
Sekte Gunung Wushi,
Chu Kai yang sedang bersama dengan teman-temannya terlihat menghela napas saat tahu bahwa yang datang membawa semangkuk sup hangat bukanlah orang yang ia harapkan. Rasanya sekarang tujuan dari tangannya dibalut sudah tidak ada.
"Ada apa denganmu?" Tabib Yun Zhen menyadari raut wajah Chu Kai. Dia meletakkan mangkuk berisi sup yang dibawanya dan meminta pemuda di depannya ini untuk mulai makan.
Chu Kai kembali menghela napas, "Di mana nona Xia Ling Qing?"
"Latihan. Dia meminta agar aku membawakan ini padamu, sekarang ayo makan."
"Tabib Yun Zhen, kau sama sekali tidak mengerti.." Chu Kai memijat-mijat dahinya dan menggeleng pelan. Di tempat ini, selain para kurcaci hanya ada dua pria dewasa yang datang menjenguknya. Sama sekali tidak ada keindahan satu pun.
"Aku ingin dekat dengan nona Xia, tapi kenapa jadi begini? Aiih..." Chu Kai padahal sudah memilik gambaran disuapi sup oleh Xia Ling Qing dengan penuh perhatian.
Membayangkan sebuah momen romantis yang tipis namun manis, tetapi yang terjadi justru sosok yang menyodorkan sendok dan memintanya membuka mulut adalah seorang pria. Sama sekali bukan keindahan.
"Saudaraku, ini bisa mengurangi rasa sakitmu. Ayo~" Qin Shou begitu perhatian tanpa tahu suasana hati subjek yang lain.
Tabib Yun Zhen sendiri mulai memeriksa luka dalam Chu Kai. Dia mengalirkan energi spiritual ketika menyentuh nadi di tanah kiri Chu Kai dan begitu fokus dalam perawatannya.
"Hmm?" Tabib Yun Zhen mengerutkan kening. Dia menatap Chu Kai dan sepertinya sudah mengerti. Dirinya pun segera menepis tangan kiri Chu Kai dan berkata, "Jika kau ingin mendapat perhatian... Maka sebaiknya jangan bangun. Kau ini,"
Qin Shou berkedip mendengar ucapan Tabib Yun Zhen barusan. Dia bertanya, "Apa maksud Shizun?"
"Dia ini sama sekali tidak apa-apa," Tabib Yun Zhen berkata. "Luka dalamnya sudah pulih. Aku rasa kau sudah dirawat dengan baik di Sekte Menara Rufeng, kenapa kau masih melakukan hal konyol seperti ini, huh?"
"Aduh," Chu Kai merintis saat Tabib Yun Zhen memukul keras tangan kanannya yang dibalut perban. Dia tahu sandiwaranya akan terbongkar mengingat Yun Zhen adalah tabib yang diakui di sekte ini dan juga menempati salah satu posisi Tetua Sekte Gunung Wushi.
"Kau membuang-buang waktuku," Tabib Yun Zhen berdiri dari tempat duduknya dan lalu mengajar agar anak-anak di dalam ruangan ini kembali mengikuti latihan mereka.
Salah seorang anak berkedip, "Jadi Kai hanya pura-pura sakit?"
"Waah... Dia mengerjai kita semua,"
"Aku rasa itu tidak benar," Lin Mo berkata. "Dia cepat sembuh karena aku melukis simbol mantra penyembuhan di lengannya. Itu membuat lukanya cepat sembuh~"
"Aku juga. Dia pulih dengan cepat karena simbol yang kugambar diperbannya. Benar kan, Kai?"
"Ah, mn. Tentu saja. Ini karena kalian semua, terima kasih." Chu Kai tersenyum sebelum mendapat jitakan dari Tabib Yun Zhen dan membuatnya kembali merintih.
Fu Wutian sendiri menghela napas pelan, "Syukurlah kau baik-baik saja. Namun meski begitu, tetaplah istirahat dan jangan lakukan hal-hal yang berat lebih dulu. Ayo yang lain, kita pergi latihan."
Qin Shou menyaksikan Fu Wutian dan para murid junior di sekitarnya mulai meninggalkan kamar Chu Kai, mengikuti Tabib Yun Zhen. Kini hanya dirinya yang tinggal di tempat ini bersama dengan pemuda bermata hijau alami tersebut yang nampak mulai membuka balutan perbannya.
"Kau berpura-pura sakit sebenarnya untuk apa?" Qin Shou menghela napas. "Kau ini sangat keterlaluan dengan memanfaatkan rasa simpati orang lain, aiya."
"Maaf, masalahnya aku harus bagaimana lagi?" Chu Kai mulai menggerakkan tangan kanannya sambil berujar, "Sulit untuk mendapat perhatian dari nona Xia. Dia itu seperti kelinci liar, kau tahu."
"Oh, jadi ini karena Pendekar Suci Xia Ling Qing?"
__ADS_1
"Tentu saja. Kau pikir aku berpura-pura sakit untuk mendapat perhatian darimu? Hah, tidak mungkin."
"Tapi Saudaraku, jika Pendekar Suci Xia Ling Qing tahu kau menipunya...." Qin Shou menggantung ucapannya dan membuat Chu Kai menelan ludah. Ekspresi wajah mereka pun berubah pucat.
Chu Kai memijat keningnya dan berujar pelan, "Kau jangan mengatakan apa pun. Jika dia tahu, aku pasti akan dihabisi."
"Ha ha ha, tenanglah Kawan. Pendekar Suci Xia Ling Qing tidak akan sampai berbuat seperti itu. Dia mungkin... Akan membuat tanganmu benar-benar tidak bisa digunakan,"
"Tsk, kau ini..." Chu Kai menyenggol kasar lengan Qin Shou. Pemuda itu pun tersenyum dan mengusap-usap dengannya.
"Baiklah," Qin Shou mengembuskan napas. "Kau istirahat saja, aku tidak akan mengganggumu lagi. Hari ini aku mempunyai kelas latihan di bawah bimbingan Tetua Zhang. Kita akan bicara lagi nanti,"
"Mn," Chu Kai mengangguk dan menyaksikan bagaimana Qin Shou melompat keluar dari jendela kamarnya, sama seperti saat pemuda itu masuk ke dalam ruangan ini.
"Padahal ada pintu, dia itu benar-benar aneh.." Chu Kai berbaring di atas tempat tidurnya dan memperhatikan langit-langit kamarnya. Dia seperti memikirkan sesuatu.
Tentu saja Chu Kai memikirkannya. Sejak keluar dari makam kuno itu, ia sama sekali tidak pernah mendengar suara Wei Shezi seperti biasa. Dia ingat perkataan terakhir wanita itu yang mengatakan bahwa Wei Shezi akan beristirahat beberapa waktu dan ini sudah cukup lama.
"Aku masih harus latihan..." Chu Kai bergumam. Selama ini yang membimbing latihannya adalah Wei Shezi, tapi entah berapa lama waktu yang dibutuhkan agar wanita itu selesai beristirahat. Chu Kai jadi memikirkan beberapa kemungkinan dan yang paling besar adalah firasatnya tentang Wei Shezi yang melakukan hibernasi.
Chu Kai tidak pernah meragukan firasatnya selama ini, jadi apa yang dia rasakan sekarang itu pasti benar. Dia baru saja akan menutup mata saat mendengar suara dari arah jendela.
Chu Kai menoleh, dia menyaksikan seekor makhluk kecil yang tak lain adalah carpelai miliknya. Chu Kai pun bangun dan lantas buka suara, "Xiao Bai? Kau dari mana saja?"
Carpelai berbulu putih itu menghampiri Chu Kai, dia melompat naik ke tempat tidur dan lalu menaiki bahu pemuda bermata hijau tersebut.
Chu Kai mengusap kepala makhluk berbulu lembut ini dan berkata, "Kau ini sebenarnya dari mana saja, hm? Apa kau lapar?"
"Baiklah, kau ingin tidur rupanya. Sepertinya kau sudah kenyang," Chu Kai pun ikut berbaring. Dia tidak tahu bahwa selama ini carpelai miliknya mengikuti Wei Zhang Zihan.
*
*
Tidak pernah melihat Kota Lianyi selama lebih dari enam bulan membuat Chu Kai terkejut dengan perubahan pada kota ini. Ada cukup banyak bangunan baru dan lebih besar dari yang terakhir kali dilihatnya. Namun tetap saja yang paling ia rindukan adalah Kedai Bulan Meraknya sendiri.
".............." Chu Kai duduk di salah satu dahan pohon, tidak jauh dari Kedai Bulan Merak. Dia sebenarnya sangat ingin masuk dan menyapa Jing Hao, Shen Liang dan yang lainnya, namun mengingat pembicaraan terakhirnya dengan Jing Hao kala itu... Dia pun hanya bisa melihat Kedai Bulan Merak-nya dari kejauhan.
Semuanya sudah berbeda sejak Chu Kai telah menjadi bagian dari Sekte Gunung Wushi. Dia tidak bisa terlalu dekat dengan kehidupan manusia biasa seperti Jing Hao dan Shen Liang untuk menjaga keselamatan mereka. Kini hubungan ketiganya harus seperti orang asing.
Chu Kai menarik napas pelan sebelum mulai bergerak. Dia pun melesat untuk kembali ke Sekte Gunung Wushi dan melanjutkan latihan yang sudah lama tidak ia jalani.
Hari ini Chu Kai mengikuti kelas Tetua Zhang Lao yang diadakan di danau buatan dan masih dalam wilayah kediaman pria berusia 36 Tahun tersebut. Ada sekitar 15 orang murid laki-laki termasuk Qin Shou yang mendapat bimbingan dari Tetua Zhang Lao.
"Ambil ini, Kai." Qin Shou memberikan sebuah pedang kayu pada Chu Kai. Dia pun berkata, "Ini pertama kalinya kau mengikuti kelas Tetua Zhang. Tapi kau tenang saja, Beliau cukup perhatian."
"Oh, mn. Aku tidak apa-apa," Chu Kai menatap lurus ke depan dan mendengar Tetua Zhang Lao yang mulai memberikan instruksinya.
"Peraturannya seperti biasa. Kalian akan bertarung satu lawan satu sambil menyeimbangkan diri di atas air. Pelatihan ini tidak hanya membagi fokus pada teknik pernapasan, tetapi juga strategi bertarung, dan penggunaan energi spiritual. Semua serangan dibenarkan, namun jangan sampai membunuh lawan. Mengerti?"
__ADS_1
"Baik..!"
"Orang pertama yang akan maju.... Kai."
!!?
"A-aku?" Chu Kai tersentak. Dia menatap Tetua Zhang Lao dan pria yang luar biasa tampan itu benar-benar serius dengan ucapannya. Ia pun menelan ludah dan kemudian berjalan ke depan.
"Te-Tetua Zhang-" Chu Kai baru akan buka suara ketika Tetua Zhang Lao kembali bicara.
"Ada apa? Jangan bilang kau bahkan tidak bisa berdiri di atas air,"
"................" Chu Kai berkedip. Dia baru saja datang dan ini adalah kelas pertamanya di bawah bimbingan Tetua Zhang Lao. Bukankah harusnya pendekar lain yang lebih dulu maju sehingga paling tidak... Dia dapat mempelajari beberapa gerakan awal mereka?
"Saudaraku, kau pasti bisa." Qin Shou memberi semangat pada Chu Kai. Dia mendapat tatapan dari beberapa pendekar di sampingnya, termasuk Tetua Zhang Lao.
Chu Kai mengembuskan napas pelan sebelum mulai menyatukan tangan dan memberi hormat pada Tetua Zhang Lao. Dia pun melesat ke arah danau dan mulai menapakkan kakinya secara perlahan.
Untuk bisa berdiri di atas air, Chu Kai berkonsentrasi memusatkan energi spiritual di telapak kakinya. Dia pun menunggu lawan yang akan dihadapinya.
Tetua Zhang Lao tanpa nada berkata, "Baiklah. Yang akan maju selanjutnya adalah kau, Qin Shou."
"Apa!" Qin Shou kaget, "A-aku?!"
Chu Kai yang mendengar itu pun juga ikut tersentak. Dia mengarahkan pandangan pada Tetua Zhang Lao dan sepertinya sedikit mengerti kepribadian tetua yang terkenal mempunyai wajah giok tersebut.
Qin Shou menyatukan tangan dan dengan canggung memberi hormat. Dia pun melesat dan berdiri tidak jauh dari Chu Kai.
Qin Shou menghela napas, "Sepertinya aku terlalu banyak bicara. Benar, kan?"
"Ehm, yah. Kurasa begitu," Chu Kai menggaruk pelan pipinya, tidak tahu harus berekspresi seperti apa terhadap situasi sekarang ini.
Qin Shou memegang kuat pedang kayunya dan kemudian menarik napas, "Baiklah. Saudaraku, karena sekarang kita berhadapan seperti ini... Tolong jangan merasa terbebani."
"............. Tentu. Kau bisa mengerahkan semua kemampuanmu," Chu Kai memperbaiki posisi berdirinya. Dia memegang kuat pedangnya dan memperlihatkan ekspresi wajah yang serius.
"Kau jangan takut melukaiku, oke? Aku akan baik-baik saja. Anggap saja aku adalah musuhmu," Qin Shou sebenarnya kasihan pada subjek di hadapannya dan merasa perlu mengurangi sedikit tenaganya.
Dengan serius Chu Kai pun berkata, "Saudara Qin Shou. Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan, tapi sebaiknya jangan lakukan itu. Latihan ini bukan untuk menanam rasa kasihan pada musuh dan aku akan sangat tersinggung jika sampai kau menahan kekuatanmu,"
Qin Shou tersentak mendengar nada suara Chu Kai. Matanya melebar ketika subjek di depannya mulai melesat dengan sebuah ayunan pedang yang begitu kuat.
BAAAAM..!
Pedang kayu Qin Shou berbenturan keras dengan senjata milik Chu Kai. Dari benturan senjata itu, sebuah ledakan di air tercipta dan dengan suara yang keras. Reaksi Qin Shou yang dapat segera menahan serangan itu membuat Chu Kai terkesan.
Qin Shou berkedip. "Saudaraku, kau ternyata sangat kuat. Luar biasa,"
"Aku bahkan bisa lebih mengagumkan lagi. Jadi bersiaplah,"
__ADS_1
******