
"Bagaimana keadaanmu?" Wei Zhang Zihan buka suara dan menghampiri Chu Kai. Pemuda bermata hijau alami di hadapannya ini terlihat mengusap-usap dadanya.
"Yang tadi itu nyaris saja," Chu Kai mengatur napasnya. Dia pun berkata, "Aku masih tidak tahu apa yang tadi kulawan, tapi beruntungnya Pendekar Wei berhasil mengatasi segelnya."
"Mn, namun jangan merasa bahwa ini sudah selesai. Kita harus pergi ke tempat yang lain segera, ayo."
Chu Kai berkedip, dia pun mengikuti Wei Zhang Zihan yang berjalan keluar dari bangunan kuil. Sungguh, tempat ini sekarang menjadi sangat berantakan dibanding saat mereka pertama kali datang.
"Pendekar Wei, hari sudah gelap. Apa kita benar akan melanjutkan perjalanan kembali?" Chu Kai bertanya dan membuat Wei Zhang Zihan menatap ke arahnya.
"Walau apa pun keadaannya, kita harus terus bergerak. Waktu tidak akan menunggu dan bukankah kau sangat ingin bertemu Xia Ling Qing?"
"Oh, benar. Nona Xia pasti membutuhkan bantuan,"
Wei Zhang Zihan mengembuskan napas pelan saat melihat reaksi Chu Kai. Dia pun menatap lurus ke depan dan menyaksikan cahaya tipis keperakan yang menjadi dinding pembatas di hadapannya kini mulai menghilang.
Butiran Zhu Shu yang melayang di udara kembali saling menyatu sebelum akhirnya melayang ke arah tangan biksu yang berdiri di anakan tangga.
!
Chu Kai berkedip, tiga orang biksu yang harusnya pergi sejak tadi dengan kuda kini berdiri tepat di hadapannya. Mereka sama sekali tidak meninggalkan tempat ini.
"Bukankah harusnya kalian menyelamatkan diri?" Chu Kai buka suara dan membuat biksu di hadapannya berjalan mendekat.
Dengan dua tangan yang disatukan, biksu itu pun membungkuk sedikit dan berkata, "Amitabha. Bagaimana bisa kami pergi dari tempat ini dan meninggalkan pendekar untuk mengatasi kemalangan yang menimpa kuil ini."
"Pendekar, kami mengucapkan banyak terima kasih."
"Entah apa yang akan terjadi pada kami dan tempat ini jika sampai segel aneh itu tidak segera diatasi."
"Itu... Sama sekali bukan masalah," Chu Kai menggaruk pelan kepalanya yang tidak gatal dan terlihat tersenyum. Salah satu biksu di hadapannya meminta agar ia dan Wei Zhang Zihan dapat tinggal sebab hari pun sudah gelap.
Wei Zhang Zihan dengan sopan menolak permintaan dari tabib tersebut. Dia berkata harus segera pergi karena masih ada lokasi yang harus ia datangi. Wei Zhang Zihan berterima kasih dan kemudian memanggil Chu Kai untuk mengikutinya.
Salah satu tabib mengatakan agar setidaknya Wei Zhang Zihan dan Chu Kai bisa makan malam lebih dahulu, namun Wei Zhang Zihan tetap menolak dengan rendah hati.
Ketiga biksu itu tidak lagi memaksa, mereka berkata akan selalu mendoakan Wei Zhang Zihan dan Chu Kai agar tetap selamat di mana pun berada.
Wei Zhang Zihan kembali menaiki kudanya. Di sisi lain, Chu Kai sedikit tidak enak hati saat menunggang kuda lagi, tapi dia juga harus mengikuti Wei Zhang Zihan.
Kuda dari kedua pendekar itu kembali berlari kencang. Chu Kai memegang kuat tali kekang kuda yang ia tunggangi sambil menatap Wei Zhang Zihan yang sudah jauh di depan.
"Pendekar Wei..!" Chu Kai bahkan tidak bisa mengatakan agar Wei Zhang Zihan memperlambat laju kudanya. Karena tindakan pendekar tersebut, kuda yang ia tunggangi pun juga berlari sangat kencang.
Bulan bersinar terang di atas sana, terlihat padang rumput luas di mana Wei Zhang Zihan dan Chu Kai berada. Tempat yang akan mereka tuju kali ini adalah sebuah desa kecil.
"Ini buruk," Chu Kai merasakan lilitan di perutnya. Dia hampir tidak bisa menahan guncangan karena menunggang kuda. Di sisi lain, Wei Zhang Zihan seperti tidak mengetahui tentang kondisinya saat ini.
"Pendekar-!" Chu Kai baru saja akan memanggil Wei Zhang Zihan ketika angin yang berhembus ke arahnya tercium bau darah. Dia pun melebarkan mata dan tanpa disadari detak jantungnya berpacu sangat kencang.
Wei Zhang Zihan sendiri pun bisa mencium bau darah yang pekat itu. Dia melajukan kudanya dengan cepat ketika sesuatu melesat dan menghalangi jalannya.
__ADS_1
!!!
Wei Zhang Zihan menarik tali kekang kudanya, binatang itu meringkik dan mengangkat kedua kaki depannya. Sosok yang menghalangi jalan Wei Zhang Zihan adalah seekor monster berwujud serigala bayangan.
Chu Kai juga melihat makhluk yang sangat besar tersebut. Dia segera turun dari kuda dan tersentak saat Wei Zhang Zihan dengan cepat melesat menyerang makhluk itu.
Serigala bayangan mempunyai tubuh besar setinggi dua meter dengan warna yang sangat hitam. Matanya berwarna hijau terang dan memiliki suara raungan yang keras.
!!
Wei Zhang Zihan tersentak melihat serangan datang dari raungan serigala bayangan itu. Dia pun memutar pedangnya dan hendak mengganti teknik berpedang ketika Chu Kai melesat mendahuluinya.
BLAAAAR...!
Serangan Chu Kai terdengar bagai sambaran petir. Serigala bayangan itu terkena serangan tersebut dan tubuhnya berubah menjadi asap hitam yang meledak.
Kaki Wei Zhang Zihan menapak di tanah dan ia pun menatap ke arah Chu Kai. Ekspresinya terlihat tenang, namun tatapan matanya jelas menunjukkan keterkejutan.
Chu Kai mengembuskan napas dan lantas menggeleng, "Perutku benar-benar sakit..."
"............" Wei Zhang Zihan sampai tidak tahu harus berkata apa. Dia melihat Chu Kai terus mengeluhkan perutnya sampai berkata sangat ingin muntah, namun tindakan pemuda ini barusan sungguh tidak terduga.
Apakah subjek ini tidak sadar bahwa ia baru saja merebut peran orang lain? Dia menyerang monster yang harusnya dikalahkan oleh Wei Zhang Zihan.
"Pendekar Wei, apa kau masih punya air?" Chu Kai sangat tidak tahu malu. Bahkan sepertinya ia tidak melihat jelas ekspresi Wei Zhang Zihan sekarang ini.
".............." Wei Zhang Zihan menarik napas dan kemudian berkata, "Bagaimana aku harus bicara padamu? Apa kau berpikir dengan menyerang makhluk itu dan semuanya selesai?"
"Lihat ke depan." Wei Zhang Zihan menatap lurus dan Chu Kai pun mengikuti arah pandangan matanya.
"Ini belum selesai," Wei Zhang Zihan buka suara. Dia memegang kuat pedangnya dan berkata, "Menyerangnya sekali tidak akan bisa menghabisi makhluk itu."
Chu Kai menyaksikan bagaimana asap hitam yang sebelumnya tersebar kini menyatu dan membantuku wujud serigala besar, sama seperti sebelumnya.
"Ba-bagaimana bisa?!" Chu Kai baru pertama kali melawan makhluk yang mempunyai wujud nyata, namun ketika diserang---makhluk itu sama sekali tidak meneteskan satu pun darah.
"Serigala Bayangan tercipta dari aura negatif yang ada di udara. Aura itu mirip seperti energi spiritual, namun berasal dari makhluk yang sudah mati." Wei Zhang Zihan menjelaskan.
"Makhluk yang sudah mati..."
"Itu bisa berasal dari binatang, manusia, atau bahkan tumbuhan. Hanya saja... Kebanyakan energi negatif lebih banyak terbentuk dari manusia dan pembantaian di kuil itu... Adalah salah satu penyebab kemunculan makhluk ini."
"Jadi serigala bayangan bukan dari jenis Binatang Iblis?"
"Mn, sulit mengalahkannya. Dia hanya bisa dimusnahkan dengan cahaya matahari. Tapi untuk melakukan itu, kita harus menahannya sampai matahari terbit."
Wei Zhang Zihan menyelimuti pedangnya dengan energi spiritual dan berkata, "Makhluk ini dapat melarikan diri dengan mudah. Ia bisa menghancurkan tubuhnya dan kembali menjadi asap hitam lalu menghilang di kegelapan, tapi kita tidak mengharapkan itu terjadi."
"Lalu apa yang harus kulakukan?" Chu Kai menatap sejenak ke arah Wei Zhang Zihan. Dia memperhatikan gerak-gerik monster di depannya dan tetap waspada.
"Apa kau belajar tentang segel?"
__ADS_1
Chu Kai menggeleng, "Aku diberikan kertas segel oleh murid Sekte Gunung Wushi, tapi itu hanya segel roh jahat. Dan cara menggunakan kertas segel itu pun sederhana karena hanya perlu dilemparkan. Apa itu akan berhasil?"
"Haaah... Kenapa kau bisa menjadi Pendekar Naga jika segel pun kau tidak mempelajarinya,"
!
Chu Kai tersentak, dia sampai tercengang mendengar gumaman dari Wei Zhang Zihan. Pendekar Suci yang terkenal tampan, penuh wibawa, dan tenang ini---bukankah baru saja merutukinya?!
"Pendekar Wei..."
"Tetap fokus dan lihat pergerakan makhluk itu." Wei Zhang Zihan mengeluarkan sesuatu dari kantong jubahnya.
Benda yang terbuat dari potongan bambu sepanjang jari telunjuk itu adalah sebuah kembang api. Wei Zhang Zihan menarik tali di ujung benda tersebut dan lesatan cahaya segera naik kemudian meledak di udara.
Suaranya keras dan sebuah kembali api tercipta. Wei Zhang Zihan pun berkata, "Aku sudah mengirimkan sinyal permintaan bantuan. Jika ada Pendekar Sekte Gunung Wushi di dekat tempat ini, maka mereka pasti akan segera datang."
"Jadi sebelum itu... Kita harus menahan monster ini dulu?" Chu Kai buka suara dan dijawab anggukan pelan oleh Wei Zhang Zihan.
"Pendekar Wei," Chu Kai menarik napas. "Aku memang belum mempelajari tentang segel dan sejenisnya, tapi jika Pendekar Wei sendiri bisa membuat penghalang seperti yang biksu itu lakukan untuk setidaknya mengurangi pergerakan monster ini... Maka aku dapat menahannya sampai bantuan datang,"
"Mn, baiklah. Ayo lakukan," Wei Zhang Zihan melesat. Di udara, dia mengeluarkan empat kertas segel dan melemparkannya.
Kertas segel itu terbang ke-empat arah dan menciptakan dinding energi spiritual yang mengurung serigala bayangan. Wei Zhang Zihan perlahan turun dan terlihat menggunakan pedangnya untuk mengendalikan dinding dari energi spiritual itu.
Grrrr
Serigala bayangan yang dihadapi oleh Wei Zhang Zihan menunjukkan reaksi yang seakan tidak menyukai situasinya saat ini. Binatang itu menggeram sebelum akhirnya melesatkan serangan yang luar biasa dahsyat.
Segel Wei Zhang Zihan yang baru saja dibuat dan belum berhasil dikendalikan dengan baik hampir saja hancur. Beruntung Chu Kai segera melesat dan menahan sebagian besar dari serangan makhluk menyeramkan itu.
"Teknik berpedang, Sambaran Lingkaran Petir!" Chu Kai menggunakan teknik berpedang ketika serigala itu ada dalam jangkauannya. Serangan petir yang ia lesatkan membentuk lingkaran besar dan menyambar ke tubuh serigala bayangan tersebut.
!!
Wei Zhang Zihan yang mengontrol dinding spiritual agar tidak pecah nampak kewalahan. Ini dikarenakan efek serangan Chu Kai terlalu kuat, bahkan dirinya harus mengalirkan energi spiritual ke telapak kaki agar tidak jatuh akibat getaran pada tanah karena serangan pemuda itu.
"Kai! Bisakah kau lebih mengendalikan kekuatanmu? Serangan semacam itu terlalu banyak menghabiskan energi spiritual," Wei Zhang Zihan buka suara. Dia berkata, "Matahari masih lama untuk terbit. Tenagamu akan banyak terkuras jika kau menyerang seolah ini detik-detik terakhir,"
"Hah?" Chu Kai mengerutkan kening, terlihat kebingungan. "Tapi yang tadi itu teknik berpedang paling lemah yang kumiliki. Aku tidak banyak menggunakan tenaga. Serius, apa efeknya sekuat itu?"
"Apa kau bilang?" Wei Zhang Zihan tidak terlalu bisa mendengar ucapan Chu Kai karena suara geraman dari serigala bayangan itu kembali muncul.
Chu Kai pun mengambil jarak, sedikit dekat dengan Wei Zhang Zihan sebelum akhirnya mulai buka suara.
Chu Kai pun berkata, "Serangan tadi itu... Aku memakai tenaga normal yang sudah biasa kupakai. Apa masih terlalu kuat?"
Wei Zhang Zihan tersentak, begitu pun dengan Chu Kai yang menatapnya. Mereka berdua seperti memiliki sesuatu dalam pikiran masing-masing saat serigala bayangan mulai mengeluarkan cakarnya.
Chu Kai menatap serigala itu yang hendak menerkamnya. Dia pun mengayunkan pedang dan melesat menerjang kembali menggunakan teknik berpedang, hanya saja kali ini serangannya tidak berunsur elemen petir seperti sebelumnya.
******
__ADS_1