
Xia Ling Qing berhasil membawa Wei Zhang Zihan dan para pendekar yang lain melewati lautan yang dipenuhi monster ular. Pendekar suci dari Sekte Gunung Wushi itu terlihat sangat pucat, bahkan dia mengejutkan Liu Han Ying karena memuntahkan darah.
"Ling Qing'Er, kau baik-baik saja?" Liu Han Ying segera menahan tubuh Xia Ling Qing. Dia pun menatap ke arah Wei Zhang Zihan dan berkata, "Sebaiknya kita bawa Ling Qing'Er untuk diobati."
"Aku baik-baik saja," Xia Ling Qing menolak.
"Duduklah dulu," Wei Zhang Zihan menuntun Xia Ling Qing dan gadis itu pun mulai mengambil posisi duduk bersila.
Wei Zhang Zihan menggunakan sebuah segel tangan dan mengalirkan energi spiritualnya untuk membantu mengurangi rasa sakit yang dialami Xia Ling Qing. Dia mencoba mengobati luka dalam dari tubuh gadis di hadapannya ini.
Liu Han Ying memperhatikan sekitarnya dan ada beberapa pendekar yang juga duduk bersila. Bisa dikatakan mereka semua sedang berusaha mengumpulkan tenaga kembali sambil mengobati beberapa luka dalam walau hanya sedikit.
Di sisi lain, Shuang Shu Chen menatap jauh ke depan. Ia menyaksikan ada banyak titik cahaya berjatuhan menghantam Pulau Yèzi. Beberapa terlihat ledakan dan juga kobaran api, seolah pulau tersebut hendak dibakar habis oleh seseorang.
"Apa Kai masih ada di sana?" Xia Ling Qing buka suara dan membuat Liu Han Ying serta Shuang Ling Feng tersentak. Pertanyaannya ini jelas menarik perhatian beberapa orang yang mendengarnya.
"..............." Shuang Shu Chen tidak tahu harus mengatakan apa. Dilihat dari situasi pulau di hadapannya, maka mustahil ada makhluk yang dapat melarikan diri. Kobaran api sudah menyebar hingga ke seluruh tempat dan membakar semuanya.
*
*
Chu Kai saat ini berada di antara hutan yang terbakar dan masih dalam pertarungan melawan Feng Hao Yan. Dia berusaha menghindari setiap terjangan dari bebatuan besar yang terbakar, entah dari mana.
Kekuatan Feng Hao Yan sungguh luar biasa, Chu Kai pun merasa kagum karenanya. Dia jelas akan sulit untuk menang menghadapi anggota dari Sekte Bulan Mati ini.
"Terimalah murka dewa api..!" tubuh Feng Hao Yan dipenuhi oleh energi spiritual yang membara. Hujaman bola api raksasa datang dan menghantam berbagai tempat, membakar apa pun yang dilaluinya.
Chu Kai yang saat ini berada di antara rerumputan yang berkobar nampak menghunus pedangnya. Dia menatap ke udara, tempat di mana Feng Hao Yan berada dan lalu mulai buka suara.
"Mengagumkan. Aku benar-benar harus mengerahkan segalanya untuk menghadapimu,"
Chu Kai menekan sedikit jempol tangannya pada bilah pedang hingga darah terlihat keluar. Asap kehitaman pun muncul menyelimuti pedang tersebut dan kemudian menyebar hingga ke seluruh tubuhnya.
"Teknik Pernapasan Naga... Wujud Darah!"
__ADS_1
Api di sekitar Chu Kai dengan cepat berubah menjadi hitam, seluruh kondisi di sekitarnya langsung menjadi gelap. Bahkan Feng Hao Yan yang sebelumnya begitu bersemangat kala menjatuhkan hukuman nampak melebarkan mata. Pandangannya yang lurus ke langit terlihat luar biasa terkejut.
!!!
Feng Hao Yan melihat langit di atasnya berubah menjadi sangat merah, selayaknya darah. Ada sebuah wujud yang mulai nampak dan itu terlihat bagai sepasang mata besar yang luar biasa menakutkan. Tubuhnya menegang dan bergetar tanpa di sadari.
"A-apa itu?!"
Wujud sosok itu terlihat semakin jelas dan sebuah suara asing yang menyakitkan telinga terdengar. Feng Hao Yan bahkan tidak bisa memikirkan reaksi apa yang harus ia lakukan, pandangan matanya seluruhnya berubah merah sebelum akhirnya menjadi gelap.
*
*
Shuang Shu Chen yang saat ini sedang berjaga, melindungi para pendekar yang lain tiba saja memuntahkan darah. Jantungnya berdetak sangat kencang seolah baru saja diguncang oleh sesuatu, ia menatap lurus ke arah depan dan menyaksikan bagaimana Pulau Yèzi entah sejak kapan ditutupi kabut hitam.
"Ukh! Tekanan apa ini?" seorang pendekar yang tidak jauh dari tempat Shuang Shu Chen juga ikut merasakannya. Dia menekan dadanya dan kemudian memuntahkan darah. Kejadian itu membuat para pendekar yang lainnya terkejut.
"Lebih baik jika kita segera pergi dari tempat ini," Shuang Shu Chen buka suara. Dia kembali berujar, "Rasanya... Keadaan akan semakin buruk jika kita terus berada di sini."
"Ling Qing'Er, kau sudah baik-baik saja?" Liu Han Ying masih terlihat khawatir. Dia berkata, "Sebaiknya kau jangan memaksakan diri. Tarik kembali teknikmu ini,"
"Aku sudah baikan sekarang. Tidak perlu khawatir," Xia Ling Qing kemudian melompat dan menapak tepat di atas punggung burung phoenix miliknya. Dia mengajak para pendekar untuk ikut naik karena hanya dengan cara ini mereka dapat pergi lebih cepat.
"Kalian pergilah duluan, aku akan tetap di sini." Wei Zhang Zihan menolak untuk menaiki phoenix api Xia Ling Qing. Tindakannya itu membuat rekan-rekannya keheranan.
Xia Ling Qing menarik napas dan tanpa nada bertanya. "Apa yang akan kau lakukan di tempat ini? Apa kau akan 'menunggunya'?"
"Mn," Wei Zhang Zihan mengangguk pelan. Dia jelas memahami siapa orang yang dimaksud dalam pertanyaan Xia Ling Qing barusan.
Wei Zhang Zihan berkata, "Harus ada yang tinggal. Setidaknya untuk memastikan dia baik-baik saja,"
"................" Xia Ling Qing menatap Wei Zhang Zihan. Dia bahkan sampai tidak mendengar beberapa ucapan para pendekar termasuk Liu Han Ying mengenai tindakan yang diambil oleh pemuda menawan ini.
Sambil bernapas pelan, Xia Ling Qing pun berkata. "Baiklah, segera bahwa dia ke sekte jika kau sudah bertemu dengannya."
"Mn," Wei Zhang Zihan menyaksikan burung phoenix api itu terbang dengan membawa Xia Ling Qing serta para pendekar yang lain. Kini hanya tinggal dia sendiri.
__ADS_1
Wei Zhang Zihan berada di jarak yang aman dari lautan tempat para monster ular tinggal. Dia sendiri tidak tahu bagaimana kondisi para pendekar yang terjebak bersama para monster tersebut, dan walaupun kondisinya sudah cukup baik---ia merasa masih belum mampu untuk melakukan pertarungan kembali, apalagi jika yang dihadapinya bukan hanya satu monster ular.
?!
Sebuah raungan asing terdengar dan membuat Wei Zhang Zihan mengerutkan kening. Pemuda itu cukup lama mempertimbangkan sebelum akhirnya bergerak untuk memeriksa dari mana asal suara keras itu.
Wei Zhang Zihan menyaksikan laut membentang luas di hadapannya dan terkejut kala melihat para monster ular telah tumbang tidak bernyawa. Tubuh makhluk besar itu sebagian mengambang dan dalam kondisi yang seperti habis dikuliti.
!!!
Wei Zhang Zihan mengedarkan pandangannya. Dia pun mengambil langkah mendekat untuk memastikan apa yang baru saja ia lihat dan benar bahwa penglihatannya tidak salah. Ada beberapa monster dengan tubuh yang terbelah, sebagian mengambang dan dalam kondisi yang tanpa kulit luar.
Masalahnya adalah bagaimana kondisi para monster ini bisa sangat mengerikan? Belum sempat Wei Zhang Zihan mencari jawaban atas pertanyaan itu---ia pun kembali terkejut dengan temuan beberapa pendekar yang kulit wajah serta tubuh mereka dalam keadaan serupa seperti para monster ular ini.
Wei Zhang Zihan tidak melihat ada siapa pun yang merupakan pelaku dari kejadian ini. Tidak ada orang lain selain dirinya, jadi bagaimana mungkin para monster ular termasuk para pendekar itu bisa dalam kondisi mengerikan.
Wei Zhang Zihan baru saja akan melesat untuk memindahkan seorang mayat ketika sesuatu datang ke arahnya. Tangan kanannya berada di pegangan pedang, hendak menariknya saat ia mengetahui bahwa sesuatu yang melesat itu tidak lain adalah seorang pemuda dan sangat dikenalinya.
"Kai...!" Wei Zhang Zihan segera menghampiri pemuda itu. Panggilannya membuat subjek tersebut menoleh ke arahnya.
Chu Kai sendiri jujur saja terkejut. Dia baru saja lolos dari bahaya dan sekarang justru harus bertemu dengan Wei Zhang Zihan. Dia menjadi sangat gelisah, tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan semua ini pada pendekar suci itu.
"Pe-Pendekar Wei...."
Chu Kai menelan ludah, dia mengusap darah yang mengotori pipi dan lehernya. Ia berusaha menutupinya sebelum Wei Zhang Zihan benar-benar tiba di dekatnya. Hanya saja kedua telapak tangan Chu Kai pun kotor karena darah hingga apa yang dilakukannya justru semakin memperjelas kondisinya saat ini.
"Kai..." Wei Zhang Zihan baru akan buka suara ketika melihat Chu Kai hampir terjatuh. Dia pun segera menahan tubuh pemuda itu dan merasa khawatir, "Kau terluka?"
"Pe... Pendekar Wei. Aku..." suara Chu Kai terdengar lemah. Kepura-puraannya membuat Wei Zhang Zihan tidak mengajukan banyak pertanyaan untuk sekarang, bahkan pendekar suci dari Sekte Gunung Wushi itu dengan segera merangkul untuk membawanya pergi dari tempat ini.
"Tidak perlu banyak bicara, kita harus mencari tempat untuk mengobati lukamu dulu." Wei Zhang Zihan sangat serius dan itu membuat Chu Kai melirik ke arahnya.
"..............." Chu Kai menurunkan pandangan matanya, dia tidak menolak tindakan Wei Zhang Zihan tetapi sebenarnya merasa agak bersalah pada pendekar suci ini.
"Aku sama sekali tidak terluka, tapi lebih baik berpura-pura seperti ini daripada dia bertanya yang bukan-bukan." Chu Kai diam-diam mengepalkan tangannya, "Tidak kusangka... Wujud Darah pada Teknik Pernapasan Naga semengerikan ini. Bahkan sampai mengikis kulit para monster ular yang keras itu, jangkauannya pun luar biasa luas. Ini... buruk sekali,"
******
__ADS_1