Legenda Buah Surgawi

Legenda Buah Surgawi
Eps. 129 — Akhir dari Penyerangan


__ADS_3

Melihat jumlah korban pasukannya terus berkurang secara drastis, Guo Zhengxa tidak bisa menahan kekesalannya.


Pedang yang melayang itu benar-benar telah mengubah situasi pertempuran dengan cepat, membuat prajurit istana yang awalnya di posisi kurang menguntungkan jadi berada di atas angin.


Guo Zhengxa melepaskan serangan tapak cahaya dengan tenaga dalam berjumlah besar sementara Jiang Qisha melakukan hal serupa, kedua tapak beradu menimbulkan getaran udara di sekitarnya sekaligus membuat keduanya terdorong beberapa meter.


Guo Zhengxa tidak melanjutkan serangannya ke arah Jiang Qisha melainkan melepaskan 3 bola cahaya ke atas langit, seperti sebelumnya, bola cahaya itu meledak seperti kembang api di ketinggian yang cukup namun yang berbeda adalah arti tanda ledakan tersebut.


Jiang Qisha melihat bola cahaya itu sesaat sebelum memandang Guo Zhengxa, "Kau memutuskan pergi, kupikir kita akan bermain disini lebih lama..."


Guo Zhengxa mendengus kesal. "Kita lanjutkan pertarungan ini lain kali..."


Jiang Qisha tersenyum tipis, tidak menjawab sementara Guo Zhengxa mulai melangkahkan kakinya pergi meninggalkan istana.


Guo Zhengxa bisa melihat jika penyerangan ini terus berlanjut maka pihaknya akan kalah, pedang emas yang melayang itu benar-benar menganggu seluruh alur pertempuran yang ada di kawasan istana.


Meski sangat disayangkan rencananya gagal Guo Zhengxa tak bisa membiarkan pasukannya terbunuh sia-sia karena kebuasan pedang tersebut.


Tak lama tanda yang dilepaskan Guo Zhengxa berbunyi, pasukan organisasi disekitarnya mulai mundur dan beranjak kaki dari istana.


Tentu saja jalan kabur mereka harus diganggu oleh pedang melayang itu namun pada akhirnya hampir separuh lebih bisa meloloskan diri.


Di lokasi gerbang yang lain situasi tidak jauh berbeda, Saat Guo Zhengxa memutuskan untuk mundur Huang Zhang tidak punya pilihan lain selain mengajak pasukannya untuk berbalik.


Huang Zhang merasa belum puas bertarung dengan Xiao Fan apalagi setelah menerima luka gores di pipinya akibat ayunan pedang kakek berambut merah tersebut.


Teknik pedang Huang Zhang dan Xiao Fan bisa dibilang hampir berimbang dengan Xiao Fan sedikit lebih di atasnya.


"Kalau kau belum puas bertarung, kau bisa tinggal disini lebih lama, aku akan meladenimu sampai kapanpun..." Xiao Fan juga sebenarnya merasa tidak puas, sama dengan Huang Zhang, dia juga mempunyai luka goresan ditubuhnya.


Huang Zhang berdecak, "Kau berhasil mengungguliku karena aku mempunyai satu tangan... Jangan menganggap kemampuan kita sama."


Xiao Fan tersenyum kecut, tidak bisa membantah perkataan Huang Zhang karena memang seperti itulah adanya. Huang Zhang juga memiliki kekuatan fisik dibawahnya, andai keduanya di kondisi yang sama mungkin Huang Zhang bisa mengungguli Xiao Fan.


Tanpa sepatah katapun lagi Huang Zhang kemudian beranjak kaki, meninggalkan istana bersama yang lain.


***


"Sayang sekali aku harus pergi, pertemuan selanjutnya aku benar-benar akan membunuhmu." Xhi Wuxu menatap Yue Jian dingin.


Yue Jian saat ini dalam posisi yang dipenuhi luka, Xhi Wuxu dengan cara liciknya melepaskan pisau ke arah prajurit istana yang membuat konsentrasinya harus terpecah. Akibatnya beberapa pisau berhasil mengenainya, meskipun bukan luka yang serius namun luka tersebut cukup untuk mempengaruhi pertarungan.


Yue Jian mengumpat dalam hati, jika saja saat ini keduanya bertarung sendiri-sendiri mungkin dia sudah memberikan serangan pada pendekar pembuat pil itu.


Xhi Wuxu kembali menelan pil hitam lainnya sebelum meninggalkan lokasi, Yue Jian yang melihatnya menjauh akhirnya bisa bernafas dengan lega.


Tingkatan kekuatan Xhi Wuxu sebenarnya berada dibawah Yue Jian namun pria sepuh itu mengonsumsi pil hitam yang membuat kekuatannya jadi meningkat pesat.

__ADS_1


Melihat pasukan organisasi mulai bergerak menjauh, Yue Jian menelan pil yang dibawanya sebelum mengambil posisi duduk bersila dan memfokuskan menyembuhkan luka-luka di tubuhnya.


Di tempat berbeda, Chu Guyu mengayunkan tendangan lainnya hingga membuat Mou Yu dan Lin Ran yang ada didekatnya terdorong beberapa langkah.


Mou Yu dan Lin Ran mengumpat kesal dan emosi keduanya memuncak, ketika mereka ingin menyerang kembali tiba-tiba atas langit ada suara ledakan cahaya. Ekspresi wajah Mou Yu dan Lin Ran seketika berubah.


"Kurasa kalian berdua harus pergi..." Chu Guyu tersenyum tipis sambil menunjuk pedang emas yang membantai pasukan yang dipimpin dua perempuan itu.


Meski tidak mengetahui arti tanda bola cahaya itu namun Chu Guyu bisa menebak bahwa ledakan itu mengartikan bahwa pasukan organisasi harus mundur.


"Kenapa Ketua Guo memerintahkan kita mundur?!" Lin Ran berkata geram sambil menghentakkan kakinya ke tanah dengan keras, ia ingin sekali mencabik-cabik Chu Guyu sekarang juga karena berani menorehkan luka pada wajahnya.


"Anggap saja kali ini kau beruntung, lain kali aku akan membunuhmu menjadi seribu bagian!" Mou Yu mendengus, meski ia sama marahnya dengan Lin Ran namun dirinya masih mementingkan tanda dari Guo Zhengxa.


Perhatian Mou Yu juga sebenarnya memang sedang tak bisa fokus ketika pasukannya harus dibunuh pedang yang melayang itu, dengan berat hati Mou Yu dan Lin Ran meninggalkan lokasi pertarungan diikuti yang lain.


Tidak lama Lin Ran dan Mou Yu pergi, dua Tetua Chu yang selalu bersama Chu Guyu datang dan menghampirinya.


Dua Tetua Chu itu berdecak kagum saat melihat Chu Guyu bertarung dan berhasil mendominasi kedua lawannya dengan ilmu tendangannya.


"Matriark, anda luar biasa, kami sampai terpana melihat kemampuan-..." Salah satu tetua hendak menyanjung Chu Guyu saat tiba-tiba gadis itu jatuh berlutut.


Chu Guyu memuntahkan darah hitam di mulutnya, nafasnya memburu serta keringat dingin membanjiri tubuhnya.


"Matriark, anda keracunan?" Dua tetua itu terkejut melihat kondisi pemimpin mereka.


Chu Guyu tidak menjawab, ia menyeka darah di bibirnya sebelum menelan sebuah pil.


Chu Guyu harus memakan pil rahasianya untuk meredakan keganasan pil itu, untungnya dengan pil tersebut racunnya berhasil dinetralkan walaupun tinggal sedikit lagi.


Chu Guyu bisa saja membersihkan semua racun itu namun akan membutuhkan waktu lama untuk menetralkan seluruhnya dengan tenaga dalam. Chu Guyu memilih untuk memulihkan kondisinya terlebih dahulu.


***


Zhou Yuan menyaksikan semua pasukan organisasi meninggalkan istana dari jauh, ia bernafas lega setelah usahanya membuahkan hasil yang diinginkan.


Meskipun mempunyai kekuatan mengendalikan empat pedang yang tajam, kemampuan Zhou Yuan itu masih belum cukup untuk melukai pendekar di alam cahaya apalagi membunuhnya.


Zhou Yuan sejenak mengendalikan pedang itu untuk melukai Huang Zhang namun dengan mudah pedang itu bisa dihindari dan ditangkisnya.


Karena sebab itu Zhou Yuan mengubah rencananya lalu mulai menghabisi pendekar Alam Emas ke bawah. Rencana itu berhasil dan membuat pasukan organisasi kabur.


Nafas Zhou Yuan kini sudah tidak beraturan lagi, akibat mengendalikan ke-empat pedang itu sekaligus dengan waktu yang lama, tenaga dalamnya sudah hampir mencapai batasnya.


"Yuan'er, ternyata kau lebih cepat menguasainya dari yang aku duga..."


"Kakek Bai!"

__ADS_1


Zhou Yuan terkejut saat mendengar suara tersebut lalu menoleh untuk menemukan Kakek Bai sudah berdiri disampingnya sambil tersenyum lebar.


Kakek Bai kemudian melihat sekeliling kawasan istana dimana pertempuran bisa dibilang telah selesai.


Kakek Bai kemudian memetikan jarinya, membuat empat pedang yang sedang dikendalikan Zhou Yuan dari jauh tiba-tiba berbelok haluan dan mengarah mendekatinya.


Keempat pedang tiba disisi Kakek Bai dalam waktu singkat. "Kurasa kau sudah menyelesaikan urusanmu Yuan'er, bolehkah aku memintanya kembali?"


Zhou Yuan mengangguk. "Terimakasih Kakek Bai karena telah menolongku."


Kakek Bai tersenyum lalu kemudian mengayunkan tangannya, keempat pedang emas itu seketika menghilang.


Zhou Yuan melihat kejadian itu sampai menahan nafasnya, ia masih belum terbiasa dengan yang dilakukan Kakek Bai yang menurutnya sangat aneh dan diluar nalar pikirannya.


Satu hal yang pasti, Zhou Yuan merasa Kakek Bai seperti gurunya dikehidupan pertama, seorang pendekar sakti yang memiliki kekuatan besar namun tidak ada yang mengetahuinya.


Sifat Guru Zhou Yuan juga persis seperti Kakek Bai yamg tidak mau terlibat di dunia persilatan, dia memilih menjalani masa tuanya dengan tenang.


"Kalau begitu aku pamit Yuan'er, jangan salah paham tapi ini bukan perpisahan, seperti yang aku bilang, aku merasa takdir akan mempertemukan kita lagi..." Kakek Bai mengayunkan tangan kembali, kini sebuah portal muncul di ruang kosong.


Portal itu terus membesar sehingga Kakek Bai bisa muat ke dalamnya, Kakek Bai memasuki portal itu dan portal yang sama jadi mengecil sebelum akhirnya menghilang.


Zhou Yuan bernafas lega, setelah melihat pertempuran telah berakhir Zhou Yuan jadi teringat dengan Jiang Yifei, ia pergi ke sana ingin memastikan gadis itu baik-baik saja.


***


Jiang Yifei tersadar dari pingsannya dan mendapati ia tengah berada di atas tempat tidur. Jiang Yifei tidak sendiri, ada seorang prajurit yang tidak lama kemudian datang setelah kesadarannya kembali.


"Tuan Putri, anda telah siuman?"


"Paman, apa yang sebenarnya terjadi..." Jiang Yifei tidak mengetahui sebab dirinya pingsan karena tiba-tiba pandangannya menjadi gelap saat melawan musuhnya.


Prajurit itu kemudian menceritakan apa yang terjadi pada Jiang Yifei setelah ia tak sadarkan diri, prajurit itu tidak mengetahui sebab gadis itu pingsan namun yang pasti ada seorang pemuda yang menyelamatkannya dan membawa ia kesini.


"Lalu sekarang dimana pemuda itu?"


"Masalah itu hamba tidak mengetahuinya, setelah mengantar Tuan Putri dia langsung pergi dari sini..."


Jiang Yifei mempunyai firasat buruk, ia masih ingat bagaimana pertempuran tersebut begitu mengerikan, penuh luka dan pembunuhan. Meski gadis itu mengakui kemampuan Zhou Yuan namun dihadapan pertempuran besar tersebut, gadis itu meragukannya.


Jiang Yifei lalu buru-buru keluar dari ruangan rahasia itu, baru ia hendak melewati pintu perpustakaan, orang yang dicarinya muncul.


"Tuan Putri, anda telah sadar..." Zhou Yuan tersenyum ketika melihat gadis itu.


Diluar dugaan Zhou Yuan, Jiang Yifei tiba-tiba berlari menghampirinya dan segera memeluknya, hal itu membuat Zhou Yuan terkejut.


Pelukan itu tidak berlangsung lama karena dengan cepat Yifei tersadar lalu buru-buru melepaskan dirinya menjauhi pemuda tersebut.

__ADS_1


"Ja-jangan salah paham, aku tadi hanya kepeleset dan kebetulan memelukmu! bukannya aku merasa khawatir padamu, apalagi sampai berpikir aku merindukanmu!" Jiang Yifei melipat tangannya didada lalu membuang wajahnya dengan memasang ekspresi kesal.


Zhou Yuan tersenyum canggung, jelas-jelas gadis itu tadi memeluknya dengan sengaja namun ia tidak membicarakan itu lebih jauh.


__ADS_2