
Pulau Yèzi, Wilayah Aliran Hitam.
Pulau Yèzi merupakan sebuah pulau yang di kelilingi lautan dengan bebatuan karang. Laut yang mempunyai deburan ombak cukup kuat ini merupakan tempat tinggal sekelompok monster ular.
Makhluk dengan kulit keras dan berduri di tubuhnya itu mempunyai racun yang sangat mematikan. Ini sebabnya air laut yang mengelilingi Pulau Yèzi sangat beracun. Bahkan karena racun tersebut, udara di tempat ini sampai tercemar dan naik ke daratan.
Meskipun tahu hal tersebut, para pendekar dari berbagai tempat masih tetap nekat ke lokasi ini. Hanya saja sepertinya mereka masih sayang nyawa sebab memilih untuk tidak menyeberangi lautan ini lebih dahulu.
"..............."
"Pulau Yèzi ada di depan sana. Jaraknya sekitar 30 meter dari sini, tapi tidak ada di antara para pendekar ini yang berani menyebrang."
"Mereka seolah menunggu sampai ada yang mengambil langkah pertama lebih dahulu. Ini... Sejujurnya sangat menakutkan,"
Ada tiga orang pendekar berpakaian biru tua. Mereka memperhatikan pendekar lain yang ada di sekitar dan menjadi penasaran dengan siapa yang akan menyeberangi lautan di depan mereka ini untuk bisa sampai di Pulau Yèzi.
Di antara para pendekar itu, Liu Han Ying dan Wei Zhang Zihan juga ada. Kedua anggota Sekte Gunung Wushi tersebut datang bersama Shuang Shu Chen dari Sekte Menara Rufeng.
Liu Han Ying dan Wei Zhang Zihan selama ini tinggal di Sekte Menara Rufeng. Keduanya bahwa melatih teknik yang didapatkan saat penjelajahan makam kuno setengah tahun lalu. Tentu, dalam waktu sesingkat itu... Liu Han Ying dan Wei Zhang Zihan mengalami peningkatan.
"Kapan Xia Ling Qing datang?" Liu Han Ying buka suara. Ia sebenarnya tidak tahan dengan banyaknya suara di sekitarnya. Dirinya ingin agar mereka segera menyelesaikan tugas ini secepat mungkin.
"Jika mereka belum datang setelah lima menit, maka kita akan bergerak lebih dulu." Shuang Shu Chen berujar tanpa nada, "Kebanyakan orang-orang di tempat ini... Terlihat begitu licik,"
Wei Zhang Zihan memperhatikan sekitarnya dan memang ada lebih banyak pendekar aliran hitam di tempat ini daripada yang berasal dari aliran putih. Dan dari raut wajah mereka, para pendekar tersebut memang seperti yang Shuang Shu Chen katakan.
"Sialan! Jika tidak ada yang pergi lebih dulu maka aku saja yang lakukan!"
Wei Zhang Zihan tersentak mendengar seruan seorang pendekar. Dia melihat pria berpakaian serba hitam itu melesat dan sebuah tombak tercipta dari energi spiritualnya. Pria tersebut rupanya berada di tingkat praktik Tahap Penciptaan Wujud.
Pendekar dari salah satu sekte aliran hitam itu terbang di atas hamparan lain dengan menaiki tombak ciptaannya. Tindakan nekat yang ia lakukan ini menjadi pusat perhatian. Shuang Shu Chen yang ikut memperhatikan pendekar itu hanya menyilangkan tangan dan kemudian mendengus.
"Bodoh,"
Liu Han Ying menoleh saat mendengar dengusan Shuang Shu Chen. Bersamaan dengan itu, monster besar muncul dari dalam laut. Mulut yang terbuka lebar dan dipenuhi gigi taring itu pun melahap pendekar sekte aliran hitam tersebut.
Semua orang menyaksikannya, mereka mendengar suara seolah tulang-belulang diremukkan. Tidak butuh waktu lama sampai monster ular lainnya ikut menampakkan diri mereka. Kehadiran para makhluk menakutkan itu membuat suasana menjadi sangat tegang.
__ADS_1
"Bau ini..." seorang pendekar mengerutkan kening, tangan kanannya terulur menyentuh hidungnya yang terasa sakit karena mencium bau menyengat.
"Gawat. Kalian semua hati-hatilah! Aroma ini mengandung racun!" pendekar itu berseru dan memperingati orang-orang di sekitarnya. Dia mengambil beberapa jarak, begitu pula dengan para pendekar yang lain.
Liu Han Ying, Wei Zhang Zihan, dan Shuang Shu Chen melompat mundur. Ketiganya terlihat memperhatikan bagaimana air lautan menjadi sangat kehitaman karena racun yang seakan keluar dari kulit tubuh monster ular mengerikan itu. Anehnya, makhluk berukuran besar itu tidak naik ke daratan untuk mengejar mereka.
Liu Han Ying, Wei Zhang Zihan, dan Shuang Shu Chen mempunyai pemikiran yang sama. Tidak hanya mereka, tetapi juga para pendekar yang lainnya. Seharusnya dengan tubuh sebesar itu, ular monster tersebut mudah naik ke daratan, menyerang para pendekar, dan menguasai tidak hanya wilayah ini.
"Makhluk itu..."
"Dia memiliki insan!" seorang pendekar berseru, "Ular Sirip Beracun. Monster itu mempunyai sirip seperti ikan yang setiap lapisan siripnya memiliki lendir beracun. Tidak hanya itu, napasnya pun mengandung racun mematikan yang serupa."
Pendekar berpakaian merah dengan corak bangau putih itu pun berkata, "Dia bukannya tidak bisa naik ke daratan, tapi daya serangnya jauh lebih kuat bila berada di air. Terbang di atas laut jelas akan sangat merugikan,"
"Lalu bagaimana cara kita sampai ke Pulau Yèzi? Apa harus melawan kawanan monster itu dulu?" seorang pendekar bertanya sebelum ia merasakan sesuatu menyentuh bahunya.
Ada pria berpakaian ungu pudar yang tidak lain adalah rekan pendekar yang bertanya barusan. Pria itu tersenyum dan merangkul temannya agar berjalan bersama, untuk lebih dekat ke arah lautan.
Pria tersebut mengalirkan energi spiritual ke tubuh rekannya sendiri, ini merupakan teknik perlindungan agar ia dan temannya itu bisa bertahan dari aroma racun yang sangat menyengat dari monster ular tersebut.
Dengan senyuman, pria berotot itu pun berkata. "Monster sebesar apa pun itu... Tidak akan ada yang bisa menghalangi kita untuk sampai keseberang sana. Aku sendiri yang akan membawamu pergi,"
!!
Liu Han Ying dan para pendekar yang lain nampak kaget. Tanpa peringatan, pria itu langsung melesat maju dengan kecepatan yang bagus. Dia benar-benar melintasi laut yang dihuni oleh kawanan monster ular beracun.
Beberapa orang berseru, memperingatkan pendekar itu untuk tidak bertindak gegabah. Hanya saja peringatan mereka sama sekali tidak diindahkan. Pendekar dari salah satu sekte aliran hitam itu melesat membawa rekannya hingga hal mengejutkan terjadi.
!!!
Ada dua monster ular yang hendak melahap kedua pendekar itu, namun pendekar yang membawa rekannya itu secara sengaja membuat temannya sendiri terjatuh dan hanya dalam waktu sepersekian detik---tubuh rekan pendekar tersebut kini diperebutkan oleh para monster.
Liu Han Ying melebarkan matanya, dia sangat syok menyaksikan pemandangan mengerikan di hadapannya. Sementara itu, Wei Zhang Zihan terlihat mengepalkan kuat tangannya kala menyaksikan senyuman licik dari sosok yang telah melakukan tindakan tidak manusiawi itu.
"Sialan. Bagaimana dia bisa melakukan itu?! Dia mengorbankan rekannya sendiri."
"Hmph, bukankah orang itu sudah memperlihatkannya pada kita?" seorang pendekar buka suara. Dia menyeringai, "Untuk menyeberang hingga ke sana... Mereka perlu mengalihkan perhatian para monster ini. Lalu bagaimana caranya? Hmph, tentu saja dengan memberi makan para monster tersebut."
__ADS_1
Ucapan pria itu mengejutkan. Dia tiba-tiba saja melesat dan kemudian memberi serangan pada salah satu pendekar dari aliran putih. Tindakan yang dilakukannya sulit diprediksi hingga pendekar yang diserang itu pun tidak sempat mengambil posisi bertahan.
Pendekar dari aliran putih itu terjatuh dan bahkan saat tubuhnya masih berada di udara, seekor ular pun datang dengan mulut terbuka lebar. Tubuh bagian atas pemuda itu digigit oleh monster ular, menyisakan hanya tubuh bagian bawahnya. Bahkan tidak butuh waktu lama sampai bagian lain dari tubuh pendekar itu pun dimakan oleh monster lainnya.
Tidak hanya menyerang satu orang, pendekar dari aliran hitam itu juga menyerang pendekar lainnya dan membuat mereka terlempar ke arah laut. Liu Han Ying berseru, namun sebuah tangan terulur dan menariknya menjauh.
!?
Sosok yang menarik Liu Han Ying tidak lain adalah Shuang Shu Chen, pendekar dari Sekte Menara Rufeng itu tidak hanya membawanya pergi, tetapi juga Wei Zhang Zihan.
"Tuan Muda Shu Chen, ada apa?" Liu Han Ying berkedip. Dia berkata, "Kenapa kau membawaku kemari? Kita seharusnya menghentikan mereka. Lihat, para pendekar itu mulai saling bertarung."
"Kau menghentikan mereka juga tidak ada gunanya," Shuang Shu Chen berujar. "Mereka tidak akan mendengarkanmu. Buruknya, kau justru akan ikut diserang."
"Tapi..."
"Kita tidak punya banyak waktu. Lihat itu,"
Liu Han Ying mengikuti arah pandangan Shuang Shu Chen dan tidak lama ada dua orang menapak, tidak jauh di hadapannya. Kedua orang tersebut adalah Shuang Ling Feng dan Xia Ling Qing.
"Ling Qing'Er, kau dari mana saja?" Liu Han Ying segera menghampiri rekannya itu. Ekspresi wajah Xia Ling Qing sama sekali tidak berubah.
"Apa saja yang sudah terjadi?" Xia Ling Qing bertanya tanpa nada. Wei Zhang Zihan pun memberikan penjelasan sesuai situasi yang ia saksikan.
Wei Zhang Zihan, "Sebelumnya tidak ada yang nekat menyeberangi laut itu karena monster ular yang beracun. Tapi tidak butuh waktu lama sampai kondisi menjadi sangat kacau,"
Liu Han Ying juga ikut buka suara, "Mereka saling menyerang dan membuat orang lain sebagai umpan. Walau aku sendiri bertanya-tanya kenapa para pendekar itu tidak bekerjasama untuk menghabisi para monster tadi. Jika kejadiannya seperti ini, bukankah yang rugi adalah mereka sendiri?"
"Hmph, itu tidak mungkin." Shuang Shu Chen berkata, "Justru para pendekar itu memilih mengambil tindakan ini agar mereka tidak perlu menghabiskan banyak tenaga melawan monster ular, mereka pun bisa sampai dengan selamat ke pulau itu, dan yang lebih penting... Saingan mereka bisa berkurang."
Xia Ling Qing mempunyai pendapat yang sama dengan Shuang Shu Chen. Ia pun tanpa nada berkata, "Tidak peduli cara apa yang para pendekar itu lakukan... Kita tidak punya kewajiban untuk masuk dan menghentikan mereka."
Xia Ling Qing berujar, "Ada hal yang jauh lebih penting untuk dilakukan. Kita persiapkan untuk menghadapi segala sesuatu yang menyangkut tentang Bencana Besar."
Xia Ling Qing melambaikan tangannya. Energi spiritual lantas tercipta dan kemudian mulai memadat, membentuk makhluk yang sejenis burung, hanya saja mempunyai energi spiritual selayaknya kobaran api.
!!
__ADS_1
******