
PERHATIAN..!
Narasi dengan mode italic adalah bagian dari ilusi. Dan episode ini mengandung adegan kekerasan yang tidak pantas ditiru. Bijaklah dalam membaca! Serta terima kasih sudah mampir^^
*
*
Chu Kai tidak tahu di mana dirinya sekarang ini. Dia yakin sebelumnya masih berada di dalam gua makam kuno bersama Wei Shezi. Lalu langit-langit di atasnya runtuh dan sejak saat itu pandangannya menjadi gelap.
Tidak ada rasa sakit, hanya saja ketika membuka mata---dia telah berada di tempat ini. Dengan langit yang tertutup awan merah dan suasana di sekitarnya yang begitu mencekam, dipenuhi oleh kabut yang membuatnya tegang.
Chu Kai mengedarkan pandangan. Di balik kabut, terdapat pilar-pilar berjejer rapi dengan ukiran naga dan phoenix. Ada mayat manusia yang terikat pada setiap pilar dan dalam kondisi yang sangat mengerikan.
Saat berjalan, Chu Kai menyaksikan tangga yang terbuat dari batu putih. Sebuah singgasana ada di bagian paling atas dari tangga tersebut dan ada reruntuhan bangunan besar di belakangnya.
"Tempat... Apa ini sebenarnya?" Chu Kai baru akan memikirkannya saat mendengar suara seseorang yang terbatuk dan dia pun berbalik. Matanya melebar kala melihat ada seorang pria berlutut dan dengan tubuh yang penuh luka, dia memuntahkan darah.
!!!
Chu Kai tanpa sadar menahan napas, detakan jantungnya sangat cepat saat sosok tersebut menengadah, menatapnya dengan penuh amarah. Pria ini nampak berusia 45 Tahun, memiliki wajah yang tegas, tetapi sekarang kondisinya sama sekali tidak baik-baik saja.
"Apa... Yang kau inginkan sebenarnya?!"
Chu Kai terkejut. Suara berat pria itu membuat dirinya tegang. Dia sama sekali tidak mengenal orang ini, dan lagi.... Bukankah sebelumnya hanya ada dirinya sendiri di tempat ini?
"Hmph, apa yang kuinginkan?"
Chu Kai mendengar suara asing yang lain. Dia merasakan sekujur tubuhnya dingin kala seseorang berjalan dari arah samping kanannya. Kibaran jubah hitam terlihat dan sosok tersebut meraih leher pria asing yang terluka parah itu.
Chu Kai pun menyadari bahwa pria tadi tidak bicara padanya, tetapi bicara pada orang asing ini. Dan perasaan di tubuhnya muncul karena dia mulai memahami bahwa sekarang... Apa yang dilihatnya tidak lebih dari sebuah ilusi.
"Benar, ini ilusi. Ilusi yang tercipta dari ingatan seseorang, tapi siapa..?" Chu Kai bertanya-tanya. Dia bernapas pelan dan berusaha menerima fakta mengenai keberadaannya sekarang.
"Kau bertanya... Apa yang kuinginkan..."
Chu Kai mendengar sosok berjubah hitam itu bicara. Dari suara yang terdengar dan postur tubuh orang ini... Jelas bahwa dia adalah seorang pria. Chu Kai memberanikan diri untuk berjalan lebih dekat dan hendak melihat wajah dari subjek di hadapannya.
Sebuah seringai terbentuk di wajah yang sangat menawan tersebut. Dia menatap pria yang lehernya dicengkeram kuat itu dan berkata, "Aku hanya ingin menghancurkanmu. Kau menghalangi jalanku,"
!!
Cengkeraman kuat itu dilepaskan dan pria yang sudah terluka parah tersebut kembali terbatuk darah. Sosok berjubah hitam itu menatap darah di jari tangannya dan dengan ekspresi wajah yang tenang.
"Tetua, bukankah kau mengatakan bahwa impian itu harus diwujudkan? Kenapa saat aku ingin mewujudkan impianku... Kau justru menghalangiku. Lihatlah, karenamu... Banyak orang yang kehilangan nyawa mereka."
"SHUXIANG..!"
Sebuah teriakan terdengar disertai bunyi rantai. Seorang pria terikat di salah satu pilar. Chu Kai mengedarkan pandangannya kembali dan dia pikir semua yang terikat di pilar-pilar itu adalah mayat, siapa yang akan menyangka beberapa di antara mereka masih hidup.
Pria yang terikat dengan luka tebasan pada sebelah mata dan dadanya itu berteriak. "Kau memiliki impian menghancurkan dunia, bagaimana mungkin tidak kami hentikan?!"
__ADS_1
"Menghancurkan dunia? Bagaimana bisa aku melakukan itu, Senior?" pemuda berjubah hitam itu tersenyum. Dia berjalan ke arah pria yang disebutnya sebagai 'Senior' dan lantas kembali bicara.
"Aku hanya ingin membuat dunia ini damai, tanpa peperangan. Namun kalian sudah menghalangi jalanku, aku pun tidak punya pilihan selain melawan."
"Apa... Dengan membuat dunia damai... Kau membunuh semua kultivator?!" seorang wanita yang terikat pada salah satu pilar ikut berseru. Napasnya tidak beraturan dan kondisinya pun tidak jauh lebih baik daripada pria yang juga terikat di sampingnya.
"Karena orang-orang seperti kalian-lah... Dunia tidak pernah damai. Perbedaan aliran hitam dan putih menimbulkan perselisihan yang menciptakan peperangan. Dengan menghabisi mereka, bukankah dunia akan menjadi damai?"
"Kau gila," wanita itu berseru. "Tidak seperti ini caranya menciptakan perdamaian! Hah, kau hanya membual. Pada akhirnya kau melakukan ini untuk membalas kehancuran sektemu, iya kan?!"
"Kau hanya membuat perhitungan-ukh, buktinya kau melepaskan sekte yang lain! Sebenarnya... Apa yang sudah kami lakukan padamu?! Bukit Bunga Persik tidak pernah menindasmu selama ini..!" wanita itu menahan rasa sakit di tubuhnya dan berusaha untuk bicara.
Chu Kai melihat ekspresi wanita tersebut yang mengandung amarah, kekecewaan dan kesedihan secara bersamaan. Wanita itu pun kembali berkata, "Ingatlah bahwa Shizun yang sudah memberimu kehidupan. Menyelamatkan dan mendidikmu hingga sekarang. Kau justru... Tidak menghargai kebaikannya..!"
"Cerewet,"
!!!
Chu Kai terkejut bukan main. Pemuda dengan jubah hitam yang dilihatnya hanya sedikit menggerakkan tangan dan tubuh wanita yang terikat tadi langsung terbelah, terpotong hingga menjadi beberapa bagian.
Sosok ini... Wajahnya saja yang begitu menawan, tetapi tindakannya benar-benar sangat kejam. Dia sungguh tidak menyangka akan melihat manusia yang tidak memiliki rasa belas kasihan seperti ini.
"SHUXIANG...!!" pria yang hanya bisa melihat dengan satu mata itu pun berteriak. Amarah terlihat jelas di wajahnya yang tegas.
"Senior Huan, kau tenang saja. Kau juga akan mati, tapi aku tidak suka membunuh dengan cara yang sama. Tunggulah... Akan kupikirkan cara kematian yang paling indah untukmu,"
"SHUXIANG..! Manusia... Macam apa kau sebenarnya?!"
"Apa kalian... Tidak tahu alasan sebenarnya dari apa yang kulakukan ini?" pemuda berjubah hitam itu kembali bertanya. Dia berjalan ke salah satu pendekar yang terikat di pilar besar dan lantas mengulurkan tangan.
Chu Kai menyaksikan bagaimana sosok itu mencengkeram leher pria yang memiliki luka tebasan di lengannya tersebut. Dia terbelalak saat pria berjubah hitam itu menancapkan jarinya ke dalam leher pria di hadapannya dan menarik sesuatu dari sana. Teriakan tertahan, namun begitu menakutkan membuat makin tegang.
"Apa... Semua ini karena sektemu?"
Chu Kai tersentak saat mendengar suara yang pelan itu. Dia menoleh dan tahu bahwa yang bicara barusan adalah pria yang dalam kondisi berlutut di lantai.
"Tetua, sekte yang kau bicarakan?" pemuda berjubah hitam itu tidak berbalik. Dia pun mematahkan tulang leher pria di depannya dan kemudian berkata, "Apa maksud Tetua... Sekte yang kalian serangan dengan bekerja sama dan para anggotanya yang dibantai habis?"
"Kau sendiri tahu bahwa sekte itu dikepung oleh kedua aliran. Bukit Bunga Persik sama sekali tidak terlibat di dalamnya..!" pria yang disebut Senior Huan itu pun angkat bicara.
Pemuda berjubah hitam yang masih berdiri dan kemudian merobek kulit wajah pendekar yang sudah mati di hadapannya itu pun mulai berkata, "Bukit Bunga Persik memang tidak terlibat, tapi bukan berarti kalian tidak bersalah."
Pemuda itu kembali berkata, "Berbohong adalah kejahatan, mencuri juga kejahatan, melakukan penindasan juga kejahatan, dan membunuh pun juga kejahatan. Tapi apa kalian tahu kejahatan yang paling besar? Itu adalah saat kalian hanya melihat tindak kejahatan, tetapi tidak melakukan apa-apa."
Chu Kai melihat sosok tersebut menengadah menatap langit merah di atas sana sebelum kembali mendengar bicara.
Pemuda berjubah hitam itu menghela napas, "Yaaah... 'Sekte itu hanya aliran hitam,' 'sekte itu bukan bagian dari kita,' 'orang-orang dari sekte itu memang pantas mati,' 'sekte itu...' 'sekte itu...' kalian terus menyebutnya 'sekte itu'. Apa di tempat tinggalku, semua orang di sana tidak pantas hidup, HAH?!"
!!
"Apa kultivator Aliran Hitam Bagi Kalian Bukanlah Manusia?!" pemuda berjubah hitam itu berseru, seolah mulai meluapkan kekesalannya selama ini.
__ADS_1
Dia berkata, "Perbedaannya hanyalah pada jalur kultivasi. Hanya karena itu dan kalian langsung menghinakan kami..!"
"Itu karena kalian memang pantas mendapatkannya!" seorang anggota Sekte Bukit Bunga Persik berseru. Dia berkata, "Kalian menculik, membunuh, menggunakan teknik terlarang yang tidak manusiawi hanya demi kekuatan. Dan karena hal itulah kalian pantas mendapatkannya!"
Pendekar tersebut melanjutkan. Dia menggunakan seluruh kekuatannya yang masih tersisa untuk bicara.
"Memang benar bahwa Bukit Bunga Persik tidak ikut dalam penyerangan Sekte Naga Langit milikmu, tapi Tetua-lah yang menemukan dan membawamu kemari."
Pendekar itu berkata, "Apa pernah Tetua menghinakanmu di tempat ini? Bahkan saat kau datang, tidak ada seorang pun yang diizinkan untuk memperlakukanmu berbeda dari yang lain. Kau bahkan mendapatkan pedang warisan leluhur sekte ini dan juga teknik berpedang dari Bukit Bunga Persik. Kau menjadi kebanggaan tempat ini dan apa balasanmu sekarang, Hah?!"
Pemuda berjubah hitam itu mengepalkan tangannya dan menatap sosok yang sudah bicara demikian. Dia mendengus dan kemudian berkata, "Terima kasih sudah mengingatkan setiap hutangku pada tempat ini. Jadi, bagaimana rasanya kecewa saat orang yang kalian besarkan rupanya adalah monster?"
!!!
"Hmph," pemuda berjubah hitam itu tersenyum. "Kau mengingatkan tentang nama sekteku, aku bahkan sudah melupakannya. Kukatakan hal itu karena sepertinya tidak akan menarik.. Jika kujawab bahwa alasanku melakukan ini semua... Hanya untuk bersenang-senang,"
"KAU..!!"
"SHUXIANG...!!"
"Lihat. Kalian marah, kan? Aku tidak ada niatan balas dendam. Aku hanya bersenang-senang. Rasanya... Sangat luar biasa saat menginjak harga diri dan kepala kalian, ha ha ha."
!!!
Chu Kai mengepalkan tangannya yang terlihat gemetar. Penglihatannya sekarang jelas. Di tempat ini, tidak hanya dua tiga orang yang dia lihat sedang berseru, meneriaki sosok bernama Shuxiang itu---tetapi ada banyak manusia.
Beberapa di antara mereka kehilangan salah satu organ tubuhnya, darah mengucur seolah memang sengaja agar sosok itu mati dengan cara kehabisan darah. Lainnya dililit oleh rantai besi yang panah, tidak punya pilihan selain berteriak kesakitan.
Lokasi Chu Kai berada merupakan sebuah sekte dengan bendera putih yang memiliki simbol bunga persik. Hanya saja sekarang bendera itu dalam keadaan koyak dan penuh bekas darah.
"Aku tidak pernah meminta untuk diajari teknik berpedang, aku juga tidak memohon untuk diberikan pedang leluhur sekte ini. Bukankah saat kecil aku selalu mengatakan... Bahwa kalian harus membunuhku?" pria berjubah hitam itu mematahkan salah satu kaki murid Bukit Bunga Persik hingga suara teriakan nyaring terdengar.
Pemuda menawan itu kembali berkata, "Anak yang kehilangan tempat tinggalnya dan melihat banyak manusia membantai keluarga serta teman-teman terdekatnya.... Tidak akan pernah percaya lagi pada kebaikan siapa pun."
"Sama seperti kalian yang tidak melihat para kultivator aliran hitam sebagai orang baik, maka aku juga demikian. Di mataku saat ini... Kalian semua tidak lebih dari pembunuh, jadi aku tidak akan pernah merasa bersalah menyiksa nyawa rendahan orang-orang seperti kalian."
Chu Kai entah sejak kapan menurunkan pandangan matanya. Tangan yang sebelumnya terkepal karena marah kini nampak mengendur.
Dia tahu benar bagaimana rasanya ditinggalkan sendirian. Itu jujur saja lebih menyakitkan daripada apa pun karena rasanya seolah-olah bahwa kita tidak dibutuhkan oleh dunia. Tapi meskipun demikian, ada hal yang tidak bisa Chu Kai terima dari tindakan orang ini. Sosok tersebut seharusnya menghargai hubungan barunya, bukan justru sebaliknya!
Pemuda berjubah hitam itu berjalan dengan tatapan lurus ke depan. Usianya sekitar 23 Tahun dengan tubuh yang lebih pendek dari Chu Kai. Dan jika saja dia tidak melihat betapa kejamnya subjek ini, maka Chu Kai pasti akan mengira bahwa pemuda tersebut adalah sosok bangsawan yang lemah lembut.
!!!
Chu Kai membeku ketika subjek berjubah hitam itu berjalan di sampingnya dan kemudian menaiki tangga. Jantungnya seakan berhenti sejenak, sebelum berpacu begitu kencang.
Chu Kai sampai tidak sadar menahan napas. Sesuatu seolah tersangkut di tenggorokannya saat dia mencerna apa yang dilihatnya barusan.
Itu... Pemuda tadi... Tersenyum ke arahnya!
******
__ADS_1