
Tubuh Chu Kai dibersihkan oleh Tabib Shang dari Sekte Menara Rufeng dan sebenarnya tabib itu terkejut dengan kondisi tubuh pemuda ini.
Chu Kai mempunyai bekas luka cakaran yang cukup besar di tubuhnya, apalagi pada bagian punggung. Tabib Shang bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana pemuda ini dapat tetap hidup dengan bekas luka yang begitu parah ini.
Hanya saja selain bekas luka itu, tubuh Chu Kai tidak mengalami luka apa pun dan ini jugalah yang membuat Tabib Shang terkejut. Padahal pakaian pemuda yang tengah berbaring di atas tempat tidur ini sangat basah karena darah, dan harusnya subjek tersebut mempunyai luka yang baru di tubuhnya.
"Tidak ada luka luar dan dia juga tidak mengalami luka dalam. Orang ini jelas baik-baik saja, tapi kenapa dia bersikap begitu lemah seolah sangat sekarat?" Tabib Shang berpikir keras sebelum memperhatikan dengan saksama raut wajah pemuda ini.
Tabib Shang pun menarik napas dan kemudian berkata, "Sekarang di ruangan ini hanya ada kau dan aku. Jadi bisakah kau berhenti berpura-pura? Kau membuat rekanmu sangat khawatir."
"........... Aku memang tidak bisa menipu seorang tabib," Chu Kai akhirnya buka suara. Dia pun membuka matanya dan kemudian mulai bangun.
"Bersihkan tubuhmu sendiri, kau benar-benar kurang ajar pada orang yang lebih tua."
"Maaf," Chu Kai tersenyum dan mengambil kain yang sebelumnya dibasahi oleh Tabib Shang.
"Kenapa kau melakukannya? Apa alasanmu berpura-pura seperti itu?" Tabib Shang kembali bertanya dan itu membuat Chu Kai menatap ke arahnya.
"Aku menyukai seorang gadis, tapi dia sangat dingin. Jadi kupikir ini bisa menarik rasa simpatinya, yaah.. Begitulah."
Tabib Shang menghela napas sebelum akhirnya menggeleng pelan, "Tapi tidak seharusnya kau merepotkan orang lain seperti ini. Ah, kudengar... Kau menghadapi salah satu anggota 12 Pilar Bulan dari Sekte Bulan Mati. Bagaimana kau bisa selamat tanpa cedera sama sekali?"
"Itu.... Karena anggota Sekte Bulan Mati meremehkanku. Dia tidak menggunakan kekuatan penuhnya jadi aku memanfaatkan keangkuhannya itu dan berhasil selamat."
"Kau... Mengalahkannya?"
Chu Kai tersenyum canggung dan menggeleng pelan, "Bagaimana bisa aku mengalahkan orang sekuat itu. Aku saja benar-benar bersyukur karena dapat melarikan diri tanpa mengalami luka parah sama sekali,"
Tidak mungkin Chu Kai mengatakan yang sebenarnya. Dia tidak hanya mengalahkan anggota Sekte Bulan Mati itu, tetapi membuat tubuh lawannya mengelupas.
Bahkan dia sendiri menyaksikan bagaimana kulit wajah lawannya terbuka, memperlihatkan urat-urat tipis hingga ke tulang. Bayangan masih jelas ketika ia menyaksikan organ dalam lawannya yang berjatuhan dan bercampur dengan kobaran api.
Chu Kai menelan ludah, dia menyembunyikan gemetar pada tubuhnya saat ini. Jika dia mengatakan yang sebenarnya, maka tidak hanya Wei Zhang Zihan... Tetapi juga Xia Ling Qing dan para pendekar lainnya akan menganggapnya sebagai monster.
"Kau benar-benar beruntung bisa lolos dari maut tanpa cidera sama sekali," Tabib Shang memperlihatkan kekagumannya.
"Itu tidak benar," Chu Kai berujar. "Aku terluka dan pendekar Wei Zhang Zihan mengobatiku,"
"Mm... Tabib," Chu Kai kembali bicara. "Bisakah aku meminta sedikit bantuanmu?"
"Mn?"
*
__ADS_1
*
"Kami membawakan pakaiannya," Liu Han Ying berjalan masuk ke dalam ruangan di mana Chu Kai berada. Dia bersama dengan Xia Ling Qing.
"Bagaimana kondisinya sekarang?" Xia Ling Qing bertanya pada Tabib Shang. Pandangan matanya terarah pada pemuda yang berbaring di tempat tidur dengan tubuh serta tangan kanan yang dibalut perban.
"Itu..." Tabib Shang dalam hati menghela napas. Entah bagaimana dia harus ikut dalam sandiwara pemuda ini. Dia pun menatap Xia Ling Qing dan kemudian terbatuk pelan.
Tabib Shang berkata, "Aku mengerahkan banyak energi spiritual untuk memperbaiki jaringan dalam organ dalamnya. Detak jantungnya memang stabil, terlihat tidak mengalami luka dalam, tapi sebenarnya... Ini jenis luka yang sangat sulit dideteksi."
"Benarkah?" Liu Han Ying terkejut, begitu pula dengan Xia Ling Qing.
Kedua gadis itu memperhatikan wajah Chu Kai yang masih terbaring tidak sadarkan diri dan memang melihat bahwa wajah pemuda ini sama sekali tidak pucat seperti orang yang sakit. Namun karena Tabib Shang sudah berkata demikian, maka tidak ada yang bisa diragukan lagi.
"Lalu bagaimana kondisinya sekarang? Obat apa yang bisa menyembuhkan lukanya?" Xia Ling Qing bertanya. Dia tidak bisa tinggal diam saat mendengar hal ini. Chu Kai merupakan Pendekar Naga dan pemuda ini memikul sebuah tanggung jawab besar. Biar bagaimana pun caranya... Orang ini harus segera pulih.
"Nona Xia jangan khawatir," Tabib Shang berkata. "Obat yang kubutuhkan semuanya ada di sekte ini. Aku akan segera meraciknya. Ehm... Jika bisa tolong bantu aku menjaganya sebentar."
Tabib Shang menatap Liu Han Ying dan lantas berujar, "Nona Liu. Bisakah kau membantuku meracik herbalnya?"
"Oh, baiklah." Liu Han Ying segera mengikuti Tabib Shang tanpa menaruh curiga sama sekali. Kepergiannya membuat Xia Ling Qing kini harus tinggal di dalam ruangan itu dan menjaga Chu Kai sendirian.
"..............." Xia Ling Qing memperhatikan subjek yang terbaring di atas tempat tidur sebelum mulai meletakkan pedangnya. Dia pun duduk di kursi yang ada di dekat tempat tidur tersebut dan menunggu dengan tenang.
"Kai?! Kau baik-baik saja?" Xia Ling Qing tidak berpengalaman merawat orang sakit sehingga ia tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika orang yang dijaganya mulai membuka mata.
"Nona Xia..." suara Chu Kai sangat lemah, nyaris tidak terdengar. Dia hanya berbaring seolah tidak mampu menggerakkan setiap inci dari bagian tubuhnya.
"Apa kau merasa tidak nyaman?" Xia Ling Qing berpindah dan duduk di tepi tempat tidur. Dia mengulurkan tangan dan menyentuh dahi Chu Kai yang terasa agak hangat.
"Aku... Minta maaf,"
"Kau sebaiknya jangan bicara banyak. Akan kupanggil Tabib Shang segera, kau tunggulah di sini."
"Tidak... Nona Xia," Chu Kai terbatuk dan membuat Xia Ling Qing kaget. Gadis itu jelas khawatir jika ia kembali memuntahkan darah seperti sebelumnya.
Suara Chu Kai masih sangat lemah saat ia berkata, "Tolong... Jangan pergi."
"Tapi kondisimu..."
"Aku... Akan baik-baik saja selama Nona Xia... Bersama denganku."
Xia Ling Qing merasa tidak enak hati. Dia tidak tahu harus melakukan apa pada orang yang dalam kondisi sangat parah seperti ini. Di sisi lain, Chu Kai dalam hati meminta maaf karena sudah menipu gadis cantik di hadapannya.
__ADS_1
"Nona Xia... Sangat manis saat sedang khawatir. Dia seperti... Kelinci Putih." Chu Kai menutup matanya. Dia cemas akan tertawa jika terus menatap wajah khawatir Xia Ling Qing.
"Kau... Apa mau minum?" Xia Ling Qing buka suara. Dia kembali bertanya, "Apa kau lapar?"
".......... Mn,"
Hanya ada air di atas meja yang dekat dengan tempat tidur Chu Kai. Xia Ling Qing pun bernapas pelan dan kemudian berujar, "Aku akan membantumu bangun. Apa kau bisa duduk?"
Xia Ling Qing dengan sangat hati-hati membantu Chu Kai untuk duduk. Dia takut menekan luka pemuda ini yang dibalut perban, namun syukurlah karena akhirnya Chu Kai bisa duduk meskipun harus bersandar padanya.
Xia Ling Qing membantu Chu Kai minum sebab tangan kanan pemuda ini yang terbalut perban. Bersamaan dengan kejadian itu, Tabib Shang dan Liu Han Ying pun masuk dengan membawa obat herbal.
Tabib Shang sempat menghentikan langkah kakinya dan menghela napas. Dalam hati ia menggeleng dan lantas berdecak beberapa kali. Pemuda bermata hijau alami itu jelas adalah sosok yang sangat licik.
"Kai, kau akhirnya sadar!" Liu Han Ying menghampiri Chu Kai. Dia meletakkan cawan berisi cairan herbal di atas meja dan kemudian memeriksa kondisi Chu Kai.
"Kapan dia bangun?" Liu Han Ying bertanya dan Xia Ling Qing pun menatapnya.
"Belum lama ini. Kau... Apa bisa membantuku dengan membawakannya makanan?"
"Mn, aku juga akan memanggil Wei Zhang Zihan kemari." Liu Han Ying menyentuh pelan lengan kiri Chu Kai dan berujar, "Kau sebaiknya jangan banyak bergerak. Beristirahatlah dengan baik, oke?"
".......... Baik," Chu Kai menjawab dengan nada suara yang lemah. Tabib Shang yang sudah tahu kebenarannya hanya bisa mengembuskan napas dan kemudian mengarahkan pandangan pada Xia Ling Qing.
Siapa pun tahu identitas gadis cantik tersebut. Xia Ling Qing adalah Pendekar Suci Tingkat Pertama dan merupakan putri dari Tetua Sekte Gunung Wushi. Gadis ini mempunyai sifat yang dingin dan sulit didekati, bahkan tidak akan ragu menarik pedangnya jika ada seorang pria yang bersikap keterlaluan padanya.
Kecantikan Yang Tidak Bisa Disentuh. Kata ini kemungkinan tepat untuk menggambarkan Xia Ling Qing. Pribadinya yang tegas, tanpa ragu memberikan pandangan rendah pada orang lain... Siapa pun tidak akan menyangka bahwa gadis ini dapat memperlihatkan raut wajah yang penuh kecemasan dan bahkan dengan sangat hati-hati merawat orang lain.
"Pemuda ini..." Tabib Shang menatap Chu Kai dan membatin, "Dia benar-benar mengambil risiko yang tinggi. Jika sampai gadis ini tahu, maka aku bahkan tidak dapat membayangkan hal yang akan terjadi."
Chu Kai tentu saja tahu risiko dari tindakannya tersebut, namun ini juga sudah termasuk ke dalam pembalasan dendamnya. Dia ingat pada pertemuan awalnya dengan Xia Ling Qing. Subjek ini menendangnya begitu saja dan bahkan memperlakukannya dengan ketus, begitu kasar bahkan saat melatihnya pedang.
Jujur saja meskipun dianggap sebagai pemuda yang ceroboh, namun Chu Kai tidak pernah lupa membalas budi. Hutang karena sudah diperlakukan tidak adil oleh gadis ini... Dia akan membuat Xia Ling Qing membayar semuanya.
Xia Ling Qing dan Liu Han Ying tidak mengetahui tentang sandiwara Chu Kai, bahkan termasuk Wei Zhang Zihan serta Shuang Shu Chen.
Mereka sebenarnya memeriksa kondisi tubuh Chu Kai dan awalnya curiga sebab pemuda ini sama sekali tidak mengalami luka dalam. Namun karena tubuh Chu Kai diperban dan Tabib Shang memberi penjelasan tentang luka yang sulit dideteksi hingga mereka pun tidak terlalu memikirkannya.
Wei Zhang Zihan bahkan mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh mengenai apa yang sebenarnya dialami oleh Chu Kai karena kondisi tubuh pemuda ini. Dia memilih untuk bersabar dan menunggu waktu yang tepat membahasnya.
Selama beberapa hari, Chu Kai tinggal di Sekte Menara Rufeng dan dirawat oleh Xia Ling Qing. Gadis cantik ini bahkan membuatkannya bubur ginseng dan tanpa ragu menyuapinya. Entah bagaimana tetapi dia merasa semakin dekat dengan Pendekar Suci yang dikaguminya ini.
Satu-satunya hal yang tidak mengenakkan tentang tindakan Chu Kai yang berpura-pura sakit adalah bahwa ia harus meminum obat herbal yang luar biasa pahit. Perjuangan untuk mendapatkan perhatian lebih dari sosok seperti Xia Ling Qing benar-benar sangat luar biasa.
__ADS_1
******