LAHIRNYA PENDEKAR NAGA

LAHIRNYA PENDEKAR NAGA
21 - Pengungkapan


__ADS_3

Chu Kai terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba yang dilontarkan oleh Wei Zhang Zihan. Dia bahkan sampai menelan ludah karena tidak tahu harus mengatakan apa.


"Aku menunggu," Wei Zhang Zihan butuh jawaban segera dan hanya pemuda ini yang mengetahui kejadian sebenarnya.


Ada mayat wanita di tengah hutan dan juga kondisi di sekitar tempat itu membuktikan bahwa pernah terjadi pertarungan sengit di situ dan Chu Kai pun ada dalam kondisi yang tidak sadarkan diri.


Rerumputan dan pepohonan di sana juga terlihat mati, tentu saja ini adalah hal yang aneh mengingat itu merupakan hutan lebat dan nampak subur. Jadi sudah pasti ini adalah dampak dari pertarungan itu.


"Aku..." Chu Kai menjadi sangat gugup, apalagi saat ditatap oleh Wei Zhang Zihan. Dia pun berusaha untuk bicara, "Aku sebenarnya..."


Chu Kai berujar pelan. Suaranya terbata, "A-aku juga tidak tahu apa-apa. Ya-yang kuingat adalah... A-adalah aku duduk di pinggir sungai dan seorang wanita asing datang padaku. Dia mengatakan ingin me-menghabisiku. Aku bahkan tidak mengenalnya dan tidak tahu namanya. Ke-kemudian semuanya berubah menjadi hitam, aku tidak tahu apa yang terjadi."


Wei Zhang Zihan mengerutkan kening, nada suaranya dingin saat bertanya. "Kau yakin?"


Chu Kai menelan ludah dan mengangguk. Dia bisa merasakan jantungnya berpacu sangat kencang dan tersentak saat tiba-tiba Wei Zhang Zihan mengulurkan tangannya.


"Akan kuperiksa nadimu, ulurkan tanganmu."


!!!


Chu Kai terkejut. Dia menatap Wei Zhang Zihan dan hanya menemukan wajah tenang beserta tatapan mata yang sangat serius, bahkan rasanya tatapan mata pria ini seakan sedang menggali lebih dalam tentang dirinya.


"Ulurkan tanganmu," Wei Zhang Zihan berujar kembali. Dia tidak mendapat respon dari pemuda ini, jadi dia pun langsung duduk di pinggir tempat tidur dan meraih tangan Chu Kai.


"Kalau lebih baik bicara jujur sekarang atau jika sampai kutemukan sesuatu yang salah, kau tidak akan tahu apa yang bisa kulakukan." suara Wei Zhang Zihan tenang, tetapi jelas dia sedang memberi ancaman pada pemuda di depannya.


Chu Kai berkeringat dingin dan di saat yang sama suara Jing Hao terdengar dari luar, bahkan pintu pun seketika dibuka. Chu Kai memanfaatkan kesempatan itu untuk menarik tangannya, tetapi Wei Zhang Zihan memegang begitu kuat.


Sesuatu yang tidak Wei Zhang Zihan duga adalah tarikan tangan Chu Kai yang tiba-tiba. Gerakan mengejutkan ini membuatnya justru tertarik dan berakhir dengan posisi jatuh menindih pemuda ini. Jing Hao hanya menyaksikan bagian akhir dan terlihat membeku di bibir pintu.


!!!


Pemandangan dari segi penglihatan Jing Hao benar-benar bisa membuat siapa pun salah paham. Tetapi tentu saja itu tidak berlangsung lama sampai terdengar suara rintihan Chu Kai yang ternyata langsung mendapat sentilan keras di dahinya dari Wei Zhang Zihan.


"Aduh..!" Chu Kai sampai terlonjak kaget. Dia mengusap-usap dahinya yang sanga sakit dan panas secara bersamaan. Dia pikir, dahinya sudah berlubang sekarang.


"Memalukan! Apa yang kau lakukan tadi?" Wei Zhang Zihan membentak.


"A-aku sama sekali tidak sengaja. Ju-justru kau yang melakukannya..! Kau menjitakku, aduh.."


Wei Zhang Zihan kembali menyentil dahi Chu Kai dan membuat pemuda itu lagi-lagi merintih. Kali ini Chu Kai sampai melompat dari atas tempat tidur dan menatap ke arahnya.


"Pendekar Wei..! Kau ini sangat keterlaluan, shh.. Apa kau berniat melubangi dahiku, hah?" Chu Kai merasakan denyutan di dahinya. Dia yakin dahinya memerah sekarang dan mungkin saja akan membengkak.


Jing Hao berkedip, dia melihat Wei Zhang Zihan sama sekali tidak merasa bersalah dan di sisi lain Chu Kai terus saja merutuk. Dia pun menarik napas dan menggeleng pelan.


Bisa melihat Chu Kai seperti ini berarti kondisi temannya itu sudah pulih dan tidak perlu ada yang dicemaskan. Dia pun memanggil teman baiknya dan juga Pendekar Suci Wei Zhang Zihan untuk makan siang bersama.


*

__ADS_1


*


Di kedai milik Chu Tian, mereka mempunyai tiga ruangan yang dikhususkan bagi pelanggan kedai yang membawa satu keluarga untuk makan di tempat ini. Ruangan tersebut hanya sesekali digunakan, tetapi kebersihannya tetap terjaga.


Tempat ini pun digunakan untuk menjamu Wei Zhang Zihan sebab jika sosok seperti pemuda tampan ini duduk di bangku biasa, maka yang ada justru kedai milik Chu Tian akan diserang oleh orang-orang yang sangat ingin melihat Pendekar Suci. Wei Zhang Zihan pun akan menjadi tidak nyaman.


Di dalam ruangan ini, Jing Hao dan Chu Tian beserta dua orang pelayan kedai nampak membawakan makanan yang paling banyak diminati. Wei Zhang Zihan mengangguk pelan sebagai rasa hormatnya pada Chu Tian sebelum kembali menatap pemuda yang duduk satu meja dengannya.


"Ayah, kau sangat baik~" Chu Kai terlihat sangat senang. Dia baru saja akan mulai makan saat tangannya ditepis oleh ayahnya sendiri.


Chu Tian berkata, "Kau ini sangat tidak sopan. Persilahkan Pendekar Wei terlebih dahulu, apa aku mengajarimu memperlakukan tamu seperti itu?"


Chu Kai berkedip beberapa kali dan langsung protes, "Ayah. Yang sedang terluka dan sakit di sini adalah aku, putramu. Lihat dahiku. Ada benjolan sekepalan anak kecil dan itu karena orang ini-aduh!"


Chu Tian mendengus saat kembali menjitak kepala putranya. Dia berkata, "Kau pantas mendapatkannya."


Chu Kai cemberut. Dia melihat ayahnya sangat sopan dan ramah pada Wei Zhang Zihan dan bahkan pamit pun begitu sopan. Tetapi Chu Tian justru memperingatkan dirinya agar tidak membuat masalah dengan Wei Zhang Zihan.


Ditinggalnya hanya berdua di ruangan ini membuat Chu Kai kembali gugup. Apalagi Wei Zhang Zihan tidak bicara dan hanya duduk sambil memandanginya.


Merasa resah membuat Chu Kai akhirnya buka suara, "Pendekar Wei. Jika kau ingin-"


"Aku memang ingin bertanya sesuatu." Wei Zhang Zihan menyela. Dia tanpa nada bertanya, "Kenapa kau tiba-tiba pergi dan meninggalkan Sekte Gunung Wushi?"


!!


"Apa alasanmu hingga kau berani pergi dan bahkan tidak mengatakan apa pun padaku?" Wei Zhang Zihan bersuara dingin dan membuat Chu Kai terkejut.


"Tanpa pemberitahuan?"


"Tetua Wang Zhong Xian berkata bahwa dia tidak ingin aku merasa dipaksa memikul tanggung jawab sebagai Pendekar Naga. Jadi... Dia memintaku untuk pulang dan memikirkan ini baik-baik,"


"Dan kau justru pergi ke hutan?"


"Jika aku pulang, kedai ini akan dipenuhi sesak karena Ayah pasti mengabarkan kedatanganku pada semua orang. Dan lagi... Aku..." Chu Kai tertunduk dengan suara yang sangat pelan. Dia berkata, "Aku tahu... Jika kau mendengar bahwa aku pergi meninggalkan sekte... Kau mungkin akan pergi mencariku ke tempat ini dan menyeretku kembali. Ja-jadi karena itulah aku... Masuk ke hutan,"


Wei Zhang Zihan mengambil cawan keramik berisi teh di atas meja. Dia meminumnya dan kemudian menghembuskan napas, "Apa kau tidak ingin menjadi Pendekar Naga?"


Chu Kai tersentak, dia menatap Wei Zhang Zihan sebelum kembali menunduk dan lantas berkata. "Aku tidak tahu... Aku sangat syok saat Master Zhuang memilihku. Aku sungguh tidak menyangka akan bisa terpilih menjadi... Pendekar Naga."


"Seseorang tidak bisa memilih akan seperti apa takdirnya nanti. Kau bisa saja mengambil jalan yang berbeda, tetapi jika langit sudah mentakdirkanmu menjadi Pendekar Naga, maka kau tidak akan bisa mengubahnya."


"..............."


Wei Zhang Zihan melihat pemuda di hadapannya diam dan hanya menunduk. Dia pun berujar tanpa nada, "Aku tahu mungkin kau sangat takut akan kematian hingga tidak ingin mengambil gelar ini. Dan tentu saja, tanggung jawabnya besar jika memikul gelar ini."


"Pikirkan baik-baik," Wei Zhang Zihan bangkit dari tempat duduknya. Dia berkata, "Jika kau sudah membuat keputusan... Aku yakin bahkan tanpa bantuanku pun, kau tahu jalan ke arah Gunung Wushi."


!!

__ADS_1


Chu Kai tersentak saat Wei Zhang Zihan mulai berjalan pergi. Bibirnya terbuka hendak bicara, tetapi sudah terlambat sebab Wei Zhang Zihan sudah membuka pintu dan pergi keluar. Pintu itu bahkan ditutup kembali dan sosok Wei Zhang Zihan tidak lagi terlihat.


Chu Kai menatap hidangan di atas meja dan aroma enak ini justru semakin membuatnya merasa gelisah. Dia mengusap-usap wajahnya saat tiba-tiba pintu kembali terbuka bersamaan dengan suara Chu Tian yang memanggilnya.


"Kai,"


"Ayah..." Chu Kai berdiri, dia melihat Chu Tian berjalan masuk dan menghampirinya.


"A-Ayah, apa Ayah me-mendengar semuanya?" Chu Kai tentu saja gugup. Pasalnya dia tidak ingin jika pria ini sampai mendengar bahwa sebenarnya dia tidak menginginkan menjadi Pendekar Naga.


Chu Tian memperhatikan wajah pemuda berusia 18 Tahun di hadapannya. Kedua tangannya terulur dan menyentuh pipi putranya. Dia melihat mata hijau alami dan garis wajah yang memang tidak seperti milik orang asli tanah ini.


"Ayah..."


"Putraku..." Chu Tian menarik napas dan menepuk kedua bahu pemuda di hadapannya. Dia berkata, "Ayah tahu kegelisahanmu.."


Chu Tian mengangguk, "Kau bukan orang yang penakut, Ayah tahu itu..."


"Ayah..." Chu Kai memejamkan mata sejenak dan suaranya agak gemetar saat berkata, "Aku pernah berjanji pada diriku sendiri... Bahwa aku tidak akan pernah memakai ajaran dari tempat itu, tapi.. Aku justru melakukannya Ayah. Aku... Menggunakannya dan mengambil nyawa orang lain,"


Chu Tian meraih tangan pemuda di depannya dan berkata, "Selama ini aku menjagamu dengan sangat baik. Kau anak yang penurut dan tidak pernah membuatku kesulitan. Aku percaya sepenuhnya padamu. Aku yakin kau punya alasan atas semua yang kau lakukan,"


Chu Kai mengangguk, dia mengajak Chu Tian duduk. Dia sendiri berlutut di depan ayahnya dan memegang kedua tangan Chu Tian.


Kai menjelaskan. "Aku pergi ke hutan dan saat berada di pinggir sungai... Ada wanita asing yang datang dan kemudian menyerangku. Dia ingin menghabisiku dan kupikir itu karena gelar Pendekar Naga. Aku... Tidak bisa melawannya. Jadi.. Aku terpaksa menggunakan itu,"


"Ayah... Kau menemukanku saat aku berusia 10 Tahun dan menjagaku selama lebih dari 8 Tahun, bahkan tanpa pernah menanyakan aku berasal dari mana dan kenapa aku berada di tempat seperti itu. Kau pun tidak pernah bertanya apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa aku memiliki banyak luka. Aku... Aku tidak menyembunyikan semuanya darimu."


"Aku tidak ingin memaksamu, Nak. Kau bisa mengatakan semuanya saat benar-benar siap,"


"Ayah..." Chu Kai mencium kedua tangan ayahnya, dia menahan air mata saat berkata. "Aku... Sebelumnya aku tinggal di kedalaman Hutan Móguǐ. Seperti namanya, tempat itu..."


Chu Kai merasa berat saat mengatakannya. Air jatuh dan membasahi pipinya saat dirinya menguatkan diri untuk bicara. "Tempat itu dihuni oleh makhluk yang sangat mengerikan. Mereka mengajariku bahwa hidup hanyalah kematian dan bahwa dunia luar tidak akan pernah menerimaku,"


"Aku... Aku sendiri justru merasa bahwa itu bukan tujuan hidupku. Bahwa hidup bukan hanya tentang kematian. Aku merasa bahwa tempatku ada di sini... Bersama manusia. Jadi aku memutuskan pergi... Aku pergi dari tempat itu. Lalu kemudian... Ayah menemukanku,"


"Ayah, aku tahu bahwa dunia tidak hanya di huni oleh manusia atau Binatang Iblis. Aku sebenarnya ingin menjadi Pendekar Naga, tetapi karena identitas ini... Aku merasa tidak pantas. Kekuatan yang kumiliki... Bukan kekuatan yang dapat melindungi. Orang-orang akan takut dan aku tidak mau mereka semua... Menjauhiku. Ayah, tolong jangan usir aku. Aku.."


"Tidak, Nak. Tidak sama sekali," Chu Tian mengusap kepala putranya dan berkata, "Meski usiaku belum sampai 70 atau 100 Tahun, tapi aku sudah mendapat banyak pengajaran dari hidup. Banyak sosok manusia, Nak. Namun hati mereka seperti bukan manusia. Kau jangan pedulikan identitasmu yang manusia atau bukan, karena yang menunjukkan seperti apa kemanusiaan seharusnya... Ada di hatimu."


Chu Tian tersenyum dan mengusap air yang membasahi pipi pemuda di hadapannya. Dia berkata, "Lihat dirimu. Kau sudah dewasa, tapi masih menangis. Apa ini yang akan membawa menantuku kemari, hm?"


"Ayah... Aku menangis karena dahiku sakit. Pendekar Wei itu kejam sekali,"


"Aiya... Aku bisa melihatnya. Ada benjolan di dahimu. Sekarang berhenti menangis dan makanlah, hm. Akan kubawakan minyak untuk dahimu,"


Chu Kai mengangguk pelan. Dia pun berdiri dan kemudian diminta duduk oleh Chu Tian. Makanan di meja ini merupakan masalah terenak yang didapatkannya. Dia pun mulai makan sambil menunggu Chu Tian kembali.


Ini pertama kalinya dia bisa jujur dan mengatakan identitas tentang dirinya. Dia memang tidak ingin menyembunyikan hal ini selamanya pada Chu Tian, tetapi sebelumnya dia sangat khawatir jika identitasnya tidak diterima.

__ADS_1


Namun sekarang rasanya jauh lebih melegakan, seakan sesak di dadanya hilang. Tetapi tetap saja meski ayahnya tidak masalah, namun bukan berarti orang lain akan seperti itu. Chu Kai saat ini hanya bisa jujur pada ayahnya saja. Dia masih ragu untuk mengatakannya pada orang lain, apalagi pada sosok seperti Pendekar Wei Zhang Zihan.


******


__ADS_2