
Penyerangan organisasi yang dipimpin oleh Kuil Awan Langit cukup menggemparkan seluruh dunia persilatan setelahnya.
Bukan hanya karena kekalahan mereka yang membuat informasi itu gempar melainkan mendengar kabar banyak organisasi besar telah beraliansi dengan Kuil Awan Langit.
Salju Abadi dan Merak Putih adalah salah satu contohnya, kedua organisasi itu sangat terkenal di seluruh dunia persilatan khususnya Kekaisaran Bulan karena kejahatan yang telah mereka dilakukan.
Jika kedua organisasi besar itu bergabung dengan Kuil Awan Langit maka bisa dibayangkan betapa kuatnya aliansi kriminal tersebut.
Hanya dengan tiga organisasi itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang Keluarga Kekaisaran, apalagi jika Kuil Awan Langit menggerakkan seluruh aliansinya, akan sulit bagi orang lain membayangkan kekuatan mereka.
Sebab itu setelah tiga hari peperangan di istana telah berlalu, Jiang Qisha mengumumkan agar melakukan pertemuan ulang untuk mendiskusikan masalah tentang aliansi Kuil Awan Langit.
Mereka benar-benar harus bersatu untuk melawan para organisasi, penyerangan ini sebagai contoh bahwa Merak Putih bukan satu-satunya masalah di kekaisaran ini.
Pertemuan itu berlangsung lama namun akhirnya membuahkan hasil yang memuaskan, para pemimpin memilih ikut gabung bersama pemerintah termasuk tiga jagoan besar, Xiao Fan, Yue Jian, dan Chu Guyu.
Mereka sepakat untuk tidak membiarkan organisasi kriminal hidup terlalu lama atau kejadian penyerangan ini hanyalah awal.
***
Di istana membutuhkan waktu dua hari untuk membersihkan semua yang terjadi termasuk membersihkan jasad-jasad yang ada dihalaman istana.
Zhou Yuan tidak keluar selama waktu tersebut, ia memilih sibuk bermeditasi di kamarnya sambil berusaha untuk menyembunyikan aura pembunuh di tubuhnya.
Aura pembunuh Zhou Yuan sudah lumayan pekat sebelum menggunakan empat pedang yang diberikan Kakek Bai dan kini setelah penyerangan telah selesai, aura pembunuh itu bertambah kelam dari yang sebelumnya.
Meski membutuhkan waktu untuk mengikis aura pembunuh tersebut, Zhou Yuan akhirnya bisa menyembunyikan seluruh aura pembunuhnya sehingga kini ia tidak berbeda jauh dengan aura orang biasa.
"Sepertinya aura ini sudah bisa aku gunakan..." Zhou Yuan menyadari sesuatu lalu kemudian tersenyum tipis.
Meski aura pembunuh adalah sesuatu yang bersifat negatif, namun sebenarnya aura pembunuh bisa dimanfaatkan oleh seorang pendekar khususnya jika dalam pertarungan.
Aura pembunuh yang sudah terbentuk dapat digunakan seseorang untuk menyerang mental lawannya sehingga membuat mereka ketakutan, di tahap tertentu aura pembunuh yang pekat dapat membuat seseorang kesulitan bernafas bahkan sampai kehilangan kesadaran.
Meski Zhou Yuan harus akui ia tidak menduga akan memanfaatkan aura yang dianggap terkutuk tersebut sebagai kemampuannya dalam pertarungan.
Sesudah merasa cukup, Zhou Yuan membersihkan dirinya sebelum pergi keluar kamar. Baru ia membuka pintu keluar, Jiang Yifei sudah berdiri disana.
"Tuan Putri, kenapa anda disini?!" Zhou Yuan terkejut, ia sama sekali tidak menyadari ada seseorang yang melangkah ke kamarnya, ada kemungkinan Yifei sudah berdiri di dekat pintu kamarnya sejak lama.
"Kenapa? Tentu saja menemuimu, apa kau tidak ingat bahwa kau harus mengajariku!" Jiang Yifei menunjuk hidung Zhou Yuan.
Zhou Yuan tersenyum canggung, ia berpikir gadis berambut pink itu membutuhkan waktu untuk memulihkan kondisi tubuh dan mentalnya setelah penyerangan ini.
"Dan jangan panggil aku 'Tuan Putri', sudah aku bilang itu membuatku terdengar lebih tua. Kau bisa panggil aku dengan sesuatu yang lebih akrab!"
Zhou Yuan menggaruk kepalanya, "Kalau begitu, Fei'er, mari kita lanjutkan berlatih."
__ADS_1
"Hmph!" Dengan gaya juteknya, Jiang Yifei mendengus lalu berjalan terlebih dahulu.
Zhou Yuan tersenyum tipis lalu mengikuti langkah gadis itu, Zhou Yuan menyadari meski Jiang Yifei selalu bersikap sedikit dingin padanya namun perasaan yang ditunjukkan gadis itu selalu berbeda.
Saat menuju kediaman Yifei, Zhou Yuan melihat sekitar istana yang kini suasananya sudah kembali seperti semula.
Zhou Yuan menghela nafas ketika terlintas sesuatu di benaknya, ia masih tidak menduga Kuil Awan Langit sampai senekat itu menyerang istana di siang hari apalagi saat itu ada banyak jagoan dunia persilatan yang sedang berkumpul di dalamnya.
Zhou Yuan menyadari, andai saja waktu itu ia tidak dibantu Kakek Bai maka nasib pemerintah kekaisaran akan bernasib berbeda. Zhou Yuan maupun lainnya harus akui organisasi kriminal sudah di tahap membahayakan pemerintahan dan lainnya.
'Setidaknya untuk beberapa waktu ke depan mereka tidak bisa berulah lagi setelah penyerangan ini...' Zhou Yuan menghela nafas kesekian kalinya.
"Apa yang kau lamunkan?" Jiang Yifei tiba-tiba bertanya, menatap wajah Zhou Yuan.
Suara gadis itu menyadarkan Zhou Yuan dari lamunannya, kini ia menyadari telah sampai dikediaman Yifei. "Tidak ada, aku hanya sedang memikirkan sesuatu..."
Jiang Yifei menyipitkan matanya tajam, berusaha mengorek informasi namun pemuda itu tidak mengatakan sesuatu setelahnya. Jiang Yifei mendengus lalu mengajak Zhou Yuan masuk kedalam kediamannya.
Jiang Yifei meminta waktu untuk ke dalam rumahnya sesaat dan meninggalkan Zhou Yuan sendiri di halamannya, gadis itu tak lama kemudian kembali namun kini wajahnya tampak berias dan terlihat sangat manis.
Zhou Yuan tersenyum tipis, harus dia akui paras gadis itu membuatnya terpesona.
"Bagaimana dengan penampilanku?" Tanya Yifei sambil memainkan anak rambutnya.
"Anda cantik Tuan Put- maksudku Fei'er." Zhou Yuan menganulir ucapannya saat gadis itu langsung menatapnya tajam.
"Ehm, bagaimana kalau kita langsung bertanding saja." Jiang Yifei langsung memasang kuda-kuda, mengalihkan perhatian topik sebelumnya.
"Sebentar Fei'er, sebenarnya aku ingin mengajarkan suatu teknik padamu, mungkin ini akan berguna?"
"Teknik?"
Zhou Yuan mengangguk dan mengatakan bahwa teknik yang dimaksud adalah sebuah ilmu tendangan tingkat tinggi, karena sepertinya Yifei sangat cocok mendalami ilmu tangan kosong seperti teknik tendangan.
Tanpa menunggu, Zhou Yuan langsung mempraktekkan teknik tendangan itu didepan Yifei, teknik yang sama yang pernah dia ajarkan ke Xiao Rou beberapa tahu lalu. Tendangan Penguasa Langit.
Zhou Yuan mengajari gadis itu karena merasa Tendangan Penguasa Langit bisa dipadukan dengan Teknik Api Biru milik Keluarga Jiang.
Yifei melihat gerakan Zhou Yuan sampai akhir dan ia merasa tendangan itu memang cocok untuk dirinya.
Merasa gadis itu tertarik, Zhou Yuan mulai mengulangi gerakannya sampai dirasa Yifei bisa menghafalnya.
Setelah merasa cukup, Zhou Yuan kemudian menyuruh gadis itu untuk berlatih melakukan teknik barusan sementara dirinya akan duduk dibawah pohon sambil mengamati Yifei.
"Kau sepertinya mengajar teknik baru pada Fei'er ya?"
Jantung Zhou Yuan hampir berhenti mendengar suara tersebut, dia menemukan Jiang Qisha sudah berdiri disampingnya.
__ADS_1
"Kau terkejut, maaf kedatanganku yang terlalu mendadak." Jiang Qisha tertawa kecil sambil menatap cucunya yang berlatih dari kejauhan.
"Yang Mulia..." Zhou Yuan segera bangkit dan memberikan hormatnya.
"Tidak perlu seformal itu, kau bisa menyebutku Kakek agar bisa lebih akrab."
"Itu..." Zhou Yuan menggaruk telinganya. "Apa Yang Mulia ingin bertemu Fei'er?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Fei'er? Ternyata kalian juga sudah dekat ya?" Jiang Qisha tersenyum lebar, ia menganggap ini satu langkah menuju rencananya menjodohkan Yifei dan Zhou Yuan.
Jiang Qisha berdeham pelan. "Kedatanganku kesini bukan mencari Fei'er melainkan aku mencarimu Yuan'er."
"Mencariku?"
Jiang Qisha mengangguk "Aku hanya ingin menginformasikan suatu fakta, kudengar kau adalah orang yang mengendalikan pedang yang melayang itu..."
Saat pertempuran sedang terjadi, ada beberapa prajurit yang memang melihat Zhou Yuan mengendalikan pedang tersebut.
Zhou Yuan mengetahui bahwa hal ini bakal terjadi namun ia berharap seseorang tidak menanyakannya sebab ia akan kesulitan menjelaskan tentang asal pedang emas tersebut serta kemampuan mengendalikannya.
"Yang Mulia, bisakah anda untuk menutupi informasi ini dari siapapun..." Zhou Yuan tidak bisa mengelak jadi meminta agar Jiang Qisha tidak menyebarkan informasi tersebut.
Jiang Qisha mengerutkan dahi sebelum akhirnya diganti dengan senyuman. "Kalau begitu Yuan'er, sebagai Kaisar Bulan aku sangat berterimakasih karena kau telah menyematkan kekaisaranku."
Jiang Qisha kemudian menepuk pundak Zhou Yuan pelan. "Kau tidak perlu khawatir, untuk masalah informasi, aku pastikan akan menutup rapat semuanya..."
Zhou Yuan mengangguk, ia bersyukur jika Jiang Qisha mengerti perasaannya dan tidak bertanya lebih jauh bagaimana ia bisa mendapat 4 pedang itu dan caranya dalam mengendalikannya.
"Yuan'er, aku akan memberikan kompensasi yang besar atas jasamu, sebutkan apa yang kau mau, uang, sumber daya, atau bahkan tanta?"
Zhou Yuan tersenyum canggung sebelum menggeleng, ia melakukan semua itu bukan karena ingin balasan. Lagi pula uang hadiah tersebut lebih baik digunakan untuk sesuatu yang berguna seperti memulihkan pembangunan istana yang sempat hancur karena penyerangan itu.
"Apa kau tidak tergiur dengan sumberdaya di istana, terakhir kita bertemu kau sangat tergiur dengan ramuan yang aku bawa."
"Sebenarnya aku tergiur Yang Mulia hanya saja untuk sekarang aku masih belum membutuhkannya."
"Hm? Apa kau yakin?"
Zhou Yuan mengangguk, sebenarnya seberapa tinggi khasiat sumberdaya di istana ini tidak akan membuat Zhou Yuan menerobos kecuali memang ada tanaman langka sejenis Anggrek Bulan namun tanaman itu biasanya akan tumbuh lima tahun sekali, itupun hanya di hutan Sekte Bambu Hijau saja.
Jiang Qisha memutar otaknya lalu memberikan tawaran agar Zhou Yuan gabung dalam pemerintahan Kekaisaran. Di dunia persilatan, tawaran seperti ini sangat menggiurkan bahkan banyak Keluarga Bangsawan yang menginginkannya.
Jiang Qisha akan memberikan tahta yang tinggi pada Zhou Yuan jika ingin mempunyai jabatan di kekaisaran hanya saja untuk kesekian kalinya, pemuda itu tetap menolaknya.
Jiang Qisha menghela nafas, sepertinya Zhou Yuan memang tidak menginginkan sesuatu darinya. Jiang Qisha kemudian membicarakan hal yang lain yaitu tentang turnamen di Akademi.
"Dua bulan lagi dari sekarang, Akademi Empat Kekaisaran akan mengadakan turnamen besar untuk semua generasi muda. Bukan hanya murid akademi saja, peserta diluar akademi juga boleh ikut serta di dalamnya. Semua pendekar muda di keempat kekaisaran akan berkumpul di sana untuk merebutkan gelar juara..."
__ADS_1