
Zhou Yuan keluar dari kamarnya sesudah mengisi perutnya beberapa saat, ia ingin melihat pemandangan di pelabuhan ini dengan pergi menuju geladak kapal.
Jika sesuai dengan jarak di peta, maka dirinya akan sampai di pelabuhan selanjutnya dua hari lagi. Zhou Yuan ingin menikmati waktu dua hari itu dengan sedikit bersantai.
Huang Li dan Qiyao masih di dalam kamar mereka masing-masing, kedua gadis kembar itu sepertinya masih istirahat setelah menempuh perjalanan yang jauh.
"Ayolah, hanya tambah satu orang lagi, kalian tidak akan rugi jika membawaku."
"Enak saja, jika kau ingin naik maka kau harus membayarnya, tidak ada uang maka tidak ada tempat duduk untukmu!"
"Aku bisa duduk disudut kapal, kalian boleh menganggapku tidak atau sejenisnya."
"Memang kau pikir dirimu hantu, tidak ada! Kau tidak boleh naik kapal ini!"
Zhou Yuan baru saja berdiri di geladak kapal saat ada suara keributan yang mengganggunya. Zhou Yuan menghampiri sumber keributan itu untuk menemukan seorang kakek pengemis sedang ribut dengan awak dan pemilik kapal.
Dahi Zhou Yuan mengerut saat mengenali kakek pengemis itu, dia adalah orang yang sama ketika bertemu di Kota Shena.
Zhou Yuan jadi teringat kembali bahwa Kakek pengemis tersebut bisa mengetahui tentang keistimewaan tubuhnya bahkan tingkatan kekuatannya.
Selama ini selain Huang Li dan Qiyao, hanya Kakek itu yang bisa menebak tingkatan kekuatannya dengan tepat. Zhou Yuan ingin mencari tahunya saat itu namun lupa karena fokus mengatasi Organisasi Semut Hitam.
Saat Zhou Yuan sedang memandang pengemis itu, di detik yang sama Kakek pengemis tersebut juga menoleh ke arahnya sehingga pandangan mereka bertemu.
"Ah, anak muda kau ternyata juga ada disini!" Kakek itu melambaikan tangan pada Zhou Yuan dengan penuh antusias.
Zhou Yuan tersenyum canggung sebelum menghampirinya lalu melemparkan sekeping koin emas pada Pemilik Kapal. "Biarkan Kakek itu masuk, aku yang akan membayarnya..."
"Baik Tuan muda." Pemilik Kapal mengangguk lalu memerintahkan anak buahnya untuk tidak mencegah Kakek pengemis itu lagi.
Pemilik kapal kemudian menghampiri Zhou Yuan lalu menjelaskan padanya bahwa kapal ini akan berlayar lebih cepat dari jadwal seharusnya karena ada seseorang yang telah membayar mahal mereka.
Zhou Yuan tidak keberatan dengan hal itu lalu setelahnya Pemilik Kapal berpamitan, mereka bersiap mengangkat jangkar sebelum akhirnya kapal mulai berangkat dari pelabuhan.
__ADS_1
"Terimakasih anak muda, maaf aku harus merepotkanmu kali ini..." Kakek pengemis itu tersenyum lebar sebelum menepuk pundak Zhou Yuan.
"Tidak apa Kakek, aku juga senang melakukannya." Zhou Yuan tersenyum canggung, ia hampir kehilangan keseimbangan akibat tepukan itu.
"Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa ada disini, bukankah beberapa hari lalu kita bertemu di kota sebelah?"
Zhou Yuan mengangguk lalu menjelaskan bahwa dirinya di sana hanya tempat singgah sementara, tujuan aslinya adalah ke Ibukota.
"Ibukota? Kalau begitu tujuan kita sama. Aku saat ini sedang menuju ke sana, bagaimana kalau kita-..."
Sebelum Kakek pengemis itu menyelesaikan kalimatnya, suara dari perutnya tiba-tiba terdengar keras.
"Aiyo, aku lupa belum makan selama dua hari terakhir ini..." Kakek pengemis itu menggaruk kepalanya dengan tersenyum kikuk. "Apa kau punya uang, aku ingin meminjamnya untuk makan."
Zhou Yuan hanya tersenyum lalu mengajak Kakek itu ke tempat rekreasi kapal dan memesan beberapa makanan di sana. Keduanya duduk disalah satu meja sambil melihat suasana perairan.
Tak lama kemudian seorang pelayan datang ke meja Zhou Yuan lalu menanyakan pesanan yang akan dibuat.
"Benarkah, kalau begitu aku tidak akan sungkan." Kakek pengemis itu menolehkan ke arah pelayanan lalu mulai memesan makanan. "Aku ingin pilih yang ini, ini, dan ini, oh ya, aku juga mau pesan yang ini. Masing-masing pesanan dua porsi."
Zhou Yuan terbatuk-batuk karena tersedak nafasnya sendiri, tidak menduga makanan yang dipesan Kakek itu akan sebanyak itu sementara pelayan yang mencatat tampak kerepotan menulisnya.
"Baik aku sudah mencatatnya, mungkin akan sedikit lama untuk menyiapkannya tapi aku akan berusaha secepat mungkin..." Setelah berkata demikian pelayan itu kemudian bergegas pergi.
"Terimakasih anak muda, kau memang memiliki banyak uang ya." Kakek pengemis itu tertawa pelan. "Hm, walau beberapa hari tidak bertemu sepertinya ada banyak sekali yang telah terjadi padamu, bukankah begitu?"
Zhou Yuan sedikit terkejut, ia bisa melihat Kakek itu sepertinya menyadari ada aura pembunuh yang disembunyikan olehnya. Zhou Yuan tidak menjawab kecuali dengan anggukan kepala dan senyuman tipis.
Suasana kapal tampak lengang karena kapal yang seharusnya dihuni oleh ratusan orang itu hanya dinaiki oleh beberapa saja.
Zhou Yuan bertanya-tanya siapa yang menyewa kapal ini karena sejak tadi dirinya belum bertemu orang yang dimaksud Pemilik Kapal. Yang pasti Zhou Yuan menduga bahwa rombongan itu bukan dari kalangan biasa.
Tidak lama kemudian pelayan tadi datang bersama rekannya membawa makanan yang dipesan. Karena terlalu banyak membuat meja Zhou Yuan jadi penuh dan menumpuk.
__ADS_1
Zhou Yuan tidak ikut makan apalagi setelah melihat nafsu makan Kakek itu yang menurutnya lebih mengerikan dibandingkan Huang Qiyao.
Zhou Yuan menelan ludah. 'apa dia benar-benar manusia?' batin Zhou Yuan sedikit terguncang karena makan kakek itu yang begitu cepat.
Meja yang awalnya penuh serta menggunung oleh makanan kini telah habis dalam waktu setengah jam. Kakek itu bersendawa keras saat merasa sudah kenyang.
"Ah ini baru makanan enak, sudah lama sekali aku tidak makan sekenyang ini." Ucap Kakek itu sambil mengelus perutnya yang rata.
Kakek itu kemudian menyandarkan tubuhnya di kursi dan memejamkan mata, mungkin karena kekenyangan ia jadi merasa sedikit mengantuk.
"Anak muda, aku belum mengetahui siapa namamu?" Kakek itu membuka sebelah matanya, bertanya pada Zhou Yuan.
"Nama junior adalah Zhou Yuan, salam kenal Kakek."
"Oh, kalau begitu kau bisa memanggilku Bai, Kakek Bai."
Zhou Yuan mengangguk. "Kalau begitu salam kenal Kakek Bai."
Kakek Bai kemudian mencari sesuatu di pakaiannya yang sudah compang-camping, cukup lama. "Karena kau telah membantuku aku akan memberikan hadiah atas pertolonganmu..."
Zhou Yuan mengerutkan dahi lalu menolaknya, sejak awal dirinya memang ikhlas menolong Kakek Bai tersebut.
"Jangan menolak, aku mungkin memang terlihat seperti pengemis yang selalu meminta-minta tapi bukan berarti aku tidak mengetahui namanya balas budi." Kakek Bai masih merogoh sesuatu di pakaiannya sebelum akhirnya mendapatkan yang dicarinya. "Ah ini dia, aku ingin memberikan ini padamu."
Dahi Zhou Yuan mengerut ketika Kakek Bai meletakan sebuah cermin kecil di meja.
"Jangan salah paham, Yuan'er, cermin ini bukan cermin biasa. Dia mempunyai kegunaan khusus saat kau gunakan dalam keadaan terdesak. Banting cermin ini ke tanah maka kau akan melihat sesuatu yang ajaib terjadi."
Meski tidak mengerti separuh penjelasan Kakek Bai, Zhou Yuan tetap menerima cermin itu dan berterimakasih padanya.
Disaat Zhou Yuan masih mengobrol, tiba-tiba lonceng kapal dibunyikan cukup nyaring. Para awak kapal berlarian dengan panik sambil meneriakkan tanda bahaya.
"Perompak! Perompak! Ada Perompak di bagian selatan!"
__ADS_1