
Nalan Shu spontan menghindar saat beberapa warga kota menyerangnya. Ekspresi terkejut masih terlihat jelas, dia benar-benar syok mengingat pedangnya bisa patah.
"Pedang ini memang bukan senjata pusaka, tetapi ia ditempa dengan semangat juang, kesabaran dan kegigihan. Belum pernah ada lawan yang bisa membuat pedangku patah. Jadi ini jelas membuktikan bahwa.... Lawan yang kuhadapi jauh lebih kuat."
Nalan Shu memahaminya dan berusaha untuk berhati-hati. Saat ini, dia menggunakan pedang yang patah untuk menghadapi warga Kota Lianyi. Tentu saja meski kesulitan, namun kecepatannya dalam bergerak dan bertindak tidak pernah berkurang.
Di sisi lain, benang keperakan yang mengikat pergelangan tangan dan mengontrol tubuh warga kota nampak membentang. Ujung lain dari benang itu bergerak ringan di udara, tidak terlalu tegang dan lebih mirip seperti serat tipis dari laba-laba yang rapuh.
Benang keperakan itu mengikuti arah angin. Ujung lain dari benang tersebut berada di tempat yang jauh, tepat di tengah hutan di mana Chu Kai berada.
Pemuda yang memiliki bekas luka di pelipis sebelah kanannya itu terus berlari menelusuri hutan yang gelap. Chu Kai tidak bisa melihat di kegelapan dan kerenanya dia beberapa kali harus tersandung akar pepohonan dan terjatuh.
Hanya saja, rasa sakit yang dialami Chu Kai tidak sebanding dengan jeritan pilu yang terus terngiang di telinganya. Semakin dia berlari, maka semakin jelas suara tersebut yang bisa dipastikan memang berasal dari Kota Lianyi.
"Ayah..."
Napas Chu Kai tidak beraturan, rasa khawatir dan takut terlihat jelas di wajahnya. Dia terus berlari dan tiba-tiba terkejut, bahkan spontan melompat mundur dan bersembunyi di balik salah satu pohon.
Dada Chu Kai turun-naik, dia menelan ludah dan wajahnya memperlihatkan rasa pucat disertai mata yang terbuka lebar. Ketegangan terlihat jelas di samping suara debaran jantungnya yang begitu cepat.
Alasan mengapa Chu Kai bisa bersembunyi seperti itu adalah karena dia merasakan bahaya. Pemuda bermata hijau alami itu pun sedikit mengintip dan benar saja---di puncak salah satu pohon terlihat dua orang berpakaian merah. Corak anggrek bulan pada pakaian dua sosok tersebut mengingatkan dirinya pada wanita yang ingin membunuhnya di hutan waktu itu.
"Mereka..." mata Chu Kai menyipit. Dia tidak tahu pasti apa yang dilakukan oleh dua sosok di atas pohon tersebut, tetapi perasaan cemas masih terlihat jelas di wajahnya.
Kondisi di sekitar Chu Kai memang gelap, tapi bukan berarti dia tidak bisa melihat sama sekali. Masih ada cahaya bulan di atas sana dan dengan sinar yang turun melalui celah dedaunan. Pakaian dua sosok tersebut diterangi cahaya itu dan inilah yang membuat Chu Kai mengenali pola pakaian mereka.
__ADS_1
"................." Chu Kai kembali bersandar pada pohon dengan jantung yang masih berpacu kencang. Keringat mengucur di dahinya saat dia menelan ludah.
Dia masih ingat dengan jelas, seakan-akan itu baru saja terjadi kemarin. Chu Kai berada di dekat sungai waktu itu dan seorang wanita datang dengan niat ingin menghabisi nyawanya.
Wanita tersebut tahu tentang dirinya yang terpilih menjadi Pendekar Naga dan saat bertarung dengannya---wanita itu sempat menyinggung tentang 'Kultivasi Gelap' dan 'Aliran Hitam'. Apalagi, ini semua ditujukan padanya dan mungkin karena tanpa sengaja dia menghabisi nyawa wanita itu... Sekarang rekan wanita tersebut datang mencarinya.
"Bagaimana ini..." Chu Kai berusaha untuk mencari jalan keluar. Masalahnya, jika memang dialah yang diincar---kenapa justru warga Kota Lianyi yang diserang?!
"Apa yang kupikirkan." Chu Kai menggeleng, "Mereka orang yang jahat. Tidak peduli cara apa yang digunakan, mereka pasti akan melakukannya. Orang-orang ini... Sama seperti siluman laba-laba yang waktu itu, mereka menyerang warga biasa yang tidak bersalah."
Chu Kai mengepalkan kuat tangannya dan baru akan berjalan ke arah yang lebih aman saat sebuah lesatan serangan datang dan hampir saja mengenainya. Lintasan serangan tersebut menghantam sebuah pohon dan membuatnya meledak. Chu Kai langsung tegang dan syok berat.
!!!
Di sisi lain, dua sosok yang berada di atas pohon adalah wanita kembar bernama Meng Yu Ning dan Meng Yu Xia. Mereka bersaudara dengan kemampuan yang berbeda. Meng Yu Ning merupakan seseorang yang ahli dalam teknik Benang Pengikat, sementara Meng Yu Xia memiliki keahlian dalam teknik kutukan.
"Kupikir tadi ada yang bergerak," Meng Yu Xia menatap tanpa nada berkata, "Sepertinya hanya perasaanku saja."
"Kurasa itu hanya hewan liar. Fokus saja," Meng Yu Ning memainkan kesepuluh jari tangannya. Ada benang keperakan yang seakan keluar dari ujung jarinya dan inilah yang mengontrol pergerakan para warga Kota Lianyi.
Meng Yu Xia membantu saudaranya dengan mengirimkan teknik kutukan melalui benang keperakan tersebut. Tindakannya itu yang membuat para warga kota mengerang kesakitan dan bahkan sampai menggunakan berbagai cara untuk menyakiti diri sendiri.
Di sisi lain, Chu Kai yang bersembunyi di balik pohon terlihat memegang dadanya. Hampir saja dia tewas terkena serangan yang luar biasa mengejutkan itu. Tubuhnya bahkan tanpa sadar gemetar dan dia berusaha sebisa mungkin untuk mengatur napas.
"Aku harus pergi dari sini. Mereka jelas bukan orang sembarang. Aku akan mati jika sampai ketahuan," Chu Kai dengan hati-hati bergerak, ketegangan nampak di wajahnya.
__ADS_1
Pemuda itu bergerak di luar wilayah di mana kedua wanita kembar tersebut bisa menyadari keberadaannya. Chu Kai hampir jauh saat mendadak dia merasakan jantungnya nyaris melompat keluar dari telinganya.
!!!
Chu Kai berpikir dia sudah lolos, namun tidak jauh di depannya terlihat sosok wanita yang berdiri. Pakaian sosok itu berwarna merah dengan corak anggrek bulan, sama seperti wanita yang pernah dia habisi. Chu Kai bahkan tidak tahu sejak kapan dia menahan napas.
"Ternyata aku memang tidak salah. Ada orang yang mengintip tadi,"
!!
Sosok yang ada di hadapan Chu Kai saat ini jelas adalah Meng Yu Xia. Wanita berpakaian merah itu nampak memain-mainkan rambutnya sambil memperhatikan pemuda di hadapannya.
Chu Kai bahkan tidak sanggup menelan ludah, "Ba-bagaimana dia bisa ada di sini..?"
Jelas sekali sebelumnya ada dua sosok yang berada di atas pohon dan Chu Kai pun yakin sudah berhati-hati melangkah. Namun entah bagaimana salah satu dari sosok yang dia lihat kini berdiri di hadapannya.
"Siapa dia?"
!?
Suara lain itu membuat Chu Kai semakin tegang. Dia melihat ke atas dan terkejut saat menyaksikan ada wanita lain yang duduk di dahan pohon sambil tetap memainkan benang-benang di jarinya.
"Sudah kubilang ada yang melihat kita dan ternyata hanya pemuda biasa ini," Meng Yu Xia buka suara.
Wanita yang berada di atas dagan pohon melihat ke bawah dan kemudian mendengus, "Hanya pemuda biasa. Tidak berguna. Langsung habisi saja,"
__ADS_1
!!!
******