
Kuil Hóng Shuǐ merupakan kuil sederhana yang dibangun di luar desa, jauh dari penginapan warga. Kuil itu ditujukan pada para pengelana atau pedagang yang beribadat sekaligus untuk beristirahat.
Kuil itu dipelihara oleh sepuluh orang biksu, namun ada sebuah kabar bahwa dalam waktu semalam, terjadi pembantaian di kuil ini. Dan setelah kabar itu, bukannya dihindari... Kuil Hóng Shuǐ menjadi lebih ramai dikunjungi.
Butuh waktu seminggu bagi orang seperti Chu Kai yang sekarang ada di Kota Lianyi untuk bisa sampai ke lokasi ini, namun itu jika dia lewat jalan yang biasa.
Wei Zhang Zihan sambil menunggangi kuda miliknya menjadi penunjuk jalan dan mereka memasuki hutan. Chu Kai memacu kudanya lebih cepat dan berusaha mengejar Wei Zhang Zihan yang sudah jauh di depan.
"Mengagumkan. Pendekar Wei sangat hebat dalam menunggang kuda,"
Chu Kai tidak bisa menyembunyikan perasaan kagum di wajahnya. Dia terus memacu kuda, memegang kuat tali kekang binatang berkulit hitam ini. Suara derap kaki kuda dan rerumputan yang diinjak terdengar mengalun disertai hembusan angin.
Kening Chu Kai mengerut dan ia pun menarik tali kekang kuda miliknya saat menyaksikan Wei Zhang Zihan yang berhenti di depan. Dia pun terkejut kala menyadari bahwa ada jurang yang dalam di hadapan mereka dan saat ini keduanya tengah di atas tebing.
"Pe-Pendekar Wei..." perasaan Chu Kai menjadi tidak enak. Dia melebarkan mata saat Wei Zhang Zihan menarik tali kekang kudanya dan seakan bersiap-siap untuk melakukan tindakan berani.
"Tunggu dulu, Pendekar Wei. Apa kau akan melompat-!!"
"Ayo!" Wei Zhang Zihan tidak mendengarkan Chu Kai. Dia memacu kuda miliknya dan binatang yang ia tunggangi sepertinya pun mempunyai keberanian besar hingga berlari dan tanpa ragu melompat turun.
"Pendekar Wei..!" Chu Kai berseru. Dia panik dan bahkan belum sempat memikirkan apa pun, kuda yang ia tunggangi pun lantas mengambil ancang-ancang seolah berniat mengikuti rekannya.
"He-hei, tunggu dulu-"
WAAAAH...!!
Chu Kai berpegang kuat pada surai hitam kuda miliknya. Dia berteriak sambil memejamkan mata, benar-benar takut jika ini menjadi akhir riwayatnya.
*
*
Kuda Wei Zhang Zihan dan juga milik Chu Kai sebenarnya bukanlah binatang biasa. Mereka adalah jenis kuda yang memang dibesarkan dan dilatih secara khusus sehingga tidak hanya mempunyai tubuh yang kokoh, tetapi juga sangat berani.
Kuda ini mempunyai kecepatan lari yang luar biasa dan lebih hebat dari kuda lain pada umumnya. Mereka merupakan kuda gurun sehingga bahkan terbiasa dengan kondisi yang ekstrim.
Chu Kai membuka matanya saat merasakan sentakan. Dia terkejut dan melihat ke belakang, kuda yang ditungganginya masih berlari menyusul kuda Wei Zhang Zihan. Mereka kini menyusuri padang hijau dan berbatu.
"Astaga, jantungku..." Chu Kai tidak tahu lagi apa jantungnya benar-benar ada di dada atau justru di telinga. Dia sangat syok dengan apa yang baru saja terjadi.
"Kuda ini... Bukankah aku yang memegang kendali atasnya?! Kenapa dia justru tidak mendengarkanku?" Chu Kai berusaha menarik tali kekang kudanya tetapi binatang ini terus berlari mengejar kuda milik Wei Zhang Zihan.
"Pendekar Wei..!" Chu Kai berseru, "Kau yakin kuda ini tidak bermasalah? Dia sama sekali tidak mau berhenti walau aku menarik tali kekangnya,"
__ADS_1
"Untuk apa kau ingin menghentikan kuda milikmu? Perjalanan kita masih jauh, ayo lebih cepat!"
"Tapi--Waaaah..! Ini membuatku takut!" Chu Kai pernah menunggang kuda, tetapi tidak pernah melajukannya secepat ini. Apalagi sepertinya.. Kuda yang ia tunggangi lebih menuruti Wei Zhang Zihan daripada dirinya.
Karena memotong jalan dengan cara ekstrim, Wei Zhang Zihan dan Chu Kai berhasil tiba di Kuil Hóng Shuǐ. Penampakan kuil itu mulai terlihat tidak jauh di depan. Meski demikian, hari sudah gelap ketika mereka tiba di tugu penyambutan.
Wei Zhang Zihan mulai turun dari kudanya. Dia sedikit tersentak ketika Chu Kai berlari ke salah satu pohon terdekat dan kemudian muntah.
"Kau ini..." Wei Zhang Zihan berjalan mendekati pemuda bermata hijau alami itu. Sungguh, ia tidak tahu harus berkata apa.
We Zhang Zihan menghela napas dan lantas menaikkan lengan pakaiannya sebelum mulai mengulurkan tangan, memijat pelan tengkuk Chu Kai serta mengusap-usap punggungnya.
"Bagaimana kondisimu sekarang?" Wei Zhang Zihan buka suara. Dia bertanya saat Chu Kai sudah berhenti muntah.
"Aku ingin minum..."
Wei Zhang Zihan mengeluarkan botol air dari dalam kantong qiankun miliknya. Botol dari bambu itu diberikan pada Chu Kai dan ia mengingatkan agar pemuda ini minum dengan perlahan.
"Aku baik-baik saja sekarang, terima kasih Pendekar Wei." Chu Kai mengembalikan botol air milik Wei Zhang Zihan dan mengusap pelan perutnya. Dia benar-benar harus terbiasa menunggang kuda mulai sekarang.
"Aduh... Rasanya ususku seperti dipelintir. Ini lebih buruk daripada terbang dengan pedang," Chu Kai masih terlihat berwajah pucat. Dia pun mulai mengikuti Wei Zhang Zihan yang berjalan menaiki tangga kuil.
Angin yang berhembus terasa begitu dingin. Chu Kai yang sudah bisa tenang kini mulai mengedarkan pandangannya. Ada obor yang menyala di pinggiran anak tangga yang ia lewati, beberapa juga terlihat di sekitar kuil.
"Kuil ini dibangun bagi untuk para pengelana. Dan di daerah terpencil seperti ini... Mustahil keadaannya akan sama dengan kuil yang ada di tengah desa,"
"Tapi bukankah setelah kejadian pembantaian itu... Kuil ini memiliki banyak pengunjung? Lalu kenapa sekarang tidak ada?"
"Lihatlah kondisi di sekitarmu. Hari sudah gelap, jadi mana mungkin mereka berkunjung di malam hari. Kalaupun ada, orang-orang itu adalah berasal dari tempat jauh yang mampir beristirahat."
"Apa seperti yang kita lakukan sekarang?"
"Mn, kurang lebih." Wei Zhang Zihan terus menaiki setiap anakan tangga dan mulai melihat ada seseorang yang berdiri di depan pintu bangunan kuil.
Chu Kai yang berjalan di samping Wei Zhang Zihan dan juga ikut melihat sosok tersebut. Seseorang yang berpakaian serba putih dan dengan kepala plontos itu tidak lain adalah biksu yang tinggal di kuil ini.
Chu Kai memperhatikan biksu yang nampak berusia 30 Tahun ini. Pria di hadapannya dengan ramah memberikan salam dan Wei Zhang Zihan pun tidak ragu melakukan hal yang serupa.
Chu Kai sendiri nampak canggung, dia meniru gerakan Wei Zhang Zihan dan biksu ini pun memperkenankan mereka untuk masuk ke dalam kuil. Keramahan yang sebenarnya wajar, tetapi entah mengapa membuat Chu Kai sedikit tidak nyaman.
"Kami datang dari Sekte Gunung Wushi dan ingin mengetahui tentang kabar pembantaian yang terjadi di tempat ini," Wei Zhang Zihan tanpa ragu mengutarakan tujuannya kemari.
Biksu itu mengangguk pelan. Dia membuka pintu kuil dan kini terlihat aula yang luas dengan sebuah patung buddha berukuran besar. Chu Kai mengedarkan pandangan ke sekeliling dan kemudian mulai berjalan melihat-lihat tempat ini.
__ADS_1
Wei Zhang Zihan sendiri tetap bersama biksu tersebut dan mendengarkan cerita subjek ini. Dia sejenak memperhatikan Chu Kai dan menghela napas karena pemuda itu bertingkah sangat tidak sopan.
"Sebelumnya ada ritual peribadatan yang dilakukan oleh tujuh orang biksu, beberapa warga desa dan pedagang juga turut hadir. Namun entah bagaimana ritual itu berubah menjadi penuh darah. Aku sendiri pun tidak tahu apa penyebabnya,"
"Apa sebelumnya tidak ada kejadian aneh yang anda rasakan?" Wei Zhang Zihan bertanya dan dijawab gelengan pelan oleh biksu tersebut.
"Pendekar Wei...!"
Seruan Chu Kai membuat Wei Zhang Zihan dan biksu yang bersamanya tersentak. Mereka pun pergi ke tempat Chu Kai yang saat ini sedang ada di belakang patung buddha.
"Pendekar Wei, coba lihat ini." Chu Kai menunjuk sebuah segel aneh di lantai ketika Wei Zhang Zihan mendekat.
"Ini juga yang ingin kukatakan," biksu itu buka suara, "Pola ini tiba-tiba muncul dan mungkin ada di waktu bersamaan dengan pembantaian itu."
Biksu tersebut melanjutkan, "Tidak ada yang berani menyentuhnya, jadi para biksu yang ada memasang kertas mantra karena segel ini berbau seperti darah."
"Apa kalian curiga bahwa ini segel yang mengundang roh jahat?" Chu Kai bertanya dan membuat biksu di sampingnya tersentak.
Biksu itu mengangguk, "Benar. Segel aneh, apalagi berbau darah dan muncul tiba-tiba seperti ini... Mustahil tidak memiliki hubungan dengan roh jahat. Masalahnya, kami kesulitan memanggil biksu senior yang ahli pengusiran roh jahat. Jarak mereka dari tempat ini sangat jauh,"
"Lalu bagaimana dengan biksu di tempat ini?" Chu Kai kembali bertanya.
"Selain aku, masih tersisa dua orang lagi. Biksu senior yang lebih berpengalaman tewas ketika ritual peribadatan dilakukan,"
Chu Kai memperhatikan baik-baik biksu di depannya dan sepertinya mulai mengerti. Identitas subjek ini kemungkinan hanyalah biksu biasa dan hanya bertugas membersihkan kuil. Dia dalam hati merasa terkesan sebab orang ini dan rekan-rekannya beruntung tidak mengambil bagian dalam ritual peribadatan.
"Apa anda mempunyai air suci?" Wei Zhang Zihan akhirnya buka suara. Biksu yang berdiri di samping Chu Kai mengangguk dan lantas berkata akan segera mengambilnya.
"Pendekar Wei, untuk apa air suci itu?" Chu Kai bertanya sambil bersilang tangan.
"Untuk membuktikan apakah segel ini memiliki hubungan dengan salah satu Pilar Bulan atau tidak,"
Chu Kai menatap Wei Zhang Zihan sebelum mengarahkan pandangannya pada segel yang ada di lantai. Dia memejamkan mata sejenak dan mulai berkonsentrasi. Ada energi spiritual tipis, namun berwarna merah pekat yang nampak keluar dari setiap pola segel yang dia lihat.
Biksu berusia 30 Tahun itu datang dengan satu kendi berukuran sedang yang diisi oleh air suci. Wei Zhang Zihan mengambil kendi tersebut dan kemudian mulai mengalirkan energi spiritual miliknya.
Chu Kai menyaksikan bagaimana Wei Zhang Zihan melesatkan sepuluh kertas jimat yang melayang di udara, mengelilingi segel yang ada di lantai. Wei Zhang Zihan pun melemparkan kendi berisi air suci dan benda itu juga ikut melayang, tepat di tengah-tengah.
Wei Zhang Zihan membentuk segel tangan dan dalam waktu sekejap---kendi itu pun pecah. Air suci menyebar, memercik ke arah pola segel yang ada di lantai dan percikan bagai petir pun mulai nampak.
!!!
******
__ADS_1