Legenda Buah Surgawi

Legenda Buah Surgawi
Eps. 86 — Perasaan Linxia


__ADS_3

"Gerakan pedangmu masih penuh keraguan, kecepatanmu masih lambat! Nona Yue, atur pernafasanmu agar bisa lebih stabil lagi..." Zhou Yuan memberi petunjuk lainnya.


Pada akhirnya latih tanding keduanya berubah menjadi latihan bagi Linxia. Beberapa kali Linxia dibuat tak berdaya oleh permainan pedang Zhou Yuan.


Linxia tidak berkecil hati, ia mendengarkan semua masukan lelaki itu. Perlahan-lahan kesulitannya selama ini dalam bermain pedang mulai terangkat ketika mengikuti petunjuk dari calon tunangannya tersebut.


Keduanya berlatih cukup lama hingga matahari condong disebelah barat. Linxia begitu kelelahan namun perasannya begitu senang karena pemahaman pedangnya meningkatkan cukup pesat.


"Kurasa kita harus berhenti disini..." Zhou Yuan tersenyum canggung melihat kondisi Linxia yang sudah keletihan sementara dirinya masih tetap tenang.


Bakat Linxia nyatanya tidak berbeda jauh dengan Xiao Rou, daya serap gadis itu begitu mengerikan dan setiap Zhou Yuan memberikan petunjuk, kemampuan pedangnya menjadi lebih tinggi.


"Terimakasih, aku akan membayar untuk semua ini." Linxia memberikan hormatnya.


Linxia merasa berhutang budi pada Zhou Yuan karena meningkatnya keahlian pedangnya cukup tinggi hanya dalam beberapa jam saja jadi dia akan membayarnya dengan koin emas atau sejenisnya, namun semua niatannya itu di tolak oleh lelaki tersebut


Linxia tentu tidak menerima begitu saja, ia ingin membalas jasanya walupun berupa apapun, Linxia kemudian membuat bekal makanan pada Zhou Yuan karena teringat laki-laki itu sangat menyukai masakannya.


"Nona Yue kau tidak perlu bertindak sampai seperti ini?" Zhou Yuan tersenyum canggung saat Linxia membawa beberapa kotak makanan ke tempat penginapannya.


Linxia adalah tipe orang yang tidak suka menerima bantuan orang lain tanpa membalasnya. Sebab itu ia melakukan segala cara agar membalas budi Zhou Yuan.


"Tidak apa-apa, aku melakukan ini untuk diriku sendiri, kau tidak perlu merasa keberatan atau sejenisnya..." Linxia menyodorkan kota bekal makanannya.


Zhou Yuan menghela nafas dalam hati, tidak membantah lebih jauh. Lagi pula ia harus akui masakan gadis itu memang sangat enak dan membuatnya ketagihan.


Tujuh hari berlalu Zhou Yuan dan Linxia masih melakukan latihan bersama. Hubungan keduanya terbilang jadi lebih dekat dibandingkan ketika mereka awal bertemu.


Para peserta kompetisi sudah lama meninggalkan Sekte Bambu Hijau, Zhou Yuan jadi pengecualian karena Kakeknya masih harus tetap disini karena suatu alasan.


Karena masalah tentang kelompok Merak Putih, Zhou Bing harus lebih lama di sekte. Mereka jadi lebih banyak melakukan pertemuan rahasia termasuk mengundang pihak pemerintahan yang lain.


Zhou Yuan mendengar bahwa beberapa hari terakhir ada perwakilan Keluarga Kekaisaran yang datang dalam pertemuan tersebut.

__ADS_1


Dari kakeknya Zhou Yuan mendapatkan informasi bahwa kelompok Merak Putih ternyata sudah melebarkan sayapnya selama dua tahun terakhir. Tentang pil hitam yang mereka buat, ada kemungkinan sudah tersebar ke sebagian wilayah Kekaisaran Bulan.


Zhou Yuan tidak menduga informasi yang disampaikan pada Kakeknya akan sampai ke tingkat pertemuan yang lebih serius.


Selain melibatkan banyak kaum bangsawan dan pihak sekte, pertemuan itu juga mendatangkan reaksi dari Kekaisaran tetangga.


Nyatanya pil hitam bukan hanya tersebar di satu kekaisaran saja melainkan 4 kekaisaran sekaligus.


"Pil hitam lebih cepat penyebarannya dan mengatasi mereka jauh lebih sulit daripada membasmi seluruh organisasi kriminal di dunia persilatan. Masalah ini harus ditanggapi lebih serius dan cepat." kata Zhou Bing pada suatu waktu saat Zhou Yuan bertanya padanya.


Zhou Yuan menghela nafas, sepertinya dirinya sudah tidak terkejut lagi kalau dunia persilatan di era ini akan menuju kekacauan seperti era buah surgawi dulu.


"Apa yang sedang kau lamunkan?"


Lamunan Zhou Yuan terpecah ketika wajah Linxia sudah begitu dekat dengan wajahnya tanpa ia sadari.


Saat ini mereka sedang makan bersama di halaman penginapan Zhou Yuan. Keduanya baru selesai latihan tanding dengan Zhou Yuan menggurui gadis itu.


Linxia tersenyum dan mengangguk pelan, tidak bertanya lagi, dia memilih melanjutkan makannya.


Setelah seminggu bersama, Zhou Yuan menemukan sisi lain dari sifat Linxia. Awalnya gadis itu merupakan wanita yang amat sedikit berbicara serta sering berekspresi datar dan terkesan dingin, hal itu memang tidak salah tetapi nyatanya Linxia memiliki sifat yang terbuka terhadap perasaannya.


Sifat Linxia yang seperti ini biasanya hanya ditunjukkan kepada keluarga serta orang-orang terdekatnya dan hanya sedikit orang yang telah mengetahuinya.


Linxia juga adalah tipe orang yang ingin diakui kemampuan serta keberadaannya oleh sekitarnya, setidaknya itu yang Zhou Yuan simpulkan saat pertama kali gadis itu meminta dielus rambutnya ketika telah mencapai sesuatu dalam ilmu beladirinya.


Dugaan Zhou Yuan memang tidak salah, faktanya alasan Linxia ingin memenangkan kompetisi karena ia ingin diakui kekuatannya oleh keluarganya.


Ketika mereka sedang makan bersama, Zhou Bing datang ke penginapan.


"Kakek, bagaimana dengan diskusinya?" Zhou Yuan meletakkan makanannya lalu langsung bertanya pada Kakeknya. Ia sudah menunggu Zhou Bing sejak tadi.


Zhou Bing tertawa kecil. "Semuanya mencapai titik yang baik Yuan'er, diskusi berjalan sempurna dan kami mendapatkan solusi untuk pencegahan penyebaran pil hitam itu."

__ADS_1


Zhou Yuan bertanya tentang solusi yang dimaksud namun Zhou Bing enggan memberitahunya.


"Yuan'er, ini masalah orang dewasa. Untuk solusi Kakek tidak bisa memberitahukan pada siapapun karena ini bersifat rahasia..."


Zhou Bing menggelengkan kepala pelan, kadang dirinya heran kenapa cucunya itu lebih tertarik pada masalah besar yang seharusnya di pinggul oleh orang tua sepertinya.


Linxia banyak terdiam karena merasa bukan masalah yang berhubungan dengan dirinya, Zhou Bing mengatakan sifat inilah yang seharusnya dimiliki Zhou Yuan.


Zhou Bing juga lalu menyampaikan bahwa kemungkinan besok mereka akan pulang, karena semua keperluan sudah selesai maka tidak ada alasan lagi untuk keduanya berdiam diri disini.


***


"Senang bisa bertemu denganmu Nona Yue, kuharap kita bisa bertemu lagi..." Zhou Yuan mengelus pucuk kepala Linxia.


Keesokan harinya Zhou Yuan dan Zhou Bing sudah bersiap untuk pulang, keduanya di antar sampai gerbang sekte oleh Yue Jian, Yue Luo serta Yue Linxia.


"Setelahnya aku tidak akan lagi disini, tepat di umurku 15 tahun aku akan pergi ke Akademi Empat Kekaisaran..." Linxia melepaskan kalung di lehernya. "Aku akan memberikan ini padamu lagi, seperti yang aku katakan dulu kalung ini bisa mendeteksi keberadaanku."


Zhou Yuan menerima kalung itu dengan sedikit canggung, suasana ini tidak asing baginya, dulu hal serupa terjadi ketika ia berpisah dengan Xiao Rou.


Zhou Yuan menerima kalung itu dan menyimpannya di balik jubahnya.


Yue Jian, Yue Luo serta Zhou Bing menyaksikan itu hanya bisa tersenyum canggung, mereka masih muda namun sudah melakukan hal romantis seperti ini.


"Kalau begitu kami berdua pamit, Jian, Patriark Sekte." Zhou Bing mengangguk pelan lalu menaiki kudanya. Zhou Yuan mengikuti.


Selepas berucap demikian, Zhou Yuan dan Zhou Bing memacu kuda mereka meninggalkan sekte. Linxia menatap punggung Zhou Yuan meski bayangan pria itu sudah hilang di kejauhan.


"Pada akhirnya cucu Kakek tidak jadi membatalkan pertunangan setelah mengenali calon tunangannya..." Yue Jian tertawa kecil. "Apa kau sudah jatuh hati padanya Xiaxia?"


"Kakek bagaimana bisa tahu?" Linxia terkejut. "Dan... Aku tidak menyukai Saudara Yuan."


Linxia tidak menanggapi Kakeknya lebih jauh karena bisa berakibat buruk baginya, ia membalikan badan dan langsung pergi untuk menyembunyikan wajahnya yang kian memerah.

__ADS_1


__ADS_2