LAHIRNYA PENDEKAR NAGA

LAHIRNYA PENDEKAR NAGA
119 - Bagian Paling Dalam Makam


__ADS_3

Chu Kai melesat lebih dulu, ia melakukan seperti yang diarahkan oleh Wei Zhang Zihan. Pedang di tangannya memotong benang spiritual dan membuatnya terputus. Hanya saja dalam waktu sepersekian detik, benang itu kembali terhubung dan ini membuat Chu Kai tersentak.


"Pendekar Wei, aku bisa memotongnya tetapi benangnya terhubung lagi. Bagaimana ini?!" Chu Kai buka suara sambil menghindari salah satu mayat hidup yang menyerangnya.


Chu Kai membutuhkan saran, namun melihat situasi Wei Zhang Zihan---jelas pemuda itu tidak bisa mendengarnya. Ia pun berusaha berpikir dan kali ini mempercepat gerakannya.


Benang-benang itu kembali terpotong, namun jarak Chu Kai dengan Wei Zhang Zihan semakin menjauh. Di sisi lain, Wei Zhang Zihan mulai tidak terlihat sebab dikerumuni oleh banyak sekali mayat hidup.


"Pendekar Wei..!" Chu Kai berseru. Rencana ini sangat buruk sebab para mayat hidup itu terus saja bergerak ke arah Wei Zhang Zihan. Dia merasa bahwa jika ini terus terjadi, Pendekar Suci dari Sekte Gunung Wushi itu akan tiada.


"Pendekar Wei..!"


Tepat saat Chu Kai memanggil Wei Zhang Zihan, tiba-tiba saja angin kejut muncul dan melempar semua para mayat hidup itu. Chu Kai spontan menancapkan pedangnya sebagai pembantu penyeimbang agar tidak sampai terlempar karena kekuatan angin ini.


Chu Kai berusaha melihat apa yang terjadi dan menyaksikan gelombang angin yang kuat datang dari sosok Wei Zhang Zihan. Dirinya yang mampu melihat warna energi spiritual begitu terpukau dengan apa yang ada di hadapannya sekarang.


Chu Kai melihat warna hijau keemasan pada energi spiritual yang bercampur dengan angin. Energi itu berputar dan membentuk gelombang dan sebagian di antara berkumpul di sekitar pedang Wei Zhang Zihan.


Tanpa sadar Chu Kai menahan napas. Dia bahkan tidak mau melewatkan satu detik pun untuk berkedip menyaksikan sesuatu yang sangat mengagumkan ini. Di hadapannya... Kemungkinan besar inilah kemampuan yang sesungguhnya dari seorang Pendekar Suci Wei Zhang Zihan.


Chu Kai melihat Wei Zhang Zihan mengangkat pedangnya dan hanya sekali lambaian, empat gelombang angin menerjang dengan sangat kuat, memisah-misahkan para mayat hidup itu hingga menjadi potongan kecil yang terlempar ke berbagai arah dan menjadi bercak hitam.


Suara yang dikeluarkan oleh gelombang angin itu pun benar-benar kuat sebelum akhirnya mulai memudar dan perlahan menghilang. Chu Kai terlihat mematung, seolah syok bercampur kagum dengan apa yang disaksikannya.


Dia mengedarkan pandangan ke sekitar dan kemudian bergegas menghampiri Wei Zhang Zihan saat yakin bahwa para mayat hidup itu tidak lagi dapat bergerak. Bahkan benang spiritual berwarna merah yang ia lihat pun nampak kesulitan untuk menyatukan potongan daging yang benar-benar tercincang sangat kecil itu.


"Pendekar Wei..." Chu Kai memperhatikan Wei Zhang Zihan dari atas hingga bawah dan lalu menggeleng pelan, "Kau mengagumkan! Sungguh. Aku sampai tidak tahu harus berkata apa. Kau luar biasa mengagumkan! Waah..."


"Ini pertama kali aku melihat kemampuanmu yang sebenarnya," Chu Kai berdecak kagum. "Aku seharusnya tidak mengkhawatirkanmu. Kau keren tahu..!"


Wei Zhang Zihan melihat ekspresi kagum Chu Kai padanya dan itu sama sekali tak membuat dirinya senang. Dia pun mengulurkan tangan dan langsung menjitak dahi pemuda bermata hijau alami di depannya, membuat Chu Kai spontan merintih.


"Dasar payah," Wei Zhang Zihan berjalan pergi dan nampak menyarungkan pedangnya.


Dia tidak menjelaskan apa pun pada Chu Kai, tapi yang terjadi sebenarnya adalah bahwa kekuatan yang ada padanya ini bukanlah teknik miliknya. Itu seolah muncul begitu saja di dalam dirinya dan Wei Zhang Zihan yakin bahwa ini berhubungan dengan gulungan yang ia buka di ruangan sebelumnya.


Wei Zhang Zihan melihat ke arah telapak tangan kanannya dan dia bisa melihat secara samar-samar ada angin halus yang seperti melingkari pergelangan tangannya. Dia tahu ada sesuatu yang berbeda dan itu harus segera diselidiki saat ia kembali ke Sekte Gunung Wushi.


"Pendekar Wei, tunggu! Kau tidak seharusnya meninggalkan aku," Chu Kai segera menyusul Wei Zhang Zihan dan berjalan di samping pemuda itu.

__ADS_1


Sambil mengusap-usap dahinya, Chu Kai baru akan buka suara ketika Wei Zhang Zihan bicara lebih dahulu.


Wei Zhang Zihan berkata, "Kau menitipkan Nalan Shu dengan siapa?"


"Pendekar Wei, kau tidak usah khawatir. Nona Nalan Shu dibawa oleh pendekar dari Sekte Tianzhi. Aku menyebutkan nama saudara Ruan Zhao Sheng dan pria itu berjanji akan menjaga nona Nalan dengan baik,"


"Apa kau memperingatinya untuk tidak melepas tali yang mengikat Nalan?"


"Mn, aku melakukannya."


Wei Zhang Zihan bisa sedikit bernapas lega mendengar ucapan Chu Kai. Saat ini, tali yang mengikat Nalan Shu tidak boleh dilepas. Gadis kecil itu masih belum memperoleh kesadarannya, bahkan setelah mereka berhasil mengalahkan anggota Sekte Bulan Mati.


"Pendekar Wei, sekarang kau akan ke mana?" Chu Kai buka suara. Dia bertanya, "Misi yanh kau dan nona Xia lakukan di tempat ini bukankah sudah selesai? Kita hanya diminta untuk mencegah anggota Sekte Bulan Mati merebut teknik terkuat di makam kuno itu dan kita berhasil melakukannya. Anggota sekte itu sudah dikalahkan, jadi apa kau masih ingin menjelajahi makam kuno ini?"


Tanpa menoleh ke arah Chu Kai, Wei Zhang Zihan berkata. "Bukankah kau sebelumnya melihat benang spiritual yang mengendalikan para mayat hidup itu? Mereka... Kemungkinan besar dikendalikan oleh salah satu anggota Sekte Bulan Mati."


!


"Bahkan saat semua pendekar memasuki makam, aku menyaksikan anggota Sekte Bulan Mati yang datang ada tiga orang dan kematian Feng Huang Lin pun belum bisa dianggap sebagai kemenangan."


"............." Chu Kai memikirkannya. Sebelum dia bertemu Wei Zhang Zihan, dirinya sudah lebih dulu bertemu salah satu anggota Sekte Bulan Mati dan mengalahkannya. Sekarang dengan Feng Huang Lin, maka sudah ada dua anggota Sekte Bulan Mati yang berhasil dikalahkan.


Bila ucapan Wei Zhang Zihan benar bahwa sekte dari aliran hitam itu mengirim tiga anggota perguruannya kemari, maka masih ada satu orang dari Sekte Bulan Mati yang harus mereka kalahkan.


Makam kuno yang dimasuki oleh Chu Kai memang sangatlah luas dan mempunyai banyak sekali ruangan. Namun di antara tempat-tempat itu, ada sebuah lokasi yang dapat dikatakan adalah tujuan utama para pendekar datang.


Tempat itu merupakan ruangan yang luas dan di kelilingi oleh api. Kobaran api yang tidak pernah padam itu melindungi sebuah pintu besar yang di dalamnya terdapat tugu dimensi.


Siapa pun akan kesulitan melintasi kobaran api tersebut meskipun dapat terbang. Hanya saja di antara api ini ada yang tidak terasa panas dan itulah jalan menuju pintu besar. Siapa pun yang hendak melintasinya harus mencari jalur yang benar.


Chu Kai dan Wei Zhang Zihan sama sekali tidak menyangka bahwa jalan yang mereka lalui akan mengarah sampai ke ruangan di mana kobaran api ini berasal. Dan saat melihat sekitar, rupanya tidak hanya mereka yang hadir tetapi juga beberapa pendekar dari sekte lain.


"Pintunya terlihat sedikit terbuka! Sepertinya sudah ada orang yang berhasil masuk ke dalam sana." seorang pendekar berseru dan membuat Chu Kai mendengarnya.


Pemuda bermata hijau alami itu mengerutkan kening dan di antara kobaran api yang ada... Dia memang melihat sebuah pintu besar yang sedikit terbuka.


"Siapa yang berhasil masuk ke sana?" Chu Kai buka suara dan membuat seorang pendekar menatap ke arahnya.


Pendekar berpakaian merah itu berkata, "Kau pasti pernah mendengar namanya. Dia adalah Pendekar Shuang Shu Chen dari Sekte Menara Rufeng. Dia adalah pendekar terbaik-! Pendekar Wei Zhang Zihan?!"

__ADS_1


Chu Kai kaget dengan seruan pria ini yang sangat tiba-tiba. Wei Zhang Zihan yang berada di sampingnya menoleh karena ada yang memanggil namanya dengan nada penuh keterkejutan. Pendekar yang lainnya pun mulai memperhatikannya.


"Benar. Itu Pendekar Suci Wei Zhang Zihan..!"


"Dia benar-benar nyata. Aku tidak percaya akan bisa melihatnya secara langsung dan sedekat ini."


"Waah..."


Chu Kai berkedip. Padahal Wei Zhang Zihan yang berada di sampingnya memakai pakaian berwarna putih dengan simbol merah karena darah, penampilan yang jelas tidak bagus tapi entah mengapa orang-orang justru memuji.


Chu Kai memperhatikannya dengan saksama dan memang pemuda ini mempunyai pesona pada wajah tampannya, bahkan pakaiannya yang kotor itu sama sekali tidak membuat wibawanya hilang. Wei Zhang Zihan masih sangat sempurna.


"..........." Chu Kai mengembuskan napas pelan dan kemudian melepas pakaian luarnya. Dia pun menyerahkannya pada Wei Zhang Zihan dan membuat pemuda itu menatap ke arahnya.


"Apa yang kau lakukan?" Wei Zhang Zihan mengerutkan kening.


"Pakailah, Pendekar Wei. Aku tidak tega melihatmu seperti itu," Chu Kai menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan lantas mulai mengambil satu langkah. Dia memperhatikan api yang berkobar tanpa henti di depannya.


Wei Zhang Zihan melihat jubah hitam pemberian Chu Kai yang ada di tangannya dan lantas menarik napas. Dia pun memakai jubah tersebut dan kemudian juga ikut mengambil satu langkah.


Chu Kai menatap salah satu pendekar dan lantas buka suara. Dia bertanya, "Apa ada yang melihat cara pendekar Shuang Shu Chen melewati kobaran api ini?"


"Aku melihatnya dan beberapa pendekar yang lain juga. Tapi saat dua orang pendekar mencoba melewati jalan yang serupa, mereka tiba-tiba saja terbakar dalam kobaran api dan tewas begitu saja."


Wei Zhang Zihan, "Apa tidak ada di antara kalian yang berada praktiknya berada di tingkat pembentukan elemen?"


"Ada beberapa, tapi mereka tidak sanggup untuk mengatasi panas dari kobaran apinya." seorang pendekar menjawab.


"Pendekar Wei," Chu Kai menoleh dan berkata. "Apa kita harus ke sana?"


Chu Kai bernapas pelan dan melanjutkan, "Sebenarnya aku sudah memperhatikannya baik-baik dan sepertinya tidak ada jalan untuk kita ke pintu besar itu kecuali memadamkan apinya,"


Salah satu pendekar mendengar ucapan Chu Kai dan kemudian berkata, "Itu mustahil dilakukan. Kobaran api ini sudah ada sejak lama dan tidak pernah padam. Di antara api ini sebenarnya ada yang tidak panas, namun mengetahuinya pun tidak akan mengubah apa pun. Orang-orang takut untuk mencoba, apalagi setelah melihat dua orang tewas terbakar di dalamnya."


"Ada api yang tidak panas?" Chu Kai melihat kembali ke arah lautan api di hadapannya. Dia mungkin bisa mencari sebuah petunjuk, sama seperti saat ia melihat benang energi spiritual yang mengikat para mayat sebelumnya.


Chu Kai memfokuskan pada inderanya, hanya saja dibandingkan dengan penglihatan---justru indera pendengarannya yang menangkap suara aneh. Dia mengerutkan kening saat mendengar napas yang seperti bukan milik manusia dan itu membuatnya melebarkan mata.


"Di-di bawah kobaran apinya... Ada monster!"

__ADS_1


!!!


******


__ADS_2