
Chu Kai kembali ke Sekte Gunung Wushi di waktu yang sebenarnya tidak tepat. Mu Fang, tuan muda yang sombong itu berada di gerbang sekte bersama teman-temannya. Chu Kai pun langsung dilaporkan telah melanggar aturan karena berani turun gunung tanpa izin dari siapa pun.
Sekte Gunung Wushi memang mempunyai aturan ini dan kemungkinan besar Chu Kai sudah melupakannya. Dia pun dihukum untuk menyalin kitab kebajikan yang tebalnya mencapai sejengkal tangan manusia itu.
"Hmph, kurasa sekarang kau mengerti bahwa sekte ini tidak seperti tempat tinggalmu yang kotor. Kau tidak bisa bebas turun gunung dan membawa kotoran rumahmu ke tempat ini," Mu Fang mengajak enam orang temannya dan pergi meninggalkan Chu Kai di dalam Paviliun *Kǔxíng.
^^^Paviliun *Kǔxíng : Tempat untuk perenungan dan penebusan dosa.^^^
Menyaksikan Mu Fang dan teman-temannya itu pergi membuat Chu Kai memegang kuas di tangannya dengan keras. Dia kesal, namun masih mencoba untuk menenangkan diri dan tidak langsung menerjang pemuda tersebut.
"Bagaimana cara menyelesaikan ini...?" Chu Kai membuka lembaran kitab kebajikan di depannya dan menelan ludah. Dia yakin bahwa jika terus berada di sini, menyalin kitab yang entah ditulis oleh siapa ini... Dirinya pasti akan dikirim menjadi anggota kuil.
Chu Kai menghela napas, dia pun berdecak dan lantas berkata. "Seharusnya ini tentang Teknik Serangan atau apa pun. Kenapa harus tentang kebajikan? Buku ini lebih cocok untuk dipelajari oleh tuan muda manja itu. Dia sangat sombong dan mengesalkan sekali,"
Chu Kai tahu tentang Mu Fang dan alasan mengapa dirinya menyebut pemuda itu sebagai sosok yang manja adalah karena Mu Fang tidak pernah pergi sendiri. Pemuda itu selalu bersama dengan teman-temannya, bersikap sombong, dan menindas siapa pun. Apalagi jika orang itu dari kalangan manusia biasa seperti dirinya.
"Tsk, aku benar-benar ingin memukulnya." Chu Kai berdecak kesal ketika terdengar suara Wei Shezi di dalam kepalanya.
Wanita itu berkata, "Meskipun kau kesal pada pemuda itu... Tetapi dia lebih baik darimu. Kau tidak akan bisa menang jika bertarung dengannya,"
"Hah, apa?" Chu Kai mendengus. "Sungguh kau berani bicara seperti itu? Aku bisa langsung menghilangkan nyawanya. Kau pikir aku tidak mampu?"
"Aku tahu kau punya Teknik Pernapasan Kuno. Tapi apa kau serius bisa membunuh orang itu tanpa mengambil nyawa makhluk hidup lainnya?"
"................."
"Kau harus belajar," Wei Shezi berkata. "Aku akan jelaskan padamu hal yang harus kau lakukan, jadi dengarkan."
Wei Shezi melanjutkan, "Kau akan mempelajari Tingkat Kultivasi tahap Duniawi. Ini memiliki 9 Tingkatan dan kita akan mulai di tingkat yang pertama, kedua, hingga kelima dalam waktu tiga hari."
Chu Kai tersentak saat sesuatu tiba-tiba terjadi di dalam tubuhnya, bahkan sebelum dia sempat bereaksi pada ucapan Wei Shezi. Kuas yang dipegangnya pun sampai terjatuh dan kedua tangannya nampak gemetar.
"A-apa yang terjadi?" Chu Kai memperhatikan kedua telapak tangannya. Dia merasa tidak nyaman seolah tubuhnya menjadi lemas.
"Aku mengunci meridian di tubuhmu hingga kau tidak akan bisa menggunakan Teknik Pernapasan Kuno itu. Kau jangan cemas karena ini hanya sampai pada tingkatan di mana kau dapat mengendalikannya,"
"Wei Shezi, kau..."
"Jujur saja, jalur meridian di tubuhmu terbuka namun tidak sempurna. Dantianmu pun sudah terbentuk tetapi itu karena Teknik Pernapasan Kuno dan setelah jalur meridian di tubuhmu tertutup, dantian itu menjadi pudar. Ini berarti pembentukannya pun tidak sempurna,"
Wei Shezi berkata, "Apa kau tahu? Saat seorang pengrajin membuat keramik, dia akan sangat hati-hati memilih bahan, mencampur, dan membentuk keramik itu dengan sempurna hingga bisa bertahan dalam api saat dipanaskan. Keramik yang tidak dibentuk sempurna akan cacat atau bahkan rusak. Kondisi tubuhmu... Mirip dengan keramik yang cacat."
Wei Shezi, "Aku tidak tahu apa ini kesengajaan atau bukan, tetapi makhluk di tempat itu... Seolah melatihmu secara terburu-buru. Kau kuat, tapi tidak sempurna. Rasanya seperti Teknik Pernapasan Kuno itu... Adalah bom waktu di dalam dirimu,"
Chu Kai menelan ludah, dia mengepalkan tangan kanannya dan tersentak saat tidak bisa melihat Tingkat Praktiknya. Seharusnya saat dia mengepalkan tangan dengan kuat, maka akan muncul angka di punggung tangannya seperti saat dia berada di Aula Dan Yang.
"Ini...."
"Ah... Kau ingin melihat tingkat praktikmu?"
__ADS_1
"Mn, murid sekte ini pernah melakukan sesuatu pada tanganku dengan menggunakan air dari bunga laba-laba lili. Tetua Wang Zhong Xian berkata bahwa aku hanya perlu mengepalkan tangan dengan kuat dan punggung tanganku akan menunjukkan tingkat praktikku, tapi sekarang tidak ada."
"Itu karena kau sekarang harus memulainya dari awal," Wei Shezi buka suara dan membuat Chu Kai tersentak.
"Tidak perlu khawatir. Jika kau melakukan apa pun yang kukatakan, maka tingkat praktikmu akan kembali dalam tiga hari. Jadi sekarang, ayo bangun dan berlatih."
"Tapi hukumannya...?"
"Tidak ada orang di tempat ini dan kau bisa menyelesaikan tugasmu nanti,"
"Bagaimana jika aku ketahuan lagi?"
"Palingan kau akan dihukum menulis. Tenang saja, aku akan membantumu. Ayo,"
"Kau ini sangat pemaksa,"
"Bukankah kau ingin kuat agar bisa menikahi gadis itu-"
"Nona Xia Ling Qing." Chu Kai langsung berdiri, dia mengepalkan tangannya dan dengan yakin berkata. "Aku akan menjadi kuat demi calon ibu dari anak-anakku."
"Semangat yang bagus," Wei Shezi menggeleng. Dia seharusnya menyebut Xia Ling Qing sejak awal, maka pemuda ini akan langsung bergerak.
*
*
Chu Kai mengendap-endap dan kemudian bersembunyi saat melihat murid Sekte Gunung Wushi. Dia tidak bisa melesat seperti sebelumnya, tetapi meskipun begitu... Dia masih bisa memanjat untuk naik ke atap.
"Danau?" Chu Kai berkedip, "Sepertinya aku tahu di mana tempatnya."
Chu Kai bergegas turun dan pergi ke bagian timur Sekte Gunung Wushi. Di sana ada kediaman dari Tetua Bai Lian Yi, salah satu dari Tetua Sekte Gunung Wushi yang cukup dikenal Chu Kai sebab dia juga merupakan penggemar tetua cantik dengan sikap yang lembut itu.
Chu Kai memang tidak pernah bertemu secara langsung dengan sosok Tetua Bai Lian Yi, tapi dia banyak mendengar tentang kebaikan hati subjek tersebut dan dia tidak akan dimarahi bila berada di wilayah kediaman ini.
Chu Kai melewati sebuah hutan bambu. Wei Shezi memujinya sebab dia cukup cekatan bergerak di tanah yang menanjak dengan hanya memakai kemampuan fisik semata. Bahkan tidak butuh waktu sampai mereka tiba di depan sebuah danau yang besar.
"Di sini tidak akan ada yang mengganggumu," Wei Shezi buka suara dan kemudian meminta Chu Kai melepaskan sepatunya.
"Jika sampai aku dihukum lagi, maka ini semua adalah salahmu." Chu Kai pun menelan ludah dan kemudian mulai turun ke danau. "Tidak ada ular di sini, kan?"
"Kenapa kau harus khawatir? Kau saja pernah sangat berani melawanku,"
Chu Kai pun menahan napas dan kemudian mulai menyelam. Dia baru sekitar enam detik menenggelamkan kepalanya dan kembali naik ke permukaan.
"Astaga, kau ini lemah sekali." Wei Shezi berkata, "Pertahankan napasmu lebih lama. Ayo coba lagi,"
Chu Kai kembali menenggelamkan kepalanya dan kali ini berhasil sedikit lebih lama, namun tetap saja bagi Wei Shezi itu masih belum cukup. Beberapa kali hal tersebut terus berulang hingga sebuah seruan seseorang membuat Chu Kai terkejut.
"Apa yang kau lakukan di sana?"
__ADS_1
!
Suara itu milik seorang wanita. Chu Kai yang kaget mulai mengedarkan pandangan untuk mencari asal suara tersebut. Dia pun melihat perempuan yang nampak berusia 22 Tahun berdiri dengan kaki menapak di sebuah di antara daun bambu.
Chu Kai berkedip, teknik meringankan tubuh gadis berpakaian biru muda itu sungguh mengagumkan. Dia pun menyaksikan bagaimana sosok itu mulai melayang dan berdiri di atas air, tepat di hadapannya.
"Apa yang kau lakukan?" gadis tersebut kembali buka suara. Dia berjongkok dan menatap Chu Kai sambil tersenyum.
"Kau... Kau Pendekar Suci Liu Han Ying?!" Chu Kai berseru dan kaget sendiri. Dia menyaksikan baik-baik sosok di hadapannya dan yakin bahwa subjek ini benar-benar salah satu dari Lima Pendekar Suci Sekte Gunung Wushi.
Liu Han Ying adalah Pendekar Suci yang menduduki posisi ketiga, sosok yang memiliki kemampuan meringankan tubuh terbaik di antara pendekar suci yang lain. Jika Nalan Shu adalah kecepatan melebihi anak panah, maka Liu Han Ying ini merupakan definisi dari kelembutan yang tajam.
"Apa kau Pendekar Naga itu?" Liu Han Ying buka suara dan langsung dianggukkan oleh Chu Kai.
"Be-benar. Ngomong-ngomong aku penggemar beratmu,"
"Benarkah?" Liu Han Ying tertawa kecil, "Kalau begitu terima kasih meskipun aku tidak tahu apa yang kau sukai dariku.."
"Semuanya," Chu Kai berkata. "Kau pernah melawan dua monster binatang iblis yang sangat kuat dan pernah menyelamatkan sebuah kota sendirian. Kisahmu yang melawan bandit gunung juga sangat mengagumkan bagiku,"
"Ah... Baiklah. Jadi, apa kau sedang berlatih di sini?" Liu Han Ying sebenarnya hanya basa-basi. Siapa yang menyangka bahwa Pendekar Naga yang terpilih justru adalah seorang penggemar fanatik.
"Aku sedang berlatih menahan napas di dalam air. Sungguh, aku ini penggemarmu. Aku sudah banyak menabung uang untuk membeli lukisan para Pendekar Suci. Lukisanmu adalah yang pertama menghiasi dinding kamarku,"
!
Liu Han Ying mengulum senyum, "Baiklah. Kau ternyata pemuda yang menarik. Mm... Tapi kudengar kau menyukai Xia Ling Qing?"
"Tentu saja. Nona Xia adalah calon istriku,"
"Ah, ha ha. Kau ternyata sangat percaya diri," Liu Han Ying tertawa. "Kau mengidolakan aku, tapi justru ingin menikahi Xia Ling Qing?"
"Aku juga penggemar berat nona Xia. Dia adalah calon ibu dari anak-anakku,"
"Aku mengerti," Liu Han Ying tersenyum dan mengangguk pelan. Dia pun berkata, "Aku bisa membantumu."
"Apa?" Chu Kai berkedip, dia melihat Liu Han Ying mengeluarkan sesuatu dari kantong lengan pakaiannya.
"Tusuk rambut?" Chu Kai mengerutkan kening. Tusuk rambut terbuat dari emas itu terlihat sangat cantik dengan ujung yang berbentuk bunga teratai.
Liu Han Ying berkata, "Ini adalah benda peninggalan ibu dari Xia Ling Qing. Sangat cantik, bukan?"
Liu Han Ying pun tanpa peringatan langsung melemparkan benda itu ke tengah danau dan membuat Chu Kai terkejut. Dengan senyuman di wajahnya, dirinya pun kembali buka suara.
Liu Han Ying berujar, "Sebelumnya aku sudah menulis pesan di dalam kamar Xia Ling Qing bahwa kau meminjam hiasan rambut itu. Dia mungkin tidak akan percaya, tapi jika melihat benda peninggalan ibunya menghilang... Dia akan langsung mencarimu."
Liu Han Ying tersenyum, "Jadi sebelum Xia Ling Qing datang dan membunuhmu.. Kau harus temukan benda itu. Semangatlah, penggemar setia~"
!!
__ADS_1
"A-Apa itu tadi?" Chu Kai sampai tidak dapat bereaksi saking kagetnya. Liu Han Ying sudah melesat pergi begitu saja dan cukup lama merasakan syok... Dia pun tersadar sudah dikerjai.
******