LAHIRNYA PENDEKAR NAGA

LAHIRNYA PENDEKAR NAGA
33 - Tekad (2)


__ADS_3

"Nona Nalan..!" seorang murid Sekte Gunung Wushi berseru ketika melihat Nalan Shu dibawa oleh musuh. Sayangnya meski mengejar, musuh sudah pergi jauh.


Murid itu terlihat sangat cemas dan kemudian mulai melesat mencari tetua atau Pendekar Suci lain yang berada di tempat terdekat. Dia harus segera memberikan kabar tentang Nalan Shu pada mereka.


Di sisi lain, pemandangan Kota Lianyi yang jika dilihat dari atas begitu kacau sekali. Apalagi pada beberapa titik terlihat kepulan asap dan kobaran api. Ada gedung-gedung yang sedang terbakar saat ini dan makin membuat warga kota semakin takut.


Jauh di tempat lain, Chu Kai menggendong Xia Ling Qing dan berusaha sekuat tenaga untuk membawa gadis yang terluka itu kembali ke Sekte Gunung Wushi. Chu Kai terlihat sangat khawatir, pasalnya tubuh Xia Ling Qing terasa semakin dingin dan bibir gadis ini mulai nampak biru.


"Nona Xia..! Tolong bertahanlah," Chu Kai mempercepat larinya. Dia menjadi takut jika sampai Xia Ling Qing terkena sebuah jarum beracun yang amat mematikan. Dia merasa tidak akan pernah bisa memaafkan diri sendiri jika sampai gadis ini mengalami luka yang parah.


Saat tiba di tangga utama Sekte Gunung Wushi, Chu Kai melihat anakan tangga yang cukup banyak. Ini pertama kalinya dia merasa jarak antara dirinya dengan Sekte Gunung Wushi begitu jauh.


Chu Kai menarik napas sebelum memeluk erat Xia Ling Qing. Dia kembali menggunakan Teknik Pernapasan Naga yang membuatnya dapat melesat secepat mungkin. Tidak butuh waktu lama sampai dia tiba di gerbang utama Sekte Gunung Wushi yang terlihat hancur.


"Tetua..!" Chu Kai memanggil-manggil dan seorang murid Sekte Gunung Wushi yang mendengarnya langsung bergegas ketika melihat Xia Ling Qing.


"Kai, apa yang terjadi dengan Nona Xia Ling Qing?!"


"Aku rasa dia keracunan,"


Murid Sekte Gunung Wushi terkejut, "Ayo bawa ke Paviliun Lixing. Cepat!"


Chu Kai mengikuti murid tersebut sambil tetap menggendong Xia Ling Qing. Dia sebenarnya terkejut dengan bagaimana kondisi Sekte Gunung Wushi yang berantakan, tetapi tidak ada waktu untuk bertanya. Keadaan Xia Ling Qing jauh lebih penting saat ini.


Saat Chu Kai berada di Paviliun Lixing, dia mendengar suara keributan dari dalam. Tidak butuh waktu lama sampai pintu paviliun terbuka keras dan beberapa pendekar berpakaian biru muda keluar.


"Yang ingin menyerang Sekte Bulan Mati, maka temui aku digerbang. Yang lain, kalian bisa membantu warga kota."


"Sekte Gunung Wushi bukanlah tempat di mana mereka seenaknya!"


Ada dua orang yang terlihat begitu penuh amarah. Mereka melesat lurus, sama sekali tidak melihat ke arah Chu Kai apalagi sampai menyadari bahwa digendongan pemuda itu ada Xia Ling Qing.


Chu Kai tentu saja merasa heran dengan para pendekar yang tadi, namun belum sempat buka suara---seseorang tiba-tiba berseru memanggil Xia Ling Qing.


"Nona Xia! Astaga, ada apa dengannya?!" murid Sekte Gunung Wushi itu terlihat cemas dan pemuda yang bersama Chu Kai pun menjelaskan secara singkat keadaan Xia Ling Qing.


Kedatangan Chu Kai bersama dengan seorang gadis di gendongannya membuat para murid Sekte Gunung Wushi yang ada di dalam ruangan nampak terkejut, termasuk Tetua Xia Feng Hua.


"Ling Qing'Er?!" Tetua Xia Feng Hua jelas kaget melihat kondisi dari putrinya saat Chu Kai mulai membaringkannya di atas sebuah tempat tidur.


"Kai, bagaimana ini bisa terjadi?" Tetua Xia Feng Hua bertanya dan membuat pria di sampingnya menggeleng pelan.


Chu Kai berkata, "Aku datang dan sudah menemukan Nona Xia terbaring di tanah. Dia sepertinya terkena racun,"


Yun Zhen yang juga berada di dalam Paviliun Pengobatan segera menghampiri Xia Ling Qing dan memeriksa denyut nadi gadis tersebut. Chu Kai memperhatikan ketika Xia Ling Qing mulai dirawat dan kemudian menurunkan pandangan matanya.

__ADS_1


Ada banyak pertanyaan di dalam benak Chu Kai saat ini. Dia menggigit bibir bawahnya sambil mengepalkan tangan. Pandangannya pun mulai mengarah ke sekitaran dan melihat cukup banyak murid Sekte Gunung Wushi yang terluka, walau sebagian besar hanyalah luka ringan.


Saat dia memastikan bahwa Xia Ling Qing benar-benar dirawat dengan baik---Chu Kai pun kembali berjalan keluar. Dia akan ke Kota Lianyi untuk melihat ayahnya.


*


*


Wei Zhang Zihan saat ini sedang membantu merawat warga Kota Lianyi yang sedang terluka bersama dengan para saudara seperguruannya. Dia sebenarnya mengalami luka dalam, namun masih bisa menahannya dan jauh lebih mengkhawatirkan kondisi warga kota.


Beberapa pendekar ada yang berusaha untuk memadamkan api yang masih berkobar, sebagian yang lain mengumpulkan tubuh warga yang sudah menjadi mayat. Suara tangisan dan lirihan karena rasa sakit serta kehilangan memenuhi Kota Lianyi.


Selain Wei Zhang Zihan, di tempat itu juga ada Tetua Zhang Lao. Pendekar rupawan dengan usia sekitar 36 Tahun tersebut juga terlihat memapah seorang pria tua dan perlahan membaringkannya. Murid Sekte Gunung Wushi segera memeriksa warga yang dibawa oleh Tetua Zhang Lao saat sebuah seruan terdengar.


"Tetua..! Tetua..!" seorang Sekte Gunung Wushi berlari dan menghampiri Tetua Zhang Lao, kehadirannya mengundang perhatian banyak orang termasuk Wei Zhang Zihan.


"Tetua,"


"Ada apa denganmu?" Tetua Zhang Lao melihat pemuda di hadapannya terengah-engah dan dengan penampilan yang cukup berantakan. Jelas saja bahwa pendekar di hadapannya sudah mengalami banyak kesulitan.


"Tetua Zhang," murid tersebut berusaha untuk mengatur napas. Dia pun berkata, "Nona Nalan. Nona Nalan Shu dibawa pergi oleh orang yang menyerang kota ini..!"


Tetua Zhang Lao dan para murid Sekte Gunung Wushi yang ada di tempat tersebut jelas saja kaget. Bahkan Wei Zhang Zihan pun sampai menoleh kala mendengar bahwa Nalan Shu telah dibawa pergi oleh musuh.


Murid itu melanjutkan dengan napas yang terburu-buru, "Saya melihatnya sendiri. Nona Nalan diculik. Sa-saya tidak bisa mengejarnya, Tetua."


"Tapi, Tetua. Nona Nalan..."


"Jika mereka membawa Nalan Shu pergi, maka musuh pasti menginginkan sesuatu darinya. Aku yakin dia tidak akan dihabisi, kau tidak perlu khawatir."


Wei Zhang Zihan yang berada tidak jauh dari Tetua Zhang Lao mendengar ucapan tersebut dan sebenarnya setuju. Hanya saja yang membuat ekspresi wajahnya rumit adalah karena menurut sepengetahuannya--Nalan Shu bukanlah orang yang mudah kalah seperti ini.


Satu-satunya hal yang memungkinkan kenapa Nalan Shu bisa sampai tertangkap adalah karena musuh menggunakan cara licik mereka. Apalagi jika dia ingat bahwa lawan yang sedang mereka hadapi merupakan anggota dari Sekte Bulan Mati.


Saat Wei Zhang Zihan hendak berdiri, suara seruan kembali terdengar dan seseorang bergegas masuk. Dia tidak menyangka bahwa yang datang kali ini adalah Chu Kai dan pria itu terlihat memanggil-manggil ayahnya.


"Ayah!" Chu Kai mengedarkan pandangan dan meraih lengan seorang pemuda. Dia bertanya, "Apa kau melihat ayahku?"


"Ayahmu? Ma-maaf, tapi aku tidak tahu-"


"Apa kau melihat ayahku?" Chu Kai bertanya pada orang lain, namun jawaban yang dia dengar tetap sama. Dia pun bergegas dan melihat satu per satu warga yang terluka sambil memanggil ayahnya.


"Ayah..! Jing Hao..!" Chu Kai menahan beberapa orang lagi sebelum dia mendengar suara seseorang yang memanggilnya.


"Pendekar Chu Kai..! Di sini..!"

__ADS_1


?!


Chu Kai bergegas saat mendengar suara itu dan sampai pada sebuah tempat dia mana beberapa orang terbaring beralaskan tikar jerami. Warga kota ini terluka dan mereka berusaha dirawat dengan sungguh-sungguh walau murid Sekte Gunung Wushi yang ada tidak terlalu banyak.


"Ayah..!" Chu Kai menghampiri salah satu murid Sekte Gunung Wushi yang sedang merawat Chu Tian. Dengan rasa khawatir, dia meraih tangan ayahnya yang dingin.


"Ayah?" suara Chu Kai kecil, terdengar terisak. "Ayah, ini salahku. Aku tidak bisa menjagamu. Ayah, ayah.."


Wajah Chu Tian terlihat sangat pucat dan ada banyak luka di tubuhnya. Bekas darah masih ada di bibirnya dan itu membuat Chu Kai merasakan sakit di dada. Dia menatap murid Sekte Gunung Wushi yang merawat ayahnya dan berkata, "Ba-bagaimana kondisi ayahku? Kenapa dia tidak bangun?"


"Saat ini ayahmu masih dalam perawatan. Kondisinya kritis, tetapi kau jangan khawatir. Kami akan berusaha menyelamatkannya,"


"Pendekar Kai, tetaplah tenang. Percayakan semuanya pada kami,"


Chu Kai menatap kedua murid Sekte Gunung Wushi itu sebelum kembali memperhatikan wajah pucat ayahnya. Dia mengulurkan tangan dan menyentuh pipi Chu Tian. Dia pun lantas mencium tangan ayahnya dan memejamkan mata perlahan.


Chu Kai mulai berdiri dan memperhatikan setiap warga kota yang terluka. Pandangan matanya turun dan perasaan tidak nyaman menghampirinya. Dia merasa sangat bersalah.


".................." Chu Kai berjalan perlahan. Setiap langkahnya terasa berat. Berada di ruangan ini membuat napasnya terasa sesak, tetapi dia juga tidak yakin akan bisa merasa baik saat berada di luar---apalagi menyaksikan kondisi Kota Lianyi yang begitu berantakan.


Pemuda dengan mata berwarna hijau alami itu nampak mengepalkan tangannya. Chu Kai menurunkan pandangan dan menggigit bibir bawahnya.


"Ini salahku..." napas Chu Kai begitu berat. Dia merutuki diri sendiri. "Semuanya salahku... Jika saja aku tidak membunuh wanita itu, maka rekannya tidak mungkin datang untuk membalas dendam."


Chu Kai menengadah dan memandang ke arah langit. Dia membatin, "Andai saat itu aku tidak datang untuk melihat pemilihan Pendekar Naga... Maka semua ini tidak akan terjadi. Ayah dan warga kota yang lain... Tidak akan dalam situasi sekarang,"


"Mereka benar..." Chu Kai menggeleng pelan, "Aku hanya akan membawa kesulitan pada siapa pun. Aku tidak bisa hidup seperti ini dan di antara manusia,"


"Apa maksudnya itu?"


Chu Kai terkejut dan spontan menoleh. Suara yang dia dengar tidak lain adalah milik Wei Zhang Zihan. Pemuda berpakaian biru muda itu baru saja keluar dari bangunan dan kini berada di hadapannya.


"Siapa yang mengatakan bahwa kau hanya membawa kesulitan pada orang lain?" Wei Zhang Zihan bertanya, nada suaranya dingin dan ini membuat Chu Kai gugup.


"................"


Melihat sosok di hadapannya hanya menunduk dan tidak bicara membuat Wei Zhang Zihan kembali berkata, "Jangan pernah merasa bahwa keadaan yang terjadi ada karena salahmu. Kau tidak memiliki tanggung jawab untuk melindungi semua orang sendirian,"


"Siapa bilang ini bukan salahku?" Chu Kai menatap pemuda di sampingnya dan berkata, "Kekacauan ini terjadi karena aku menjadi Pendekar Naga. Jika saja saat itu aku tidak datang ke Sekte Gunung Wushi, semua ini pasti tidak akan terjadi."


"Jika bukan kau, maka orang lain yang akan berada di posisimu." Wei Zhang Zihan berkata, "Kekacauan seperti ini... Akan selalu ada meski tanpa dirimu. Apapun bisa terjadi karena kita memang hidup di dunia yang jauh dari kata damai,"


"Tidak ada gunanya menyalahkan diri sendiri," Wei Zhang Zihan menatap subjek di dekatnya dan kembali berkata, "Satu-satunya yang harus kau lakukan adalah menjadi kuat supaya kejadian semacam ini tidak terulang lagi."


"................" Chu Kai mengepalkan tangannya. Pria di sampingnya mengatakan hal yang benar. Jika dia tidak ingin lagi ayahnya dan orang-orang yang dikenalnya terluka---maka dia harus menjadi kuat.

__ADS_1


"Lawanku masih manusia dan aku sudah hampir menyerah. Ini tidak dibenarkan," tatapan Chu Kai menajam, "Tidak bisa seperti ini. Bayang-bayang dari masa lalu dan dari tempat itu... Tidak dapat menghentikanku. Hanya satu akhir bagi mereka yang datang dan menjadi penganggu. itu adalah kematian,"


******


__ADS_2