
Dua rekan dari pria kesal itu berdecak pelan, tidak menyangka harus turun tangan meski keduanya akui kemampuan Zhou Yuan memang mengejutkan mereka.
Keduanya melompat dari atas pohon sebelum ikut bergabung dalam pertempuran Zhou Yuan, menghadapinya dengan mengeroyoknya.
"Aku ingin lihat apa kau bisa memojokkanku seperti ini lagi!" Pria yang kesal tadi tertawa keras, merasa percaya diri setelah dua rekannya membantunya.
Zhou Yuan menahan nafas sebelum mengubah posisinya jadi bertahan, melawan tiga Alam Emas di tingkatan yang sama bukanlah sesuatu yang mudah baginya.
Ketika Zhou Yuan masih bisa bertahan setelah bertukar serangan beberapa waktu, pandangan ketiga pria itu justru bereaksi berbeda karena tidak menduga Zhou Yuan dapat bertahan melawan tiga orang musuhnya sekaligus.
"Anak muda ini sangat kuat, kita harus harus membunuhnya secepatnya..." Salah satu dari mereka memiliki firasat buruk karena biarpun dikeroyok, Zhou Yuan masih terlihat tenang.
Zhou Yuan menarik nafasnya yang dalam sebelum menggunakan teknik pedang dari klan Xiao, Teknik Pedang Air.
Situasi segera berubah ketika Zhou Yuan menggunakan salah satu dari teknik pedang elemen, bukan hanya mengimbangi lawannya tetapi sedikit demi sedikit ia membuatnya di posisi unggul.
"Teknik ini... Dia berasal dari klan Xiao?!"
Salah satu dari mereka menyadari teknik pedang yang digunakan Zhou Yuan adalah teknik pedang lentur tingkat tinggi di Kekaisaran Bulan yaitu Teknik Pedang Air.
Zhou Yuan terus melepaskan serangan membuat posisinya jadi di atas angin, bukan hanya memojokkannya tetapi Zhou Yuan juga berhasil mendaratkan beberapa luka pada ketiga lawannya.
"Dia sekuat ini, aku sungguh tidak percaya..." Pria kesal tadi merapatkan giginya.
"Kalau bertarung jangan melamun, perhatikan serangan lawanmu!" Zhou Yuan memberikan tendangan pada pria berjubah yang paling berumur.
Pria yang menerima tendangan itu tidak menghindar karena berpikir serangan fisik Zhou Yuan tidak terlalu bahaya mengingat usia laki-laki tersebut. Nyatanya setelah kaki Zhou Yuan mendarat di tubuhnya, pria itu merasakan tulang di tubuhnya retak, ia langsung terlempar beberapa meter dan hampir kehilangan kesadarannya.
Pria itu muntah darah, tidak menduga Zhou Yuan mempunyai kekuatan fisik yang mengerikan.
Terlemparnya salah satu dari mereka membuat dua pria di dekat Zhou Yuan menjadi cemas, tidak membutuhkan waktu lama hingga satu yang lain terbang usai menerima pukulan kuat di dadanya, menyisakan satu orang lagi yaitu pria yang kesal sebelumnya.
Ketika merasakan tenaga fisiknya meningkat pada sesuatu yang mengejutkan Zhou Yuan bisa menggabungkan permainan pedangnya dengan ilmu tangan kosong.
__ADS_1
Zhou Yuan menghujani pria kesal itu lebih serius, membuat luka-luka yang ada ditubuh lawannya semakin banyak.
Pria kesal itu mengumpat, ia ingin mengambil jarak namun Zhou Yuan tidak membiarkan itu terjadi.
"Gelombang Ombak!"
Zhou Yuan mengalirkan tenaga dalam yang besar pada pedangnya, ayunan selanjutnya sangat kuat dan mengarah ke leher pria kesal tersebut.
Pria itu berusaha menghindar serangan Zhou Yuan namun reaksi tubuhnya tidak berhasil mengikuti kecepatan ayunan tersebut, pedang Zhou Yuan mendarat rapih di lehernya, memotongnya menjadi dua.
Pandangan Zhou Yuan kemudian beralih pada dua pria berjubah yang tersisa sisa, tanpa menunggu waktu lagi ia berlari ke arah mereka.
Dua pria itu saling pandang sedetik sebelum mengangguk bersamaan, jika mereka bertiga saja tidak bisa mengalahkan Zhou Yuan maka melawannya berdua tidak berbeda jauh dengan mengantarkan nyawa.
Tanpa pikir panjang keduanya berlari ke arah yang masing-masing berbeda, Zhou Yuan berdecak pelan, ia hanya bisa mengejar salah satunya.
***
Zhou Yuan kembali ke tempat Linxia setelah membunuh pria yang dikejarnya, laki-laki itu sedikit kesal karena salah satu lawannya ada yang lolos.
Tampak sekali gadis itu mempunyai banyak pikiran tentangnya namun yang pasti Linxia sangat berterimakasih pada Zhou Yuan.
Tidak ada lagi percakapan diantara keduanya setelah memulai perjalanannya kembali, bahkan sampai matahari terbenam pun mereka masih saling diam.
"Apakah dunia persilatan seperti itu, membunuh dan dibunuh?"
Keduanya kembali menyalakan api unggun usai mendapatkan tempat yang nyaman untuk berisitirahat, saat tiba-tiba Linxia bertanya pada Zhou Yuan.
"Aku tidak bisa menjawabnya benar atau tidak, yang pasti untuk melindungi diri atau memiliki tujuan tertentu, pertumpahan darah pasti akan terjadi di dunia persilatan." Jawab Zhou Yuan pelan.
Linxia terdiam sejenak, ia teringat Zhou Yuan membunuh lawannya seperti tidak memiliki sedikitpun keraguan.
"Apa kau juga sudah terbiasa akan pembunuhan?" Tanya Linxia lagi.
__ADS_1
Zhou Yuan menoleh pada gadis itu, menemukan reaksi Linxia yang membutuhkan beberapa jawaban untuk dirinya sendiri.
Linxia mungkin memiliki banyak pengalaman serta wawasan yang cukup luas untuk orang seusianya, namun dihadapkan dengan pertarungan hidup dan mati seperti kejadian sebelumnya membuat sudut pandangnya tentang dunia persilatan menjadi berubah.
Yang pasti, hanya mengetahui saja dan merasakannya secara langsung adalah dua hal yang jauh berbeda.
"Membunuh tidak akan menjadi terbiasa dirasakan seseorang kecuali mereka yang memiliki kelainan jiwa..." Zhou Yuan tersenyum tipis. "Pada akhirnya, walau hanya sekilas, seseorang akan takut atau merasa bersalah ketika melakukan pembunuhan."
Zhou Yuan tidak yakin apakah dirinya termasuk orang yang memiliki kelainan jiwa atau tidak namun satu hal yang ia sadari, perasaan dirinya di kehidupan kedua ini sangat berbeda.
Zhou Yuan akui ketika dirinya membunuh, ia tidak merasakan rasa bersalah atau keraguan dalam melakukannya. Walaupun usianya masih 12 tahun, sudah banyak nyawa yang ia cabut di kehidupan kedua ini.
Di malam kedua kompetisi ini, Linxia memilih yang berjaga. Zhou Yuan tidak menolak tawaran gadis itu meski ia tidak membutuhkan penjagaannya.
Zhou Yuan mengambil duduk bersila dan menyandarkan tubuhnya di dekat pohon. Zhou Yuan memilih mengumpulkan tenaga dalamnya yang hilang akibat pertarungan beberapa saat yang lalu.
Sesudah tenaga dalamnya telah pulih sempurna, Zhou Yuan membuka mata dan menemukan Linxia sedang berlatih pedang tak jauh dari api unggun berada.
Tidak ada suara dari setiap gerakan gadis itu, hampir setiap ayunan pedang ataupun gerakan tubuhnya tidak memiliki bunyi. Ini karena Linxia sedang berlatih Teknik Pedang Suara, salah satu teknik pedang elemen yang tidak menimbulkan suara apapun dari setiap pergerakannya.
Ketika Zhou Yuan melihatnya berlatih, gadis itu masih belum menyadarinya. Barulah ketika selesai, Linxia menyadari Zhou Yuan sedang menatapnya.
"Teknik pedang dari klan Yue, kupikir ini kebetulan tetapi kau sepertinya memang berasal dari klan Yue sungguhan?" Tanya Zhou Yuan.
Linxia tidak membantah hal tersebut, ia jadi teringat Zhou Yuan langsung mengenali teknik pedangnya dalam sekali lihat ketika bertarung di air terjun sebelumnya.
"Ayah serta Kakekku adalah keturunan klan Yue secara langsung, garis keturunanku adalah salah satu pelarian yang selamat saat pembantaian klan Yue ratusan tahun yang lalu."
Zhou Yuan mengangguk, akhirnya ia mengerti kenapa Teknik Pedang Suara bisa digunakan gadis itu.
"Bukankah kau juga menguasai Teknik Pedang Air, apa kau berasal dari klan Xiao?" Linxia bertanya.
"Aku bukan berasal dari klan itu, bisa dibilang aku menguasai Teknik Pedang Air karena seseorang pernah mengajarkannya padaku."
__ADS_1
Zhou Yuan ingin mengatakan bahwa ia berasal dari Keluarga Zhou saat ada seseorang yang datang keperaapian keduanya.