
Gerbang Kota Yanshi,
Seseorang yang baru saja datang ke Kota Yanshi ini pasti akan merasa sangat kagum dengan keindahan yang ia saksikan. Kota ini bahkan lebih gemerlap saat hari sudah gelap dan sejujurnya Chu Kai pun akan memuji keindahan tempat ini andai dia tidak melihat anomali.
Udara yang berhembus di sekitarnya memang menyejukkan, tetapi juga membawa perasaan tidak nyaman. Chu Kai yang melihat warna merah tipis di antara angin berhembus pun mulai meraih tangan Wei Zhang Zihan.
"Pendekar Wei, apa kau melihatnya?"
Wei Zhang Zihan awalnya tersentak karena tiba-tiba tangannya dipegang. Dia menoleh dan mengerutkan kening saat mendengar ucapan pemuda bermata hijau alami di sampingnya.
"Apa maksudmu?" Wei Zhang Zihan bertanya.
"Kau tidak melihatnya? Ada sesuatu di udara." Chu Kai mengerutkan kening, dia membatin. "Apa mungkin hanya aku yang melihat dan merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan ini?"
"Kau sebenarnya melihat apa?" Wei Zhang Zihan menatap Chu Kai dengan saksama.
"Itu... Aku tidak tahu menjelaskannya," Chu Kai berujar. "Semenjak berlatih merasakan energi spiritual... Aku bisa melihat warna energi itu yang bercampur dengan udara."
Chu Kai berkata, "Umumnya energi spiritual yang kulihat berwarna biru. Tetapi kali ini... Ada yang berwarna merah dan membawa perasaan tidak mengenakkan. Itulah sebabnya aku bertanya padamu,"
Wei Zhang Zihan memandang lurus ke depan dan kemudian tanpa nada berkata, "Jika kau memang melihatnya... Lantas apa kau tahu dari arah mana energi itu berasal?"
Mengetahui pemuda di sampingnya tersentak membuat Wei Zhang Zihan menoleh. Dia pun menatap Chu Kai dan berkata, "Jika kau bisa merasakan hal semacam itu, maka berarti ada sesuatu yang tidak beres. Jadi tunjukkan jalannya,"
Chu Kai mengangguk, "Aku mengerti. Ayo ke arah sini, Pendekar Wei."
Wei Zhang Zihan mengikuti Chu Kai yang mulai berjalan masuk ke salah satu lorong, melewati beberapa kedai sebelum berbelok di sebuah persimpangan. Suasana di sekitar tempat ini penuh dengan lampion, begitu indah dan samar-samar mulai terdengar alunan musik.
!
Wei Zhang Zihan melihat Chu Kai melompat dan menapak di sebuah batang pohon sebelum pemuda itu melesat. Dia menarik napas dan lantas melesat mengikuti subjek tersebut.
Entah bagaimana, gerakan mereka yang sebelumnya hanya berlari biasa kini berubah menjadi lesatan yang memakai cukup banyak energi spiritual. Bahkan kedua pemuda itu pun mulai berlari di atap bangunan penduduk kota ini.
*
*
Chu Kai menapak di sebuah atap bangunan yang lebih tinggi. Dia pun menoleh ke arah Wei Zhang Zihan saat pendekar suci itu berada di sampingnya dan lantas mulai mengulurkan tangan.
Chu Kai menunjuk sebuah bangunan dan berkata, "Aku melihat warna merah yang bercampur dengan udara berasal dari tempat itu. Bahkan warnanya semakin pekat,"
Wei Zhang Zihan memandang mengikuti arah telunjuk Chu Kai dan lalu menjelaskan, "Kota Yanshi terbagi menjadi tiga distrik dan tempat itu adalah Distrik Hiburan paling terkenal di kota ini. Kau yakin?"
Chu Kai memiringkan sedikit kepalanya karena merasa keheranan dengan pertanyaan Wei Zhang Zihan, apalagi subjek di sampingnya memasang ekspresi yang sangat serius.
__ADS_1
"Memang Distrik Hiburan itu tempat yang seperti apa?" Chu Kai bertanya.
Wei Zhang Zihan bernapas pelan. Dia pun menjelaskan, "Itu adalah tempat di mana manusia melepaskan hasrat duniawi mereka. Tempat yang terlarang untuk dikunjungi pendekar seperti kita,"
"Jadi kita tidak bisa ke sana?" Chu Kai tersentak. Dia memperhatikan ekspresi Wei Zhang Zihan dan jelas bahwa pendekar suci ini mulai ragu untuk mengambil tindakan.
Bila diingat tentang kata 'Pendekar Suci', maka sepertinya Chu Kai mengerti mengapa Wei Zhang Zihan berkata bahwa lokasi yang ingin mereka datangi adalah tempat yang terlarang. Tentu saja, Wei Zhang Zihan merupakan pendekar yang berasal dari sekte aliran putih dan tentunya mempunyai aturan.
Belum lagi subjek ini mempunyai wibawa yang mengagumkan. Jadi sekali diperhatikan pun, maka jelas bahwa Wei Zhang Zihan tumbuh besar dengan ajaran kedisiplinan yang begitu banyak. Dan keraguan yang ia lihat berhubungan dengan hal tersebut.
"Lebih baik aku saja yang pergi," Chu Kai buka suara dan membuat pemuda di sampingnya tersentak.
Sebelum Wei Zhang Zihan berbicara, Chu Kai pun kembali berkata. "Hanya aku yang bisa melihat warna itu dan merasakannya. Ini mungkin berarti bahwa itu... Memang ditujukan padaku. Jadi lebih baik aku yang pergi. Pendekar Wei mengawasi dari luar saja,"
"Pergi ke tempat itu adalah larangan bagi murid Sekte Gunung Wushi. Apa kau tidak tahu?!"
"Anggap saja bahwa aku memang tidak mengetahuinya," Chu Kai tersenyum. Dia berkata, "Lagipula aku masih termasuk baru di Sekte Gunung Wushi dan belum mempelajari aturan-aturan yang ada. Pendekar Wei berbeda denganku,"
Chu Kai menarik napas sebelum kembali berujar, "Lagipula aku seorang Pendekar Naga. Bukankah ini juga termasuk latihan untukku?"
!
Wei Zhang Zihan menatap pemuda bermata hijau di sampingnya, namun tidak mengatakan apa pun. Chu Kai terlihat tersenyum dan lalu berpamitan, pemuda itu pun melesat pergi meninggalkannya sendirian.
".............."
Di samping itu, Wei Zhang Zihan adalah anggota keluarga kerajaan. Jadi merupakan sebuah cela bila ia berada di tempat yang tidak seharusnya didatangi oleh sosok yang terhormat.
".............."
Di sisi lain, Chu Kai sebenarnya tidak tahu tentang identitas bangsawan Wei Zhang Zihan. Namun pemuda bermata hijau itu sudah banyak memikirkan kemungkinannya. Ini karena ia melihat Wei Zhang Zihan adalah pribadi yang benar-benar berbeda dari para pendekar aliran putih yang ia kenal.
Sikap Wei Zhang Zihan saat berdiri, pergerakan saat pemuda itu duduk, gaya bicara bahkan ketika pendekar suci itu makan. Semuanya berbeda dari para pendekar aliran putih yang pernah Chu Kai temui. Apalagi dia mengingat pertemuannya dengan nona Ling Xiang Shu. Gadis itu memberi pandangan berbeda saat berhadapan dengan Wei Zhang Zihan.
Kaki Chu Kai kembali menapak di atap sebuah bangunan. Suara musik semakin jelas dan gendang yang ditabuh cukup membuat dadanya merasa tidak nyaman.
".............."
Chu Kai akhirnya tiba di tempat tujuannya dan menapakkan kaki di atas dinding tempat yang mempunyai nama Paviliun Musim Semi. Ini merupakan tempat hiburan malam yang paling besar dan meriah di Distrik Hiburan Kota Yanshi.
Tempat ini sangat terang, penuh hiasan berbagai lampion berwarna dan selendang. Chu Kai menyaksikan ada beberapa penari yang begitu cantik meliuk-liukkan tubuh mereka mengikuti suara musik.
Chu Kai melompat turun dan memperhatikan sekitarnya. Dia pun bergerak dengan cara bersembunyi sambil tetap waspada. Tujuannya adalah mencari titik lokasi yang memiliki paling banyak warna merah di udara yang ia lihat.
?!
__ADS_1
Tawa kecil seorang wanita membuat Chu Kai kaget dan spontan memanjat pohon. Dia bersembunyi di salah satu dahan yang ditutupi oleh daun-daun yang lumayan lebat.
"Tunggu dulu~"
Chu Kai berpegang kuat pada dahan di sampingnya. Dia melihat seorang pria mendorong pelan wanita berpakaian merah muda di hadapannya pada batang pohon, tempat Chu Kai bersembunyi.
Kedua insan itu saling bercumbu dan mulai melakukan sesuatu yang membuat mata Chu Kai melebar. Pemuda bermata hijau alami tersebut bahkan berkedip beberapa kali karena mulai mendengar suara yang tidak senonoh.
"Pantas saja Pendekar Wei tidak mau masuk, ternyata ini tempat yang luar biasa mengagumkan." Chu Kai menelan ludah dan memperhatikan kedua orang yang melakukan perbuatan begitu cabul, padahal siapa pun tahu mereka bukan pasangan kekasih.
"Tuan, aku tidak bisa bernapas hmph~"
Chu Kai berekspresi pucat. Dia merasa harus pergi dari tempat ini karena jika sampai ketahuan, maka dialah yang akan disebut sebagai orang mesum.
"Tunggu, Tuan~ Jangan lakukan ini di sini."
"Lalu di mana, hm? Katakan~"
"Itu... Ah~ jangan, Tuan~"
"Jangan malu, biarkan aku menyentuhnya sedikit~"
Chu Kai tidak sanggup lagi mendengarnya. Dia ingin pergi, tapi jika bergerak sekarang---maka keberadaannya akan diketahui oleh kedua orang ini.
Mendengar banyaknya suara tidak senonoh yang dekat dengannya membuat sesuatu di dalam diri Chu Kai bergejolak. Napasnya menjadi tidak beraturan. Bukan karena ia terangsang melihat kegiatan cabul yang dilakukan oleh kedua orang ini, tetapi karena ia ingin menghabisi mereka.
Rasanya pasti menyenangkan menusukkan ranting pohon menembus kepala kedua orang mesum ini. Atau dia bisa mengeluarkan serangan berelemen petir miliknya dan meledakkan kepala mereka.
Chu Kai memegang kuat dahan pohon di dekatnya sebelum sebuah suara kembang api membuatnya tersadar. Dia terkejut karena baru saja memiliki pemikiran buruk, tidak seperti dirinya yang biasa.
Tidak ingin terus menyaksikan sesuatu semacam ini membuat Chu Kai segera melesat pergi. Beruntung sebab kedua orang yang sedang bercumbu di batang pohon itu tidak menyadarinya.
"Ini buruk," Chu Kai menelan ludah. Dia kembali bersembunyi dan kali ini di belakang sebuah bangunan karena menyadari beberapa gadis berjalan mendekat.
"Bagaimana bisa aku mempunyai pemikiran yang begitu inginnya membunuh mereka dengan cara yang tidak manusiawi? Rasanya... Seperti ada sesuatu di dalam diriku yang ingin mengambil alih," Chu Kai berusaha mengatur napas. Dia sedikit mengintip ke arah para wanita cantik yang menari dan memfokuskan indera penglihatannya.
Baru saja pandangan Chu Kai melihat warna merah yang bercampur dengan udara---sebuah tangan seseorang langsung menyentuh bahunya dan itu membuatnya sangat terkejut.
!!!
Chu Kai spontan menoleh. Matanya terbuka lebar saat tahu siapa sosok yang berdiri memergoki dirinya ini. Subjek tersebut adalah seorang perempuan dengan pakaian berwarna merah yang indah. Sosok di hadapannya memakai kain cadar tipis yang memberinya pesona tidak terbantahkan.
Lalu di antara itu semua, keterkejutan yang paling dirasakan Chu Kai ialah bahwa dirinya mengenali sosok ini. Perempuan cantik yang berdiri di depannya tidak lain adalah Pendekar Suci Sekte Gunung Wushi, Xia Ling Qing.
"Nona Xia?!"
__ADS_1
******