LAHIRNYA PENDEKAR NAGA

LAHIRNYA PENDEKAR NAGA
94 - Akhir Pertarungan


__ADS_3

Mengetahui bahwa serangan yang datang dan memadamkan api di sekitar para murid Sekte Gunung Wushi adalah milik Pendekar Suci Wei Zhang Zihan membuat mereka akhirnya bisa bernapas lega. Ini berarti musuh benar-benar sudah dikalahkan.


"Cepat bantu dan padamkan apinya!" seorang murid Sekte Gunung Wushi berseru. Dia dan rekan-rekannya mulai berusaha untuk memadamkan api yang membakar bangunan serta pohon di sekitar mereka.


Meski musuh sudah dikalahkan, tetapi situasi belum dapat dikatakan baik sebab ada banyak tempat yang dilalap oleh api. Xia Ling Qing dan Liu Han Ying pun bahkan terlihat berusaha keras untuk memadamkan api di sekitar mereka. Keduanya menyerang sungai sehingga tercipta ledakan yang dapat membuat hujan buatan walau hanya bertahan beberapa saat.


Jauh di tempat lain, Chu Kai terlihat kembali ke lokasi di mana ia meletakkan tubuh Shen Liang yang terluka. Dia sebelumnya menitipkan teman baiknya ini pada salah satu warga yang dikenalnya sebagai Paman Shu Ji.


Shu Ji merupakan pria berotot yang memiliki kedai daging b*bi dan berada di samping kedai ayah Chu Kai. Dia sosok yang terlihat garang, tapi sebenarnya baik hati. Chu Kai sangat menghormati subjek ini, bahkan sudah menganggapnya sebagai ayah kedua.


"Kai, kau akhirnya datang?" Shu Ji melihat Chu Kai tergesa-gesa menghampirinya. Dia dapat melihat bahwa pemuda bermata hijau di hadapannya berwajah sangat pucat dan ada beberapa bekas sayatan pada pakaian pemuda ini.


"Paman, bagaimana kondisi Shen Liang?" Chu Kai sama sekali tidak peduli pada kondisi tubuhnya sendiri. Dia lebih khawatir pada keadaan teman baiknya.


"Masih dalam perawatan,"


"Aku ingin melihatnya, di mana Shen Liang?" Chu Kai mengedarkan pandangan dan memang tidak hanya dia dan Shu Ji di tempat ini, tetapi juga ada banyak warga Kota Lianyi.


Tidak semua tempat di kota ini terbakar, apalagi mengalami serangan dari anggota Sekte Bulan Mati. Tempat-tempat yang selamat adalah lokasi paling jauh dari wilayah Sekte Gunung Wushi dan salah satunya adalah daerah yang bernama Distrik Lianhua ini.


Shu Ji membawa Chu Kai ke kediaman seorang saudagar kaya yang cukup ramah dengan menjadikan tempat tinggalnya sebagai salah satu tempat pengungsian. Di sebuah kamar dalam kediaman yang luas inilah... Shen Liang dirawat.


Chu Kai yang memasuki ruangan itu pun melihat Jing Hao duduk di sebuah kursi yang dekat dengan tempat tidur. Seorang tabib juga terlihat ada di ruangan itu dan duduk di pinggir tempat tidur.


"Kai," Jing Hao memanggil Chu Kai lebih dahulu saat melihat teman baiknya itu datang.


"Bagaimana kondisi Shen Liang?" Chu Kai bertanya. Raut wajahnya masih terlihat cemas.

__ADS_1


"Tabib sudah mengobati dan membalut lukanya dengan perban, tapi sampai saat ini Saudara Shen belum juga sadarkan diri." Jing Hao bersuara lemah. Dia memang tidak terluka, tetapi rasa syok masih mengguncang hatinya.


"Kalian jangan khawatir, dia sekarang baik-baik saja." tabib tersebut buka suara. Dia pun berdiri dan menepuk bahu Jing Hao sambil berkata, "Aku masih memiliki banyak pekerjaan, jadi kau dan temanmu sebaiknya pergi beristirahat."


"Terima kasih..." nada suara Jing Hao benar-benar tidak seperti biasanya. Tentu itu wajar, sebab teman baiknya sedang terluka saat ini.


Chu Kai duduk di pinggir tempat tidur dan melihat wajah pucat Shen Liang. Teman baiknya ini mempunyai kulit yang halus dan lembut, benar-benar kepribadian yang mencerminkan seorang sarjana. Subjek ini tidak seperti dirinya dan Jing Hao yang terlihat begitu kasar.


"Kai.... Sebenarnya apa yang terjadi?" Jing Hao buka suara. Dia menatap temannya dan lantas berkata, "Bagaimana kota kembali diserang lagi? Dan bahkan serangan ini pun... Sama buruknya dengan yang pernah terjadi."


"............. Sekte Bulan Mati," Chu Kai menatap Jing Hao dan melanjutkan. "Ini semua adalah perbuatan dari Sekte Bulan Mati,"


"Tapi kenapa selalu kita yang menjadi korban?" Jing Hao mengepalkan tangannya dan berkata, "Sekte Bulan Mati selama ini hanya melukai orang-orang yang bersinggungan dengan mereka secara langsung. Meskipun berasal dari Aliran Hitam, tetapi Sekte Bulan Mati tidak akan mengganggu manusia biasa. Jadi apa maksudnya ini?"


Chu Kai menatap Jing Hao dan berkata, "Kawan. Meski selama ini Sekte Bulan Mati tidak pernah melukai warga Kota Lianyi, namun bukan berarti mereka akan selalu seperti itu. Kau sendiri mengetahuinya bahwa sudah banyak tempat yang rata dengan tanah karena ulah sekte ini. Jadi apa yang membuatmu berpikir mereka akan mengecualikan kota kita?"


Jing Hao tersentak. Dia menatap Chu Kai sebelum mengarahkan pandangan pada Shen Liang. Dia pun berkata, "Aku benar-benar tidak terima mereka membuat Liang'Er seperti ini. Dia adalah teman masa kecil saudara yang sangat penting bagiku,"


"Shen Liang juga berarti untukku. Dan sama sepertinya.... Kau pun adalah orang yang berarti bagiku." Chu Kai menatap Jing Hao dan melanjutkan, "Aku marah karena mereka berani melukai kalian. Sekte Bulan Mati itu.... Ingin sekali kuhancurkan,"


Chu Kai menarik napas dan berkata, "Tapi aku tahu... Bahwa ini belum saatnya. Sekarang, aku masih belum bisa menghadapi mereka."


*


*


Sudah bukan rahasia lagi jika Sekte Bulan Mati sangat ditakuti oleh hampir semua sekte yang ada di Dataran Tengah. Dan hal yang membuat sekte ini terus berdiri hingga sekarang serta tidak seorang pun yang berani menyinggung mereka adalah karena para anggotanya.

__ADS_1


Benar. Anggota Sekte Bulan Mati adalah para kultivator yang hebat dan sulit dikalahkan. Di antara mereka bahkan ada yang mempelajari kultivasi gelap dan Chu Kai baru saja melawan salah satunya.


Feng Huang Lin merupakan anggota Sekte Bulan Mati yang ahli dalam kultivasi gelap ini. Itulah sebabnya mengapa Xia Ling Qing sangat mewaspadainya. Subjek ini jelas tidak mungkin dapat dikalahkan dengan mudah.


Chu Kai memang berhasil membuat tubuh Feng Huang Lin terbelah dan terbakar, namun bukan berarti sosok tersebut telah tiada. Wanita itu sebenarnya mempelajari kultivasi gelap yang membuatnya bisa membentuk kloning, bahkan tidak seorang pun yang akan menyadarinya.


Seperti saat ini di mana sehelai selendang merah keluar dari tanah, sebuah tempat yang jauh dari Kota Lianyi. Lokasi di pinggir tebing di mana ada seorang wanita berpakaian serba putih duduk bersila dengan topi kertas yang menutupi kepala serta menyembunyikan wajahnya.


Selendang itu bergerak berputar di samping sosok tersebut dan mulai terlihat kaki jenjang serta tubuh yang sama dengan Feng Huang Lin sebelumnya.


Wanita berusia 24 Tahun itu mengusap lehernya dan kemudian berkata, "Rasanya sakit sekali. Pendekar Naga itu membunuhku,"


"Hmph, tapi ini menyenangkan~" Feng Huang Lin tersenyum, "Dia cukup bisa diandalkan~"


"Kenapa kau menghentikan serangan dari ikan-ikanmu?" Feng Huang Lin menatap wanita yang ada di dekatnya. Subjek itu terlihat memegang kuas dan ada sebuah kertas berukir ikan besar yang mirip seperti binatang iblis yang mengacau di Kota Lianyi.


"Perintahnya hanya mengacaukan, bukan memusnahkan apalagi sampai melakukan pembantaian besar-besaran." sosok berpakaian putih itu buka suara. Dia hanya menatap lukisan pada kertas di hadapannya tanpa menatap ke arah Feng Huang Lin.


Lukisan ikan pada kertas milik wanita itu pun perlahan menghilang. Feng Huang Lin lantas kembali buka suara, "Kau menggunakan terlalu banyak energi spiritual. Aku juga ingin protes. Karena ulahmu, tubuhku jadi terbakar."


"Kau saja yang bodoh karena tidak berhati-hati," wanita berpakaian putih itu berkata. "Anggota kita mati di tangan Pendekar Naga adalah bukti bahwa subjek itu tidak boleh diremehkan. Dia mungkin saja terlihat seperti pemuda payah, tapi kekuatannya benar-benar luar biasa."


"Kau jangan memujinya, itu membuatku merasa kesal."


"Kita akan menghadapi pemuda itu lagi. Kali ini... Dia akan mati di Lembah Tanah Berapi."


******

__ADS_1


__ADS_2