Legenda Buah Surgawi

Legenda Buah Surgawi
Eps. 133 — Perasaan Kerinduan


__ADS_3

Akademi Empat Kekaisaran, disebut-sebut sebagai tempat para murid jenius dan berbakat berkumpul.


Tidak sembarang orang bisa masuk dan menjadi murid akademi tersebut, mereka harus melakukan tes yang sulit sebelum bisa diterima di sana.


Biarpun semua murid-murid di akademi adalah orang jenius serta berbakat, namun tetap saja ada beberapa murid yang lebih unggul dibandingkan murid yang lain dan diantara mereka ada yang disebut sebagai murid jenius diantara para jenius.


Terdapat sepuluh murid yang mempunyai julukan tersebut, enam diantaranya adalah lelaki sementara empat sisanya merupakan perempuan.


Dalam empat murid perempuan yang paling dikenal ada 2 yang paling menonjol, selain karena 2 perempuan yang dimaksud sangat berbakat, penampilan mereka terutama parasnya amat menarik perhatian.


Satu perempuan yang pertama memiliki ciri khas tersendiri karena memiliki rambut yang berwana merah, wajahnya selalu tak berekspresi namun biarpun demikian, ia merupakan gadis yang manis.


Yang terkenal lainnya dari gadis berambut merah itu adalah kemampuan berpedangnya yang tinggi. Di Akademi Empat Kekaisaran, dia sekiranya memiliki posisi ke tiga sebagai murid pedang paling berbakat.


Perempuan itu bahkan diangkat menjadi murid khusus dari salah satu Tetua ternama Akademi. Karena bakatnya, Tetua itu bisa melihat potensi besar perempuan itu dimasa depan.


Perempuan yang dimaksud adalah Xiao Rou, kini ia telah menjadi gadis remaja yang berusia 18 tahun. Walaupun selalu memasang wajah tanpa ekspresi, tidak menutupi paras gadis itu dengan kecantikannya yang di atas rata-rata perempuan biasa.


Bukan hal yang aneh ketika ada murid lelaki yang jatuh hati kepada Xiao Rou dalam sekali pandangan, beberapa dari mereka bahkan menyatakan cinta pada gadis itu namun semuanya secara serempak di tolak oleh Xiao Rou dengan alasan ia tidak pernah tertarik pada mereka.


Seperti sekarang, ada seseorang yang mengirimkan surat pada Xiao Rou yang isinya meminta agar gadis itu datang ke taman belakang akademi.


Bagi Xiao Rou, ia sudah mengerti akan seperti apa kejadian di depannya. Ketika sudah tiba di taman seorang diri, seorang laki-laki yaitu pengirim surat itu datang menemuinya dan menyatakan cinta padanya.


"Maaf tapi aku tak bisa menerimanya, aku tidak tertarik padamu..." Xiao Rou menolak pernyataan cinta itu dengan ekspresi datar.


Hal itu membuat murid lelaki itu kecewa dan langsung pergi. Tanpa tahu kebenaran situasi Xiao Rou yang sebenarnya.


Tidak ada yang tahu atau mungkin tidak ada yang mengerti bahwa di hati Xiao Rou saat ini sudah ditempati oleh seorang laki-laki yang mengisi kepalanya setiap waktu.


Setelah beberapa tahun tidak bertemu lelaki itu tidak membuat perasaan dihatinya memudar atau bahkan menghilang, sebaliknya perasaan tersebut semakin kuat dan mengakar dalam, kerinduan yang begitu besar untuk ingin bertemu.

__ADS_1


"Guru apakah kau akan kesini saat turnamen nanti?" Xiao Rou menatap ke atas langit, matanya menunjukkan harapan agar perkataannya terkabul.


Mengingat pernyataan cinta lelaki itu justru membuat pikiran Xiao Rou semakin teringat pada seseorang dihatinya. Xiao Rou berharap agar bisa berjumpa lagi dengannya dalam beberapa waktu dekat ini terutama saat turnamen nanti.


***


Disisi lain, di tempat yang berbeda tak jauh dari Akademi Empat Kekaisaran, ada sebuah tempat yang menyejukkan dimana pohon besar hidup seorang diri di tempat itu.


Karena Akademi dibangun di atas gunung yang tinggi, maka seseorang bisa melihat hamparan awan ketika sampai di tempat pohon itu. Saat ini memang ada seorang gadis di sana yang menyaksikan pemandangan indah tersebut.


"Nona Yue, kau selalu menyendiri di tempat ini, apa kau menyukai pemandangannya?"


Seseorang pemuda bernama Liu Yuwen, menemui gadis di depannya, pemuda itu memiliki wajah yang rupawan, terlihat begitu ramah serta sopan.


Gadis itu mengangguk namun tidak menoleh pada pemuda itu, ia masih menatap hamparan awan di depannya.


Liu Yuwen tersenyum tipis, selama ini ada banyak perempuan yang sudah jatuh hati padanya namun gadis di depannya justru bereaksi sebaliknya, bukan hanya tidak tertarik bahkan gadis itu selalu memasang ekspresi dingin jika bertemu dengan dirinya.


"Urusanku berlatih atau tidak bukan urusanmu, Saudara Liu, kau tidak perlu mengkhawatirkan itu?"


"Ah maaf, maksudku aku kesini hanya ingin mengajakmu bertanding, dari dulu aku cukup penasaran siapa diantara kita yang akan menang."


Gadis itu kemudian menoleh, tatapannya terasa tajam dan ada sedikit kemarahan dari sorot matanya.


"Saudara Liu, kenapa anda bersikeras untuk bertanding denganku, apa kau mempunyai niatan tertentu?" Perempuan itu menyipitkan matanya.


"Nona Yue terlalu berburuk sangka padaku, aku hanya ingin melihat kemampuanmu?"


Perempuan dihadapan Yuwen adalah Yue Linxia, seorang gadis akademi yang baru 3 tahun bergabung namun sudah menjadi 10 murid terjenius di akademi.


Yue Linxia adalah salah satu murid lain yang terkenal di Akademi selain Xiao Rou, sama dengan gadis berambut merah tersebut Linxia terkenal dengan permainan pedangnya yang tidak memiliki suara.

__ADS_1


Jika Xiao Rou adalah gadis cantik tak berekspresi maka Linxia merupakan gadis cantik yang dingin.


Linxia memang tidak menyukai lelaki yang bernama Liu Yuwen ini, meski sangat tampan untuk seukuran laki-laki namun insting Linxia mengatakan Yuwen adalah orang yang memiliki sifat jauh berbeda.


Liu Yuwen merupakan putra dari Kaisar Matahari dan identitasnya sangat disegani disini. Yuwen juga adalah sepuluh murid paling jenius di akademi jadi tidak mengherankan dengan identitas besar dan kejeniusannya, ada banyak wanita yang jatuh cinta pada lelaki itu.


Entah ini hanya prasangka saja tetapi Linxia mempunyai pandangan berbeda terhadap Yuwen. Menurutnya pribadi Liu Yuwen adalah seseorang yang manipulatif, seseorang yang jauh berbeda dengan sikap aslinya dan instingnya mengatakan bahwa Yuwen adalah sosok yang sebaiknya jangan didekati.


Sebab itu Linxia tampak tidak menyukainya, ia sama sekali tidak terpesona oleh wajah tampan lelaki tersebut.


"Aku saat ini sedang tidak mau bertarung dengan siapapun, dan... Aku ingin sendirian disini." Linxia menjawabnya dengan dingin sebelum membalikan badan, kembali menatap pemandangan awan itu lagi.


"Ah, kalau begitu maaf, aku pasti mengganggumu..." Liu Yuwen tetap tersenyum sebelum berpamitan dan pergi.


Linxia menghela nafas sesudah Liu Yuwen meninggalkannya sendiri. Dia kini bisa menikmati pemandangan hamparan awan lagi meskipun pikirannya sekarang sedang tidak tertuju ke sana melainkan ke seseorang pemuda yang selalu ada di pikiran dan dihatinya.


***


"Perempuan sialan itu, tunggu saja aku akan mendapatkan ilmu pedangmu..."


Disisi lain setelah Liu Yuwen meninggalkan Linxia sendiri, ia pergi ke kediamannya dan melampiaskan emosinya di kamar.


Liu Yuwen merasa geram sekaligus kesal dengan sikap Linxia padanya namun lelaki itu justru semakin tertarik dan ingin mendapatkan sesuatu dari gadis itu.


"Tidak ada yang aku inginkan tidak menjadi milikku, apapun caranya akan kulakukan agar teknik itu bisa kudapatkan..." Yuwen mengepalkan tangannya keras dengan penuh ambisi.


Yuwen mendekati Linxia sebenarnya ingin mempelajari teknik pedang yang di gunakan gadis itu karena menurutnya, permainan pedang Linxia sangat menarik sehingga tidak menimbulkan suara.


Masalahnya bagi Yuwen Linxia sangat sulit didekati, gadis itu tidak memiliki ketertarikan padanya padahal semua wanita di akademi hampir tidak ada yang tidak menyukainya.


Hal ini membuat Yuwen berpikir ulang, dia sepertinya harus menggunakan cara berbeda agar bisa mendapatkan teknik pedang Linxia.

__ADS_1


__ADS_2