Legenda Buah Surgawi

Legenda Buah Surgawi
Eps. 128 — Penyerangan Istana X


__ADS_3

Dengan ke empat pedang emas yang dibawanya, Zhou Yuan mengendalikan mereka untuk menyerang semua pasukan organisasi yang berada di bagian dalam istana.


Pasukan organisasi yang mulanya merasa di atas angin, tertawa karena akan menaklukkan istana dan menguasai kekaisaran, tiba-tiba suasana harus berubah seratus delapan puluh derajat menjadi ketakutan serta jeritan ketika sebuah pedang datang dan menghabisi nyawa mereka, satu demi satu.


Pasukan organisasi awalnya tidak menyadari kedatangan 4 pedang emas tersebut sampai melihat rekan-rekan mereka mulai berjatuhan ke tanah.


Mereka yang dengan cepat menyadari serangan tersebut segera menarik senjata mereka, bersiap menghadapi serangan yang sebenarnya tidak mengetahui apa yang sedang mereka lawan.


Masalahnya empat pedang emas itu bukanlah sesuatu yang bisa ditahan oleh pedang biasa bahkan pusaka kelas rendahan. Pusaka kelas tiga hanya bisa bertahan tiga kali benturan sebelum pusaka mereka rusak dan terbelah.


Tidak hanya disana, Zhou Yuan juga menyerap cahaya disekelilingnya untuk membatasi jarak pandang lawan, pasukan organisasi tidak mengetahui apa-apa saat mendapati rekan mereka sudah tumbang ke tanah ketika bisa melihat kembali.


Zhou Yuan juga tidak tinggal diam, ia mencabut pedang Kusanagi dari sarungnya lalu menebas ke arah lawannya, dalam sekali ayunan, Zhou Yuan membunuh beberapa dari mereka.


Prajurit istana tampak bingung serta tidak memahami situasi yang terjadi saat melihat sebuah pedang membantu mereka, tetapi disisi lain mereka juga bersyukur dengan keberadaan senjata itu karena telah menolongnya.


Mereka yang sempat berpikir akan tamat riwayatnya hari ini mulai memiliki harapan kembali untuk hidup bahkan memenangkan pertempuran.


Saat pembantaian pedang emas itu terjadi, disisi yang sama aura pembunuh Zhou Yuan terus bertambah pekat, ia bisa merasakan ada perubahan dari tubuhnya setelah mencabut banyak nyawa.


'Aku tidak menduga, di sepanjang hidupku akan mempunyai aura pembunuh sepekat ini...' Zhou Yuan menghela nafas saat tubuhnya kini memancarkan aura merah kehitaman yang tampak mengerikan bagi seseorang yang melihatnya.


Bagi orang-orang kriminal, mungkin mempunyai aura pembunuh bisa dibilang kebanggaan bagi mereka namun bagi Zhou Yuan hal itu justru seperti aib.


Aura pembunuh yang terlalu pekat akan membuat penampilan seseorang ditakuti, sementara jika pendekar itu tidak memiliki mental yang kuat, aura pembunuh akan mempengaruhi emosi dan pikiran mereka, salah satu dampaknya adalah dia menjadi seseorang yang haus darah.


Sebab itu Zhou Yuan merasa bersyukur karena gurunya dulu pernah mengajarkan cara menyembunyikan aura.


Zhou Yuan sendiri bukanlah seseorang yang haus darah, mungkin karena pengalamannya di kehidupan pertama membuat sudut pandangnya berubah agar mengatasi para kriminal dengan cara seperti ini.


Akibat pemerintahan dulu tidak mengatasi para organisasi kriminal dengan serius, akibatnya jumlah mereka semakin banyak bahkan hingga menyaingi kekuatan pemerintahan.


Zhou Yuan terus membasmi pasukan organisasi kriminal yang berada di bagian dalam istana, meski Zhou Yuan berhasil membunuh banyak dari mereka namun ada beberapa pasukan organisasi yang berhasil lolos dan kabur keluar istana.

__ADS_1


Merasa istana kini jadi aman, Zhou Yuan mencari tempat yang tinggi lalu kali ini mengendalikan ke-empat pedangnya ke arah berbeda.


Zhou Yuan mengarahkan pedang-pedang emasnya ke lokasi gerbang timur, barat, selatan, dan gerbang utara, di sana adalah tempat lokasi pertempuran yang lebih besar sedang terjadi.


Setiap lokasi gerbang Zhou Yuan mengerahkan satu pedang emasnya ke sana sementara Zhou Yuan sendiri mengendalikan ke-empat pedang itu dari jarak jauh.


***


"Apa? Bagaimana bisa?!"


Guo Zhengxa yang sedang bertarung dengan Jiang Qisha terkejut melihat pasukan siluman burung yang dibawanya mulai berjatuhan ke tanah.


Guo Zhengxa tidak bisa melihat dengan jelas karena jaraknya dengan siluman burung itu lumayan jauh, dimatanya ia hanya bisa melihat jumlah siluman burung itu mulai berkurang secara signifikan.


Bukan hanya Guo Zhengxa, bahkan Jiang Qisha yang melihatnya juga tak kalah terkejut. Dia tidak memahami bagaimana burung-burung itu berjatuhan namun yang pasti ia merasa lega karena pasukan yang dikhawatirkannya akhirnya binasa.


Beberapa saat kemudian siluman-siluman burung yang awalnya mengisi langit kini telah berkurang lebih dari separuhnya hingga di suatu titik akhirnya para penunggangnya mulai membubarkan diri.


Ekspresi Guo Zhengxa menjadi kusut, pasukan burung itu adalah satu-satunya pasukan andalan di penyerangan ini agar bisa menaklukkan istana. Jika mereka sudah dihabisi maka rencana Guo Zhengxa akan kemungkinan gagal.


Pasukan organisasi yang berlari itu semuanya memiliki ekspresi ketakutan seperti dikejar hantu.


Guo Zhengxa tidak mengerti namun tak lama kemudian dia mendapatkan jawabannya, pasukan organisasi yang sedang berlarian itu dikejar oleh sebuah pedang yang melayang di udara.


Pergerakan pedang itu lebih cepat dibandingkan kecepatan pasukan organisasi yang berlari sehingga satu demi satu pedang yang sama menyusul mereka sekaligus membunuhnya.


"Apa yang..."


Guo Zhengxa menahan nafasnya menyaksikan aksi pedang emas itu, ia baru mengetahui ada pedang yang bisa melayang di udara dan seperti memiliki pikiran sendiri.


Kalau bukan Guo Zhengxa menyaksikan langsung para pasukannya benar-benar terbunuh usai pedang itu menembus tubuh mereka mungkin dirinya akan menganggap semua ini hanya ilusi.


Jiang Qisha juga tidak kalah terkejut melihat pedang emas tersebut namun dirinya bisa dengan cepat tenang ketika yang diincar pedang melayang itu hanyalah pasukan organisasi saja.

__ADS_1


Melihat perhatian Guo Zhengxa terfokus ke arah pedang itu, Jiang Qisha menganggap hal ini sebagai peluang. Sambil bergerak cepat, Jiang Qisha muncul di depan Guo Zhengxa dan memberikan serangan tapak api pada dadanya.


Guo Zhengxa terlambat menyadari sehingga serangan tapak itu mengenai tubuhnya telak. Guo Zhengxa mundur beberapa langkah sambil memegang dadanya yang terasa sakit, meski ia terlindungi jirah cahayanya namun tapak api putih milik Jiang Qisha tetap berhasil melukainya.


"Apa kau tidak punya rasa malu..." Guo Zhengxa berdecak kesal melihat kelakuan Kaisar Bulan tersebut.


"Jangan salahkan aku, tapi salahkan dirimu yang tidak fokus dalam bertarung." Jiang Qisha mendengus pelan.


Guo Zhengxa mengumpat dalam hati, ia kemudian mengalirkan tenaga dalam pada dadanya untuk mengurangi rasa sakit tersebut. Berkat jirah cahayanya, serangan tapak Jiang Qisha tidak membuatnya terluka terlalu dalam.


Perhatian Guo Zhengxa kembali teralih oleh pedang yang melayang itu, kini setelah membunuh pasukan organisasi yang berhasil kabur dari istana ia mulai mengarah pada pertempuran di lokasi gerbang.


Pedang yang sama mulai membabat habis pasukan organisasi dalam waktu singkat, tidak ada yang bisa berhasil dari serangannya apalagi saat itu pasukan organisasi sedang sibuk bertarung dengan prajurit istana.


Guo Zhengxa yang melihat pasukannya dibantai dengan cara seperti ini tidak bisa tinggal diam saja, dia segera berlari ke arah pedang melayang itu, berniat menghentikannya namun Jiang Qisha langsung menghadang langkahnya.


"Qisha, kita lanjutkan pertarungan ini beberapa saat lagi!" Ucap Guo Zhengxa yang terdengar dingin.


"Kenapa tidak sekarang, aku tidak akan membiarkan kau bertindak sesukamu..."


Kini situasi dibalik, jika sebelumnya Jiang Qisha diposisi yang kurang diuntungkan namun sekarang justru Guo Zhengxa yang diposisi sebaliknya.


Meski Jiang Qisha tidak mengetahui soal pedang itu namun dirinya yakin seseorang dibaliknya berada di pihaknya.


Guo Zhengxa mengumpat dalam hati, ia tidak punya pilihan lain selain meneruskan pertarungan keduanya, Jiang Qisha benar-benar tidak membiarkan Guo Zhengxa lolos untuk menangani pedang itu.


Guo Zhengxa bisa melihat dari jauh aksi pedang yang melayang itu mulai membunuh pasukannya satu persatu. Jika situasi seperti ini terus maka hanya soal waktu posisi di pihaknya akan mengalami kekalahan.


Guo Zhengxa tidak mengetahui bahwa posisi yang sama terjadi di tiga gerbang istana lainnya.


Xiao Fan yang sedang bertukar serangan dengan Huang Zhang harus menghentikan pertarungan mereka setelah melihat pedang melayang itu.


Apalagi pedang melayang tersebut sempat mengarah ke arah Huang Zhang namun dapat dengan mudah ditangani pria buntung itu berkat pusakanya.

__ADS_1


Pedang yang sama juga ada di lokasi Yue Jian dan Chu Guyu, kedatangan pedang emas tersebut cukup membuat situasi pertempuran berbalik arah yang kini menekan pasukan organisasi


__ADS_2