei Zhang Zihan. Dia berujar, "Pendekar itu... Mengatakan apa pun padanya, dia tidak akan percaya. Tipe orang sepertinya yang meninggikan diri sendiri dan merendahkan orang lain... Sama sekali tidak pantas diselamatkan."


!


Saat mengatakan kalimat terakhir tersebut, Chu Kai menatap lurus pada Wei Zhang Zihan. Bahkan nada suaranya berubah menjadi dingin dan seakan membenarkan dugaan Wei Zhang Zihan sebelumnya.


"Kai..!"


"Pendekar Wei, aku... Tidak sama sepertimu." Chu Kai dengan serius berkata, "Untuk menilai apakah seseorang pantas diselamatkan atau tidak, aku mempunyai pertimbangan sendiri. Dan jika kau ingin mendengar alasanku yang sebenarnya... Aku... Jujur saja sangat membenci manusia."

__ADS_1


!


******


__ADS_2