
"Ini membuatku penasaran," Tetua Fang Tie Zhu memperhatikan Chu Kai dengan saksama dan lalu bertanya, "Bagaimana kau bisa tahu tentang hal semacam itu?"
"Bukit Bunga Persik sangat terkenal dan sejarah tentangnya... Siapa pun mustahil tidak mengetahuinya. Dan di samping itu semua... Aku ini sangat menggemari para pendekar, jadi tentu saja harus tahu beberapa hal." Chu Kai beralasan.
Tetua Fang Tie Zhu meminum arak yang ada di cawan keramik sebelum mengangguk pelan. Dia pun berkata, "Pendekar itu adalah murid terbaik dan paling berbakat di antara para anggota Bukit Bunga Persik. Di usia yang sangat muda, dia telah menjadi sosok penting dan berpengaruh."
Tetua Fang Tie Zhu menarik napas, "Sayangnya pendekar ini mempunyai satu kelemahan. Dia terlalu kuat,"
!!
Chu Kai tersentak, "Bagaimana bisa itu disebut kelemahan?"
"Terlalu kuat dan tidak seorang pun yang pernah menang darinya justru membuat pendekar itu ditakuti. Ada banyak yang cemas pada kekuatannya dan ada yang merasa terancam. Mereka perlu mengendalikan pendekar tersebut,"
Chu Kai menjadi tegang, dia memperhatikan subjek di hadapannya dengan saksama. Tetua Fang Tie Zhu kembali melanjutkan, "Karena mempunyai kekuatan yang tidak tertandingi, maka banyak cara dilakukan oleh para petinggi sekte lain, termasuk dari Bukit Bunga Persik sendiri untuk mengendalikan pendekar itu."
"Bisa dibayangkan bagaimana rasanya saat orang-orang yang sebelumnya mengagumimu kini berbalik menyerang dengan alasan takut kau yang bertambah kuat." Tetua Fang Tie Zhu menurunkan sedikit pandangannya dan kembali berujar, "Selain itu... Dia adalah sosok yang tidak pernah melepaskan lawannya."
Tetua Fang Tie Zhu menatap Chu Kai dan berkata, "Cara bertarung pendekar itu sangat brutal bahkan tidak bisa dibandingkan dengan aliran hitam. Ini bukan karena dia sosok yang jahat, tapi karena teknik berpedangnya sulit ditaklukkan siapa pun. Orang-orang yang pernah melawannya hanya akan berakhir dengan tubuh yang tidak bisa dikenali,"
Chu Kai menelan ludah, dia sedikit gugup saat bertanya. "Apa... Pendekar itu tidak merasakan sesuatu saat mengambil nyawa orang lain?"
Nada suara Chu Kai pelan saat berkata, "Aku saja... Selalu merasakan sakit setiap kali harus memukul orang lain. Saat harus mengayunkan pedang melawan mayat hidup... Rasanya seperti ada batu besar yang menghantam pundakku,"
"Kau tidak bisa sembarangan mengambil nyawa makhluk lain," Tetua Fang Tie Zhu berkata. "Mereka mempunyai aura negatif yang bisa mempengaruhi jiwamu. Semakin banyak kau membunuh, maka jiwamu akan makin tercemar hingga kau melupakan dirimu sendiri."
"Aura negatif itu disebut Aura Pembunuh," Wei Zhang Zihan buka suara. Dia menatap Chu Kai dan menjelaskan, "Jika semakin banyak kau membunuh, maka aura ini akan semakin pekat. Aura ini berdampak buruk karena mampu merusak mental, jadi sebisa mungkin pendekar yang bertarung menghindari membunuh lawan mereka."
"Tapi Pendekar Wei, aku pernah melihatmu menghabisi banyak mayat hidup. Jadi bagaimana kau bisa menjelaskan ini?" Chu Kai menatap pemuda di sampingnya.
Wei Zhang Zihan menjawab, "Aura Pembunuh bisa diubah menjadi Aura Pendekar melalui beberapa metode dan salah satunya adalah Pembersihan Iblis Hati. Namun meski tahu hal ini, ada baiknya selalu bertindak hati-hati dan mengendalikan diri."
"Pembersihan Iblis Hati... Bukankah itu hanya bisa dilakukan jika berada di Tingkat Kultivasi Shíjiǔ?" Chu Kai bertanya kembali.
"Teknik Pembersihan Iblis hati mempunyai tiga tahapan dan yang melakukannya di tingkat Shíjiǔ adalah yang paling tinggi. Apa kau tidak pernah belajar melakukan teknik pembersihan iblis hati?" Wei Zhang Zihan menatap pemuda bermata hijau yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Pendekar Wei, kau sendiri tahu bahwa aku lebih banyak bertualang bersamamu di luar sekte daripada tinggal dan belajar bersama para tetua yang ada di sana. Kau harusnya lebih tahu ini..." Chu Kai sedikit cemberut.
"Lalu apa saja yang kau lakukan selama setengah tahun terperangkap dalam gua makam kuno itu?"
Tatapan tajam Wei Zhang Zihan membuat Chu Kai tersentak. Pemuda bermata hijau alami itu berkedip beberapa kali dan kemudian tersenyum. Chu Kai menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan terlihat tertunduk malu.
Melihat tingkah konyol pemuda ini membuat Wei Zhang Zihan berdecak dan menggeleng pelan. Ketenangannya benar-benar diuji jika bersama dengan seonggok makhluk ini.
*
*
Chu Kai, Wei Zhang Zihan, dan Tetua Fang Tie Zhu tidur di kedai yang juga memiliki fasilitas untuk menginap.
Mereka menyewa masing-masing satu kamar di mana Wei Zhang Zihan yang membayar semuanya, termasuk hidangan yang disantap Tetua Fang Tie Zhu.
Setelah membersihkan diri, Chu Kai pun berbaring di sebuah tempat tidur. Dia mengingat pembicaraannya dengan Tetua Fang Tie Zhu.
"Pendekar yang membantai seluruh anggota sektenya..." Chu Kai bergumam sambil menatap langit-langit kamarnya.
"Ada di antara anggota Bukit Bunga Persik yang lebih dulu meninggalkan sekte itu sebelum tragedi berdarah. Mereka bergabung dengan sekte lain dan yang terkenal adalah Sekte Wuya serta Paviliun Yù Jiàn."
Chu Kai menarik napas kala teringat ucapan Tetua Fang Tie Zhu. Dia memejamkan mata sejenak sebelum kembali memandang langit-langit kamarnya.
Dikarenakan memiliki Pedang Pendekar Naga, maka secara tidak langsung Chu Kai mempunyai hubungan dengan Bukit Bunga Persik. Belum lagi fakta bahwa ia telah melihat masa lalu dari pemilik pedang pendekar naga dan mempelajari Teknik Seribu Pedang.
Dirinya jelas tidak bisa mengabaikan tentang hal ini, termasuk jika memperlihatkan teknik ini... Dia akan diincar oleh Sekte Wuya dan Paviliun Yù Jiàn.
"Aku harus bertambah kuat, tapi tidak boleh terlalu mencolok." Chu Kai bernapas pelan, "Ini mungkin akan berat. Apalagi sejauh ini... Hanya dengan sebutan Pendekar Naga saja, sudah banyak yang mengincarku."
Chu Kai perlahan menutup matanya dan tidak lama dia puj tertidur. Kedai yang ia tempati sangat sunyi.
Malam itu terasa menenangkan. Tetapi hal yang tidak terduga adalah saat Chu Kai berbalik, dia pun tercebur ke dalam danau yang airnya sangatlah dingin.
!!!
__ADS_1
Chu Kai jelas sangat syok. Dia terbatuk karena beberapa air masuk ke tenggorokannya dan tubuhnya pun terasa sangat dingin. Dia terlihat mengusap wajah dan mulai memperhatikan sekitarnya.
Tempat ini merupakan sebuah danau yang luas dengan rerumputan serta bebatuan di sekelilingnya. Chu Kai menengadah dan menyaksikan sebuah dahan pohon yang cukup besar. Dari dahan itulah ia terjatuh dan tercebur ke dalam air.
Baru saja akan buka suara, Chu Kai pun mendengar suara seorang pria yang tak lain adalah Tetua Fang Tie Zhu. Pria bertubuh besar itu bersandar di salah satu dahan pohon sambil memegang sebuah botol labu.
"Apa sekarang kau sudah bangun?" Tetua Fang Tie Zhu tersenyum lebar ke arah Chu Kai.
"Tetua Fang, aku.... Ba-bagaimana bisa sampai di tempat ini?"
"Tentu saja aku yang membawamu," Tetua Fang Tie Zhu melompat turun, kakinya menapak di air.
Sambil berjongkok di depan Chu Kai, Tetua Fang Tie Zhu berkata. "Bukankah kau ingin belajar Teknik Pernapasan Matahari dariku? Ini saat yang sesuai untuk melakukannya,"
Chu Kai menelan ludah. Dia tidak tahu harus berkata apa pada pria di hadapannya. Suasana di sekitarnya memang sudah pagi, tapi yang tidak disangka adalah bahwa dirinya bahkan tak menyadari sudah berada di tempat asing ini.
"Di mana Pendekar Wei?" Chu Kai mencari keberadaan Wei Zhang Zihan, namun pendekar suci itu tidak berada di tempat ini.
"Dia akan segera kemari, kau tidak perlu mencarinya. Sekarang sebaiknya kau naik,"
"Aku tidak tahu lagi. Tetua Fang suka bertindak seenaknya," Chu Kai berusaha berdiri di atas air. Seluruh tubuhnya basah dan rasa dingin dari air danau ini seakan menembus hingga ke tulangnya.
Tetua Fang Tie Zhu mengulurkan tangan dan menyentuh dahi Chu Kai dengan dua jarinya. Dia membuat pemuda bermata hijau alami itu tersentak sekaligus merasakan perasaan hangat yang datang begitu tiba-tiba.
!!!
"Tetua Fang. Ini...." Chu Kai terkejut, dia menatap pria di hadapannya dan kemudian menyentuh dahinya. Apa yang diberikan pria di hadapannya adalah pengetahuan tentang Teknik Pernapasan Matahari.
"Jangan terlalu terkejut, itu hanya pengetahuan dasar agar kau bisa mengikuti bimbingan dariku. Sekarang bersiap dan atur posisi," Tetua Fang Tie Zhu memberikan perintah. Dia menatap Chu Kai dan kembali buka suara.
Tetua Fang Tie Zhu berkata, "Aku bukan tipe orang yang suka memberi penjelasan. Jadi kau hanya perlu mengikuti gerakanku tanpa banyak bertanya, kau mengerti?"
"Ba-baik," Chu Kai menarik napas dan kemudian mengembuskannya perlahan. Dia menyaksikan Tetua Fang Tie Zhu melesat dan menapak di tengah-tengah danau, dirinya pun mengikuti pria tersebut dan mulai berlatih Teknik Pernapasan Matahari.
".................."
__ADS_1
Chu Kai mengikuti setiap gerakan Tetua Fang Tie Zhu walau sejujurnya ada beberapa pertanyaan yang ingin ia sampaikan. Apa yang dilakukannya jelas merupakan sebuah gerakan bertarung, padahal harusnya untuk belajar teknik pernapasan tidak seperti ini. Kening Chu Kai mengerut, rasanya ada yang salah dari apa yang ia lakukan sekarang.
******