Legenda Buah Surgawi

Legenda Buah Surgawi
Eps. 109 — Istana Kaisar


__ADS_3

"Salam hormat Yang Mulia!"


Zhou Yuan, Xi Jinxue serta pengawalnya langsung berlutut saat melihat Jiang Qisha, mereka tidak menduga Kaisar Bulan langsung menyambut mereka di istana.


"Tidak perlu formal seperti itu, mari masuk. Tinggalkan kuda dan kendaraan kalian disini nanti para pengawal yang akan mengurusnya."


Zhou Yuan dan Xi Jinxue tidak perlu mempertanyakan lagi, mereka langsung mengikuti langkah Jiang Qisha ke kediaman istana kekaisaran.


Yang pertama kali mereka suguhi ketika masuk adalah sebuah keindahan yang tak terkira melihat halaman yang luas serta kemegahan bangunan istana yang besar dan menjulang tinggi.


Mata Zhou Yuan melebar, istana yang di depannya lebih besar dibandingkan istana yang ia temui di kota bawah tanah, setidaknya dua kali lipat dari luasnya.


Selain ada taman, juga ada kolam air yang berisi ikan kecil untuk memperindah halaman istana. Kebun-kebun serta pohon dibiarkan tumbuh untuk menambah kesan keasrian di halaman istana tersebut.


Jiang Qisha tersenyum melihat reaksi Zhou Yuan yang terpaku, ini bukan kali pertama tamunya bereaksi serupa ketika baru memasuki istana. "Jika kau ingin tahu Yuan'er, halaman istana ini terinspirasi dari kotamu. Zhou Bing begitu pandai bukan hanya memperindah kediamannya bahkan seluruh Kota sekaligus."


Zhou Yuan mengangguk, ia tidak membantah kalau Kota Riva memang sangat indah, julukan sebagai kota tercantik bukanlah omong kosong belaka dari Kaisar.


"Yuan'er, kupikir kau akan datang lebih cepat, aku sudah menunggu sejak beberapa hari lalu tapi ternyata kau datang lebih lama dari yang aku duga."


Zhou Yuan tersenyum tipis, ia tidak bisa mengatakan bahwa ada banyak masalah saat di perjalanannya, menghabisi para penyamun, menghancurkan sebuah organisasi sampai melenyapkan perompak ketika diperairan.


"Kudaku sedikit sakit Yang Mulia ketika ditengah perjalanan, ia tak bisa lari cepat dan membutuhkan istirahat yang banyak..."


Jiang Qisha mengangguk-anggukkan kepalanya, mengerti. Mereka mulai tiba memasuki kawasan istana.


Xi Jinxue memperhatikan sejak tadi obrolan Zhou Yuan dan Jiang Qisha, gadis itu berdecak kagum melihat keakraban pemuda itu yang sepertinya mempunyai hubungan baik dengan Kaisar Bulan.


"Sebenarnya ada banyak yang aku ingin bicarakan denganmu Yuan'er tapi situasiku sekarang tidak tepat. Melihat kau datang bersama seseorang dari Keluarga Xi, berarti kau mengetahui garis besar pertemuan yang akan diadakan disini?"


Zhou Yuan mengangguk, meski demikian ia kesini memiliki tujuan yang berbeda. Zhou Yuan memberikan surat dari Kakeknya ke Jiang Qisha.

__ADS_1


Jiang Qisha membaca surat itu sesaat, wajahnya seketika dipenuhi kegembiraan. "Terimakasih Yuan'er, aku senang kau menyetujui pilihanku."


Zhou Yuan menaikan alisnya, kebingungan, 'Pilihan, aku tidak pernah memutuskan sebuah pilihan dari Kakek?'


Zhou Yuan ingin bertanya mengenai hal tersebut namun tiba-tiba ada salah satu pelayan yang datang lalu membisikkan sesuatu ke telinga Jiang Qisha.


"Baiklah, aku akan ke sana lima menit lagi..." Jiang Qisha mengangguk ke pelayan itu lalu kemudian menoleh ke arah Zhou Yuan, Xi Jinxue serta para pengawalnya. "Yuan'er, kita bisa berbicara lagi lain waktu, ada hal penting yang harus aku kerjakan sekarang, untuk tempat tinggalnya, pelayan akan menunjukkan tempat tinggal kalian disini."


Tanpa menunggu jawaban Zhou Yuan dan lainnya, Jiang Qisha langsung meninggalkan mereka.


Dua pelayan kemudian membawa rombongan Zhou Yuan ke kamarnya masing-masing. Biarpun sama-sama tamu, Zhou Yuan dan Xi Jinxue ditempatkan di kawasan kamar yang berbeda.


Kamar yang ditempati Xi Jinxue diperuntukkan bagi para tamu untuk pertemuan besar nanti sementara kamar Zhou Yuan adalah kamar khusus dari Kaisar langsung.


Ini menunjukkan, Zhou Yuan sangat diperhitungkan keberadaannya oleh Jiang Qisha.


"Saudara Yuan, kalau begitu kita akan bertemu lain hari." Xi Jinxue berpamitan saat menyadari kamar mereka berbeda arah.


"Tuan muda, kalau anda mempunyai keperluan yang lain, anda bisa memanggil mereka..." Ucap pelayan yang menemaninya itu sambil menunjuk dua kasim yang berdiri di pintu kamarnya, siap melayani Zhou Yuan kapan saja.


Zhou Yuan tersenyum canggung lalu berterima kasih. Pelayan yang menemaninya itu kemudian pergi.


Ada ratusan pelayan di Istana Kekaisaran, jumlahnya lebih banyak dibandingkan Keluarga Zhou yang jika ditotalkan dua kali lipatnya.


Zhou Yuan memasuki kamarnya, sedikit berdecak kagum kamar yang dihinggapinya itu sangat mewah.


"Cawan ini terbuat dari emas, akan ada banyak orang yang terbantu jika mereka menjualnya dan diberikan kepada orang miskin..." Zhou Yuan menggelengkan kepala pelan saat melihat ada sebuah cawan di kamarnya, semenjak terlahir kembali ia masih tidak terbiasa dengan kebiasaan para bangsawan yang memiliki pola kehidupan mewah yang berlebihan.


Selama tiga hari ke depan, selain beristirahat Zhou Yuan menghabiskan waktunya di kamarnya untuk melatih teknik Sisik Naga Emas lebih dalam lagi. Zhou Yuan memang telah menguasai teknik itu tapi ia ingin menyempurnakannya.


Ketika Teknik Sisik Naga Emas telah sempurna dilatih, Zhou Yuan bisa mengeraskan tubuhnya menjadi kuat lagi. Zhou Yuan berharap teknik itu bisa menahan serangan dari sebuah pusaka.

__ADS_1


Dihari keempat, Zhou Yuan memilih keluar kamar, saat itu waktu telah memasuki malam hari.


"Apakah aku boleh berkeliling saat disini?" Zhou Yuan bertanya pada dua kasim yang menjaga kamarnya.


"Yang Mulia membolehkannya asal jangan ke ruangan tertentu, kami juga diharuskan ikut jika Tuan Muda ingin berkeliling di istana agar meminimalisir kesalahpahaman."


Istana sangat dijaga ketat, hampir setiap titik ada prajurit yang berjaga. Jika ada tamu yang ingin berkeliling istana maka mereka akan diawasi dua kasim.


Zhou Yuan tidak keberatan dengan itu, ia membiarkan dua kasim mengekornya di belakangnya sementara ia mulai berjalan-jalan di sekitar istana yang luasnya hampir menyamai sebuh desa itu.


Malam itu langit sedang terang bulan, Zhou Yuan bisa menikmati sekitar istana yang memang selain mewah, ia juga sangat indah apalagi ada air mancur di salah satu sudut istana.


"Terlalu lemah, apa kekuatan kalian hanya segini?!"


Langkah Zhou Yuan terhenti saat tiba di suatu tempat yang sepertinya adalah tempat latihan para prajurit Istana. Perhatian Zhou Yuan langsung tertuju pada sebuah pertarungan di arena yang ada ditempat latihan tersebut.


Seorang gadis muda tengah bertarung dengan dua belas prajurit, delapan diantara prajurit itu sudah tergeletak di tanah tak sadarkan diri, menyisakan empat orang lagi yang kini ketakutan melawan gadis itu.


Gadis itu tampak marah karena merasa lawan tandingnya terlalu mudah dikalahkan, kekesalan terukir di wajah gadis itu dan membentak empat prajurit yang tersisa.


Tanpa menunggu lagi gadis itu menyerang empat prajurit terakhir, setiap serangan yang dia lepaskan menciptakan api biru yang panas. Tidak menunggu waktu lama hingga empat prajurit itu menyusul dan tak sadarkan diri.


Jantung Zhou Yuan berdebar saat gadis itu menoleh ke arahnya dan pandangan keduanya bertemu. Zhou Yuan bisa melihat wajah cantik gadis itu yang begitu mempesona.


Rambut gadis itu berwarna pink begitu juga dengan warna gaun yang dipakainya, kulitnya putih seperti sinar bulan yang terang, memiliki tubuh ramping serta iris mata berwarna emas.


Kecantikan gadis itu tak pernah Zhou Yuan temui, kecantikannya sedikit di atas Xiao Rou dan Yue Linxia, wajahnya manis meski saat ini ekspresi gadis itu masih tengah kesal.


Kasim yang didekat Zhou Yuan tertawa kecil karena sudah menebak reaksi Zhou Yuan akan demikian, tidak ada yang tidak terpesona saat melihat paras gadis itu, ia kemudian membisikkan sesuatu pada Zhou Yuan bahwa gadis itu adalah Tuan Putri Kaisar Bulan saat ini.


...----------------...

__ADS_1


*Sampai Bab ini, dari sudut pandang pembaca, apakah sudah mulai bosan?


__ADS_2