
Zhou Yuan terpecah menjadi 12 tubuh setelah menggunakan Teknik Pedang Elemen.
Mata Xiao Rou, Yifei dan Linxia melebar menyaksikannya apalagi Zhou Yuan tidak berhenti sampai di sana, setiap empat cerminan dari dirinya segera menyerang ke arah tiga gadis tersebut.
Kini situasi berbalik dengan mereka yang jadi dikepung. Xiao Rou, Yifei, dan Linxia tidak menduga semua yang dilawan mereka adalah sungguhan tubuh asli Zhou Yuan dan tidak ada dari kedua belasnya merupakan ilusi.
Dalam waktu singkat situasi berubah memaksa ketiga gadis itu diposisi bertahan bahkan terus terpojok seiring waktu.
Zhou Yuan bukan hanya membuat tubuhnya terbagi menjadi 12 saja namun pedang yang digunakan setiap bayangannya juga terselimuti api biru.
Melihat situasi semakin membuat mereka kewalahan Zhou Yuan segera menghentikan serangannya, Zhou Yuan tidak ingin melukai tiga gadis itu lebih dari ini.
Ketika Zhou Yuan menghentikan serangannya seketika 12 tubuhnya kembali menyatu. Xiao Rou, Linxia dan Yifei bernafas lega setelah semua berakhir.
"Saudara Yuan, anda masih tetap mengesankan dari terakhir kita bertemu..." Linxia tersenyum pahit.
Zhou Yuan tersenyum lembut, "Kalian juga sudah bertambah kuat, aku tidak bisa menang dari kalian jika tidak menggunakan teknik ini."
Yifei menghela nafas, ia yang pertama kali merasakan kekuatan Zhou Yuan dengan ilmu pedangnya, selama ini keduanya memang hanya berlatih tanding menggunakan tangan kosong.
Pendekar pedang tanpa menggunakan pedang memiliki kekuatan yang jauh berbeda, Yifei sudah cukup kesulitan menghadapi Zhou Yuan dengan tangan kosong apalagi saat ini ketika pemuda itu bermain dengan pedangnya.
Xiao Rou tampak diam namun perasannya tidak terlalu bahagia, awalnya gadis itu berpikir akan membuat Zhou Yuan terkesan padanya setelah berlatih beberapa tahun namun saat kekuatan Xiao Rou meningkat, kekuatan Zhou Yuan ternyata juga telah jauh meningkat.
"Tidak perlu ambil hati, itu hanya sebuah latih tanding, kalian bisa lebih kuat dariku di masa depan..." Zhou Yuan mengelus kepala tiga gadis itu secara bergantian.
Linxia tersenyum, "Aku mengerti Saudara Yuan, kami hanya perlu berlatih dengan giat..."
Hari sudah mulai gelap, Zhou Yuan memasakkan ketiganya makanan sebelum Xiao Rou dan Linxia berpamitan.
"Fei'er, kau harus tidur lebih awal, besok kita akan bertanding di turnamen..." Zhou Yuan melihat Yifei berdiri di beranda penginapan, tidak langsung ke kamar meski hari sudah mulai larut.
Jiang Long sepertinya tidak akan pulang ke penginapan setelah waktu mendekati tengah malam seperti ini.
"Saudara Yuan, apa menurutmu aku adalah orang yang berbakat, melihat kemampuanmu barusan sepertinya aku memang orang lemah..." Yifei menundukkan kepalanya.
Zhou Yuan tersenyum, ia merasakan gadis itu masih kepikiran dengan kekalahannya tadi. "Fei'er, jangan bandingkan dirimu dengan orang lain, kau tidak tahu apa yang aku alami hingga bisa mempunyai kekuatan setinggi ini. Aku telah berlatih lebih giat dari siapapun, belajar lebih banyak dari siapapun, mengalami banyak pertarungan yang mencakup hidup dan mati... Jangan melihat diriku yang sekarang, tapi lihatlah bagaimana cara dan usahaku hingga bisa ke titik ini."
Yifei mengangguk dan memaksakan untuk tersenyum. Dia selepasnya pergi meninggalkan Zhou Yuan yang kini menggelengkan kepala melihat kelakuan gadis itu.
***
Turnamen kembali dilanjutkan dan kali ini merupakan Babak Utama, semua peserta yang berhasil lolos sampai disini bisa dibilang adalah pendekar yang berbakat.
Zhou Yuan melihat ke sekitar area kursi penonton, kini jumlah penonton jauh lebih banyak dibandingkan dihari babak penyisihan.
Sementara disisi sebaliknya, kursi para peserta mulai berkurang, Zhou Yuan menyadari pertandingan kali ini akan lebih menantang dan menghiburnya.
Bukan hal tidak mungkin dua kandidat yang dirumorkan bakal juara bertemu di babak utama ini seperti Liu Yuwen dan Zuo Lang.
Zhou Yuan melihat ke arah empat kursi khusus dimana 4 Kaisar sedang duduk di sana, Jiang Long juga telah di duduk, kali ini pria paruh baya itu tampak lebih bersemangat ketika menyambut turnamen ini.
__ADS_1
Zhou Yuan tertawa kecil, hal ini pasti berkaitan dengan Jiang Long yang telah mengetahui kemampuannya.
Xiao Rou seperti biasa duduk di sampingnya, meski gadis itu sedikit murung akibat kemarin, setidaknya dia sudah siap untuk melanjutkan turnamen.
Tidak lama kemudian Xiong Bian menaiki arena, semua pusat mata segera tertuju kearah Kepala Akademi tersebut.
"Saudara-saudari sekalian, tidak terasa turnamen ini sudah memasuki Babak Utama, mereka yang telah lolos sampai disini merupakan peserta yang berbakat karena telah mengalahkan lawannya tiga kali berturut-turut..."
Di atas arena Xiong Bian berpidato, bukan hanya memperkenalkan namanya kembali, ia juga mengumumkan peraturan di turnamen ini agar penonton mengingatnya kembali.
Xiong Bian juga menyambut kedatangan empat kaisar yang telah hadir, kedatangan mereka sebagi bukti penting betapa bernilainya turnamen ini di dunia persilatan.
Zhou Yuan sedikit menguap, ia merasa bosan dengan pidato Xiong Bian yang monoton. Untungnya Xiong Bian menyadari perasaan para penonton tersebut jadi dia langsung mengakhiri pidatonya.
"Tidak menunggu waktu lama lagi kita langsung mulai pertandingan pertamanya. Peserta bernama Chu Lingxi dan Bai Hu, segera maju ke atas arena..."
Pertandingan kesatu di babak utama di isi oleh seorang gadis yang memakai busur di tangannya melawan peserta yang menggunakan pedang.
Gadis yang membawa busur adalah Chu Lingxi sementara pemuda yang menjadi lawannya bernama Bai Hu.
Chu Lingxi memenangkan pertandingan di babak penyisihan karena keahliannya memanah yang sangat tinggi, dia dapat memprediksi gerakan lawan dan mengarahkan anak panahnya tepat sasaran.
Selama ini, panah Chu Lingxi tidak pernah meleset dari sasaran, begitu yang dirumorkan penonton sehingga gadis itu dijuluki sebagai mata elang karena ketajaman matanya.
Peserta Bai Hu sendiri adalah seorang pendekar pedang yanh menggabungkan seni permainan pedang dengan ilusi. Tidak sulit bagi Bai Hu ke babak utama karena setiap peserta yang jadi lawannya hampir kalah dengan cepat.
Chu Lingxi segera mengambil jarak sebelum pertandingan di mulai, sebagai pemanah ia sangat lemah dalam pertarungan jarak dekat.
Tepat satu detik peluit itu dibunyikan, Chu Lingxi segera melepaskan anak panah dari busurnya.
Bai Hu berdecak, ia segera menangkis anak panah tersebut dengan pedangnya.
Melihat Bai Hu bisa memotong panahnya menjadi dua tidak membuat Chu Lingxi kecil hati, sebaliknya ia mengambil empat anak panah lalu melepaskannya secara bersamaan.
Bai Hu mendengus, lagi-lagi dengan mudah pemuda itu bisa menangkis anak panah yang menuju ke arahnya tanpa kesulitan. Bai Hu segera bergerak cepat menuju Chu Lingxi dan memperkecil jarak antara keduanya sambil menangkis setiap panah yang dilepaskan gadis itu.
Bai Hu tidak mengetahui bahwa Chu Lingxi mempunyai kecepatan kaki yang tinggi untuk mengambil jarak kembali.
Setiap kali Bai Hu sudah mendekat, gadis itu akan melompat sangat tinggi hingga melewatinya, hal itu membuat Bai Hu merapatkan giginya karena kesal.
"Pengecut, apa kau hanya bisa berlari dan memanah!" Bai Hu mengumpat marah.
Chu Lingxi mengerutkan dahi, "Kenapa kau marah-marah? Semua orang mempunyai keunggulan dan kekurangan masing-masing, tidak perlu menyalahkan orang lain, salahkan lah dirimu yang kurang cepat."
Bai Hu mengumpat, ia kemudian membuat sebuah ilusi dimana tubuhnya menjadi lima orang. Hanya saja di depan Chu Lingxi yang disebut sebagai mata elang, ilusi tersebut tidak bisa melabuhinya. Dengan cepat, Chu Lingxi menyadari tubuh Bai Hu yang asli.
Bai Hu berdecak kesal berulang kali, ia memang sangat tangkas bertarung jarak dengan namun jika lawannya mengandalkan jarak maka posisinya tidak diuntungkan, Bai Hu hanya menyesal karena gurunya dulu tidak sempat mengajarkannya serangan jarak jauh.
Chu Lingxi terus menembak hingga akhirnya menyadari gadis itu sudah menghabisi setengah dari jumlah anak panah yang ia bawa.
Chu Lingxi memang diunggulkan karena jarak serta kecepatannya namun semua itu tidak berarti jika serangannya ditangkis oleh pedang Bai Hu.
__ADS_1
"Sepertinya tidak ada cara lain, aku harus menggunakannya sekarang..." Chu Lingxi menghela nafas kemudian mengambil anak panah lainnya.
Zhou Yuan menyipitkan mata melihat anak panah tersebut, berbeda dengan sebelum-sebelumnya, anak panah Chu Lingxi yang sekarang mempunyai berwarna merah.
Chu Lingxi mengalirkan tenaga dalam pada anaknya panah sebelum menembakannya ke arah Bai Hu.
Raut wajah Bai Hu menjadi serius ketika anak panah itu kini bergerak lebih cepat dari sebelumnya, ia mengayunkan pedangnya untuk menebas anak panah tersebut namun tiba-tiba sesuatu terjadi.
Bai Hu terlambat menyadari anak panah yang dilepaskan Chu Lingxi memiliki warna berbeda, ketika panah itu terpotong, sebuah ledakan dahsyat tercipta membuat Bai Hu tak bisa menghindar sehingga terpental beberapa meter.
Bai Hu terbatuk-batuk, ia tidak menduga panah tersebut bisa meledak seperti itu, bukan hanya dirinya saja yang terkejut bahkan mereka yang menonton juga tak kalah terkejutnya.
Bai Hu berniat menghindari anak panah Chu Lingxi kali ini namun gadis yang dilawannya sudah mengetahui apa yang direncanakan pemuda tersebut.
Chu Lingxi menembakkan anak panah lainnya namun kali ini Bai Hu sudah siap dan dengan sigap menghindari anak panah itu dengan mudah.
Ketika anak panah yang dihindari Bai Hu mendarat di lantai arena, anak panah itu meletus namun kali ini bukan ledakan yang tercipta melainkan kepulan asap putih.
Asap putih tersebut bukan racun namun untuk menghalangi jarak pandang, dalam beberapa tarikan nafas, arena menjadi dipenuhi oleh asap putih.
Chu Lingxi dengan cepat bergerak diantara asap tersebut, dengan ketajaman matanya ia bisa menyadari keberadaan Bai Hu meski dalam kepulan asap. Chu Lingxi segera melepaskan anak panah, kali ini Bai Hu tidak bisa melihat serangannya sehingga anak panah itu meledak mengenai punggungnya.
Bai Hu terbatuk-batuk, ia mengalami luka bakar di punggungnya sebelum akhirnya terjatuh dan tak sadarkan diri.
Xiong Bian segera memeriksa kondisi Bai Hu, ia bernafas lega pemuda itu hanya mengalami cedera yang ringan. Xiong Bian memanggil beberapa panitia untuk menggendong Bai Hu keluarga arena dan mendalami pengobatan.
Xiong Bian mengumumkan kemenangan Chu Lingxi, pertandingan tadi sebenarnya sangat menarik, Zhou Yuan tidak menduga ada peserta yang memakai panah di turnamen seperti ini.
"Baik, kita lanjutkan pertandingan kedua, peserta Xiao Rou melawan peserta Yin Ruo, segera naik ke atas arena..."
Pertandingan kali ini disambut antusias oleh para penonton, bisa dibilang kedua peserta yang bertanding merupakan pendekar yang berbakat dan terkenal.
Xiao Rou terkenal dengan wajahnya yang selalu datar namun memiliki kecantikan yang dewasa, kemampuan meniru jurus musuhnya sudah terkenal di turnamen ini. Sementara itu Yin Ruo adalah gadis yang mempesona dari tampilan gaun merahnya, dia dijuluki sebagai selendang merah.
Kedua gadis itu kemudian maju ke atas arena, Xiong Bian tidak menunggu lagi dan langsung menyembunyikan peluitnya.
Yin Ruo melepaskan selendang di tubuhnya sebelum mengaliri dengan tenaga dalam, tidak lama kemudian ia mengarahkan selendangnya yang segera bergerak mengincar Xiao Rou.
Selendang itu sangat panjang membuat jangkauan serangan Yin Ruo jadi luas, Xiao Rou menghindari beberapa serangan tersebut sebelum mengayunkan pedangnya ke selendangnya.
Dahi Xiao Rou mengerut ketika selendang tersebut sangat lentur sehingga sulit dipotong oleh pedangnya.
"Pertandingan ini menarik, aku jadi ingin lihat bagaimana Xiao Rou memenangkan pertarungannya, dia tidak bisa meniru jurus Yin Ruo jika tidak ada selendang..."
"Benar, satu-satu cara agar dia bisa menang adalah mendekati Yin Ruo dan menyerangnya dalam jarak dekat, tapi akan sulit karena selendangnya akan melindunginya."
Xiao Rou terus bergerak mundur sambil menghindari serangan selendang-selendang itu, biarpun gadis berambut merah itu tidak terluka dengan cara seperti ini namun jika dibiarkan posisinya lebih lama situasi tidak akan mendukungnya terutama ia sudah mendekati batas arena.
Menyadari situasi tersebut Xiao Rou menggunakan sebuah teknik yang membuat tubuhnya terbagi menjadi lima.
Bai Hu yang sudah siuman hampir tersedak nafasnya sendiri, teknik ilusi itu tidak salah lagi adalah jurus miliknya. Xiao Rou jelas-jelas telah menirunya di pertandingan sebelumnya.
__ADS_1
Ekspresi Yin Ruo berubah, ia mencoba mengincar salah satu tubuh gadis itu namun yang ditangkap selendangnya adalah bayangannya.