Legenda Buah Surgawi

Legenda Buah Surgawi
Eps. 44 — Acara Pernikahan


__ADS_3

"Li, ini bukan waktunya untuk mengeluh!"


"Hmph, bilang saja kau takut melawannya..." Gadis itu mengembangkan pipinya sebal.


Tetua Ketiga menghela nafas serta memutar matanya dengan malas.


Tetua Keempat bernama Xian Li, dia merupakan satu-satunya perempuan dari empat Tetua yang dimiliki Salju Abadi. Xian Li mungkin tampak seperti gadis yang lemah namun sebenarnya kemampuannya adalah yang paling kuat dari keempat Tetua Salju Abadi.


Yang membuat Tetua Ketiga merasa malas berbicara dengan Xian Li karena watak gadis itu yang pemalas, belum lagi saat berbicara nadanya selalu dimanja-manja seperti gadis muda pada umumnya.


Tetua Ketiga tidak masalah dengan hal tersebut namun mengingat umur sebenarnya Xian Li, mereka lebih cocok menyebutnya nenek daripada nona.


"Aku tidak takut, hanya khawatir jika kalah dia akan lari." Tetua Ketiga membantahnya dengan tajam, ia mempunyai kepercayaan diri dengan kemampuannya, meski nanti lawannya mempunyai tingkatan kekuatan diatasnya sekalipun.


Di dunia persilatan, tingkatan pendekar memang bukan penentu kemenangan, ada banyak faktor yang membuat sebuah pertarungan bisa dimenangkan.


Misalnya seorang ahli racun seperti Salju Abadi, mereka bisa menghabisi seorang pendekar di atas kekuatan mereka sekalipun selama racun yang digunakan mereka mengenai tubuh lawannya.


Faktor lainnya adalah kemampuan serta pengalaman, mereka yang memiliki kemampuan dan pengalaman bertarung yang lebih banyak akan cenderung lebih unggul dalam bertarung.


Xian Li tiba-tiba tertawa cekikikan, "Tetua Ketiga, aku hanya becanda. Baiklah, sudah sejak lama semenjak misi ini dimulai kita tidak menemui seseorang untuk bermain, kuharap dia bisa menghiburku."


Anggota Salju Abadi yang mendengar hal tersebut seketika langsung merinding dibuatnya, meski suara Xian Li tidak terdengar mengancam bahkan sebenarnya lemah lembut tetapi mereka yang mengetahui sifat aslinya merasakan insting bahaya.


Xian Li tidak segan menyiksa lawannya dengan kejam, membunuh adalah suatu kenikmatan baginya. Dari keempat Tetua, Xian Li adalah tipe kriminal yang maniak akan pembunuhan, membuatnya ditakuti lawan maupun kawan.


Tiba-tiba suara ledakan di atas langit terdengar, membuat semua perhatian Anggota Salju Abadi terpusat ke arahnya. Suara tersebut berasal dari kembang api yang di tembakan ke atas langit.


Kembang api tersebut juga sebagai isyarat organisasi Salju Abadi harus bergerak, Tetua Ketiga kemudian memberi tanda pada anggotanya untuk memulai misinya sekarang.

__ADS_1


Tiga ratus anggota Salju Abadi seketika langsung bergerak, berlari di atas atap-atap bangunan menuju pernikahan walikota yang sedang kini berlangsung.


"Kuharap ini tidak membosankan..." Xian Li berdiri di samping Tetua Ketiga, menguap lebar.


"Kuharap kau juga serius malam ini." Tetua Ketiga menatapnya tajam.


Xian Li tertawa kecil. "Kau selalu saja serius dalam situasi, membosankan. Tapi baiklah, walaupun aku malas bertindak bukan berarti aku akan diam saja."


Tetua Ketiga memutar matanya dengan malas, tidak membalas Xian Li lebih jauh. Dia memilih berlari menyusul anggotanya yang sudah bergerak terlebih dahulu.


***


Zhou Yuan melihat sekitar pernikahan walikota yang cukup meriah, ada banyak tamu yang diundang baik dari kalangan atas atau kalangan bawah.


Meja-meja disediakan dihalaman kediaman walikota, berjejer rapih dengan makanan serta minuman yang telah dihidangkan.


"Ah, sepertinya kita datang terlambat Yuan'er..." Zhou Bing tersenyum tipis saat melihat hampir tidak ada meja yang kosong untuk keduanya tempati.


Pusat acara pernikahan berada di gedung kediaman walikota berada, tepatnya berada di lantai empat. Di sanalah putra walikota akan melangsungkan acara pernikahan mereka malam ini.


Gedung itu hanya boleh dimasuki oleh para tamu tertentu yang di undang langsung oleh walikota, ada dua petugas yang berjaga di sana untuk memastikan tamu sembarangan tidak ada yang masuk.


Di saat Zhou Bing bingung harus duduk disebelah mana, seorang petugas walikota tiba-tiba datang menghampirinya.


Petugas itu memberitahu kalau Zhou Bing bisa masuk kedalam gedung atas suruhan walikota. Ia juga mengatakan bahwa walikota sedang menunggunya di dalam.


Mendengar hal tersebut Zhou Bing hanya bisa tersenyum canggung, sebenarnya ia sedang menghindari kontak dengan walikota karena tidak mau mencolok, sebab itu ia memilih duduk diluar.


Mendengar walikota menunggunya, ia tidak bisa menghindar, Zhou Bing kemudian mengajak Zhou Yuan untuk masuk ke dalam.

__ADS_1


"Kakek, Yuan diluar saja, aku ingin melihat kembang api disini..." Jawab Zhou Yuan beralasan.


Zhou Bing tidak bisa memaksa cucunya lebih jauh sehingga ia langsung masuk ke dalam gedung. Tampak terlihat kedatangannya disambut baik oleh orang-orang walikota.


Zhou Bing mungkin berasal dari bangsawan menengah tetapi dengan kekuatan serta kemampuannya sekarang, orang-orang akan cenderung menunduk dan menghormatinya.


Di dunia persilatan, jabatan mungkin akan dihormati oleh orang-orang tetapi kenyataannya, kekuatan adalah nomor satu yang paling diperhitungkan.


Walikota menyambut hangat Zhou Bing di dalam gedung, ia memperkenalkan kepada anak serta calon menantunya.


Walikota bukanlah orang yang berasal dari keluarga bangsawan, namun karena kecerdasannya dalam memimpin Kota Hana hingga jadi kota maju membuatnya lebih dibutuhkan dari keluarga bangsawan sekalipun.


Selepas kakeknya pergi, Zhou Yuan memilih mencari tempat duduk yang kosong, ia duduk di sana bersama para tamu undangan yang lain.


Semakin malam acara pernikahan semakin meriah, Zhou Yuan disisi lain menguap lebar karena merasa bosan. Selama dua jam ia hanya diam memperhatikan sekitarnya. Zhou Yuan berharap Kakeknya segera kembali dan mengajaknya pulang.


"Kuharap acaranya tidak berlangsung lama." Zhou Yuan meraih cangkir teh dimeja, ia hendak meminumnya namun sebelum melakukannya, ada bau asing yang samar-samar di teh tersebut.


Zhou Yuan terkejut saat mengenali bau tersebut. "Ini racun!"


Belum Zhou Yuan pulih dari keterkejutannya, kembang api mulai dinyalakan ke atas langit, acara pernikahan sudah berada pada titik puncak acaranya. Para tamu bertepuk tangan dengan takjub melihat kembang api tersebut kontras dengan wajah Zhou Yuan yang kini menjadi tegang.


Tepuk tangan tersebut tidak berlangsung lama karena secara tiba-tiba satu persatu dari mereka mulai berjatuhan ke tanah. Racun yang ada di teh tersebut mulai bereaksi.


Dalam kurun waktu tiga menit kedepan, hampir semua tamu sudah tumbang ke tanah, Zhou Yuan mendekati salah satunya untuk memeriksa kondisi mereka.


"Ini racun tidur... Tidak, ini racun Ular Es." Zhou Yuan berdecak saat mengenali racun tersebut, racun yang sama yang diberikan pada cucu Kakek Jiang sebelumnya.


Para tamu yang belum minum teh langsung merasakan ada yang janggal, beberapa dari mereka bahkan ketakutan saat tiba-tiba semuanya tumbang ke tanah begitu saja.

__ADS_1


Zhou Yuan masih mencerna situasi saat tiba-tiba segerombolan orang bertopeng masuk ke dalam kediaman walikota dengan jumlah yang mengejutkan.


Zhou Yuan menelan ludah saat menyadari apa yang sedang terjadi. "Ini, ini adalah sebuah serangan..."


__ADS_2